Begitu Aelria melangkah melewati gerbang cahaya, sensasi hangat yang familiar menyelimuti tubuhnya.
Udara yang ia hirup berbeda dengan dunia manusia—lebih kaya mana, lebih "hidup".
Langit sedikit lebih biru, pepohonan lebih hijau, dan aroma tanah bercampur bunga liar memenuhi inderanya.
Di depan gerbang, sebuah kendaraan sudah menunggu.
Bentuknya seperti perpaduan kereta kuda kerajaan dan mobil mewah manusia: roda melayang sedikit di atas tanah, ditarik oleh dua kuda bercula, dan di tubuhnya terpasang inti sihir penggerak.
Di samping kereta-mobil itu, berdiri sekelompok elf dengan pakaian formal.
Di tengah mereka, seorang lelaki elf berwibawa dengan rambut perak tersisir rapi—ayah Aelria.
Di sampingnya, seorang wanita elf berparas lembut dengan senyum hangat—ibunya.
Ayah Aelria :
"Akhirnya kembali juga."
Ibu Aelria melangkah mendekat, memeluk lembut putrinya.
Ibu Aelria :
"Aelria, kau baik-baik saja, 'kan? Tidak ada manusia yang mengganggumu?"
Aelria tersenyum tipis, memeluk balik, namun di dalam dadanya masih ada bayangan seorang pemuda berambut putih.
Aelria :
"Aku baik-baik saja, Ibu. Dunia manusia… tidak seburuk yang sebagian orang kita kira."
Mereka naik ke dalam kendaraan. Begitu pintu tertutup, kendaraan itu melaju mulus, meninggalkan area gerbang dan memasuki hutan elf yang rindang.
Di dalam, Aelria duduk di dekat jendela, memandangi pepohonan yang berlarian lewat.
Ia seharusnya merasa lega—pulih ke dunianya, ke rumahnya, ke keluarganya.
Namun pikirannya tidak di sini.
Ayahnya menatapnya dari seberang kursi.
Ayah Aelria :
"Kau terlihat banyak memikirkan sesuatu, Aelria. Apakah urusan kerja sama bisnis berjalan dengan baik?"
Aelria mengangguk pelan.
Aelria :
"Perusahaan manusia itu… benar-benar serius ingin mempelajari sihir dasar. Sebagai gantinya, mereka membuka akses teknologi untuk penelitian kita juga. Semua berjalan sesuai rencana, Ayah."
Ayah Aelria :
"Bagus. Kau melakukan tugasmu dengan baik. Kau masih muda, tetapi sudah bisa berdiri di pertemuan tingkat tinggi."
Ia tersenyum bangga.
Namun Aelria… justru menunduk sedikit.
Aelria :
"Ayah…"
Ayah Aelria :
"Hm?"
Aelria :
"Manusia… yang tidak memiliki kebangkitan… akan seperti apa hidupnya ke depan?"
Suasana di dalam kendaraan hening beberapa detik.
Ibu Aelria mengerutkan kening halusnya.
Ibu Aelria :
"Aelria… apa kau sedang memikirkan temanmu itu? Hirashi Rei?"
Aelria menggenggam rok gaunnya.
Aelria :
"...Iya."
Ayah Aelria menghela napas pelan.
Ayah Aelria :
"Di dunia di mana kekuatan sihir dan kemampuan khusus sudah menjadi standar… manusia yang tidak memiliki apa pun akan tertinggal jauh. Bukan berarti hidupnya mustahil, tapi… akan sangat berat."
Aelria menggigit bibirnya pelan.
Aelria :
"Rei… selalu tersenyum. Bahkan setelah tahu dia tidak memiliki kemampuan apa pun. Dia tetap bercanda, tetap menggodaku karena telinga panjangku, tetap berjalan seolah dunia ini tidak menolaknya."
Ia menatap jendela, namun yang ada di refleksi kaca bukan hutan—melainkan wajah Rei saat tes kebangkitan.
Aelria :
"Tapi… di hari kebangkitan itu… aku merasakan sesuatu."
Ibu Aelria :
"Sesuatu?"
Aelria mengangguk pelan.
Aelria :
"Ketika alat dan sihir mereka menyimpulkan Rei 'tidak memiliki apa pun'… sesaat sebelum hasilnya keluar… ada aliran energi yang… sangat aneh. Tidak seperti mana biasa, tidak seperti sihir elemental atau penguatan tubuh."
Ia memejamkan mata, mencoba mengingat.
Aelria :
"Perasaan itu… pernah kurasakan sebelumnya. Saat aku masih kecil. Di hutan terlarang."
Ayah dan ibunya saling pandang.
Raut wajah Ayah Aelria berubah sedikit lebih serius.
Ayah Aelria :
"Jadi… kau masih mengingat kejadian itu."
Aelria membuka mata, menatap ke depan, namun pandangannya sudah tenggelam jauh ke masa lalu.
KILAS BALIK — HUTAN TERLARANG DAN ANAK RAMBUT PUTIH
Saat itu, Aelria masih kecil.
Rambut peraknya lebih pendek, langkahnya lebih lincah, dan rasa ingin tahunya… jauh lebih besar.
Hari itu, istana dan daerah sekitar sedang sibuk.
Ada tamu penting datang, dan semua pengawal fokus menjaga perbatasan dan aula utama.
Di halaman samping, Aelria kecil melihat seekor kupu-kupu bercahaya melayang pelan.
Sayapnya berkilau biru lembut, meninggalkan jejak cahaya kecil di udara setiap kali mengepak.
Aelria Kecil :
"Ah… cantik sekali…"
Tanpa pikir panjang, ia mengikutinya.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah…
Lama-lama, rumput istana berubah menjadi pepohonan, pepohonan berubah menjadi semak belukar tinggi.
Ia tidak sadar bahwa ia telah melewati batas yang selalu dilarang untuk ia dekati:
Hutan Terlarang.
Beberapa menit kemudian, kupu-kupu itu menghilang di antara dahan.
Aelria Kecil :
"...Eh?"
Ia baru tersadar.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Aelria Kecil :
"Ayah? Ibu? Pengawal…?"
Ia memanggil, namun suara yang kembali hanya gema pelan dan desis angin.
Aelria mulai panik.
Aelria Kecil :
"Ayah! Ibu! Ini Aelria! Jangan bercanda… keluar, dong…"
Tidak ada jawaban.
Sebaliknya, dari balik rimbun semak, terdengar suara berat…
Suara napas kasar, disertai bunyi air liur menetes ke tanah.
Clak… clak… clak…
Seekor monster besar muncul—kulitnya gelap, mata merah menyala, mulutnya penuh taring panjang. Air liur menetes dari rahangnya, mengeluarkan bau busuk bercampur darah.
Monster :
"Ggrrrr…"
Aelria kaku. Lututnya bergetar.
Aelria Kecil :
"...Mo–… monster…"
Monster itu mendekat, kakinya menginjak ranting kering yang patah dengan bunyi krek yang terdengar jelas di tengah keheningan hutan.
Saat monster itu meraung dan melompat, Aelria spontan berbalik dan berlari sekencang-kencangnya.
Aelria Kecil :
"Tidaaak!! Tolong!!"
Langkah kakinya kecil, napasnya terengah-engah.
Ia menoleh ke belakang, monster itu semakin dekat, menembus semak dengan mudah.
Air mata mulai mengalir di pipinya.
Aelria Kecil :
"Ayah!! Ibuuu!!"
Ia tidak melihat akar yang menonjol di depan.
Brak.
Aelria tersandung dan jatuh, lututnya tergores tanah.
Ia mencoba bangun—
Namun bayangan besar sudah menutupi tubuhnya.
Monster itu melompat, rahang terbuka lebar, siap menerkam.
Dan saat itulah—
Sesuatu menghantam sisi kepala monster itu dengan kekuatan yang tidak masuk akal.
Dughhh!!
Monster itu terpental beberapa meter, menghantam batang pohon besar hingga suara benturannya menggetarkan udara.
Aelria mengangkat wajahnya, tercengang.
Di antara dirinya dan monster, berdiri seorang anak lelaki.
Tubuhnya tidak besar, bahkan sepertinya tidak jauh beda usia darinya, mungkin sedikit lebih tua.
Ia berdiri dengan satu kaki yang masih dalam posisi setelah menendang.
Punggungnya menghadap Aelria, sehingga wajahnya tak terlihat jelas.
Aelria hanya bisa menangkap beberapa detail:
Siluet tubuh ramping.
Gerakannya tenang, tanpa ragu.
Dan… rambut yang tampak putih di sela-sela cahaya hutan.
Monster itu menggeram, bangkit lagi, matanya kini penuh amarah terhadap anak lelaki yang berani menghalangi buruannya.
Dengan raungan marah, ia melompat sekali lagi, kali ini mengarah ke bocah itu.
Aelria Kecil :
"Awas!!"
Namun bocah itu tidak bergerak mundur.
Sebaliknya, udara di sekitar mereka tiba-tiba… berubah.
Seolah ada sesuatu yang mengoyak ruang di depan bocah itu—
sebuat garis tipis, nyaris tak terlihat, seperti celah sempit di udara.
Saat monster itu menerjang, tubuhnya melewati garis itu.
Srakk.
Tanpa peringatan, tubuh monster itu terbelah menjadi dua.
Namun tidak ada darah, tidak ada potongan tubuh yang jatuh.
Kedua bagian tubuh itu seperti terhisap ke dalam celah sempit di udara…
Lalu lenyap.
Seolah monster itu… tidak pernah ada.
Celah di udara itu menutup sedetik kemudian, meninggalkan keheningan mencekam.
Aelria membelalakkan mata.
Aelria Kecil :
"A… apa itu barusan…?"
Bocah berambut putih itu berdiri diam beberapa saat, bahunya naik turun perlahan.
Ia sedikit menoleh, namun sebelum Aelria bisa melihat wajahnya dengan jelas, pandangannya berputar.
Detak jantungnya yang terlalu cepat, rasa takut, dan kekaguman terhadap kejadian aneh barusan bercampur menjadi satu…
…dan gelap.
Ia pingsan.
Saat Aelria terbangun, ia sudah berada di ranjangnya di istana.
Di sampingnya, ayah dan ibunya duduk dengan wajah tegang.
Ibu Aelria :
"Aelria! Syukurlah kau sadar…"
Ayah Aelria :
"Kau masuk ke hutan terlarang. Untung pengawal kami menemukanku tepat waktu."
Aelria menatap mereka bingung.
Aelria :
"Pengawal…? Tapi… ada bocah… rambutnya… putih… monster itu… terbelah… lalu… menghilang…"
Ayah Aelria terdiam sesaat.
Kemudian ia mengelus kepala Aelria pelan.
Ayah Aelria :
"Mungkin kau bermimpi karena terlalu takut."
Dari cara ia mengatakannya, Aelria tahu—
ada sesuatu yang disembunyikan.
Tapi ia masih terlalu kecil saat itu untuk memaksa jawaban.
Yang tersisa hanya satu hal:
Perasaan… energi aneh yang menyelimuti bocah itu.
Energi yang tidak mirip sihir biasa, tidak mirip mana elemental, tidak mirip aura penguatan.
Dan bertahun-tahun kemudian—
Ia merasakannya lagi.
Di dalam ruang kebangkitan, saat seorang pemuda manusia bernama Hirashi Rei dinyatakan "tidak memiliki kemampuan apa pun".
Aelria (kembali ke masa kini di kendaraan) :
"Perasaan itu sama, Ayah. Energi aneh itu… sama. Bahkan meski alat dan sihir mereka bilang Rei 'kosong'… aku tahu ada sesuatu di dalam dirinya."
Ayah Aelria memejamkan mata sebentar, lalu membuka lagi.
Ayah Aelria :
"Dunia ini… lebih luas dan lebih rumit daripada yang terlihat di permukaan, Aelria. Beberapa kekuatan tidak ingin terukur, tidak ingin didaftarkan."
Ibu Aelria meraih tangan putrinya.
Ibu Aelria :
"Kau menyayangi anak manusia itu, ya?"
Aelria terdiam.
Lalu menghela napas pelan.
Aelria :
"Rei menganggapku sahabat. Dan aku…"
Ada jeda, udara di dalam kendaraan seolah menahan napas bersamanya.
Aelria :
"...ingin lebih dari itu."
Ia tersenyum getir.
Aelria :
"Tapi kalau aku memaksakan perasaanku, dan dia menjauh… aku kehilangan sahabat yang mempertahankanmu di dunia yang menjauhiku… dan mungkin juga kehilangan manusia pertama yang membuatku merasa rumah ada di dua dunia."
Ayah Aelria menatap putrinya lama, namun kali ini tidak menegur.
Ayah Aelria :
"Kau sudah cukup dewasa untuk memahami akibat dari pilihanmu."
Aelria menatap jendela lagi, melihat hutan berganti menjadi kota elf dengan bangunan bercahaya mana.
Aelria (monolog) :
Rei… di dunia yang menolakmu, kau tetap berjalan…
Sedangkan aku… di dunia yang menerimaku, aku justru meninggalkanmu tanpa mengucapkan apa yang sebenarnya ingin kukatakan.
Sebuah perasaan berat mengisi dadanya.
Aelria (monolog) :
Semoga… kau tetap tersenyum di sana. Meski tanpa kekuatan apa-apa…
Meski tanpa aku di sampingmu…
KENANGAN SMP, SAAT DUA DUNIA BERTEMU
Beberapa hari setelah kepulangannya, Aelria duduk di balkon kamarnya, memandangi langit dua bulan dunia elf.
Di atas meja kecil, beberapa kertas laporan bisnis tertumpuk rapi, namun pikirannya jauh dari angka dan kesepakatan.
Ia mengingat kembali awal pertemuannya dengan Rei—
saat ia pertama kali datang ke dunia manusia sebagai murid pertukaran di SMP.
Hari pertama masuk sekolah, lorong itu penuh bisik-bisik.
Siswa 1 :
"Hei, lihat. Itu telinganya lancip, kan?"
Siswa 2 :
"Elf, ya? Katanya sihir mereka kuat banget."
Siswa 3 :
"Gila, sekolah kita sekarang nerima murid dari dunia lain juga…"
Tapi meski penuh rasa ingin tahu, jarak tetap terasa.
Bangku di sebelah Aelria kosong. Lebih tepatnya, dikosongkan.
Sampai seseorang menarik kursi itu dan duduk.
Rei :
"Yo."
Aelria menoleh.
Seorang anak laki-laki dengan rambut hitam berantakan dan mata hitam tenang duduk santai di sebelahnya, seolah tidak ada hal aneh.
Rei :
"Aku Hirashi Rei. Mulai hari ini, partner sebangkumu yang tampan."
Aelria berkedip beberapa kali.
Aelria :
"...Kau tidak takut?"
Rei memiringkan kepala.
Rei :
"Takut apa?"
Aelria mengangkat jarinya, menunjuk telinganya sendiri.
Aelria :
"Ras lain. Sihir. Hal-hal yang tidak bisa dijelaskan manusia."
Rei mengangkat bahu.
Rei :
"Yang menakutkan bukan telinga lancip atau sihir, tapi orang yang sengaja menyakiti orang lain. Kamu kelihatan bukan tipe itu."
Aelria menatapnya beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa kecil.
Aelria :
"...Kau aneh."
Rei tersenyum.
Rei :
"Kalau aneh berarti bisa duduk di sini, aku tidak keberatan."
Sejak hari itu, Rei selalu menggandengnya masuk kantin saat orang lain masih kikuk, mengajaknya ngobrol topik-topik konyol, dan menertawakan hal-hal kecil yang bagi Aelria terasa baru dan hangat.
Aelria bercerita banyak tentang Rei kepada orang tuanya lewat komunikasi sihir jauh.
Aelria :
"Ayah, Ibu… namanya Hirashi Rei. Dia manusia biasa, tetapi… tidak pernah meninggalkanku sendirian."
Dan ketika mereka naik ke SMA, Aelria mengenal seorang gadis ceria bernama Mina.
Aelria :
"Mina itu baik. Ceria. Sedikit keras kepala."
Mereka bertiga menghabiskan banyak waktu bersama—hingga suatu hari, saat kelas 1 SMA, Aelria memperkenalkan Mina kepada Rei secara benar-benar:
Aelria :
"Rei, ini Mina. Teman kelasku. Dia satu klub sihir."
Rei :
"Ah, jadi ini gadis yang sering kamu ceritain?"
Mina :
"Eeh? Aelria, kamu cerita apa aja soal aku?"
Tawa mereka bercampur di koridor.
Dan ketika suatu sore, di taman, Rei mengumpulkan keberaniannya.
Rei :
"Mina… aku suka kamu."
Aelria berdiri tidak jauh dari situ, pura-pura sibuk mengobrol dengan teman lain sambil sesekali melirik.
Saat Mina mengangguk pelan dan menerima perasaan Rei… sesuatu di dalam dada Aelria seperti diremas.
Aelria (monolog) :
Ah… jadi… rasa ini… bukan sekadar sayang sebagai sahabat.
Namun ia hanya tersenyum, menahan perihnya sendiri.
Aelria :
"Kalau kalian berdua bahagia… itu sudah cukup."
Karena baginya, kehilangan dua orang berharga sekaligus jauh lebih menakutkan daripada memendam perasaan sendiri.
Setelah Kejadian di Halaman Belakang
Sejak hari di halaman belakang sekolah itu, banyak hal berubah.
Bukan hanya hidup Rei yang berubah arah.
Tapi juga… cara seluruh sekolah memandang Mina dan Hayato.
Hari itu, tawa Rei yang pecah di tengah hujan—diikuti kalimat:
Rei : "Terima kasih… atas cinta palsu yang aku terima selama ini."
…bukan hanya terdengar oleh dua orang itu.
Beberapa kelas di sisi jendela halaman belakang, murid-murid yang sedang istirahat, guru yang lewat—
semuanya mendengar.
Dan meskipun tidak melihat keseluruhan, mereka melihat cukup:
Mina dan Hayato berciuman.
Rei menjatuhkan minuman yang dibawanya.
Kata-kata "cinta palsu".
Sejak hari itu, cerita mulai menyebar.
Mina & Hayato — Pasangan Terbuka
Beberapa hari setelah insiden itu, Hayato tidak lagi menutupi hubungannya.
Di lorong sekolah, di depan kelas-kelas lain, ia menggandeng tangan Mina dengan santai.
Hayato : "Oi, dengar semuanya."
Ia berhenti di tengah koridor ramai, menggandeng Mina lebih erat.
Hayato : "Dengar baik-baik. Mina adalah pacarku."
Beberapa murid saling pandang.
Siswa 1 (pelan) : "…Dia bilang juga apa."
Siswi 1 : "Padahal kita semua sudah lihat di belakang sekolah waktu itu…"
Hayato tersenyum puas, telinga beastmannya sedikit bergerak, matanya memperhatikan sekeliling.
Hayato : "Kalau ada yang keberatan, boleh bicara langsung denganku."
Tidak ada yang berbicara.
Bukan karena setuju.
Tapi karena semua orang tahu:
Hayato kuat.
Ketua OSIS.
Ras beastkin dengan penguatan tubuh tinggi.
Melawan dia, berarti mengundang masalah.
Mina berdiri di sampingnya, tangan mereka saling berpegangan.
Mina : "Hayato… sudah cukup."
Hayato : "Aku hanya tidak ingin ada rumor yang menyeret namamu."
Mina tersenyum tipis, tapi matanya menyapu koridor yang semakin sepi dari tatapan ramah.
Dulu, ketika ia berjalan sendirian, banyak yang menyapa.
Siswi : "Pagi, Mina!"
Siswa : "Mina-san, hari ini latihan sihir lagi?"
Sekarang?
Murid-murid menyingkir sedikit ketika Mina lewat.
Beberapa pura-pura sibuk dengan ponsel.
Beberapa menunduk, seolah melihat lantai sangat menarik.
Mina merasakan perubahan itu.
Mina (dalam hati) : Mereka… jadi aneh, ya. Tapi… mungkin hanya butuh waktu terbiasa.
Hayato tidak peduli.
Hayato : "Biarkan mereka. Orang-orang lemah selalu suka bergosip."
Tawa Pahit di Balik Punggung
Di kelas, saat Mina duduk di bangkunya, ia bisa merasakan tatapan-tatapan itu.
Bukan tatapan iri atau kagum.
Tapi… campuran muak, tidak suka, dan kasihan.
Siswi 2 : "…Dia masih bisa tertawa seperti itu…"
Siswi 3 : "Aku tidak mengerti. Punya cincin tunangan dari SMP, tapi masih terima pengakuan Rei-kun…"
Siswa 2 : "Kau dengar, kan? Waktu itu dia bilang 'terima kasih atas cinta palsu'. Berarti… dia benar-benar disimpan sebagai cadangan."
Siswi 4 : "Kalau aku jadi dia, aku tidak akan sanggup datang ke sekolah lagi…"
Mina mendengar potongan kalimat-kalimat itu, meski mereka mencoba bicara pelan.
Ia menggenggam pena, menunduk.
Mina (dalam hati) : Cinta palsu… ya. Itu yang dia katakan.
Kalimat itu menusuk lagi dan lagi.
Mina : "…"
Teman sekelompoknya di pelajaran sihir mulai menjauh.
Dulu:
Guru : "Baik, kelompok praktik: Mina dengan Aiko dan Ren."
Sekarang:
Guru : "Kelompok sihir berikutnya… Mina, kamu bisa latihan sendiri dulu, ya. Yang lain sudah membentuk kelompok."
Mina hanya mengangguk.
Mina : "Baik, Sensei."
Rasanya dingin.
Bukan karena ia sendirian… tapi karena ia tahu kenapa mereka pelan-pelan menjauh.
Bukan hanya karena Hayato.
Tapi karena Rei.
Dan kalimat itu—cinta palsu—terus bergema.
Cincin Itu — Rahasia yang Bocor
Salah satu hal yang paling dibicarakan adalah cincin di jari Mina.
Cincin sederhana, tapi jelas bukan aksesori biasa.
Suatu hari, di atap sekolah, Hayato duduk di pagar beton dengan beberapa teman dekatnya—sesama beastkin dan manusia.
Teman 1 : "Hei, Hayato. Cincin di tangan Mina itu…"
Teman 2 : "Pacar lain tanya-tanya, tahu. Mereka kira hanya cincin couple biasa."
Hayato menyeringai.
Hayato : "Oh, itu?"
Ia menatap ke bawah, melihat halaman sekolah.
Hayato : "Itu cincin pertunangan."
Teman 1 : "Pertunangan?!"
Teman 2 : "Sejak kapan? Kalian baru seterang-terangannya pacaran sekarang."
Hayato : "Sejak kelas 3 SMP."
Teman-temannya tercengang.
Teman 1 : "Serius…?!"
Hayato : "Orang tua kami sudah sepakat sejak lama. Saat mereka berdua menjalin kerja sama, mereka membicarakan masa depan kami. Cincin itu… simbol perjanjian antara dua keluarga."
Ia mengangkat bahu, seolah membicarakan hal biasa.
Hayato : "Mina hanya… butuh waktu meyakinkan dirinya sendiri. Sampai akhirnya dia berhenti bermain-main dengan orang lain."
Kalimat itu keluar enteng. Tapi salah satu temannya mengerutkan kening.
Teman 2 : "Tunggu. Kau bilang… 'berhenti bermain-main dengan orang lain'. Maksudmu… Rei?"
Hayato menyeringai tipis.
Hayato : "Siapa lagi? Anak itu hanya… kebetulan lewat dan jatuh hati pada orang yang tidak seharusnya."
Teman 1 : "Kau tidak merasa bersalah sedikit pun?"
Hayato menatapnya dengan mata emas dingin.
Hayato : "Kenapa aku harus merasa bersalah karena mengambil kembali apa yang memang milikku dari awal?"
Teman-temannya saling pandang—merasa ada sesuatu yang salah, tapi mereka juga tahu:
melawan Hayato hanya akan membuat hidup mereka rumit.
Namun, ucapan itu tidak berhenti di atap.
Teman 1 menceritakan pada teman lain.
Teman 2 bercerita tanpa sengaja di kantin.
Dan dalam waktu singkat, seluruh sekolah tahu:
Cincin yang Mina pakai adalah cincin pertunangan dengan Hayato.
Pertunangan itu sudah ada sejak kelas 3 SMP.
Jadi… saat ia menerima cinta Rei, ia sudah memakai cincin pertunangan itu.
Pandangan Sekolah
Setelah itu, pandangan murid-murid makin tajam.
Di lorong:
Siswi 1 : "Jadi benar, ya. Dia menerima cinta Rei-kun padahal sudah bertunangan."
Siswi 2 : "Aku kira hanya rumor. Tapi langsung dari mulut Hayato sendiri…"
Siswa 3 : "Itu lebih dari sekadar kejam. Itu… menjijikkan."
Siswi 4 : "Rei-kun… selama ini tersenyum seperti biasa… padahal…"
Beberapa dari mereka tidak berani bicara di depan Mina.
Tapi mereka berhenti menyapa.
Berhenti mengajak makan bersama.
Berhenti mengundangnya ke latihan kelompok.
Ras lain pun tidak berbeda.
Elf : "Kalau seseorang bisa menerima cinta baru sambil memakai cincin pertunangan… bagaimana kita bisa mempercayainya di medan perang?"
Beastkin : "Hayato kuat, tapi caranya menang menjijikkan."
Demon : "Aku tidak mau satu tim dengannya dalam misi. Energinya… terasa kotor."
Mina merasakan semua itu.
Di kantin, ketika ia duduk bersama Hayato, kursi-kursi di dekat mereka pelan-pelan kosong.
Tak ada keributan.
Tak ada keributan langsung.
Hanya… jarak.
Hayato mengunyah makan siang dengan tenang.
Hayato : "Mereka pengecut. Mereka hanya berani menatap dari jauh."
Mina menatap sendoknya.
Mina : "…"
Hayato : "Selama aku di sini, tidak ada yang akan menyentuhmu."
Ia mengucapkannya seperti janji yang mulia.
Tapi bagi sebagian besar murid, kalimat itu terdengar seperti ancaman:
"Selama Hayato di sini, tidak ada yang bisa membantah atau menegur kalian."
Mina — Menyadari Kebencian
Di suatu sore, setelah pelajaran, Mina berjalan sendirian di koridor. Hayato sedang rapat OSIS, jadi ia pulang lebih lambat.
Beberapa siswi yang dulu dekat dengannya sedang mengobrol di dekat jendela.
Siswi A : "Aku masih tidak bisa percaya… dia menerima cincin tunangan dari SMP, tapi tetap tersenyum pada Rei-kun seperti itu…"
Siswi B : "Kau dengar rumor… soal Rei-kun…?"
Siswi A : "Ya. Katanya… dia mungkin bunuh diri setelah pindah. Tidak ada kabar apa pun setelah kelulusan."
Siswi B : "Aku tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi… kalau benar, aku tidak akan heran."
Mina berhenti melangkah.
Kata-kata itu menancap dalam-dalam.
Rei.
Bunuh diri.
Mina (dalam hati) : Tidak… Rei tidak selemah itu… 'kan?
Tapi ia sendiri tidak tahu.
Karena sejak kejadian itu… ia tidak pernah mencari.
Tidak mengirim pesan.
Tidak menanyakan ke guru.
Tidak berusaha tahu kabar.
Seolah… kalau ia tidak melihat luka Rei, luka itu tidak ada.
Siswi B : "Yang paling sakit itu… kata-katanya waktu di halaman belakang itu, tahu?"
Siswi A : "'Terima kasih atas cinta palsu…'"
Mina menggigit bibirnya, lalu berbalik, berjalan cepat menjauh sebelum mereka sadar ia mendengar.
Di ujung koridor, ia berhenti, menutup mulut dengan tangan.
Mina : "…"
Air mata tidak langsung keluar.
Yang muncul duluan… adalah rasa penuh di dada, seperti tidak bisa bernapas.
Mina (dalam hati) :
Aku… benar-benar… mempermainkannya…?
Ia memandang cincin di jarinya.
Cincin yang selalu ia pakai.
Cincin yang dulu ia anggap hanya simbol perjanjian orang tua—sesuatu yang jauh dan belum nyata.
Mina (dalam hati) :
Waktu Rei menyatakan perasaan… aku tahu ini cincin pertunangan. Aku tahu… aku berbohong pada diriku sendiri.
Ia memejamkan mata.
Mina (dalam hati) :
Kalau aku bilang 'tidak' dari awal… mungkin dia tidak akan… tertawa seperti itu. Tidak akan mengucapkan kata-kata itu…
Gambar Rei di bawah hujan muncul lagi:
tawa keras, tangan menutupi mata, air mata bercampur hujan.
Rei : "Terima kasih… atas cinta palsu yang aku terima selama ini."
Mina menekan dadanya.
Mina : "…"
Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya mendengar kebencian orang pada dirinya dari luar—
tapi juga… mulai membenci dirinya sendiri.
Namun, di sisi lain…
ia masih berjalan di koridor sebagai pacar terang-terangan seorang Kurogane Hayato.
Di mata banyak murid, mereka adalah:
pasangan kuat,
pasangan berpengaruh,
tapi juga… pasangan yang menjijikkan.
Dan diam-diam, di sela bisikan-bisikan itu, nama Rei tetap hidup.
Bukan lagi sebagai badut yang diperdaya—
tapi sebagai seseorang yang terluka parah oleh keputusan egois dua orang.
Sementara Mina…
baru mulai menanggung bayangan dari apa yang pernah ia lakukan pada satu orang yang sama.
Di dunia lain, jauh dari sekolah itu, di bawah langit dua bulan elf…
Seorang gadis bernama Aelria memandang ke arah gerbang dimensi dari balkon kamarnya.
Aelria :
"Rei…"
Angin malam mengusap lembut rambut peraknya.
Aelria (monolog) :
Entah kenapa… malam ini, aku merasa… kau semakin jauh.
Ia memejamkan mata, merasakan kembali jejak energi aneh yang dulu pernah menyelamatkan nyawanya, dan yang ia rasakan samar di dalam tubuh Rei.
Aelria (monolog) :
Kalau dunia ini menolakmu, kalau manusia menyakitimu…
Kalau suatu hari kita bertemu lagi… aku bersumpah, kali ini aku tidak akan diam saja.
