Cherreads

Chapter 8 - 3 VS 1 DAN LEDAKAN DI PUNGGUNG

Sore hari, setelah pelajaran selesai, langit mulai berwarna jingga. Di lapangan latihan belakang sekolah, hanya beberapa murid yang masih berkumpul.

Rei berdiri di tepi lapangan, memegang tasnya.

Di depannya, Riku berdiri dengan senyum santai, tangan dimasukkan ke saku. Di belakang Riku, dua temannya berdiri tidak jauh: satu cowok manusia kurus dengan tongkat sihir pendek, satu lagi bertubuh sedikit kekar dengan sarung tangan latihan—mereka adalah teman-teman yang tadi siang terus memperhatikan Rei dari jauh.

Riku menggaruk pipinya, seolah canggung.

Riku :"Rei, terima kasih sudah mau datang. Sebenarnya, aku cuma ingin… ya, sparing santai. Saling belajar satu sama lain."

Rei menatap wajah Riku, mencoba membaca niatnya.

Rei :"Sparing… antara aku dan kau?"

Riku mengangguk.

Riku :

"Iya. Kau kan punya refleks bagus. Aku pengin lihat langsung. Lagipula, kita satu kelas. Sesekali latihan bareng nggak masalah, kan?"

Satu temannya menimpali, tertawa kecil.

Teman 1 :

"Anggap saja latihan untuk saling memahami gaya bertarung. Di dunia sekarang, kerja sama itu penting."

Rei masih ragu sejenak, tapi kemudian menghela napas.

Rei :

"…Baik. Aku juga butuh belajar. Tapi aku sudah bilang, aku tidak punya kemampuan sihir atau penguatan tubuh."

Riku mengangkat kedua tangannya.

Riku :

"Aku tidak akan pakai teknik serius. Santai saja."

Rei meletakkan tasnya di pinggir lapangan, melangkah ke tengah. Angin sore bertiup lembut, membawa suara burung dan sedikit aroma tanah yang baru disirami.

AWAL SPARING

Rei dan Riku berdiri saling berhadapan.

Riku mengangkat tangan, mengambil posisi kuda-kuda ringan. Gerakannya banyak dipengaruhi latihan fisik standar, tapi jelas dia bukan pemula.

Rei hanya mengangkat kedua tangan setinggi dada, posisi bertahan sederhana.

Rei (dalam hati) :

"Jangan berlebihan. Cukup menghindar, jangan menyerang terlalu keras. Aku di sini untuk belajar, bukan cari ribut."

Riku melangkah duluan.

Riku :

"Aku mulai, ya!"

Ia maju dengan pukulan lurus ke arah muka Rei.

Rei memindahkan kepala sedikit ke samping. Pukulan lewat begitu saja, hanya menyentuh angin.

Riku tidak berhenti. Ia mengayunkan pukulan kedua ke arah rusuk. Rei memutar pinggang, sedikit menunduk, dan pukulan itu hanya mengenai udara lagi.

Riku menyipitkan mata.

Riku :

"…Refleksmu beneran menyebalkan, ya."

Rei :

"Aku cuma menghindar."

Riku menambah tempo. Langkah kakinya lebih cepat, serangan kombinasi pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi.

Namun tubuh Rei bergerak seolah sudah tahu dari mana serangan datang.

Langkah kecil ke belakang, miring, condong.

Satu-dua kali lengan Rei mengangkat untuk menepis, tapi lebih sering ia hanya menggeser tubuh, membiarkan serangan lewat sedekat mungkin tanpa menyentuhnya.

Teman 2 yang menonton bersiul pelan.

Teman 2 :

"Wow, dia benar-benar cuma 'manusia biasa'? Serius?"

Teman 1 memiringkan kepala.

Teman 1 :

"Refleks seperti itu… setara murid kelas spesialis tempur."

Riku semakin kesal.

Diasingkan oleh tatapan kagum dua temannya sendiri kepada Rei membuat dadanya gerah.

Riku menahan napas, melompat mundur.

Riku :

"…Kau benar-benar tidak bisa menyerang? Atau sengaja menahan diri?"

Rei menggeleng.

Rei :

"Aku tidak ingin membuat masalah, Riku. Aku diajari tidak perlu memukul kalau masih bisa menghindar."

Riku terkekeh tipis.

Riku :

"Jawaban yang terdengar keren."

Ia memberi isyarat dengan dagu ke teman-temannya.

Riku :

"Kalau begitu, mari tes. Di dunia nyata, tidak mungkin hanya satu lawan. Setuju?"

Rei mengerutkan alis.

Rei :

"Apa maksudmu…"

Belum selesai bertanya, Teman 1 dan Teman 2 sudah melangkah ke dalam area latihan, membentuk setengah lingkaran mengelilingi Rei.

Teman 1 menggenggam tongkat sihirnya.

Teman 2 mengencangkan sarung tangannya.

Riku tersenyum tipis.

Riku :

"Tenang, ini masih sparing. Hanya saja, sekarang 3 vs 1."

Rei menatap satu per satu.

Ada sesuatu di tatapan mereka—campuran ingin membuktikan, ingin menjatuhkan, dan sedikit… iri.

Rei menahan napas.

Rei :

"Ini di luar kesepakatan."

Riku :

"Di luar sana, monster dan musuh tidak akan negosiasi '1 lawan 1'. Anggap ini pelajaran. Kau kan mau belajar, 'kan?"

Rei terdiam.

Beberapa detik hening.

Lalu ia menghela napas panjang.

Rei :

"…Baik. Tapi aku hanya akan bertahan. Aku tidak akan menyerang duluan."

Riku mendengus.

Riku :

"Lihat saja nanti."

SEMENTARA ITU, DI KORIDOR

Di dalam gedung sekolah, seorang siswa sedang berlari tergesa-gesa di koridor, napasnya terengah.

Siswa lari :

"Sensei… aku harus cari Sensei…"

Di tikungan, ia hampir menabrak seseorang.

Siswi :

"Hati-hati!"

Siswa itu berhenti mendadak.

Di depannya berdiri tiga siswi: Hina, Rika, dan Airi.

Hina memegang beberapa buku, wajahnya terkejut.

Hina :

"Kau kenapa lari seperti dikejar monster?"

Rika menyipitkan mata, telinga beastmannya bergerak-gerak peka.

Rika :

"Jantungmu berdegup kencang. Ada apa?"

Siswa lari berusaha mengatur napas.

Siswa lari :

"Ada… masalah di lapangan latihan belakang… Riku dan teman-temannya… mereka…"

Airi melangkah mendekat, tatapannya tajam namun tenang.

Airi :

"Mereka apa?"

Siswa lari menelan ludah.

Siswa lari :

"Mereka lagi 'sparing' dengan… Rei. Awalnya biasa. Tapi sekarang mereka bertiga mengepung Rei sendirian. Tadi aku lihat teman Riku pakai sihir juga. Ini kayaknya sudah lewat batas sparing."

Wajah Hina langsung menegang.

Hina :

"Apa?!"

Rika mengepalkan tangan, ekornya (kalau ada) hampir pasti akan berdiri.

Rika :

"Dasar bocah sok kuat…!"

Airi menatap siswa itu dalam-dalam.

Airi :

"Apakah ada guru di sana?"

Siswa lari menggeleng cepat-cepat.

Siswa lari :

"Aku mau cari guru sekarang. Tapi—"

Rika memotong cepat.

Rika :

"Kau cari guru, kami duluan ke sana."

Tanpa menunggu jawaban, Rika sudah berlari ke arah pintu belakang.

Rika :

"Hina, Airi!"

Hina menggenggam buku lebih erat, lalu ikut berlari.

Hina :

"Rei-kun…"

Airi menutup buku di tangannya, matanya memantulkan kecemasan yang jarang terlihat.

Airi :

"…"

Ia tidak berkata apa-apa, tetapi langkahnya menyusul dua temannya, menuju lapangan belakang.

3 VS 1

Di lapangan latihan, suasana mulai memanas.

Riku maju dari depan, Teman 2 menyerang dari sisi kanan dengan pukulan, Teman 1 sesekali mengangkat tongkatnya, mengeluarkan percikan sihir kecil sebagai gangguan.

Rei bergerak di tengah, napasnya teratur tapi mulai berat. Keringat menetes di pelipisnya.

Riku mengayunkan pukulan ke arah wajah. Rei menunduk, memutar tubuh, hampir bersamaan Teman 2 menendang dari samping.

Tubuh Rei miring, kaki kirinya bergeser, tendangan itu lewat di depan perutnya.

Rei :

"…"

Teman 1 menodongkan tongkat.

Teman 1 :

"[Spark]!"

Percikan kecil energi melesat. Rei mengangkat lengan, menepis percikan itu dengan gerakan tipis. Sekilas ia bisa merasakan arah aliran energi, seperti arus air kecil yang mudah ditebak.

Rei (dalam hati) :

"Arusnya kecil, ke arah kanan… hindari sedikit…"

Gerakan itu tampak sederhana, tapi bagi tiga lawannya, itu menjengkelkan.

Riku mendecak.

Riku :

"Berhenti hanya menghindar! Serang balik kalau bisa!"

Rei menggeleng, mengatur napas.

Rei :

"Aku sudah bilang, aku tidak mau—"

Riku tidak menunggu.

Riku :

"Jangan anggap dirimu di atas orang lain hanya karena punya refleks bagus!"

Ia maju lagi, kali ini serangannya lebih kasar, emosinya mulai mempengaruhi teknik. Teman 2 ikut menyerang lebih agresif.

Rei terpaksa menangkis satu dua pukulan dengan lengan, rasa nyeri mulai terasa di kulitnya. Dia tetap tidak membalas.

Rei (dalam hati) :

"Ini sudah bukan sparing yang sehat…"

Saat itu, di tepi lapangan, sosok-sosok mulai muncul.

Rika berhenti di tepi, matanya membelalak.

Rika :

"…Sialan."

Hina berdiri di sebelahnya, menutup mulut dengan tangan.

Hina :

"Rei-kun…"

Airi menatap pertarungan itu dengan kedua mata hijau dinginnya.

Airi :

"Mereka bertiga…? Ini bukan sparing adil."

Rei, di tengah lapangan, mulai payah.

Namun sesuatu di dalam dirinya terus "memberitahu" ke mana pukulan berikutnya akan datang. Kakinya bergerak mungkin sepersekian detik sebelum pukulan itu benar-benar luncur.

Teman 1 mulai kesal karena sihir kecilnya hanya jadi gangguan yang tak berarti.

Teman 1 :

"Kalau begitu… kita naikin sedikit, ya…"

Ia mundur setengah langkah, mengangkat tongkat dengan kedua tangan.

Teman 1 :

"[Fireball]."

Di ujung tongkatnya, bola api sebesar kepala manusia mulai terbentuk.

Riku melirik sekilas.

Riku :

"Hei, jangan terlalu besar—"

Teman 1 :

"Aku tahu batasnya."

Bola api itu menyala terang, menimbulkan panas di udara. Rei menatapnya sekilas, tubuhnya menegang.

Tepat saat Teman 1 hendak melepaskan sihirnya—

Suara lembut memotong suasana.

Airi :

"Sudahi ini."

Semua kepala menoleh sejenak.

Airi melangkah masuk ke lapangan, berdiri tidak jauh di belakang Rei, rambut peraknya berkilau tertiup angin sore.

Hina dan Rika berhenti di tepi, masih siap bergerak sewaktu-waktu.

Riku mengerutkan alis.

Riku :

"Airi? Ini urusan sparing cowok. Jangan ikut camp—"

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Teman 1, yang sudah siap, melepaskan mantranya.

Teman 1 :

"[Fireball]!"

Bola api melesat—

Namun arah lintasannya sedikit melenceng akibat kepanikan, menuju posisi di mana Airi berdiri.

Mata Rei melebar.

Dalam sekejap, sesuatu di dalam tubuhnya "berteriak":

arah energi, kecepatan, jalur.

Tidak ada waktu untuk berpikir.

Tubuhnya bergerak sendiri.

Rei melompat mundur ke arah Airi.

Rei :

"Airi!"

Ia meraih bahu Airi, memeluknya dari belakang, lalu memutar posisi tubuh mereka—membalikkan punggungnya menghadap bola api yang datang.

Dalam sepersekian detik sebelum benturan, ia bisa merasakan panas luar biasa mendekat.

Rei (dalam hati) :

"Kalau harus ada yang kena… bukan dia."

BOOOM!

Bola api menghantam punggung Rei. Ledakan kecil tapi kuat terjadi di titik kontak.

Api dan tekanan udara menghantam tubuhnya, mendorong mereka berdua keras ke depan.

Rei memeluk Airi semakin erat, memiringkan tubuhnya agar tubuh Airi tertutup sepenuhnya oleh tubuhnya sendiri.

Mereka terpental, jatuh berguling di tanah.

Bahunya terseret, punggungnya terasa seperti terbakar, napasnya tersedak.

Airi :

"…!"

Suara di sekeliling mendadak riuh.

Hina :

"Rei-kun!!"

Rika :

"Sialan!!!"

Riku melotot pada Teman 1.

Riku :

"Dasar bodoh! Aku bilang jangan terlalu besar!"

Teman 1 pucat.

Teman 1 :

"A-aku… aku nggak sengaja—"

Teman 2 juga panik.

Teman 2 :

"Kita harus—"

Rika sudah berlari lebih dulu.

Rika :

"JANGAN ADA YANG MENDEKAT!"

Suara bentakannya menggema di lapangan.

Riku yang hendak berlari mendekat terhenti ditempat.

Riku :

"Rika, aku cuma mau—"

Rika menatapnya tajam, mata beastman-nya penuh amarah.

Rika :

"Kau sudah 'sparring' 3 lawan 1 dengan alasan bodohmu, sekarang diam!"

Hina berlari menyusul, wajahnya cemas hampir menangis.

Hina :

"Rei-kun! Airi-chan!"

Debu perlahan mereda.

Rei terbaring telungkup, tubuhnya menutupi Airi. Seragam bagian belakangnya hangus di beberapa bagian, kulitnya kemerahan dan ada bekas gosong. Napasnya tersendat, tapi masih ada.

Airi berada di bawahnya, hampir tanpa luka berarti, hanya sedikit tergores di lengan karena benturan saat mereka jatuh.

Airi memegang lengan Rei.

Airi :

"Rei…"

Rei mengerjapkan mata, menahan rasa sakit. Ia mencoba mengangkat tubuhnya sedikit, memastikan Airi baik-baik saja.

Rei :

"Kau… tidak terluka, 'kan…?"

Airi menatapnya, mata hijau bergetar.

Airi :

"Aku baik-baik saja. Kau… bodoh."

Hina berlutut di sisi lain, menahan air mata.

Hina :

"Rei-kun! Jangan banyak bicara! Punggungmu…"

Rika memeriksa cepat punggung Rei, wajahnya mengeras.

Rika :

"Lukanya tidak sampai menembus parah, tapi ini tetap luka bakar serius. Kita harus ke UKS sekarang."

Riku melangkah maju lagi.

Riku :

"Biarkan aku bantu—"

Rika menoleh dengan tatapan membunuh.

Rika :

"Aku sudah bilang: JANGAN DEKAT-DEKAT! Kau dan teman-temanmu sudah cukup membuat kekacauan."

Riku terdiam, tangannya mengepal. Teman 1 dan Teman 2 berdiri kaku, wajah pucat karena rasa bersalah dan takut.

Rika dengan hati-hati membantu Airi melepaskan diri dari pelukan Rei, kemudian bersama Hina mereka mengangkat tubuh Rei.

Rika :

"Hina, pegang sisi kiri. Airi, bantu topang bahunya."

Hina mengangguk, mengusap cepat air mata di mata.

Hina :

"O-oke!"

Airi mengatur napas, menahan emosinya.

Airi :

"Rei… kami bawa kau ke UKS."

Rei mencoba bercanda, meski suaranya lemah.

Rei :

"…UKS baru… hari ketiga sekolah… rekor buruk, ya?"

Hina :

"Diam saja dulu!"

Rika :

"Kalau masih bisa bercanda, kau belum mau mati. Bagus."

Pelan-pelan, mereka membawa Rei keluar dari lapangan menuju gedung sekolah.

Riku hanya bisa berdiri mematung, menatap punggung Rei yang hangus dan tiga gadis yang membawanya dengan wajah cemas.

Teman 1 menggigit bibir, suara hampir tidak keluar.

Teman 1 :

"A-aku… benar-benar…"

Teman 2 menutup wajah dengan tangan.

Teman 2 :

"Kita… kebablasan…"

Riku menatap ke tanah, rahangnya mengeras.

Riku :

"…"

Untuk pertama kalinya, rasa bersalah menimpa egonya yang selama ini menutupi ketidaksukaannya pada Rei.

Di kejauhan, langkah kaki tiga gadis dan satu pemuda yang terluka bergema di koridor, menuju UKS — meninggalkan lapangan yang tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Di dalam dadanya yang berdenyut kesakitan, Rei hanya punya satu hal yang terus berulang:

Rei (dalam hati) :

"Untung… Airi… tidak apa-apa."

Kekuatan yang tidak ia mengerti mungkin sudah mulai bergerak dalam dirinya.

Namun yang paling jelas hari itu bukanlah kekuatan misterius itu—

melainkan fakta bahwa, meskipun ia ingin hidup damai dan menjauh dari "cinta", tubuhnya tetap memilih untuk melompat terlebih dulu… demi melindungi seseorang.

More Chapters