Cherreads

Chapter 4 - RUMAH TERAKHIR DAN KOTA YANG TAK MENGENAL NAMANYA

Malam itu, setelah semua tangis yang tertutup oleh hujan di jembatan, Rei akhirnya tertidur.

Kamar kecil peninggalan orang tuanya temaram hanya diterangi lampu meja yang lupa ia matikan. Di dinding, foto lama kedua orang tuanya bersama Rei kecil tersenyum — potret keluarga yang sekarang tinggal kenangan.

Rei berbaring miring, napasnya pelan dan tidak teratur, seperti seseorang yang tubuhnya lelah tapi pikirannya belum benar-benar tenang.

Di luar jendela, hujan sudah reda. Langit tertutup awan tipis, menyisakan udara dingin dan suara tetes air yang jatuh dari atap ke tanah.

Lalu, sesuatu terjadi.

Tanpa suara, tanpa cahaya terang, hanya seberkas energi tipis — seperti asap bercahaya yang tak terlihat mata manusia — melintas di langit malam, menembus dinding rumah Rei, dan berhenti tepat di atas dadanya.

Energi itu berputar pelan, seolah ragu.

Kemudian, perlahan… masuk.

Menembus kulit, menembus daging, hingga mencapai sesuatu yang lebih dalam: inti halus yang selama ini "tertidur" di dalam diri Rei, terbungkus rapat seperti benda yang disegel.

Saat menyentuhnya, segel itu bergetar samar.

Seperti pintu yang sudah lama terkunci tiba-tiba digedor pelan dari dalam.

…krek.

Namun segel itu tidak pecah.

Hanya retak sangat tipis, nyaris tidak berarti.

Energi yang datang itu menyatu pelan, berbaur dengan sesuatu yang sudah ada di sana. Tidak meledak, tidak mengubah bentuk tubuh Rei, tidak menimbulkan rasa sakit.

Di permukaan, Rei hanya mengerutkan kening sedikit dalam tidur.

Rei :

"…Hn…"

Sekilas, seperti ada mimpi aneh — ruang gelap, garis tipis cahaya, suara tawa jauh di tempat lain. Namun begitu mimpinya bergeser ke arah lain, gambaran itu memudar.

Saat ia terbangun keesokan paginya, yang ia rasakan hanyalah… lelah biasa.

Tidak ada rasa aneh di tubuhnya.

Tidak ada kekuatan misterius yang tiba-tiba bangkit.

Tidak ada perubahan drastis.

Segalanya, bagi Rei, masih sama.

HARI-HARI TERAKHIR DI RUMAH PENINGGALAN ORANG TUA

Beberapa hari berikutnya dipenuhi suara kardus, bunyi sobeknya lakban, dan langkah Rei yang mondar-mandir di rumah kecil yang sudah lama ia tinggali sendirian.

Di ruang tamu, beberapa kardus sudah tertumpuk.

Buku-buku yang dulu ia beli saat ingin mengejar nilai akademik.

Foto-foto kecil yang ia pilih dengan hati-hati.

Beberapa pakaian, alat tulis, dan barang-barang penting lain.

Rei berdiri di tengah ruang yang mulai kosong, memegang bingkai foto lama.

Di dalamnya, ayahnya tertawa lebar, memegang Rei kecil yang mengacungkan dua jari. Ibunya memeluk keduanya dari samping, wajah lembutnya menempel di bahu ayah.

Rei menyentuh permukaan kaca bingkai itu dengan ujung jarinya.

Rei :"Ayah, Ibu…"

Ada jeda.

Rei :"Aku… tidak bisa mempertahankan rumah ini."

Ia tersenyum tipis, pahit.

Rei :"Tapi kalau aku terus tinggal di sini… aku hanya akan diam ditempat. Dan kalian pasti tidak mau lihat aku membusuk di sudut kamar, kan?"

Ia meletakkan foto itu ke dalam kardus paling rapi, yang akan ia bawa paling hati-hati ke kota baru nanti.

Di meja, ada setumpuk dokumen penjualan rumah.

Surat-surat resmi, stempel kantor, tanda tangan.

Ia sudah bertemu beberapa kali dengan agen properti yang membantunya menjual rumah ini. Uang dari penjualan itu akan ia gunakan untuk hidup sendiri di kota baru — tempat sekolah barunya berada.

Hari terakhir di rumah itu, ia berkeliling pelan.

Dapur kecil tempat ibunya dulu sering memasak.

Ruangan kosong di mana dulu ada meja tempat orang tuanya bekerja.

Rak buku di mana ia dulu belajar keras demi mengejar nilai, demi kondisi hidup yang lebih baik.

Semua itu, sebentar lagi, bukan lagi miliknya.

Rei berdiri di tengah ruang tamu, menatap sekeliling.

Rei :"Terima kasih… sudah menampung aku sampai sekarang."

Ia tertawa kecil.

Rei :"Kalau arwah itu ada, jangan marahi aku karena menjual rumah ini, ya. Aku cuma… mau mencoba hidup."

Angin sore masuk dari jendela yang terbuka, menggoyangkan tirai tipis. Sejenak, rumah itu terasa seperti menghela napas bersama Rei.

MENUJU KOTA BARU

Sore hari, Rei memasukkan kardus-kardus terakhir ke dalam mobil sewaan kecil. Bukan truk besar, hanya mobil van sederhana yang cukup untuk membawa semua barang pentingnya.

Ia berdiri di depan rumah, memandang pintu dan jendela yang akan segera bukan miliknya lagi.

Matahari condong ke barat, menorehkan cahaya jingga di dinding rumah.

Rei menutup pintu perlahan, memutar kunci untuk terakhir kalinya.

Rei :"Selamat tinggal."

Tidak ada yang menjawab.

Hanya suara kunci berputar dan klik kecil yang menandai akhir sebuah babak.

Rei berjalan menuju mobil, masuk, dan menyalakan mesin.

Suara mesin memenuhi keheningan jalan kecil di depan rumah.

Saat mobil bergerak perlahan meninggalkan lingkungan yang sudah ia hafal setiap sudutnya, ia tidak menoleh ke belakang lagi.

Bukan karena tidak ingin.

Justru karena kalau ia menoleh, ia takut… tidak jadi pergi.

Perjalanan ke kota baru memakan beberapa jam.

Di luar jendela, pemandangan berganti: dari perumahan kecil, naik ke jalan raya, melewati area industri, lalu masuk ke daerah perkotaan yang lebih padat.

Di kejauhan, di atas gedung-gedung tinggi, beberapa gerbang dimensi terlihat seperti cincin cahaya yang menggantung di langit — bukti nyata bahwa dunia ini bukan lagi dunia "manusia saja".

Rei menatapnya sekilas, lalu kembali fokus ke jalan.

Rei (dalam hati) :"Kota baru, sekolah baru… identitas baru, mungkin."

Ia tidak berharap banyak.

Tidak berharap tiba-tiba hidupnya membaik hanya karena pindah kota.

Yang ia inginkan hanya satu:

tempat di mana tidak ada yang mengenalnya sebagai "Rei yang gagal bangkit" atau "mantan pacar Mina".

APARTEMEN KECIL DI KOTA YANG ASING

Malam sudah turun ketika Rei akhirnya berhenti di depan sebuah gedung apartemen kecil.

Bukan apartemen mewah bertingkat tinggi, melainkan bangunan tiga lantai dengan dinding kombinasi bata dan cat krem, tampak tua namun terawat.

Di dinding depan, ada papan kayu bertuliskan nama apartemen dalam huruf Jepang, dengan lampu kecil di atasnya.

Lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah barunya nanti — berjalan kaki kurang dari lima belas menit. Di sekelilingnya, ada minimarket kecil, warung makan, dan beberapa toko yang masih buka meski sudah malam.

Rei turun dari mobil, menatap bangunan itu.

Rei :"…Lumayan."

Ia menuju kantor kecil di samping pintu masuk, tempat pemilik apartemen menunggu.

Seorang pria paruh baya muncul, telinga sedikit runcing — kemungkinan campuran manusia dan elf.

Pemilik :"Ah, Hirashi-san, ya? Yang sudah telepon siang tadi."

Rei membungkuk sopan.

Rei :"Ya, itu saya. Maaf datang malam-malam."

Pemilik :"Tidak apa. Kamarmu sudah disiapkan. Lantai dua, kamar nomor 202. Tetangga-tetanggamu di situ ramah kok. Ada keluarga beastman di sebelah, dan di bawah nya ada pasangan elf-manusia."

Mereka menyelesaikan proses singkat serah kunci dan pembayaran uang muka.

Setelah itu, Rei mulai memindahkan barang dari mobil ke tangga di lantai 1 menuju lantai 2.

Koridor apartemen tidak terlalu luas, tapi bersih. Lampu-lampu di langit-langit memberikan cahaya hangat.

Beberapa pintu sudah tertutup, tapi suara TV, tawa, dan aroma masakan tercium samar.

Saat Rei lewat membawa kardus, sebuah pintu terbuka.

Seorang pria tinggi berotot dengan telinga binatang dan ekor yang bergoyang pelan mengintip. Ia memakai kaos longgar dan celana pendek, terlihat baru saja selesai olahraga.

Pria beastman :"Oh, penghuni baru ya?"

Rei berhenti sebentar, sedikit terkejut, lalu tersenyum sopan.

Rei :"Ah, iya. Maaf mengganggu malam-malam."

Pria beastman tertawa kecil.

Pria beastman :"Tidak apa. Aku Kyou. Kamar sebelahmu, 203. Kalau butuh bantuan angkat barang, panggil saja."

Rei menggeleng pelan.

Rei :"Terima kasih banyak, tapi barangku tidak terlalu banyak. Aku bisa sendiri."

Kyou mengangguk.

Kyou :"Kalau begitu, selamat datang di apartemen ini. Besok kalau sempat, mampir. Istriku suka sekali masak banyak."

Rei sedikit terkejut mendengar kebaikan itu datang begitu natural.

Rei :"A-ah, iya. Terima kasih."

Kyou melambaikan tangan dan menutup pintunya lagi, kembali ke dunianya sendiri.

Beberapa menit kemudian, di lantai bawah, seorang wanita elf muda keluar, melihat ke atas dan tersenyum saat melihat Rei mengangkat kardus.

Wanita elf :"Penghuni baru?"

Rei menunduk sedikit dari atas.

Rei :"Iya, baru pindah hari ini. Mohon bantuannya."

Wanita elf :"Kalau butuh bumbu dapur atau yang lain, tinggal bilang. Di sini semua orang saling bantu."

Suara laki-laki manusia terdengar dari dalam.

Suara pria :"Sayang, jangan ganggu anak baru pindahan. Dia pasti capek."

Wanita elf tertawa kecil dan kembali masuk.

Sekitar satu jam, Rei mondar-mandir antara mobil dan kamar, memindahkan semua kardus, tas pakaian, dan beberapa barang kecil.

Akhirnya, mobilnya kosong dan ia menelpon kantor jasa mobil tersebut untuk mengabari bahwa mobil nya dapat di ambil di apartement baru nya dan kunci ny sudah ia titipkan ke pemilik apartement.

Kamar barunya… penuh.

MALAM PERTAMA DI TEMPAT BARU

Rei berdiri di tengah kamar barunya.

Ruangan itu tidak besar:

Satu kasur lipat di pojok, lemari kecil, meja rendah, dan dapur mini dengan kompor satu tungku di sudut.

Dindingnya polos, jendelanya menghadap ke jalan kecil dengan lampu jalan yang temaram.

Namun bagi Rei, ruangan itu terasa seperti… awal yang benar-benar kosong.

Rei menjatuhkan diri pelan ke kasur, menatap langit-langit.

Rei :"Besok… sekolah baru."

Ia memutar kepala, memandang kardus-kardus yang belum dibuka.

Foto orang tuanya sudah ia taruh di meja, menghadap ke kasur.

Rei menatap foto itu.

Rei :"Ayah, Ibu… aku pindah."

Ia terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis.

Rei :"Kalau di sini pun dunia tetap menolakku, ya… kita pikir lagi nanti."

Perutnya berbunyi pelan.

Rei :"…Ah."

Ia bangkit, masuk ke dapur kecil, membuka tas plastik yang tadi ia beli di minimarket.

Malam itu, makan malamnya sederhana:

mie instan, telur rebus, dan onigiri yang ia beli di jalan.

Ia makan sambil duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding, TV kecil di pojok kamar belum ia nyalakan. Hening, tapi tidak menakutkan.

Lebih tepatnya… asing.

Rei :"Untuk sekarang, cukup."

Selesai makan, ia mandi dengan air hangat. Uap tipis memenuhi kamar mandi kecil, menghapus sedikit beban di bahu dan punggung.

Setelah itu, ia kembali ke kasur, berbaring menatap foto orang tuanya.

Rei :"Selamat malam."

Ia memejamkan mata.

Tidak ada kilatan cahaya.

Tidak ada suara misterius yang memanggil namanya.

Tidak ada rasa sakit aneh yang menyelinap ke tubuhnya.

Energi yang dulu malam-malam sebelumnya masuk ke dadanya kini hanya… diam.

Bersemayam, menunggu.

Segel di dalam dirinya masih hampir utuh, hanya retak kecil yang bahkan belum cukup untuk membiarkan kekuatan itu mengalir keluar.

Rei tidak sadar.

Bagi dirinya, ia hanya… sangat lelah.

Dalam tidurnya, mungkin ada sedikit bayangan ruang gelap, garis tipis cahaya, dan suara tawa bocah jauh di tempat lain.

Namun begitu pagi mendekati, semua itu memudar.

Saat matahari esok hari menembus tirai tipis dan membangunkan Rei, ia hanya mengerjapkan mata perlahan, menguap kecil, dan menggosok rambut putihnya yang berantakan.

Rei :"…Hari pertama."

Ia duduk, menepuk pipinya pelan.

Rei :"Mulai dari awal. Hirashi Rei… siswa biasa, di sekolah baru."

Ia tidak tahu.

Bahwa di kedalaman dirinya, sesuatu sudah berubah sedikit — sangat sedikit, hampir tidak berarti.

Tidak ada peningkatan kekuatan.

Tidak ada kemampuan sihir.

Tidak ada indikator stat.

Hanya sebuah garis retak kecil di segel yang menahan sesuatu di dalam dirinya, dan seberkas energi yang kini bersabar menunggu waktu yang tepat.

Untuk saat ini, dunia hanya melihat seorang pemuda berambut putih dan bermata kiri biru yang memulai harinya dengan cara yang sangat manusiawi:

Sarapan seadanya.

Seragam baru yang sedikit longgar.

Dan langkah pelan menuju sekolah baru…

tanpa menyadari bahwa perjalanan hidupnya sekaligus akan menjadi perjalanan menuju "hazama" — celah di antara dua dunia, dua jiwa, dan dua takdir."

More Chapters