Cherreads

Chapter 7 - REFLEKS YANG TIDAK DIINGINKAN

Beberapa hari setelah tes ulang di sekolah baru, hidup Rei berjalan… cukup tenang.

Pagi berangkat sekolah, siang masuk kelas, sore pulang, malam memasak sederhana dan belajar.

Tidak ada drama, tidak ada cinta-cintaan, tidak ada adegan menyakitkan seperti di halaman belakang sekolah lamanya.

Setidaknya, itu yang ia inginkan.

Suatu pagi, di depan cermin kecil di kamarnya, Rei merapikan dasi seragamnya.

Rei :"…Masih kau juga."

Ia menatap bayangannya sendiri: rambut putih yang mencolok, mata kanan hitam, mata kiri biru.

Rei :"Hirashi Rei, manusia biasa. Tidak punya kemampuan. Tidak tertarik cinta. Fokus hidup damai."

Ia menghela napas, mengambil tas, dan bersiap berangkat.

Namun, akhir-akhir ini… ada sesuatu yang mengganggunya.

Bukan suara, bukan mimpi, bukan sakit.

Lebih seperti… perasaan samar di tubuhnya.

Kadang, saat ia berjalan di trotoar dan ada sepeda yang melintas terlalu dekat, kakinya bergeser setengah langkah sebelum ia menyadarinya.

Kadang, saat bola dari lapangan olahraga hampir menghantamnya, tangannya terangkat lebih dulu secara refleks, seolah tubuhnya tahu duluan.

Rei merasakan itu, tapi berusaha mengabaikannya.

Rei (dalam hati) :"Sepertinya… aku sedikit lebih cepat bergerak dari biasanya? Mungkin cuma kebetulan. Atau karena aku terlalu sering waspada."

Ia menggeleng pelan.

Rei :"Sudahlah. Aku tidak mau mencari masalah."

Ia menutup pintu apartemennya dan melangkah pergi, tanpa menyadari bahwa hari ini… "kedamaian" yang ia coba peluk erat akan mulai diganggu.

LATIHAN DASAR — INSTING YANG TERLALU TAJAM

Lapangan latihan sekolah dipenuhi suara.

Beberapa murid sedang berlatih sihir dasar, menembakkan elemen ke arah target.

Ada yang menembakkan bola api kecil, ada yang mengarahkan angin, ada yang memanipulasi tanah.

Rei berdiri di pinggir, memegang papan catatan.

Sebagai "murid tanpa kemampuan", perannya di pelajaran praktik tempur lebih banyak sebagai pengamat dan pencatat.

Sakuraba Haruka berdiri di depan, tangan di pinggang.

Sakuraba :

"Baik, hari ini kita latihan kontrol dasar. Jangan fokus pada kekuatan, tapi pada stabilitas. Kalian yang punya kemampuan elemen, bidik target. Yang tidak punya—"

Ia menoleh pada Rei sejenak.

Sakuraba :

"—amati pola dan catat hasil. Pemahaman juga bagian dari kemampuan."

Rei mengangguk.

Rei :

"Baik, Sensei."

Satu per satu murid maju.

Seorang beastman dengan elemen api menembakkan api yang terlalu besar dan sedikit keluar jalur.

BOOM.

Ledakan kecil terjadi, percikan api menyambar ke arah samping—tepat ke arah tempat Rei berdiri.

Beberapa murid menjerit pelan.

Siswi :

"Rei-kun, awas!"

Namun sebelum suara itu selesai, tubuh Rei sudah bergerak.

Kakinya melangkah setengah sisi, tubuhnya miring sedikit, dan percikan api lewat tepat di depan hidungnya, hanya menyisakan hangat tipis di kulit.

Tidak hanya itu.

Secara refleks, tangannya ikut terangkat sedikit, seolah ingin "menepis" sesuatu di udara.

Rei merasa seperti melihat, dalam sepersekian detik, arah gerakan api itu sebelum benar-benar menyambar.

Bukan visual jelas, tapi… semacam pemahaman liar: "arahnya ke sini, jadi bergeser sedikit ke sana."

Rei berdiri tegak lagi, kurang dari satu detik setelahnya.

Hening.

Beberapa murid menatapnya dengan mata membesar.

Siswa 1 :"…Woi. Barusan kalian lihat?"

Siswa 2 :"Timing-nya gila. Dia menghindar… kayak sudah tahu dari awal."

Siswa 3 (beastman) :"Instingnya bukan insting manusia biasa, itu."

Pengguna api yang tadi meleset, seorang cowok beastman bernama Jin, panik.

Jin :

"Ma-maaf, Rei! Seranganku… keluar jalur."

Rei menatap tangannya, lalu menurunkannya. Ada getaran kecil di ujung jari, seperti tubuhnya baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ia lakukan.

Rei :

"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."

Sakuraba melangkah mendekat, mata guru itu sedikit menyipit.

Sakuraba :

"Hirashi-kun… itu gerakan yang sangat cepat."

Rei mengangkat bahu pelan.

Rei :

"Kebetulan saja, Sensei. Aku lihat percikannya mengarah ke sini, jadi… refleks."

Di dalam, ia tahu itu bukan sekadar "lihat percikan".

Ia tidak melihat jelas — ia tahu arah energi itu akan bergerak.

Sakuraba menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu tersenyum tipis.

Sakuraba :

"…Baiklah. Hati-hati tetap."

Pelajaran berlanjut.

Namun dari kejadian itu, bisik-bisik mulai menyebar.

Siswa 4 :"Katanya dia tidak punya kemampuan, tapi refleksnya… kayak petarung tingkat tinggi."

Siswi 1 :"Dia kelihatan santai, tapi waktu barusan… serius banget."

Siswi 2 :"Dan mata birunya itu… waktu dia bergerak, entah kenapa kelihatan tajam."

Rei berusaha mengembalikan fokus ke catatannya, tapi setiap lembar halaman yang ia tulis terasa… berat.

Saat pelajaran hampir usai, ada sesi istirahat kecil.

Beberapa murid berkumpul dalam kelompok, minum, ngobrol.

Rei memilih duduk sendiri di dekat pagar, meneguk air minum.

Ia menatap telapak tangannya.

Rei :"…Ada yang berbeda."

Ada perasaan samar di tubuhnya, seolah ia "sedikit lebih sinkron" dengan sesuatu di sekeliling.

Saat ia mengamati murid lain menembakkan elemen, ia merasa bisa sedikit memahami… bagaimana aliran energi itu bergerak.

Tapi setiap kali ia mencoba "menarik" aliran itu ke dalam dirinya—

tidak ada yang terjadi.

Rei menghela napas.

Rei (dalam hati) :"Ini bukan kekuatan. Cuma insting yang kebetulan meningkat. Jangan berpikir macam-macam, Rei."

Ia menegakkan tubuh.

Rei :"Aku tidak mau mengejar kekuatan. Aku hanya mau hidup… biasa."

Ia memutuskan di dalam hati: ia tidak akan mengejar sensasi aneh ini.

Ia akan mengabaikannya semampu yang ia bisa.

Sayangnya, dunia tidak selalu peduli dengan keputusan satu manusia.

MULAI MENARIK PERHATIAN

Seiring hari berganti, "kejadian kecil" seperti di lapangan itu tidak hanya terjadi sekali.

Di kelas, saat seorang murid tanpa sengaja menjatuhkan beban sihir kecil, Rei menggeser kursinya tepat sebelum benda itu menghantam lantai di samping kakinya.

Di lorong, saat seseorang hampir menabraknya dari belakang, ia bergeser satu langkah ke samping seolah sudah tahu orang itu akan lewat.

Murid-murid lain memperhatikan.

Sebagian hanya menganggap itu kebetulan.

Sebagian lain… mulai menghubungkannya.

Dan seperti biasa di sekolah mana pun di dunia mana pun—

Saat seseorang berbeda, ia akan menjadi pusat perhatian.

Terutama kalau "berbedanya" itu… menarik.

SISWI-SISWI YANG MENDADAK TERLALU RAMAH

Suatu siang, jam istirahat.

Rei duduk di kelas, dekat jendela, membuka bekal sederhana yang ia bawa dari rumah.

Nasi, telur, dan sayur tumis.

Bukan makanan mewah, tapi cukup.

Saat ia hendak makan, sebuah bayangan menutupi meja.

Ia mengangkat kepala.

Seorang siswi manusia dengan rambut cokelat bergelombang, mata lembut, berdiri sambil membawa kotak bekal lain. Ia tampak ceria.

Siswi manusia :

"Rei-kun, boleh duduk di sini?"

Rei kaget kecil.

Rei :

"Ah, silakan."

Ia duduk di kursi kosong di depan Rei.

Siswi manusia :

"Namaku Hina. Kita sekelas, tapi belum sempat ngobrol. Aku boleh panggil kamu Rei saja?"

Rei :

"Hm… tentu."

Hina tersenyum.

Hina :

"Tadi waktu latihan, refleksmu keren sekali. Kirain kamu petarung rahasia."

Rei :

"Aku hanya menghindar sebisaku. Tidak lebih."

Sebelum percakapan itu berkembang lebih jauh, kursi di samping Rei ditarik.

Seekor telinga binatang muncul—seorang siswi beastman dengan rambut pendek dan mata tajam, sedikit tomboy.

Siswi beastman :

"Kalau Hina boleh duduk, aku juga dong."

Hina memelototkannya.

Hina :

"Rika, jangan tiba-tiba muncul begitu."

Rika hanya mengangkat bahu, matanya melirik Rei dengan terang-terangan.

Rika :

"Nama Rika. Aku lihat kau jago menghindar. Latihan fisikku sering butuh partner. Kalau mau, kau bisa jadi sparring-ku."

Rei :

"…Aku tidak punya kemampuan bertarung. Bukan lawan yang cocok."

Rika tertawa kecil.

Rika :

"Justru karena itu menarik. Refleks yang tadi bukan refleks nol, Rei."

Sebelum Rei sempat menjawab, suara lembut terdengar dari samping jendela.

Siswi lain, telinga panjang, rambut perak kebiruan, mata hijau—seorang elf.

Siswi elf :

"Kalau kalian semua berkumpul di sini, meja ini jadi ramai sekali."

Hina :

"Ah, Airi. Kau juga mau di sini?"

Airi mengangguk, duduk pelan di kursi kosong dekat jendela.

Airi :

"Boleh? Aku lebih suka tempat dekat jendela. Dan…"

Ia menatap Rei sesaat.

Airi :

"…Aku ingin mengucapkan terima kasih. Waktu di lorong kemarin, kalau kamu tidak bergeser, gelas sihirku akan menabrakmu dan pecah."

Rei mengingat kejadian itu: ia hanya merasa seseorang akan menabraknya dari samping, jadi ia bergeser—ternyata Airi lewat sambil membawa gelas sihir yang penuh cairan.

Rei :

"Itu hanya kebetulan. Tapi… sama-sama."

Hina, Rika, dan Airi saling bertukar pandang.

Hina :

"Rei-kun, kau tinggal sendirian, ya? Bekalmu buatan sendiri?"

Rei :

"Iya, aku… tinggal sendiri."

Rika menyikut Hina pelan.

Rika :

"Jangan interogasi, Hina. Nanti kabur."

Airi tersenyum samar.

Airi :

"…Tapi memang tidak biasa ada murid pindahan dengan penampilan seperti itu dan refleks seperti tadi."

Hina menatap mata Rei.

Hina :

"Mata kiri birumu… indah, lho."

Rei sedikit tertegun.

Rei :

"…Terima kasih."

Di dalam hati, ia merasa sedikit… tidak nyaman.

Bukan karena mereka jahat — mereka ramah.

Terlalu ramah.

Rei (dalam hati) :"Ini bukan yang kuinginkan. Jangan… terlalu dekat. Jangan ada yang kubuat terluka lagi."

Ia memutuskan tetap menjawab dengan sopan, tapi menjaga jarak.

Berusaha memastikan bahwa bagi dirinya, mereka hanya teman sekelas.

Namun dari luar, dari sudut pandang murid lain, pemandangan itu terlihat berbeda.

IRI DAN BISIK-BISIK

Di sisi lain kelas, beberapa siswa cowok berkumpul.

Seorang cowok manusia berambut pendek, bernama Riku, menyandarkan kaki di meja, menatap ke arah Rei yang dikelilingi tiga siswi dari tiga ras berbeda.

Riku :"…Tsk. Lihat itu."

Siswa cowok 2 :"Baru pindah, katanya tidak punya kemampuan. Tapi sekarang… duduk dikelilingi cewek-cewek populer."

Siswa cowok 3 (manusia) :"Dan kalian lihat tadi di lapangan? Refleksnya itu bukan refleks orang lemah. Jangan-jangan dia bohong soal tidak punya kekuatan."

Riku mendengus.

Riku :"Kalau benar dia menyembunyikan kemampuan, berarti dia cuma cari simpati. Model 'aku lemah padahal nggak', biar cewek-cewek kasihan."

Siswa 2 :"Itu menyebalkan."

Siswa 3 :"Dan gurunya juga tampak tertarik tadi waktu tes ulang, kan?"

Riku mengetuk meja pelan.

Riku :"…Mungkin perlu kita 'uji' sendiri seberapa lemahnya dia."

Siswa 2 dan 3 saling pandang, lalu tertawa kecil.

Mereka bukan benar-benar jahat, tapi rasa iri, rasa tersaingi, dan ego remaja… cukup untuk membuat masalah muncul.

MALAM ITU — RASA BERBEDA YANG DIABAIKAN

Malam hari, di apartemennya, Rei duduk di lantai sambil memandang kedua telapak tangannya.

Ia mengingat kejadian di lapangan, di lorong, dan di kelas.

Gerakan refleksnya, bagaimana tubuhnya "mengetahui" arah energi, tapi saat ia mencoba menggerakkan energi itu sendiri… kosong.

Rei :"…Seharusnya aku tidak bisa melakukan semua itu."

Ia menutup mata, mencoba mengingat pelajaran teori aliran elemen yang pernah ia baca.

Aliran api yang naik dan mengalir liar.

Aliran air yang mengalun.

Aliran angin yang berputar.

Aliran tanah yang berat.

Entah kenapa, sekarang semua itu terasa sedikit lebih mudah ia "pahami" di kepala.

Bukan berarti ia bisa menggunakannya—

tapi seolah, jika ada orang lain menggunakan elemen itu di dekatnya, ia bisa menebak alirannya.

Rei mengangkat tangan pelan, mencoba melakukan hal bodoh: menarik energi, seperti yang sering ia lihat di buku dan praktek murid lain.

Rei :"…Tarik dari inti, fokus di telapak…"

Tidak ada yang terjadi.

Tidak ada cahaya, tidak ada panas, tidak ada hembusan angin.

Hanya hening.

Rei menurunkan tangannya.

Rei :"Bagus."

Ia tersenyum tipis.

Rei :"Kalau sampai tiba-tiba keluar sihir dari tanganku, itu artinya hidupku akan jadi lebih ribet lagi."

Ia memutuskan lagi: abaikan.

Rei (dalam hati) :"Apa pun yang terjadi di tubuhku… aku tidak mau mengejarnya. Kalau ini hanya sedikit refleks dan pemahaman tambahan, biarkan saja. Aku hanya mau hidup tenang."

Sayangnya, dunia di sekelilingnya tidak mau diam.

Refleksnya dilihat.

Penampilannya diperhatikan.

Sikap tenangnya disalahartikan sebagai "cool" oleh beberapa siswi.

Dan semua itu perlahan mulai membangunkan sesuatu yang lain:

Rasa tidak suka.

Iri.

Ego.

Dari murid-murid lain…

yang mungkin suatu hari akan memaksanya untuk memilih:

Tetap menunduk sebagai "manusia biasa yang ingin damai",

atau menatap balik dunia yang berkali-kali menolaknya—

dengan kekuatan yang bahkan ia sendiri belum mengakui."

More Chapters