Cherreads

Chapter 6 - INTERLUDE — PENJAGA GERBANG DAN DUA PENGGANGGU DARI HUTAN TERLARANG

Di ujung terdalam Hutan Terlarang, di tempat di mana bahkan para elf enggan menginjakkan kaki, retakan itu masih menggantung di udara.

Seperti goresan raksasa pada langit yang terlalu rendah.

Cahaya hitam keungu-unguan menetes pelan dari celahnya, lalu lenyap sebelum menyentuh tanah, seakan ditelan oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Di hadapan retakan itu, seperti biasa, seorang bocah berambut putih duduk di atas batu besar yang rata.

Mata kanannya biru, menenangkan seperti danau gelap.

Mata kirinya hitam, dalam seperti lubang tak berdasar.

Dialah penjaga gerbang itu.

Dialah bocah yang tadi malam mengirim seberkas energi ke dunia lain—ke diri lain yang hidup sebagai manusia.

Dan, ya… namanya sama.

Rei.

Rei (penjaga) :

"…Hmph."

Ia bersandar ke batu, menatap retakan yang bergelombang samar.

Rei (penjaga, dalam hati) :

"Setelah kirim serpihan energi ke sana, segelnya sedikit retak… tapi belum cukup untuk membuatnya bangun sepenuhnya."

Bagus. Kalau tiba-tiba pecah total, dia bisa hancur duluan sebelum sempat apa-apa."

Ia menarik napas, memejamkan mata sejenak, merasakan aliran energi di sekitar gerbang.

Masih stabil. Masih terkendali.

Namun, di seluruh Hutan Terlarang… kondisinya tidak sesederhana itu.

Beberapa tahun lalu, saat ia masih "lebih kecil" dan belum terbiasa menjaga gerbang, pernah terjadi kelalaian.

Ada momen ketika fokusnya goyah.

Saat itu, beberapa energi asing menyelinap keluar dari retakan, menyebar ke seluruh hutan.

Energi itu menempel ke makhluk-makhluk hidup di sekitar:

monster, binatang, bahkan tanaman.

Mereka menjadi anomali—bukan lagi sekadar monster biasa, tapi makhluk-makhluk yang wujud dan kekuatannya kacau, sulit dikendalikan, dan kadang… sulit dimusnahkan.

Rei (penjaga, dalam hati) :

"Itu salahku. Aku lengah. Sekali saja… dan hasilnya menyebar sampai sekarang."

Ia ingin turun tangan langsung, membersihkan satu per satu anomali itu.

Tapi—

Kalau ia pergi terlalu lama, gerbang ini tidak ada yang menjaga.

Dan kalau gerbang ini lepas kendali… seluruh dunia bisa pecah bersama retakannya.

Jadi, ia tetap di sini.

Menjaga.

Menatap.

Menunggu.

Dan, akhir-akhir ini… diganggu.

Suara langkah dan ranting patah terdengar dari kejauhan.

Lalu sebuah suara lantang, sedikit nyaring tapi manis, menggema di antara pepohonan gelap.

?? :

"Hei! Penjaga gerbang kecil! Kau di sana lagi, kan?"

Suara lain, lebih berat dan santai, menyusul.

?? :

"Jangan panggil dia kecil, kau sendiri tingginya cuma segitu-segitu saja."

Rei menghela napas panjang.

Rei (penjaga) :

"…Mereka lagi."

Ia tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang.

Beberapa detik kemudian, dua sosok muncul dari balik pepohonan.

Yang pertama, seorang gadis dengan rambut hitam merah gelap terurai, mata merah menyala seperti bara api. Sepasang tanduk kecil melengkung manis di atas kepalanya, dan ekor tipis dengan ujung runcing bergoyang malas di belakang.

Ia adalah gadis ras demon.

Yang kedua, seorang pria tinggi berotot dengan telinga runcing ke atas seperti serigala, rambut cokelat kusut, dan ekor tebal bergoyang santai. Cakar di tangannya tampak kuat, namun tatapannya hangat dan sedikit usil.

Ia adalah pria ras beastskin.

Gadis itu melambaikan tangan, senyum menggoda di wajahnya.

Gadis demon :

"Rei! Kau tidak kabur kan? Gerbangnya masih utuh?"

Rei (penjaga) melirik malas.

Rei (penjaga) :

"Kalau aku kabur, kau pikir dunia ini masih utuh?"

Pria beastskin tertawa keras.

Pria beastskin :

"Hahaha! Itu jawaban bagus. Setidaknya bocah manusia satu ini punya lidah tajam."

Gadis demon menyipitkan mata ke arahnya.

Gadis demon :

"Jangan bilang manusia, dia jelas bukan manusia biasa. Kalau tidak, monster anomali kemarin tak akan hilang tanpa tersisa."

Rei mendesah.

Rei (penjaga) :

"Sudah kubilang, jangan terlalu dekat dengan gerbang. Kalian tidak seharusnya sering-sering datang ke sini."

Gadis demon mendekat, tangannya masuk ke pinggang, tatapannya naik turun mengukur Rei.

Gadis demon :

"Ah, jangan begitu. Kau tahu tidak? Sebelum kami datang, tempat ini pasti sunyi sekali, kan? Sudah berapa tahun kau bicara hanya dengan udara?"

Rei (penjaga) :

"Sunyi itu bagus. Tidak ada yang berisik."

Pria beastskin menyandarkan diri ke batang pohon, tertawa kecil.

Pria beastskin :

"Kalau kau benar-benar suka sunyi, kau tidak akan repot-repot menyelamatkan kami waktu itu, Rei."

Rei mengerutkan alis tipis.

Kilasan beberapa hari lalu muncul di kepalanya.

KILAS BALIK — MISI ANOMALI DAN KEKUATAN YANG MENGHILANGKAN

Saat itu, beberapa hari yang lalu, hutan dipenuhi aura liar.

Dua pemburu dari dunia luar—gadis demon dan pria beastskin ini—masuk jauh ke pedalaman Hutan Terlarang dengan misi dari guild:

"Menginvestigasi dan menuntaskan anomali monster di pedalaman."

Mereka berpikir itu hanya sekadar monster berevolusi liar.

Namun kenyataannya… jauh lebih buruk.

Monster-monster di dalam teritori dekat gerbang itu bukan hanya besar dan ganas, tapi juga… terdistorsi.

Tubuhnya sobek-sobek seperti kain yang direnggut paksa, anggota badannya tumbuh di tempat yang salah, matanya menyala dengan cahaya dimensi yang tidak berasal dari dunia ini.

Serangan sihir gadis demon itu, yang biasanya cukup untuk menghancurkan batu besar, hanya membuat kulit mereka meleleh sesaat sebelum kembali ke bentuk kacau.

Serangan fisik beastskin itu, yang bisa merobek baja, hanya meninggalkan luka yang segera tertutup oleh daging yang bergerak seperti lumpur.

Mereka hampir terdesak.

Sampai…

Retakan dimensi bergetar.

Sesuatu bergerak di hadapannya.

Bocah berambut putih itu turun dari batu, berjalan pelan di antara monster-monster anomali, seolah kehadirannya sendiri adalah garis batas.

Rei (penjaga) :

"…Berisik."

Ia mengangkat tangan kanan.

Ruang di sekitar monster pecah seperti kaca dipukul dari dalam.

Garis tipis gelap—seperti celah kecil—muncul di udara, melintas di antara tubuh mereka.

Syut— syut— syut—

Dalam sekejap, semua monster itu… berhenti bergerak.

Lalu, seperti potongan kertas yang dihisap ke dalam lubang kecil, tubuh mereka terbelah dan menghilang. Tidak ada daging, tidak ada darah, tidak ada jejak.

Seolah mereka dihapus dari lapisan kenyataan.

Gadis demon dan pria beastskin berdiri kaku.

Gadis demon :

"…Apa itu barusan?"

Pria beastskin :

"Aku… bahkan tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata."

Rei menatap mereka kala itu, dingin namun tidak memusuhi.

Rei (penjaga) :

"Itu salahku mereka ada. Jadi sudah seharusnya aku yang menghapusnya."

KEMBALI KE SAAT INI — HUBUNGAN ANEH TIGA ORANG DI UJUNG DUNIA

Gadis demon mendekat sampai jaraknya sangat dekat dengan Rei, mencondongkan wajah untuk melihat mata berbeda warna itu dari jarak beberapa jengkal.

Gadis demon :

"Bagaimanapun, kau menyelamatkan kami. Jadi kami kembali, setidaknya untuk memastikan kau tidak mati membusuk sendirian di sini."

Rei menatapnya datar.

Rei (penjaga) :

"Ras demon terkenal sombong dan menjaga wibawa. Itu kata orang. Tapi kenapa satu ini suka mengganggu manusia tanpa alasan?"

Gadis demon mendengus, memalingkan wajah.

Gadis demon :

"Hmph, waktu pertama kali bertemu, aku memang pikir kau manusia lemah yang kebetulan nyasar ke sini."

Pria beastskin menyelipkan komentar, tertawa.

Pria beastskin :

"Dia sempat bilang, 'Manusia tidak seharusnya berada sedekat ini dengan Hutan Terlarang. Mereka akan mati sebelum sempat menjerit.'"

Gadis demon langsung menoleh tajam.

Gadis demon :

"Diam kau, Garm!"

Garm mengangkat tangan, berpura-pura pasrah.

Garm :

"Baik, baik. Tapi setelah lihat kau menghapus monster-monster itu seperti membuang sampah, muka sombongnya langsung… meleleh."

Gadis demon menggertakkan gigi, pipinya sedikit memerah.

Gadis demon :

"A-aku hanya… tidak menyangka saja."

Rei menatap mereka berdua, lalu menghela napas.

Rei (penjaga) :

"Kalian berdua seharusnya kembali ke dunia luar. Hutan ini tidak seharusnya sering kalian datangi. Banyak anomali yang belum kuselesaikan."

Garm mengangkat bahu.

Garm :

"Justru karena itu kami datang lagi. Guild ingin laporan tambahan, dan aku pribadi tidak nyaman tahu ada sumber kekacauan besar di sini tanpa tahu sedikit pun apa yang dijaga."

Ia melirik retakan dimensi di belakang Rei.

Garm :

"Gerbang itu… bukan gerbang biasa, kan?"

Rei tidak menjawab langsung. Matanya sedikit menyipit.

Rei (penjaga) :

"Yang perlu kalian tahu hanya satu: kalau gerbang ini pecah, kalian tidak akan punya hutan, kota, atau langit untuk kembali."

Suasana mendadak sedikit berat.

Gadis demon terdiam sejenak, lalu mendekat lagi, kali ini tidak menggoda, tapi lebih serius.

Gadis demon :

"Kalau begini beratnya tugasmu… kenapa kau tidak meminta bantuan dari bangsawan, kerajaan, atau siapa pun yang punya pengaruh?"

Rei menatap retakan.

Rei (penjaga) :

"Karena makin banyak yang tahu, makin banyak yang ingin memanfaatkannya."

Ia menunduk, suaranya turun satu nada.

Rei (penjaga) :

"Dan aku sudah sekali lalai… hingga energi nya lolos dan mencemari hutan ini. Cukup satu kesalahan. Aku tidak butuh orang lain menambahnya."

Garm dan gadis demon saling pandang.

Garm :

"…Kau menyalahkan dirimu terus menerus, ya."

Gadis demon :

"Padahal waktu dulu kau masih lebih kecil dari sekarang. Monster-monster anomali bukan lahir kemarin."

Rei mengangkat bahu.

Rei (penjaga) :

"Kesalahan tetap kesalahan, kapan pun itu terjadi."

Gadis demon maju, memukul pelan bahunya dengan ujung jarinya.

Gadis demon :

"Kalau kau terus begitu, kau akan tumbuh jadi manusia yang membosankan, Rei."

Rei menatapnya dengan tatapan datar.

Rei (penjaga) :

"Memang beginilah aku apa ada nya... mungkin dirimu lah yang harus tumbuh."

Garm tertawa meledak.

Garm :

"Hahaha! Pukulan telak."

Gadis demon memelototinya lagi.

Gadis demon :

"Kalian berdua sama menyebalkannya."

Rei menatap mereka, tiba-tiba teringat sesuatu.

Rei (penjaga) :

"Kalian terlalu sering datang ke sini. Guild kalian tidak curiga?"

Garm menggaruk kepala.

Garm :

"Resmi? Kami hanya laporkan kalau anomali bagian terdalam sudah 'dikendalikan' oleh entitas yang tidak bisa kami klasifikasikan."

Gadis demon :

"Dan karena mereka tidak bisa mengklasifikasimu, mereka tidak bisa langsung memerintahmu. Jadi untuk sekarang, mereka hanya… mengamati."

Rei mendengus kecil.

Rei (penjaga) :

"Bagus. Biarkan saja begitu."

Gadis demon lalu melipat tangan, menatap Rei dengan serius.

Gadis demon :

"Ngomong-ngomong… kau belum pernah menyebutkan namamu sendiri waktu itu. Kami hanya mendengar Garm memanggilmu 'bocah penjaga gerbang'."

Garm menyahut.

Garm :

"Atau 'manusia keras kepala', kadang-kadang."

Rei memandang mereka sebentar, lalu menghela napas.

Rei (penjaga) :

"Namaku Rei."

Gadis demon mengangkat alis.

Gadis demon :

"Rei… nama manusia yang… sederhana."

Garm mengangguk.

Garm :

"Mudah diingat."

Gadis demon tersenyum tipis, kali ini tanpa nada menggoda yang berlebihan.

Gadis demon :

"Kalau begitu, Rei… jangan pingsan sendirian di depan gerbang ini, mengerti? Kalau kau butuh sesuatu, panggil saja. Aku, Lirya, dan Garm—"

Rei memotong kalimatnya.

Rei (penjaga) :

"Aku tidak bisa meninggalkan gerbang. Dan aku tidak berniat menyusahkan orang lain."

Lirya mendengus.

Lirya :

"Aku tidak bilang kau harus datang ke kota dan minum di bar sampai mabuk. Maksudku, kalau terjadi sesuatu yang lebih besar… jangan hadapi semuanya sendirian."

Garm mengangguk pelan.

Garm :

"Walaupun kau penjaga gerbang, kau tetap satu makhluk hidup seperti yang lain. Bukan batu."

Rei menatap mereka berdua.

Ada sesuatu di dadanya yang terasa… aneh. Bukan nyeri, bukan sesak, hanya rasa yang sudah lama tidak ia rasakan.

Rasanya mirip… ketika ia dulu memutuskan membelah jiwanya dan mengirim satu bagian ke dunia lain, demi merasakan "hidup biasa".

Rei (penjaga, dalam hati) :

"Jadi bahkan di dunia ini, aku masih bertemu orang-orang keras kepala seperti Aelria."

Ia menghela napas.

Rei (penjaga) :

"Kalau ada anomali lagi di sekitar hutan luar, beritahu aku. Aku tidak bisa pergi jauh, tapi… aku akan membantumu dari sini sejauh yang bisa kulakukan."

Lirya tersenyum lebar.

Lirya :

"Nah, itu baru terdengar seperti janji penjaga gerbang, bukan patung gerbang."

Garm menepuk pundak Lirya pelan.

Garm :

"Hati-hati, kalau terlalu sering datang ke sini, kau yang jadi patung gerbang—demon dekorasi."

Lirya :

"Diam kau, Garm! Kalau bukan karena aku, kau pasti sudah dimakan monster anomali waktu itu!"

Garm :

"Kalau bukan karena Rei, kita berdua sudah jadi serpihan."

Rei menutup mata sebentar, membiarkan keributan kecil itu mengisi udara yang biasanya hanya diisi suara angin dan gerbang.

Jujur, itu membuat kepalanya sedikit pusing…

tapi juga membuat kesunyiannya tidak lagi setajam dulu.

Rei (penjaga, dalam hati) :

"Dunia luar… sedang bergerak. Guild, anomali, gerbang… dan di sisi lain, diriku yang lain sedang mencoba hidup sebagai manusia."

Ia menatap retakan dimensi.

Rei (penjaga, dalam hati) :

"Hei, kau di sana…"

Ia berbisik dalam hati, seakan suaranya bisa mencapai Rei yang lain, yang sedang duduk di kelas baru, menjalani hari sebagai manusia.

Rei (penjaga, dalam hati) :

"Kalau suatu hari kau mulai bisa merasakan aliran energi, aliran elemen, dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan… jangan kaget, ya.

Itu hanya aku… yang akhirnya berhenti terlalu pelit membagi beban."

Lirya melambai di depan wajahnya.

Lirya :

"Rei, kau melamun lagi. Jangan-jangan gerbangnya yang menghipnotismu?"

Garm :

"Atau dia memikirkan seseorang di dunia lain?"

Rei membuka mata, tatapannya kembali tajam.

Rei (penjaga) :

"Kalian terlalu banyak bicara."

Namun kali ini, ada sedikit sudut bibirnya yang terangkat naik—nyaris seperti senyuman.

Dan tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang tahu:

di dunia lain, pada waktu yang tidak terlalu jauh dari saat ini, seorang pemuda berambut putih akan mulai merasakan hal-hal kecil yang ganjil.

Bukan penglihatan aneh.

Bukan perpindahan ke ruang hening.

Melainkan—

Sesuatu..Sesuatu yang tidak semua manusia biasa miliki.

Semua itu…

baru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar yang menghubungkan dua Rei di dua dunia berbeda.

More Chapters