Cherreads

Chapter 3 - " Hujan Di Atas Jembatan "

Malam merambat pelan di atas kota.

Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning pucat di permukaan sungai yang mengalir tenang di bawah sebuah jembatan beton yang sepi.

Di jembatan itu, berdirilah seorang pemuda berambut putih, seragam sekolahnya sudah basah oleh embun dan sisa hujan yang turun tipis.

Hirashi Rei.

Tidak ada mobil lewat.

Tidak ada orang lain.

Hanya suara air sungai dan desiran angin dari arah pepohonan yang tumbuh di sepanjang tepi sungai, membuat suasana seperti hutan kecil yang tiba-tiba merapat, menutup dunia di sekelilingnya.

Rei berdiri di dekat pagar jembatan, kedua tangannya menggenggam logam dingin itu.

Rei :

"…Sepi sekali."

Suara itu hampir tidak terdengar, tertelan udara lembab.

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap sungai gelap di bawah sana.

Jika ia melompat… semuanya akan selesai dalam hitungan detik.

Tidak perlu lagi menahan tatapan kasihan.

Tidak perlu lagi mendengar bisik-bisik tentang "gagal bangkit", "manusia biasa di era salah".

Tidak perlu lagi mengingat tawa Mina di peluk lelaki lain.

Rei menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak.

Rei (dalam hati) :

Ayah, Ibu… kalian dulu pergi begitu cepat, ya.

Kenangan itu muncul:

sirene ambulans, lampu merah biru, suara orang dewasa yang panik, tangan kecil Rei memegang erat baju petugas medis, dan kabar singkat yang meruntuhkan dunia: kecelakaan, tidak bisa diselamatkan.

Sejak saat itu, ia hidup sendiri.

Lalu Aelria datang — sahabat elf yang menertawakan kesepiannya, menggantikan sedikit ruang kosong yang ditinggalkan orang tuanya.

Lalu Aelria pergi kembali ke dunianya.

Lalu Mina datang — cinta pertamanya, gadis yang ia pikir akan menjadi tempatnya bersandar dalam dunia yang mulai dipenuhi kekuatan dan sihir.

Lalu Mina… meremukkan hatinya.

Rei :

"…Bodoh."

Ia memejamkan mata, air hujan mulai turun lebih lebat, menimpa rambut putihnya, membasahi wajahnya.

Rei :

"Aku… benar-benar bodoh."

Ia teringat momen ketika ia menyatakan perasaan pada Mina.

Cincin di jari gadis itu.

Jawaban Mina yang terdengar sedikit goyah.

Tatapan yang berkedip sesaat, seolah menyembunyikan sesuatu.

Rei (dalam hati) :

Aku bahkan sudah curiga waktu itu. Cincin di jarinya… jawabannya…

Tapi aku berpura-pura tidak tahu. Karena aku ingin percaya.

Air yang mengalir di wajahnya kini bukan hanya air hujan.

Ada air mata yang ikut mengalir, tapi tak ada yang bisa membedakannya.

Rei :

"Semua orang yang kusayangi… selalu pergi."

Ia mengingat satu per satu.

Orang tuanya yang tiada karena sebuah kecelakaan.

Aelria yang kembali ke dunia lain.

Mina yang beralih pada lelaki yang lebih kuat.

Rei :

"Kalau aku menghilang juga… mungkin tidak akan ada orang yang peduli."

Hujan turun semakin deras. Jembatan yang tadi terasa seperti bagian dari kota kini seolah terpisah, terbungkus tirai air dan bayangan pepohonan di tepi sungai yang gelap.

Seolah alam sendiri membentuk ruang kecil untuknya…

ruang di mana dunia tidak melihatnya lagi.

Rei perlahan menaikkan salah satu kakinya ke bagian bawah pagar, tubuhnya sedikit condong.

Rei (dalam hati) :

Kalau aku jatuh sekarang… aku tidak akan merasakan sakitnya terlalu lama.

Angin malam menusuk kulit, tapi ia hampir tidak merasakannya.

Seluruh rasa sakitnya sedang berkumpul di dalam dada dan kepalanya.

Rei :

"Aku lemah. Bodoh. Bahkan dalam dunia di mana semua orang mendapatkan kekuatan… aku tetap jadi pengecualian yang paling menyedihkan."

Hujan menutupi pandangannya.

Sungai di bawah sana tampak seperti permukaan gelap yang menunggu.

Di saat itulah, sebuah suara samar muncul di kepalanya.

Bukan suara hujan, bukan bisikan dari luar… melainkan kenangan yang tiba-tiba memutar sendiri.

Aelria :

"Rei… jangan hancur hanya karena dunia berubah."

Saat itu, mereka masih SMP.

Dunia baru mulai panik tentang kebangkitan dan energi dimensi lain.

Rei, yang merasa tertinggal bahkan sebelum bangkit, duduk di atap sekolah, menatap langit.

Rei :

"Aelria, kalau suatu hari aku tidak punya kekuatan apa pun… aku kira dunia hanya akan lewat di atasku."

Aelria menatapnya, mata zamrudnya lembut tapi tegas.

Aelria :

"Kalau dunia berubah, kamu juga boleh berubah. Tapi satu hal: jangan hancur."

Rei :

"Kenapa kamu begitu yakin?"

Aelria tersenyum tipis.

Aelria :

"Karena ada orang yang menginginkanmu tetap ada."

Saat itu, Rei hanya menanggapinya dengan tertawa kecil dan menganggapnya candaan.

Kini, di atas jembatan yang sepi, kalimat itu kembali seperti tali yang dilempar pada seseorang yang nyaris tenggelam.

Rei terdiam.

Kakinya yang tadi setengah naik ke pagar perlahan turun kembali.

Rei :

"…Kalau aku hancur sekarang… bukankah itu sama saja menyia-nyiakan kata-kata Aelria?"

Ia memejamkan mata lagi, menarik napas dalam.

Rei :

"Dan kalau aku benar-benar melompat cuma karena Mina… berarti aku menaruh seluruh makna hidupku pada satu orang yang bahkan memilih orang lain."

Tawa kecil keluar dari tenggorokannya, pahit tapi… hidup.

Rei :

"Aku benar-benar bodoh."

Ia mundur satu langkah dari tepi pagar, lalu dua langkah.

Hujan masih turun, tapi kini terasa… sedikit berbeda.

Bukan hanya dingin, tapi juga… menenangkan.

Rei menurunkan tasnya, membuka resletingnya, dan mengeluarkan beberapa benda.

Sebuah gantungan kecil yang pernah diberi Mina.

Saputangan dengan bordir namanya.

Secarik kertas yang berisi tulisan "Semangat! Aku dukung kamu!" yang dulu ia simpan di saku saat ujian pertama mereka di SMA.

Rei menatap benda-benda itu satu per satu.

Kenangan manis dan pahit tumpang tindih.

Rei :

"Terima kasih… untuk kebahagiaan palsu yang sempat kurasakan."

Ia berdiri lagi di dekat pagar, tapi kali ini bukan untuk melompat.

Satu per satu, ia melemparkan benda-benda itu ke sungai.

Byur.

Gantungan kunci,sapu tangan dan Kertas yang kini pasti sudah tidak bisa dibaca lagi.

Rei menatap permukaan sungai yang bergelombang.

Rei :

"…Dan terima kasih, hujan."

Ia mendongak ke langit, membiarkan air hujan membasuh wajahnya.

Rei :

"Setidaknya… kamu membantu menyembunyikan air mataku hari ini."

Ia mengambil tasnya, menyampirkannya kembali ke bahunya, dan melangkah pergi dari jembatan itu.

Bukan dengan langkah yang ringan.

Tapi juga bukan lagi langkah seseorang yang menyeret dirinya menuju akhir.

" EMAIL PENGUNDURAN DIRI "

Kamar Rei sederhana.

Kasur, meja belajar, rak buku, dan komputer tua yang masih bekerja dengan cukup baik.

Ia duduk di depan layar, pakaian masih lembap, rambutnya berantakan dan meneteskan air ke lantai, tapi ia tidak peduli.

Di layar, kotak email terbuka.

Rei menarik napas, jarinya gemetar sebentar sebelum mulai mengetik.

Kepada: Bagian Administrasi SMA 

NamaSekolahLama

NamaSekolahLama

Saya, Hirashi Rei, kelas 

xx

xx, dengan ini mengajukan pengunduran diri dari sekolah.

Alasan pengunduran diri bersifat pribadi dan tidak dapat saya jelaskan secara rinci.

Saya hanya memiliki satu permintaan:

Mohon agar informasi mengenai alasan dan data perpindahan saya dirahasiakan dari pihak siswa lain.

Saya berterima kasih atas bimbingan dan kesempatan yang telah diberikan selama ini.

Hormat saya,

Hirashi Rei.

Rei membaca lagi isi email itu.

Singkat. Formal. Terlalu dingin, mungkin.

Rei :

"Cukup."

Ia menekan tombol kirim.

Email meluncur ke server, dan dengan itu, sebuah pintu dalam hidupnya perlahan mulai tertutup.

Beberapa hari berlalu.

Di suatu sore yang tenang, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.

Rei mengangkatnya, menempelkan ke telinga.

Rei :

"Halo, Hirashi di sini."

Suara pria dewasa terdengar dari seberang.

Wakil Kepala Sekolah :

"Hirashi-kun, ini Wakil Kepala Sekolah. Kami sudah menerima email pengunduran dirimu."

Rei menegakkan duduk, meski di ujung suaranya masih ada lelah yang belum hilang.

Rei :

"Terima kasih sudah menghubungi, Pak."

Wakil Kepala Sekolah :

"Apa benar… kamu ingin berhenti dari sekolah ini? Kamu salah satu siswa dengan nilai akademik tertinggi yang kami punya. Bahkan tanpa kekuatan kebangkitan, kemampuan analisismu…"

Rei tersenyum kecil, walau orang di seberang sana tidak bisa melihatnya.

Rei :

"Maaf, Pak. Saya… tidak bisa bersekolah di sana lagi."

Ada jeda.

Suara kertas dibalik terdengar samar.

Wakil Kepala Sekolah :

"Ada masalah dengan guru? Teman sekelas? Atau…"

Rei tahu arah pertanyaan itu.

Rei :

"Ini masalah pribadi, Pak. Bukan salah siapapun di sekolah. Hanya… saya tidak bisa berjalan dengan normal di tempat itu lagi."

Meski tidak disebutkan, baik Rei maupun wakil kepala sekolah tahu apa yang ia maksud:

rumor, tatapan, dan "insiden" di halaman belakang yang sudah mulai menyebar diam-diam.

Wakil Kepala Sekolah menghela napas.

Wakil Kepala Sekolah :

"Baiklah. Kami tidak akan memaksa. Namun… kami punya satu usul."

Rei :

"Usul?"

Wakil Kepala Sekolah :

"Karena nilai akademikmu sangat tinggi, kami sudah menghubungi salah satu sekolah mitra di luar kota. Sekolah itu juga menangani siswa dengan berbagai latar belakang, termasuk mereka yang memiliki situasi khusus."

Rei terdiam, mendengarkan.

Wakil Kepala Sekolah :

"Jika kamu mau, kami bisa merekomendasikanmu ke sana. Identitas dan latar belakangmu akan dijaga. Di sana, kamu bisa memulai dari awal, tanpa bayang-bayang rumor di sini."

Rei menatap langit-langit kamarnya.

Rei (dalam hati) :

Mulai dari awal… di tempat yang tidak mengenalku sebagai "Rei yang gagal bangkit" atau "mantan pacar Mina".

Rei :

"…Sekolah seperti apa, Pak?"

Wakil Kepala Sekolah :

"Sekolah gabungin seperti di sini, banyak siswa dari keluarga biasa, juga beberapa dari keluarga ras lain. Tidak terlalu besar, tapi reputasinya baik. Fokus mereka pada integrasi dan pengembangan bakat—bukan hanya kekuatan sihir atau fisik."

Rei mengangguk pelan.

Rei :

"Kalau begitu… saya terima, Pak."

Wakil Kepala Sekolah :

"Baik. Kami akan kirim semua berkas yang diperlukan. Dan seperti permintaanmu, alasanmu keluar dari sekolah ini akan kami rahasiakan."

Rei menghela napas lega.

Rei :

"Terima kasih banyak, Pak."

Wakil Kepala Sekolah :

"Jaga dirimu, Hirashi-kun. Dunia ini memang keras, tapi… jangan biarkan dirimu hilang hanya karena beberapa orang tidak bisa melihat nilaimu."

Kalimat itu sederhana, tapi hangat.

Rei :

"…Saya akan mencoba, Pak."

Panggilan berakhir.

Rei meletakkan ponselnya di meja, lalu merebahkan tubuhnya ke kasur.

Di langit-langit kamar, bayangan-bayangan masa lalu berputar:

wajah orang tuanya, tawa Aelria, mata Mina saat menerima cintanya, mata Mina saat mengkhianatinya, dan kilasan hujan di atas jembatan.

Rei menutup mata.

Rei (dalam hati) :

Aelria… kamu bilang jangan hancur.

Lalu suara lain menyusul, membuat dadanya sedikit perih.

Mina :

"Aku butuh seseorang yang bisa melindungiku. Kalau kamu tidak punya kekuatan… semuanya percuma."

Rei mengerutkan kening, menggenggam selimutnya.

Rei :

"Aku bahkan tidak punya apa-apa selain rambut dan mata yang aneh…"

Kesedihan dan kelelahan bercampur.

Tubuhnya terasa berat, dan perlahan, kesadarannya mulai tenggelam.

Tanpa disadari, di antara napas yang naik turun samar, ia melewati satu malam di mana hidupnya hampir berakhir…

namun justru sedang perlahan diarahkan ke sesuatu yang jauh lebih besar.

" DI DUNIA LAIN — PENJAGA GERBANG YANG TERTAWA "

Jauh dari bumi.

Jauh dari kota, sekolah, dan jembatan tempat Rei berdiri.

Di kedalaman hutan terlarang yang sama yang dulu menelan langkah kecil Aelria, ada sebuah wilayah yang bahkan para elf enggan dekati.

Pohon-pohon di sini jauh lebih tua, kulit batangnya hitam, daun-daunnya seperti kaca gelap yang memantulkan cahaya tak wajar.

Di tengah area itu, menggantung di udara, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa.

Retakan.

Seperti bekas goresan raksasa pada udara itu sendiri.

Cahaya hitam keungu-unguan menetes pelan dari celahnya, menghilang sebelum menyentuh tanah.

Di depan retakan itu, di atas batu besar yang rata, duduk seorang Pria berambut putih.

Mata kanan Pria itu biru, mirip permukaan danau.

Mata kirinya hitam pekat, seperti menelan cahaya.

Ia mengenakan pakaian sederhana, tanpa lambang bangsawan atau keluarga.

Namun aura di sekelilingnya jelas bukan aura "anak biasa".

Pria itu menatap retakan dimensi di hadapannya, seperti seseorang yang sudah terlalu lama melihat hal yang sama.

Pria :

"…"

Tiba-tiba, ia mengerutkan kening, satu tangannya memegang dada.

Pria :

"Tch… sakit lagi."

Rasa nyeri itu bukan rasa sakit fisik biasa.

Ini lebih seperti… resonansi.

Seolah ada sesuatu jauh di luar sana, di dunia lain, yang mengiris perasaan seseorang — dan getarannya sampai menembus ke sini.

Pria memejamkan mata, mengatur napas.

Pria :

"Baiklah… mari kulihat apa yang terjadi di sisi sana."

Ia menundukkan kepala sedikit, fokus ke dalam dirinya.

Di dalam kesadarannya, ia merasakan sesuatu:

sebuah garis tipis seperti benang cahaya yang menghubungkannya dengan sesuatu yang jauh, di luar hutan ini, di luar dunia ini.

Begitu ia "menyentuh" garis itu, kilasan-kilasan emosi mengalir masuk.

Kesedihan.

Rasa ditinggalkan.

Rasa dikhianati.

Tawa pahit di bawah hujan.

Sebuah keinginan singkat untuk melompat dari jembatan dan mengakhiri semuanya.

Pria itu membuka satu matanya, mendengus.

Pria :

"…Jadi begitu. Hampir saja kau melompat, ya."

Ia tertawa kecil, bukan tawa kejam, tapi tawa seperti seorang kakak yang melihat adiknya melakukan kebodohan.

Pria :

"Dasar bodoh. Kau baru menyesali cincin di tangan gadis itu sekarang? Sudah jelas dari awal ada yang aneh."

Ia menatap retakan dimensi lagi, lalu mendongak ke langit hutan terlarang yang selalu tertutup awan.

Pria :

"Dengar, kau di luar sana… kalau dunia itu tidak menerimamu sebagai manusia biasa…"

Ia berdiri dari batu, menepuk-nepuk celananya, lalu menaruh tangan di dadanya sendiri.

Pria :

"…aku akan membantumu jadi sesuatu yang lain."

Telapak tangannya menekan dada, tepat di atas jantung.

Dari balik kulitnya, cahaya redup muncul — perpaduan putih dan hitam, seolah dua hal yang seharusnya tidak menyatu dipaksa berdampingan.

Pria menghela napas, wajahnya sedikit tegang.

Pria :

"Aku tidak bisa memaksamu menerima semua ini sekaligus. Lagipula… kau terlalu rapuh sekarang."

Ia menutup mata, memusatkan energi.

Pelan-pelan, dari dada Pria itu, keluar sesuatu seperti serpihan cahaya tipis, kecil, namun padat.

Bukan seperti mana biasa, bukan seperti sihir alam, tapi… sesuatu di antara itu.

Sebuah "Hazama", celah.

Serpihan itu melayang sesaat di udara, lalu menghilang — tersedot ke dalam retakan dimensi, menembus batas dunia, mencari "tujuan" yang sudah jelas sejak awal:

Hirashi Rei.

Pria membuka mata lagi. Rasa sakit di dadanya mereda sedikit.

Pria :

"Sudah. Sisanya… kau urus sendiri."

Ia berbicara pada udara, tapi jelas yang ia tuju adalah seseorang di dunia lain yang bahkan tidak tahu bahwa ada "dirinya yang lain" di sini.

Pria :

"Perlahan. Kembangkan sendiri kekuatan itu. Jangan sampai hancur sebelum mencobanya."

Ia kembali duduk di atas batu, menatap retakan dimensi yang tenang seperti sebelumnya.

Pria (dalam hati) :

Bagaimanapun juga… kau adalah aku, dan aku adalah kau.

Dahulu, sebelum ia menjadi Pria yang sekarang, "ia" hanyalah satu jiwa: penjaga gerbang ini, makhluk yang tugasnya menjaga agar retakan antara dunia tidak meluap dan menelan segalanya.

Tugas itu berat.

Kesepian.

Tidak ada masa kecil, tidak ada sekolah, tidak ada tawa bersama teman — hanya gerbang dan kesunyian.

Suatu hari, jiwa itu bosan.

Bukan bosan malas, tapi bosan yang sangat manusiawi: keinginan untuk hidup normal, untuk merasakan apa itu "sehari biasa", apa itu "menggenggam tangan seseorang", apa itu "disakiti dan mencintai".

Jadi ia membuat keputusan.

Ia membelah jiwanya menjadi dua.

Satu bagian tetap tinggal di sini, menjaga gerbang, memikul beban kekuatan.

Satu bagian lagi — dipaksa menjadi kecil, lemah, dikirim ke dunia manusia, menyatu dengan tubuh seorang bayi, tumbuh sebagai manusia biasa.

Bagian itu sekarang bernama Hirashi Rei.

Pria menghela napas panjang.

Pria :

"Karena aku terlalu ingin merasakan hidup normal… jadilah kau sekarang manusia yang tidak punya apa-apa. Maaf ya."

Ia terkekeh kecil, namun di balik tawanya ada rasa iba yang sangat dalam.

Pria :

"Tapi… kayaknya sudah cukup lama juga kau dibiarkan tanpa apa-apa."

Ia menatap retakan dimensi sekali lagi.

Pria :

"Kalau dunia di sana bersikap seperti itu padamu… tunjukkan pada mereka bahwa ada sesuatu yang bahkan dunia ini belum mengerti."

Angin hutan terlarang berhembus, membawa suara dedaunan yang bergesek.

Tidak ada makhluk lain di sekitar.

Tidak ada elf, tidak ada monster.

Tidak ada yang tahu bahwa di ujung hutan terlarang ini, ada gerbang lain selain yang digunakan untuk diplomasi antar dunia.

Gerbang yang tidak tercatat di peta mana pun.

Gerbang yang dijaga oleh seorang Pria berambut putih bermata dua warna.

Gerbang yang terhubung tidak hanya pada dunia elf dan dunia manusia, tapi juga pada sesuatu yang jauh di antara—

Hazama.

Dan tidak ada satu makhluk pun, termasuk Rei dan para manusia lain, yang tahu bahwa pada malam saat seorang pemuda hampir mengakhiri hidupnya di atas jembatan, sebentuk kekuatan baru telah dilepaskan dan perlahan sedang menuju dirinya.

Bukan untuk menyelamatkannya sebagai pahlawan.

Bukan untuk memberinya kekuatan instan.

Melainkan…

untuk memaksanya berdiri lagi, dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang pernah siap hancur demi merasakan kehidupan biasa.

More Chapters