Cherreads

Chapter 71 - Arc Hutan Terlarang – Penjaga yang Tak Terlihat

Rei duduk bersila di atas sebuah batu dingin di Hutan Terlarang, tepat di hadapan gerbang dimensi yang memancarkan aura tenang—namun berat. Sesekali ia memejamkan mata, membiarkan resonansi halus dari jiwanya di dunia manusia mengalir pelan.

Namun kali ini berbeda—gelombangnya membawa jejak aura demon yang terlalu familiar.

Sudut bibir Rei terangkat tipis.

Lirya yang sejak tadi duduk tak jauh di sampingnya, diam-diam mengamati perubahan kecil di wajah Rei.

Lirya : "Kali ini… apa yang kamu rasakan, Rei?"

Rei membuka mata perlahan, melirik Lirya sebentar, lalu kembali menatap ke arah gerbang.

Rei : "Adik laki-lakimu… yang dikirim ke dunia manusia."

Lirya mengerutkan kening.

Lirya : "Ravien?"

Rei : "Dia suka tidur di akademimu dulu, kan? Bahkan saat pelajaran penting."

Lirya terbelalak.

Lirya : "Dari mana kamu tahu itu?"

Rei : "Jiwaku di dunia manusia… sekarang sekelas dengannya."

Lirya terdiam beberapa detik, lalu menghela napas lega. Di dalam dadanya, ada sedikit rasa syukur.

Lirya (dalam hati):

Syukurlah… kalau Ravien bersama lingkaran orang yang sama dengan jiwa Rei di dunia sana… setidaknya, dia tidak akan sepenuhnya tersesat.

Rei mengangkat satu alis pelan.

Rei : "Jadi? Bagaimana kamu bisa mengatur semua itu?"

Lirya menegakkan punggung, kali ini gantian ia yang menatap gerbang.

Lirya : "Aku tahu dari Seris. Dia pernah ke dunia manusia. Dia bilang ada sekolah di sana—yang menerima berbagai ras, tidak terlalu peduli status dan kekuatan, tapi lebih menekankan kerja sama."

Ia tersenyum tipis, mengingat adik perempuan tengahnya.

Lirya : "Jadi aku minta bantuan. Kukirim Ravien ke sana, dan tempat tinggalnya kupastikan dekat sekolah. Apartemen yang dulu Seris pakai… kupakai lagi untuk Ravien. Supaya dia nggak punya alasan untuk kabur."

Rei mengangguk pelan.

Rei : "Pilihan yang cukup tepat."

Hening sejenak melingkupi mereka, hanya suara angin dan desiran aura gerbang yang terdengar.

Tak lama, langkah berat mendekat. Garm muncul dari balik pepohonan, bahunya lebar, ekornya bergerak malas tapi matanya serius.

Garm : "Hei Rei, aku mau tanya sesuatu."

Rei tidak menoleh, hanya menggeser pandangan sedikit.

Rei : "Tanya."

Garm menyandarkan punggung di salah satu batang pohon, menatap Rei dan Lirya bergantian.

Garm : "Sejak dulu aku penasaran—di kedalaman Hutan Terlarang ini… kamu benar-benar sendirian menjaga gerbang? Tanpa interaksi dengan dunia luar?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Lirya ikut menatap Rei, penasaran. Selama ini, ia juga tidak pernah benar-benar yakin.

Rei terdiam cukup lama sampai Garm sempat menelan ludah. Lalu Rei menghela napas pelan.

Rei : "Kalau kalian aku beritahu, jangan kaget."

Garm langsung refleks menyilangkan tangan di dada, seolah mempersiapkan diri.

Garm : "Aku sudah lihat satu dataran jadi tandus karena amarahmu, Rei. Kurasa aku bisa menahan sedikit keterkejutan."

Lirya ikut mengangguk… meski di dalam hati agak ragu.

Lirya : "Baik. Aku juga sudah siap."

Rei memejamkan mata sebentar, merangkai kata.

Rei : "Pertama, kalian salah satu yang paling sering ke sini. Tapi kalian bukan satu-satunya."

Ia membuka mata dan menatap ke sekeliling hutan.

Rei : "Aku tidak benar-benar sendiri di sini. Ada makhluk lain yang juga ikut menjaga wilayah ini."

Lirya dan Garm sama-sama menegang.

Lirya : "Makhluk lain…?"

Garm : "Padahal aku sudah berkali-kali keliling hutan ini…"

Rei mengangkat dagu ke satu arah—ke pohon besar yang berdiri tak jauh dari tempat ia duduk. Pohon yang dulu… pernah Garm hajar habis-habisan saat marah mendengar kisah jiwa Rei di luar sana.

Rei : "Salah satu dari mereka ada di situ."

Lirya dan Garm otomatis menatap pohon itu. Batangnya tebal, akar menjalar seperti urat raksasa, daunnya lebat—tapi tidak ada tanda kehidupan lain selain itu.

Rei menatap pohon tersebut tanpa ekspresi.

Rei : "Aku kurang suka dipandang diam-diam dari jauh tanpa menampakkan diri. Keluar sekarang. Atau pohon itu kubuat jadi debu."

Angin berhenti.

Bahkan daun-daun seperti menahan gemerisik.

Lalu—sesuatu di dalam batang itu "bernapas".

Beberapa detik hening—lalu, dari dalam batang dan dahan pohon, mengalir aura lain; lembut namun tua, seperti aliran kehidupan itu sendiri.

Cahaya kehijauan tipis muncul di sekitar batang. Dari kulit pohon, seolah keluar sosok perempuan tinggi dengan rambut panjang menjuntai seperti untaian daun, mata hijau tua, dan aura anggun penuh otoritas.

Figur itu melompat turun perlahan, berdiri di atas akar besar sambil tersenyum kecil.

??? : "Ara ara… jangan begitu, Rei-kun. Kalau pohonku hancur… aku harus tinggal di mana nanti?"

Lirya dan Garm serentak membelalak.

Lirya : "I-itu…"

Garm : "Ratu Dryad…!"

Ya—sosok di depan mereka adalah Ratu Dryad, penjaga tertinggi hutan dan seluruh pohon tua—serta salah satu dari empat Guardian dunia Elyndor.

Ia tersenyum lembut, namun matanya jelas menyimpan sedikit kegugupan saat menatap Rei.

Ratu Dryad : "Sudah lama kita tidak bicara, Rei-kun. Maaf, aku hanya ingin mengamati… tanpa mengganggu."

Rei mengalihkan tatapan dari gerbang ke arahnya sebentar.

Rei : "Kalau hanya mengamati, tidak perlu bersembunyi sampai segitunya."

Namun setelah itu, aura tekanannya menghilang. Ia kembali menatap gerbang, seolah ancaman tadi tidak pernah ia ucapkan.

Rei : "Garm, pertanyaanmu terjawab?"

Garm masih menatap pohon besar itu—tempat ia dulu pernah memukul sekuat tenaga.

Garm (dalam hati):

Jadi… pohon yang dulu kupukul sampai tanganku sakit itu… tempat Ratu Dryad berdiam…?

Ia merinding kecil, menelan ludah.

Garm : "Y-ya… terjawab… lebih dari cukup."

Lirya pun belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya. Matanya bergantian memandangi Ratu Dryad dan Rei.

Lirya (dalam hati):

Ratu Dryad… salah satu Guardian yang bahkan para raja harus hormati…

Dan dia bicara pada Rei seperti… sudah lama kenal, bahkan takut kalau Rei marah…

Ratu Dryad tersenyum kecut, seolah bisa menebak arah pikiran Lirya.

Ratu Dryad : "Jangan melihatku begitu, Lirya-chan. Tidak ada yang salah dengan Guardian yang berhati-hati pada seseorang yang pernah membuat satu dataran hutan menjadi tandus hanya karena marah."

Ia melirik Rei sekilas, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan lagi.

Rei tidak menyanggah. Ia hanya menarik napas, lalu kembali diam.

Di antara suara hutan yang tenang, satu hal menjadi jelas bagi Lirya dan Garm:

Rei tidak pernah benar-benar "sendiri".

Di Hutan Terlarang, sebagian penjaga memang diciptakan untuk satu hal:

tetap tak terlihat—dan tetap hidup.

More Chapters