Cherreads

Chapter 9 - Orang Kuat Sesungguh nya

Koridor sekolah sore itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Langkah kaki Riku terdengar pelan, jauh berbeda dari gaya jalannya yang biasanya penuh percaya diri dan sedikit sombong.

Di luar lapangan, setelah ledakan itu, ia meninggalkan kedua temannya tanpa banyak kata.

Teman 1 :

"Riku… kita harus bagaimana…"

Riku berhenti sebentar, tapi tidak menoleh.

Riku :

"Mulai sekarang… jangan ajak aku lagi untuk hal seperti ini."

Teman 2 :

"A-apa maksudmu? Kita 'kan—"

Riku mengepalkan tangan.

Riku :

"Kalian melihat wajahnya waktu kena serangan itu? Itu bukan 'sparing'. Itu kita membully anak yang bahkan tidak pakai kekuatan."

Ia menarik napas dalam.

Riku :

"Kalau mau terus main kotor seperti tadi, jangan sebut aku teman kalian lagi."

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi, meninggalkan dua sosok yang hanya bisa berdiri terpaku dan dihantui rasa bersalah.

DI DEPAN UKS

Koridor menuju ruang UKS sepi. Cahaya senja masuk lewat jendela, memantul di lantai yang mengkilap.

Riku berdiri di depan pintu UKS, tidak menyentuh gagang pintunya.

Ia hanya menatap pintu itu, rahangnya mengeras, tangan terkepal.

Dalam kepalanya, kejadian beberapa menit lalu terus berulang:

bola api melesat, Airi berdiri di sana, dan Rei melompat tanpa ragu, memutar tubuh, punggungnya menahan seluruh ledakan.

Riku (dalam hati) :

"Ayah selalu bilang… "Kalau kau salah, jangan lari. Berdiri, hadapi, tanggung."

Ia menelan ludah.

Riku :

"…Aku tetap harus minta maaf. Entah mereka mau dengar atau tidak."

Ia berdiri di sana, diam, menunggu.

Mungkin menunggu keberanian.

Mungkin menunggu kabar baik.

Mungkin keduanya.

Beberapa menit terasa sangat lama.

Lalu, gagang pintu berputar.

Pintu UKS terbuka.

Rika keluar dengan langkah cepat, ekspresi wajahnya tegang. Ia hendak berbalik menuju ruang guru untuk melaporkan kejadian tadi.

Begitu membuka pintu, ia langsung melihat Riku berdiri di sana, menatap pintu dengan sorot mata gelisah.

Rika berhenti.

Sejenak, koridor itu hening.

Lalu, aura Rika berubah.

Tatapan tajam beastman miliknya langsung menusuk Riku.

Telinganya sedikit menegang, rahangnya mengeras, dan rasa marah yang tadi ia tahan di lapangan meledak seketika.

Rika :

"…Untuk apa kau di sini?"

Suara itu dingin, penuh ancaman.

Riku membuka mulut, tapi suara sulit keluar.

Riku :

"Aku… ingin memastikan keadaannya. Dan minta maaf. Aku—"

Rika melangkah maju, aura membunuhnya jelas terasa.

Rika :

"Minta maaf? Setelah kau bikin dia jadi perisai hidup begitu?"

Lorong yang biasanya tenang mendadak bergema oleh suaranya.

Rika :

"Kau menyebut itu SPARING?! Tiga lawan satu, pakai sihir serangan, sampai membuat punggungnya hangus?!"

Riku menunduk.

Riku :

"…Itu salahku. Aku tahu. Karena itu aku di sini."

Rika :

"Kalau sesuatu terjadi padanya… kalau luka itu meninggalkan cacat permanen, atau lebih parah—"

Ia maju lagi, jaraknya kini sangat dekat dengan Riku.

Rika :

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Sekalipun kau merangkak di lantai sambil minta maaf."

Suara Rika yang meninggi membuat pintu UKS sedikit terbuka lagi dari dalam. Hina, yang sedari tadi menjaga di sisi rei bersama Airi dan guru UKS, mendengar suara itu.

Hina :

"…Rika?"

Ia berjalan keluar.

Begitu pintu terbuka lebih lebar, Hina melihat Riku berdiri tepat di depan UKS.

Matanya langsung memerah.

Hina melangkah cepat.

Hina :

"Kamu…"

Riku mengangkat kepala.

Riku :

"Hina, aku—"

PLAAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Riku, suara pantulannya bergema di koridor.

Kepala Riku sedikit terpelintir ke samping, kulit di pipinya langsung memerah.

Hina menggigit bibir, air mata mengalir deras di pipinya.

Hina :

"Bagaimana bisa kalian lakukan itu padanya?!"

Suaranya bergetar di antara isak tangis.

Hina :

"Dia bahkan tidak menyerang balik! Dia cuma menghindar! Dia tidak pakai sihir! Tidak pakai penguatan apa pun! Kenapa kalian harus menjadikan dia sasaran?!"

Riku tidak menghindar, tidak membalas, tidak berusaha menahan tangan Hina.

Ia hanya berdiri diam, menerima semuanya.

Riku :

"…Tidak ada alasan yang bisa membenarkan apa yang kami lakukan."

Hina mengusap air matanya dengan kasar.

Hina :

"Kalau terjadi apa-apa dengan Rei-kun… aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Tidak peduli kalian menyesal atau tidak."

Rika :

"Begitu juga aku."

Riku menunduk dalam-dalam, menahan semua kata yang ingin ia ucapkan dan hanya membiarkan rasa bersalah menekan dadanya.

Suara lain, lebih tenang, ikut terdengar.

?? :

"Sudah."

Guru UKS—seorang wanita paruh baya dengan wajah lembut namun tegas—keluar dari ruangan, menatap mereka bertiga.

Guru UKS :

"Kalian bertiga, tenang dulu. Suasana tegang tidak akan membantu siapa pun."

Ia melihat ke arah Riku.

Guru UKS :

"Kau Riku, 'kan?"

Riku mengangguk pelan.

Riku :

"Iya, Bu."

Guru UKS menarik napas.

Guru UKS :

"Kalau kau di sini untuk lari dari tanggung jawab, aku yang akan mengusirmu. Tapi… Rei bilang dia ingin bicara denganmu."

Hina dan Rika serempak menoleh.

Hina :

"Rei-kun ingin… bicara dengan Riku?"

Rika mengkerutkan alis.

Rika :

"Untuk apa?"

Guru UKS :

"Itu bukan hak kita untuk menentukan. Tugas kita menjaga, tapi kalau pasiennya sendiri ingin mengatakan sesuatu, kita harus menghormati itu."

Ia menatap tajam Riku.

Guru UKS :

"Masuk. Tapi satu hal: jangan buat dia emosi. Kalau kau menambah bebannya, kau akan lidahku sendiri yang mengusirmu keluar."

Riku mengangguk, menahan napas.

Riku :

"Saya mengerti, Bu."

Ia berjalan melewati Rika dan Hina. Rika masih menatapnya tajam, Hina menggigit bibir, tapi kali ini… mereka tidak menghalangi fisiknya. Hanya menatap dengan luka dan marah di mata.

Riku mendorong pintu UKS, masuk pelan-pelan.

DI DALAM UKS

Ruangan UKS tenang, berbau antiseptik.

Rei terbaring di salah satu ranjang, dengan posisi tengkurap — punggungnya terbuka, diperban rapi di bagian luka bakar. Seragamnya sudah digunting pada bagian yang rusak, diganti kain bersih.

Airi duduk di kursi di samping ranjang, diam, menatap Rei. Di sudut lain, beberapa peralatan medis sederhana tersusun.

Begitu Riku masuk, Airi menoleh dengan tatapan dingin, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri pelan.

Airi :

"Aku… di luar dulu sebentar."

Ia menatap Rei sebentar, seolah meminta kepastian.

Rei mengangguk kecil.

Rei :

"Aku tidak apa-apa."

Airi melangkah keluar, melewati Riku tanpa menatapnya. Hanya lewat, dingin dan hening.

Kini di ruangan itu hanya ada Rei, Riku, dan suara jam dinding yang berdetak pelan.

Riku mendekat, berhenti di sisi ranjang, menatap punggung Rei yang diperban.

Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat betapa parahnya luka itu—merah, beberapa bagian melepuh, meski sudah dilumuri salep penyembuh sihir.

Riku merasakan perutnya mengerut.

Riku :

"…Rei."

Rei menoleh sedikit, sejauh yang bisa dilakukan tanpa mengganggu punggungnya. Mata kanan gelap dan mata kiri birunya menatap Riku dengan tenang.

Rei :

"Riku."

Beberapa detik hening.

Riku lalu menunduk, kedua tangannya mengepal begitu keras sampai buku jarinya memutih.

Riku :

"Maafkan aku."

Suaranya rendah, tanpa pembelaan, tanpa alasan.

Riku :

"Aku yang memulai ide sparing itu. Aku yang mengajak mereka. Aku yang membiarkan semuanya melampaui batas dengan ego bodohku… sampai kau terluka seperti ini."

Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap luka di punggung Rei lagi.

Riku :

"Aku bilang ingin 'menguji' refleksmu. Tapi sebenarnya… aku hanya iri."

Rei terdiam, mendengarkan.

Riku menghela napas berat.

Riku :

"Melihatmu pindah ke kelas kami… dengan penampilan mencolok, rambut putih, mata berbeda warna… cewek-cewek langsung mendekat, padahal kau tidak melakukan apa-apa."

Riku tersenyum miring pada dirinya sendiri, pahit.

Riku :

"Lalu di pelajaran praktik, kau menghindari serangan begitu mudah. Seperti tubuhmu tahu duluan ke mana energi akan bergerak. Aku… benci melihat itu."

Ia menggeleng.

Riku :

"Aku pikir, 'Kalau dia benar-benar lemah seperti yang dia bilang, berarti aku masih di atas. Tapi kalau dia sebenarnya kuat dan pura-pura lemah, berarti dia cuma cari simpati.'"

Ia menunduk semakin dalam.

Riku :

"Dengan pemikiran sepicik itu… aku ajak kau sparing. Dan saat anak-anak lain melihat… aku biarkan egoku memimpin. 'Kalau 1 vs 1 tidak cukup membuatnya jatuh, tambah 2 orang lagi.'"

Napasnya bergetar.

Riku :

"Aku salah. Bukan salah kecil… salah besar. Kalau tadi bola api itu sedikit lebih kuat, atau jarakmu lebih dekat… kau bisa cacat permanen. Atau lebih buruk."

Rei menghela napas pelan.

Rei :

"Riku."

Riku menahan napas, menunggu penghakiman, ocehan, atau kemarahan.

Namun yang keluar dari mulut Rei justru sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.

Rei :

"Aku tidak marah."

Riku terpaku.

Riku :

"…Apa?"

Rei menatap ke depan lagi, matanya memandang tempat yang kosong.

Rei :

"Aku tidak marah. Diserang begitu banyak orang, dikhianati dalam sparing, terkena bola api di punggung…"

Ia tersenyum tipis.

Rei :

"Percaya atau tidak… ini bukan yang terburuk yang pernah terjadi dalam hidupku."

Riku menggertakkan gigi.

Riku :

"Itu bukan alasan. Kau terluka karena keegoisanku."

Rei :

"Itu benar."

Ia tidak mencoba menghibur dengan kebohongan.

Rei :

"Riku, apa yang kalian lakukan salah. Sangat salah. Aku tidak akan mengatakannya 'tidak apa-apa'."

Riku mengangguk pelan. Ia menerima itu.

Rei melanjutkan.

Rei :

"Tapi… aku memutuskan sesuatu. Aku tidak mau hidupku hanya berisi kebencian dan dendam."

Ia memejam sebentar mata kirinya yang biru.

Rei :

"Jadi… aku memaafkanmu."

Riku menatapnya, kaget.

Riku :

"…Kenapa?"

Rei :

"Karena aku tahu rasanya… menjadi orang yang tidak bisa memutar waktu dan hanya bisa menyesali keputusan bodoh."

Sekilas, bayangan Mina dan hari hujan di jembatan melintas di benaknya.

Rei :

"Kalau aku tidak memaafkanmu, satu-satunya hal yang terjadi adalah… kau akan semakin membenci dirimu sendiri. Mungkin kau akan mengulang kesalahan dalam bentuk lain, pada orang lain."

Ia menarik napas pelan, menahan rasa sakit di punggung.

Rei :

"Jadi kuminta satu hal saja."

Riku menegakkan tubuh.

Riku :

"…Apa?"

Rei menatapnya, kali ini dengan tatapan tegas.

Rei :

"Jangan pernah ulangi ini pada siapa pun lagi. Jangan jadikan latihan sebagai alasan untuk melampiaskan iri atau ego. Kalau kau merasa seseorang membuatmu tidak nyaman… hadapi dengan cara yang tidak merusak orang itu."

Ia berhenti sejenak.

Rei :

"Biarkan kejadian ini cukup jadi pelajaran… untuk kalian semua, dan juga untukku."

Riku terdiam.

Kata-kata Rei sederhana, tanpa ceramah panjang, tanpa ancaman. Namun justru karena sesederhana itu… rasanya menohok dada Riku.

Riku (dalam hati) :

"Orang yang kusakiti… lebih layak disebut 'kuat' daripada aku sendiri."

Ia menunduk lagi, kali ini lebih dalam, seakan membungkuk bukan hanya dengan tubuh tapi dengan seluruh egonya.

Riku :

"…Terima kasih."

Suara itu lirih, namun jujur.

Riku :

"Untuk memaafkanku. Untuk tidak mendoakanku hancur, padahal kau berhak melakukannya."

Ia mengepalkan tangan.

Riku (dalam hati) :

"Ayah… aku mengerti sekarang maksudmu dengan 'pria sejati bertanggung jawab'."

Riku menatap Rei lagi.

Riku :

"Aku tidak akan memintamu langsung menganggapku teman. Itu hakmu. Tapi mulai hari ini… aku akan bertindak seperti seseorang yang harus menebus kesalahan pada orang yang sudah ia lukai."

Ia menarik napas dalam.

Riku :

"Aku akan… berdiri di sisimu. Entah sebagai orang yang harus melindungi punggungmu suatu hari nanti… atau sebagai orang yang memastikan tidak ada lagi orang seperti aku yang mencoba menjatuhkanmu."

Pipinya masih perih karena tamparan Hina. Dadanya sesak karena kata-katanya sendiri. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang terasa lebih ringan.

Riku :

"Setelah ini, aku akan pergi ke ruang guru. Aku akan mengaku semuanya. Biar aku menerima konsekuensinya."

Rei mengangguk kecil.

Rei :

"Itu keputusanmu. Dan itu… keputusan yang tepat."

Riku menunduk terakhir kali.

Riku :

"Terima kasih, Rei."

Ia berbalik, melangkah menuju pintu UKS.

Sebelum keluar, ia berhenti sesaat, tanpa menoleh.

Riku :

"…Jika suatu hari kau butuh seseorang untuk berdiri di depanmu, bukan menyerangmu dari depan… aku akan datang. Tanpa alasan egois. Hanya karena aku ingin menebus."

Lalu ia membuka pintu dan keluar.

Di luar, Hina, Rika, dan Airi mengangkat kepala.

Riku menatap mereka sebentar—tidak menantang, tidak membela diri, hanya menerima.

Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan melewati mereka, menuju ruang guru untuk menyerahkan diri, siap menerima hukuman.

Rika menghela napas keras.

Rika :

"…Sialan. Tapi setidaknya dia nggak kabur."

Hina masih memegang dadanya, mata masih merah.

Hina :

"Aku… masih marah. Tapi… Rei-kun pasti punya alasannya kalau memutuskan mau bicara dengannya."

Airi menatap pintu UKS—di baliknya, Rei masih berbaring tengkurap, berusaha bernapas stabil.

Airi (dalam hati) :

"Dan alasan itu… yang membuatku semakin ingin tahu siapa sebenarnya Hirashi Rei."

More Chapters