Pagi pertama di kota baru.
Cahaya matahari menembus tirai tipis, menggores kamar kecil Rei dengan warna keemasan. Suara kendaraan di jalan depan apartemen samar terdengar, bercampur dengan suara burung dan kehidupan baru yang belum mengenal namanya.
Rei duduk di tepi kasur, seragam barunya sudah ia kenakan.
Seragam itu terasa sedikit asing: blazer dengan lambang sekolah baru di dada, kemeja putih bersih, celana hitam.
Di meja kecil, foto orang tuanya berdiri rapi di samping kotak bekal yang ia siapkan sendiri.
Rei menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang menempel di dinding:
rambut putih berantakan, mata kanan gelap, mata kiri biru—kontras yang membuatnya tampak lebih mencolok dari yang ia inginkan.
Rei :"…Kau benar-benar kelihatan aneh."
Ia tertawa kecil, tanpa humor.
Rei :"Mulai hari ini… tidak ada cinta-cintaan."
Ia mengangkat tangan, menunjuk wajahnya sendiri di cermin.
Rei :"Rei, dengar. Di sekolah lama, kau jatuh cinta, percaya, lalu hancur. Di sini, tidak ada itu lagi. Tidak ada pacaran. Tidak ada janji bodoh."
Ia menghela napas, menurunkan tangannya.
Rei :"Fokus saja hidup seperti manusia biasa. Belajar, lulus, kerja, makan, tidur. Bahkan kalau ras lain atau manusia lain mengucilkanmu… ya sudah. Kita sudah pernah mengalaminya, kan?"
Ada jeda sesaat.
Rei :"…Dan jangan lupa, Aelria bilang jangan hancur."
Sebuah senyum tipis, hampir tidak terlihat, muncul di sudut bibirnya.
Rei :"Baik. Kita coba lagi."
Ia mengambil tasnya, memasukkan bekal, memeriksa surat pengantar dari sekolah lama, lalu menuju pintu.
Sebelum keluar, ia menoleh sebentar ke foto orang tuanya.
Rei :"Ayah, Ibu… aku berangkat."
Lalu pintu tertutup, meninggalkan kamar kecil itu sendirian.
SEKOLAH BARU, TATAPAN BARU
Sekolah barunya berdiri beberapa blok dari apartemen—bangunan tiga lantai dengan lahan yang cukup luas, lapangan latihan di belakang, dan beberapa instalasi sihir-teknologi di sudut halaman.
Gerbang sekolah tidak sebesar sekolah elit di kota besar, tapi tetap terlihat kokoh. Di depan gerbang, siswa dari berbagai ras mondar-mandir.
Ada manusia.
Ada beastman dengan telinga dan ekor.
Ada elf dengan telinga panjang halus.
Bahkan ada satu-dua ras lain dengan mata bercahaya samar.
Begitu Rei melangkah melewati gerbang, beberapa tatapan langsung tertuju padanya.
Siswa 1 (berbisik) :"Eh… rambut putih?"
Siswa 2 :"Matanya beda warna… heterochromia? Jarang banget, kan?"
Siswa beastman (mengendus kecil) :"Manusia? Tapi rasanya… agak beda."
Beberapa tatapan cewek berhenti sedikit lebih lama di wajah Rei—bukan hanya karena rambut dan mata, tapi juga karena garis wajahnya yang rapi dan tenang.
Namun bagi Rei, semua itu hanya terasa seperti cahaya lampu sorot yang ingin ia hindari.
Rei (dalam hati) :"Ya ampun… aku cuma ingin jadi biasa, tapi malah keliatan mencolok begini."
Ia menundukkan sedikit kepalanya, berjalan menuju kantor guru sesuai peta yang ia dapat.
Di koridor, bisik-bisik mengikuti langkahnya:
Siswa 3 :"Anak baru, ya?"
Siswa 4 :"Dari luar kota, katanya. Lihat rambutnya… keren juga."
Siswa 5 :"Atau mungkin ras campuran? Tapi kupingnya biasa."
Rei pura-pura tidak mendengar.
Ia mengetuk pintu ruangan guru.
Rei :"Permisi, Hirashi Rei datang sesuai jadwal."
Seorang guru wanita berambut hitam pendek, berkacamata, mengangkat kepala dari tumpukan dokumen. Di papan namanya tertulis: Sakuraba Haruka.
Sakuraba :"Oh, Hirashi-kun. Masuklah."
Rei melangkah masuk, menyerahkan surat pengantar dan dokumen perpindahan.
Sakuraba membacanya sebentar, alisnya terangkat tipis.
Sakuraba :"Nilai akademik sangat tinggi… tapi catatan kemampuan kebangkitan…"
Ia menatap Rei sebentar, lalu kembali ke dokumen.
Sakuraba :"Di sini tertulis kamu tidak memiliki kemampuan apa pun saat tes di sekolah lamamu."
Rei menahan sedikit rasa perih yang masih tersisa dari kalimat itu.
Rei :"Ya, Sensei. Hasilnya begitu."
Sakuraba mengangguk pelan.
Sakuraba :"Di sekolah ini, sebagai prosedur, kami biasa melakukan pemeriksaan ulang untuk siswa pindahan. Bukan untuk meragukanmu, tapi untuk mencocokkan data dengan standar kami."
Rei :"Baik. Saya mengerti."
Sakuraba tersenyum tipis, profesional.
Sakuraba :"Bagus. Kita selesaikan tes itu dulu, baru setelahnya aku antarkan kamu ke kelas."
Ia berdiri, mengambil tablet sihir-teknologi dan beberapa dokumen, lalu memberi isyarat pada Rei untuk mengikutinya.
RUANG TES KEMAMPUAN ULANG
Ruang tes berada di gedung samping—tidak terlalu besar, namun dipenuhi peralatan yang jelas merupakan kombinasi teknologi manusia dan sihir ras lain.
Di tengah ruangan, ada semacam kapsul transparan setengah badan, dengan cincin-cincin logam berukir rune mengelilinginya. Di sisi lain, ada panel holografik yang menampilkan status data.
Seorang pria paruh baya berambut sebagian putih, mengenakan jas lab dan jubah sihir tipis, sedang memeriksa data. Ia memiliki mata tajam dan telinga sedikit lebih panjang dari manusia biasa—mungkin campuran manusia-elf.
Sakuraba :"Ini Hirashi Rei, siswa pindahan. Mohon lakukan pemeriksaan ulang."
Pria itu menoleh, menatap Rei dengan penuh minat.
Penguji :"Hm. Anak berheterokromia. Jarang."
Rei hanya membungkuk sopan.
Rei :"Maaf merepotkan."
Penguji mengutak-atik panel sebentar.
Penguji :"Laporan dari sekolah sebelumnya menyatakan 'tanpa kemampuan terbangkitkan', ya? Baik, kita lihat apa alat di sini berkata sama."
Ia menunjuk kapsul.
Penguji :"Berdirilah di dalam situ. Tenang saja, ini tidak sakit. Hanya membaca aliran energi dan struktur mana di tubuhmu."
Rei mengangguk, melangkah masuk ke dalam kapsul.
Cincin logam di sekelilingnya menyala pelan, membentuk pola rune yang bercahaya.
Sakuraba berdiri di samping penguji, memperhatikan.
Sakuraba :"Hirashi-kun, santai saja. Anggap saja ini formalitas."
Rei menarik napas pelan.
Rei :"Baik, Sensei."
Vmmm…
Cahaya lembut mengalir di sepanjang cincin logam. Panel holografik di sisi penguji mulai menampilkan garis-garis dan angka.
Awalnya, semua berjalan normal.
[Analisis struktur fisik… Selesai]
[Analisis afinitas elemen…]
Di panel, indikasi afinitas elemen api, air, angin, tanah, dan lainnya muncul—semuanya menunjukkan nilai mendekati nol.
Penguji mengangguk kecil.
Penguji :"Sesuai data sejauh ini. Tidak ada afinitas elemen dominan."
Lalu proses berikutnya dimulai.
[Analisis jejak energi dimensi…]
Untuk sebagian besar manusia, bagian ini hanya memberikan hasil standar: tingkat paparan normal, adaptasi biasa, tidak ada anomali.
Namun ketika sinar pengukuran menyapu dada Rei—
Panel holografik berkedip.
Sret.
Grafik yang tadinya datar mendadak melonjak ekstrem beberapa detik, lalu turun lagi.
Penguji menghentikan tangan yang hendak mematikan sistem. Matanya menyipit.
Penguji :"Hm?"
Sakuraba melirik.
Sakuraba :"Ada masalah?"
Penguji tidak langsung menjawab. Ia menyalakan ulang bagian analisis tertentu.
[Analisis jejak energi dimensi… Ulang]
Sinar kembali menyapu tubuh Rei.
Rei mengerutkan alis sedikit—bukan karena sakit, tapi karena merasa sedikit… aneh? Seperti ada sesuatu yang menggelitik di dada, namun begitu ia coba fokus, sensasi itu menghilang.
Rei (dalam hati) :"…Perasaan saja, ya?"
Panel kembali berkedip.
Namun kali ini, tulisan yang muncul berbeda.
[Jejak energi dimensi: Terdeteksi]
[Klasifikasi: Tidak Teridentifikasi]
[Status: Tersegel / Tidak Stabil]
[Rekomendasi: Pengamatan lanjut (Level 2)]
Penguji :"…"
Sakuraba mengangkat alis.
Sakuraba :"…Tidak teridentifikasi?"
Penguji mengusap dagunya, menatap data yang terproyeksi.
Penguji :"Menarik. Sistem kita tidak memberikan klasifikasi elemen, tidak juga tipe kemampuan standar. Tapi jelas ada sesuatu yang… menempel di inti energinya."
Ia memperbesar tampilan visualisasi: di sana tampak gambaran abstrak "inti" energi Rei—warna dasar hampir kosong, tapi di bagian tengah ada retakan tipis, dari mana sedikit cahaya samar keluar.
Rei tidak melihat layar itu. Ia hanya berdiri diam di kapsul, menunggu.
Rei :"Sensei? Sudah selesai?"
Sakuraba menatap panel sekali lagi, lalu menekan sesuatu. Cahayanya meredup.
Sakuraba :"Sudah, Hirashi-kun. Kau boleh keluar."
Rei melangkah keluar, mengusap pelan seragamnya.
Rei :"Hasilnya… sama seperti sekolah sebelumnya, ya? Tidak ada apa-apa?"
Penguji dan Sakuraba saling bertukar pandang cepat.
Beberapa detik hening.
Sakuraba lalu tersenyum, memilih kata-kata dengan hati-hati.
Sakuraba :"Secara praktis… tidak ada kemampuan yang bisa digunakan, tidak ada afinitas elemen, dan tidak ada indikasi kamu bisa menggunakan sihir atau teknik penguatan tubuh saat ini."
Rei mengangguk. Itu sesuai dengan dugaannya.
Rei :"Begitu, ya."
Penguji menambahkan, nada suaranya mengandung rasa ingin tahu.
Penguji :"Namun… alat kami mendeteksi jejak energi yang… tidak sesuai kategori standar. Bukan masalah sekarang, tapi—"
Rei memiringkan kepalanya sedikit.
Rei :"Artinya… apa saya berbahaya, Pak?"
Penguji tertawa kecil, menggeleng.
Penguji :"Kalau berbahaya, dari tadi kami sudah memanggil tim keamanan dan mengurungmu di ruang isolasi."
Rei :"…Saya tidak yakin itu jawaban yang menenangkan, Pak."
Sakuraba menahan senyum.
Sakuraba :"Intinya, Hirashi-kun, secara fungsi: kamu tetap dianggap siswa tanpa kemampuan tempur untuk saat ini. Tapi datamu akan diberi catatan khusus untuk pengamatan. Hanya guru-guru tertentu yang bisa mengaksesnya."
Rei menarik napas lega.
Rei :"Selama saya masih bisa bersekolah normal… itu sudah cukup."
Di dalam hati, ia sama sekali tidak berencana menggali lebih dalam.
Tidak tertarik memikirkan "misteri energi" yang bahkan tidak bisa ia rasakan.
Baginya, yang penting hanyalah: ia bisa duduk di kelas, menulis di buku, dan menjalani hari seperti siswa lain—sebisa yang ia mampu.
Penguji menatapnya sebentar lebih lama.
Penguji :"Kalau kau merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhmu—pusing, mimpi aneh, atau kejadian yang sulit dijelaskan—datang ke sini. Jangan disimpan sendiri."
Rei mengangguk sopan.
Rei :"Baik, Pak."
Dalam hati, ia hanya berpikir:
Rei (dalam hati) :"Mimpi aneh dan kejadian tidak bisa dijelaskan sudah terjadi dalam hidupku. Namanya cinta pertama dan pengkhianatan."
Ia tidak mengatakan itu keras-keras, tentu saja.
MENUJU KELAS BARU
Sakuraba menyimpan salinan data ke tablet miliknya, lalu menutup file.
Sakuraba :"Baik, tes sudah selesai. Hirashi-kun, aku akan mengantarmu ke kelas."
Rei membungkuk ke penguji.
Rei :"Terima kasih atas waktu dan bantuannya."
Penguji mengangguk, masih menatap data di panel bahkan setelah mereka keluar ruangan.
Penguji (pelan, pada diri sendiri) :"…Energi dimensi, tersegel, tidak stabil. Mirip residu retakan… tapi bagaimana bisa ada dalam tubuh manusia biasa?"
Di luar, di koridor, langkah Rei dan Sakuraba bergema pelan.
Sakuraba berjalan di depan, menjelaskan singkat tentang sekolah: jadwal, area latihan, peraturan dasar. Rei mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menyimpan semua detail di kepalanya.
Sakuraba :"Kelasmu adalah 2-B. Murid-muridnya… sedikit ramai, tapi tidak jahat. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Kalau ada yang mengganggu, lapor padaku."
Rei :"Terima kasih, Sensei. Saya akan berusaha tidak menimbulkan masalah."
Sakuraba menoleh, menatapnya sekilas.
Sakuraba :"Kalimat itu biasanya diucapkan anak-anak yang justru menarik masalah tanpa mereka sadari."
Rei terdiam, lalu tersenyum miring.
Rei :"Kalau begitu… saya harap kali ini tidak begitu, Sensei."
Mereka berhenti di depan pintu dengan plakat kecil bertuliskan:
2-B
Dari dalam terdengar suara ramai—tawa, obrolan, suara kursi bergeser.
Sakuraba mengetuk pintu sekali, kemudian membukanya.
Suara di dalam perlahan mereda.
Sakuraba melangkah masuk, diikuti Rei di belakangnya.
Puluhan pasang mata langsung tertuju pada pintu.
Manusia.
Beastman dengan telinga bergerak-gerak penasaran.
Elf dengan mata tajam.
Ras lain dengan ciri-ciri kecil yang unik.
Dan di depan mereka semua, berdiri seorang pemuda berambut putih, bermata kanan hitam dan kiri biru, dengan wajah tenang namun jelas asing di kelas ini.
Bisik-bisik mulai terdengar.
Siswa A :"Siapa itu?"
Siswa B :"Anak baru, ya? Wah, rambut putih…"
Siswa C :"Manusia? Atau campuran?"
Sakuraba menaikkan tangan, menenangkan suasana.
Sakuraba :"Baik, semuanya. Hari ini kita kedatangan siswa pindahan. Tolong sambut dengan baik."
Ia menoleh pada Rei, memberi isyarat untuk maju.
Rei melangkah ke depan, berdiri di samping meja guru.
Ia menatap kelas sejenak—bukan dengan sombong, tapi dengan tatapan yang mencoba bertahan agar tidak goyah.
Rei menghela napas pelan.
Rei :"Nama saya Hirashi Rei."
Ia berhenti sebentar, memilih kata-kata.
Rei :"Aku pindahan dari kota lain. Tidak punya kemampuan kebangkitan apa pun, jadi… tolong perlakukan aku sebagai manusia biasa saja."
Beberapa siswa saling pandang.
Siswa beastman di belakang mengangkat tangan.
Siswa beastman :"Rei-san, rambut dan matamu itu asli?"
Rei menahan dorongan untuk tertawa hambar.
Rei :"Asli. Bukan hasil sihir, bukan juga mode."
Seisi kelas tertawa kecil.
Siswa cewek di dekat jendela menyandarkan dagu di tangan, menatap Rei tanpa berkedip.
Siswi :"Heterochromia itu… cantik ya. Eh, maksudku… keren."
Rei mengalihkan pandangan, agak kikuk.
Rei (dalam hati) :"Awal yang aneh. Tapi… belum ada yang melempar hinaan, itu sudah kemajuan."
Sakuraba tersenyum kecil.
Sakuraba :"Hirashi-kun akan duduk di bangku kosong di dekat jendela, di baris ketiga. Tolong bantu dia untuk menyesuaikan diri."
Ia menatap seluruh kelas.
Sakuraba :"Dan ingat, di sekolah ini, kita tidak menilai orang hanya dari kekuatan kebangkitannya. Mengerti?"
Serentak, sebagian besar siswa menjawab.
Siswa-siswa :"Mengerti, Sensei."
Sakuraba mengangguk puas.
Sakuraba :"Baik, Hirashi-kun, silakan duduk. Setelah ini kita mulai pelajaran."
Rei menunduk sedikit, lalu berjalan menuju bangku yang ditunjuk—dekat jendela, di mana cahaya matahari masuk lembut.
Saat ia duduk, beberapa pasang mata masih mengikutinya. Tatapan penasaran, kagum, bahkan beberapa tatapan yang… sedikit terlalu lama untuk disebut biasa.
Namun di dalam dirinya, Rei sudah memutuskan.
Rei (dalam hati) :"Tidak ada cinta. Tidak ada hubungan rumit. Hanya sekolah, belajar, lulus."
Ia menatap buku kosong di mejanya.
Rei :"…Mari kita mulai, Rei."
Di luar, langit cerah.
Di dalam tubuhnya, segel tipis di kedalaman energi masih retak halus, belum benar-benar pecah.
Para guru belum tahu apa yang sebenarnya mereka lihat di data tadi.
Rei belum tahu apa yang berlindung di balik "tidak teridentifikasi".
Dan di dunia lain, jauh di hutan terlarang, seorang Pria berambut putih masih duduk di depan retakan dimensi, tersenyum tipis, seolah berkata:
Pria :
"Pelan-pelan saja. Dunia tidak perlu tahu dulu."
