Hina berdiri beberapa detik di depan gerbang apartemen, menatap pintu 101 yang baru saja tertutup, napasnya pelan tapi terasa berat.
Hina (dalam hati) :
…jadi selama ini, dia tepat di bawah Rei-kun…
Ia menggeleng pelan, mencoba menenangkan hati yang entah kenapa masih berdebar, lalu
menuju tangga. Langkahnya naik ke lantai dua terdengar lembut, disertai suara kantong plastik berisi camilan yang saling bergesek.
Sesampai di depan pintu 202, ia mengetuk pelan.
Tok tok.
Tak lama, pintu terbuka, dan seperti biasa, wajah ceria Airi muncul.
Airi : "Ah, Hina! Pas banget. Masuk, masuk~"
Hina tersenyum kecil.
Hina : "Maaf ya kalau agak telat…"
Airi : "Nggak kok. Kamu tepat waktu. Riku sama Rika baru aja duduk."
Hina melangkah masuk. Kamar Rei yang tidak terlalu luas itu terasa hangat—bukan karena ukuran, tapi karena tawa dan suara yang sudah ia kenal.
Rei duduk di dekat meja belajar, tumpukan buku dan kertas berserakan rapi dalam versinya sendiri.
Riku dan Rika duduk di lantai dekat meja kecil, sudah menyiapkan buku catatan masing-masing.
Hina mengangkat kantong plastik yang ia bawa.
Hina : "Aku bawa camilan. Biar belajarnya nggak terlalu kering."
Riku : "Oooh, penyelamat hari libur datang juga."
Rika : "Terima kasih, Hina. Nanti kita makan pas istirahat ya."
Rei tersenyum lembut.
Rei : "Seperti biasa, kamu perhatian banget sama orang lain, Hina. Terima kasih."
Pipi Hina sedikit menghangat, tapi ia hanya mengangkat tangan pelan.
Hina : "Aku juga mau makan kok, jadi sekalian."
Mereka pun mulai belajar.
Sudah hampir dua jam mereka berkutat dengan buku dan kertas.
Rei menjelaskan pelajaran yang sulit dengan bahasa sederhana,
Airi kadang menyela dengan contoh lucu,
Riku berusaha keras kelihatan keren di depan Rika,
dan Rika sesekali berkerut bingung, membuat Hina tertawa pelan.
Riku : "Jadi bagian ini tuh, kalau kamu salah akar, nanti hasilnya kacau. Pelan-pelan aja, Rika."
Rika : "Aku benar-benar nggak nyangka, masuk kelas 3 masih harus berurusan sama ini…"
Riku mengelus lembut kepala Rika.
Riku : "Nggak apa. Kita hadapi bareng."
Rika yang pipinya sedikit memerah, memalingkan wajah.
Rika : "Kalau kamu terus begitu, aku malah nggak bisa konsen…"
Hina melihat itu semua, menyandarkan dagu di tangan, senyum tipis di bibir.
Hina (dalam hati) :
Cinta yang… saling kembali.
Rasanya… manis sekali ya.
Ia mengalihkan pandangannya ke Rei, yang sedang serius menandai beberapa poin di buku Airi.
Hina (dalam hati) :
Andai dulu aku tidak terlalu takut…
Apa mungkin hatiku sekarang… akan seperti Rika?
Namun pikiran itu hanya lewat sebentar, lalu menghilang saat Rei mengangkat kepala.
Rei : "Hina, bagian ini kamu sudah paham? Kalau belum, kita ulang pelan-pelan."
Hina : "A–ah, sudah lumayan paham. Terima kasih, Rei-kun."
CAHAYA DARI DUNIA LAIN
Dua jam berlalu.
Kertas penuh coretan, pensil habis ditekan, dan suara Rei yang sabar tidak pernah putus.
Airi menyelipkan lelucon di tengah rumus, Riku sok jadi tutor hebat, Rika ngambek tiap salah satu langkah, dan Hina… tertawa pelan, lebih sering daripada biasanya.
Tiba-tiba, bola kristal di meja Rei memancarkan cahaya lembut kehijauan.
Airi : "Ah… itu…"
Rei menoleh, sedikit tersenyum. Ia mengambil bola kristal itu dan meletakkannya di tengah meja kecil, lalu duduk kembali sehingga mereka semua bisa melihat dengan jelas.
Cahaya menguat, dan sesosok bayangan mulai terlihat—wajah seorang elf berambut perak dengan mata hijau yang lembut.
Aelria : "Halo… Rei, Airi, Riku, Rika, Hina."
Airi langsung merunduk ke depan, wajahnya sumringah.
Airi : "Onee-chan! Pas banget, kita lagi belajar bareng di kamar Rei!"
Aelria tersenyum hangat.
Aelria : "Aku bisa lihat. Kalian terlihat akrab seperti biasa. Rasanya… melegakan."
Rei mengangguk pelan.
Rei : "Bagaimana keadaanmu di sana, Aelria?"
Aelria : "Seperti biasa. Latihan sihir, kelas, latihan lagi… Dan kalah lagi dalam nilai akademis dari Seris dan Fiora."
Dari belakang Aelria, bayangan dua sosok lewat—satu mungil dengan aura alam, satu lagi menatap datar seperti sedang mengukur seluruh ruangan.
Fiora (dari jauh) :
Fakta tidak perlu dibesar-besarkan.
Seris : "Tapi tetap harus diakui, kan?"
Aelria mendelik sebentar ke arah yang tidak terlihat jelas dari bola kristal, lalu kembali tertawa kecil.
Aelria : "Tapi hari-hariku tidak membosankan. Berkat cerita tentang kalian… dan Rei."
Mereka semua saling melirik, lalu menggoda pelan.
Riku : "Wah, Rei, namamu disebut khusus."
Rika : "Sepertinya jarak dunia tidak menghalangi hal-hal tertentu ya…"
Rei hanya bisa menggaruk pipi, sedikit salah tingkah.
Rei : "Kalian ini…"
NAMA YANG MENGGEMA – KETERKAITAN YANG TAK TERDUGA
Di tengah obrolan tentang festival sekolah dan lomba yang akan datang, Airi tiba-tiba teringat sesuatu.
Airi : "Ah, iya! Onee-chan, di sekolah kami sekarang ada murid baru."
Aelria : "Murid baru? Ras apa?"
Airi : "Ras demon. Namanya Ravien. Dia masuk kelas kami beberapa minggu lalu."
Aelria tampak tertegun sejenak. Matanya sedikit menyipit, seolah sedang mengingat sesuatu.
Aelria : "Ras demon… di sekolah kalian…?"
Riku ikut menambahkan.
Riku : "Kerjaannya tidur doang di kelas, tapi… jenius. Bahkan guru sampai angkat tangan kalau soal akademik."
Rika : "Sombong juga. Tatapannya kayak selalu menganggap semua orang lebih lemah dari dia."
Hina hanya diam, menunduk sedikit, seolah nama itu menekan dadanya lebih keras dari yang ia duga. Kata "Ravien" terdengar berbeda di telinganya sekarang.
Aelria tampak berpikir keras, lalu menoleh ke samping, seperti melihat seseorang di luar jangkauan kristal.
Aelria : "Seris, kemari sebentar."
Cahaya bergeser, dan wajah Seris muncul lebih jelas di belakang Aelria.
Seris : "Ada apa? Aku sedang belajar, tahu."
Aelria : "Airi, ceritakan lagi."
Airi mengulang dengan lebih rinci.
Airi : "Ada demon di sekolah kami. Laki-laki. Kerjaannya tidur di kelas, temperamen kelihatannya kurang ramah. Katanya kuat, jenius, mata emas… dan namanya Ravien."
Seris terdiam… lalu menutup wajah dengan satu tangan.
Seris : "...Jangan bilang itu benar."
Airi : "Namanya Ravien."
Seris : "..."
(hening)
Seris : "Itu kakakku."
Kamar Rei langsung hening seketika.
Rei : "…"
Riku : "Serius?"
Rika : "Pantas saja auranya mirip…"
Airi : "Jadi benar…"
Hina mengangkat kepalanya pelan, matanya melebar.
Hina : "K–kakakmu…?"
Seris mengangguk, terlihat antara lelah dan pasrah.
Seris : "Ravien Vhal'Raine. Kakak keduaku."
"Sombong, pintar, kuat, bikin masalah, dan sekarang… sedang menjalani hukuman belajar di dunia manusia."
Aelria : "Lagi-lagi onee-chan mu, ya."
Seris : "Ini pasti ulah Lirya-neesan yang mengatur semua ini…"
SEBUAH KEBETULAN YANG TERUNGKAP
Aelria lalu bertanya, penasaran.
Aelria : "Kalian tahu… Ravien tinggal di mana sekarang?"
Riku, Rika, Airi, dan Rei saling berpandangan, lalu menggeleng pelan.
Airi : "Kami belum pernah lihat dia di luar sekolah. Jadi… tidak tahu."
Hanya satu orang yang bereaksi berbeda.
Hina menggenggam roknya pelan, lalu mengumpulkan keberanian.
Hina : "A–aku… tahu."
Semua kepala spontan berbalik ke arahnya.
Riku : "Serius, Hina?"
Rika : "Sejak kapan?"
Pipi Hina memerah, ia menunduk sedikit.
Hina : "Baru hari ini… Waktu aku mau ke sini. Aku nggak sengaja bertemu dia di minimarket. Terus… aku lihat dia masuk apartemen ini. Dia tinggal di kamar 101… kamar yang dulu Seris-san pakai."
Seris langsung memegang kepalanya sendiri lagi.
Seris : "Tentu saja. Tentu saja di situ. Aku bisa membayangkan Lirya-neesan tertawa saat mengatur ini…"
Aelria tersenyum tipis.
Aelria : "Berarti… Ravien tidak sendirian. Dia punya kalian. Dan… Hina."
Mata Hina sedikit melebar, tapi sebelum ia sempat berkata apa-apa, cahaya kristal mulai meredup.
Aelria menoleh cepat.
Aelria : "Ah, waktunya hampir habis."
Ia menatap Rei dan yang lain dengan lembut.
Aelria : "Terima kasih sudah mau bercerita. Rei—jaga dirimu. Airi—jangan terlalu nakal. Riku, Rika—tetap bersama, ya. Hina—terima kasih sudah ada di sisi mereka."
Airi : "Onee-chan…!"
Rei : "Kami juga menunggumu tetap sehat di sana."
Cahaya hijau melemah, dan akhirnya bola kristal itu kembali bening, seakan tidak terjadi apa-apa.
Kamar Rei sekali lagi dipeluk keheningan.
RENCANA MENDADAK – MENGETUK PINTU 101
Hening itu dipotong oleh suara berat tapi hangat dari Riku.
Riku : "Kalau dipikir-pikir… ini kesempatan bagus juga."
Rei : "Kesempatan?"
Riku mengangguk.
Riku : "Ravien itu kakak Seris. Berarti dia bukan demon sembarangan. Kalau kita bisa dekat, kita bisa belajar bareng, latihan bareng… dan mungkin lomba nanti bisa lebih mudah."
Rika melipat tangan, tapi tidak terlihat menolak.
Rika : "Dan… kalau dia kakak Seris, artinya… dia bukan orang jahat, kan. Cuma… menyebalkan."
Airi mengangkat tangan setuju.
Airi : "Aku setuju. Kalau kita ingin membangun tim kuat, Ravien harus ikut. Dan… mungkin dia juga butuh teman."
Rei menatap Hina sekilas. Hina tampak ragu sejenak, mengingat kata-kata Ravien:
"Jangan ganggu tidurku terlalu sering."
Hina (dalam hati) :
Kalau dia marah… bagaimana…?
Riku berdiri, menepuk tangannya sekali.
Riku : "Kalau begitu, bagaimana kalau kita… sekarang juga ke kamar Ravien? Kenalan sebagai tetangga, ajak dia belajar bareng. Sekalian kasih tahu bahwa Seris titip salam."
Airi : "Setuju!"
Rika : "Yah, kalau dia berani marah, aku dan Riku bisa kabur. Rei jadi tameng."
Rei : "Kenapa aku jadi tameng?"
Mereka tertawa kecil.
Hina menggigit bibir pelan.
Hina (dalam hati) :
Ravien… maaf. Sepertinya kami akan mengganggumu lebih cepat dari yang kamu kira…
Tapi ia juga tidak tahan untuk tidak ikut.
Di dalam hati, ada rasa ingin… melihat reaksi Ravien saat tahu mereka sudah mengetahui semuanya.
Hina : "…Aku ikut."
Rei tersenyum kecil.
Rei : "Kalau begitu, ayo."
DI DEPAN PINTU 101
Mereka turun bersama ke lantai satu.
Koridor apartemen cukup sunyi, hanya terdengar langkah kaki lima remaja yang berhenti tepat di depan pintu 101.
Riku : "Baik, aku ketuk, ya."
Riku mengetuk pelan—cukup sopan, tapi juga cukup jelas.
Tok tok.
Beberapa detik terasa panjang.
Hina meremas ujung tas kecilnya, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Hina (dalam hati):
Semoga dia tidak terlalu marah… semoga…
Suara langkah terdengar dari dalam.
Kunci diputar.
Pintu terbuka perlahan.
Dan di sana, dengan rambut perak sedikit acak, mata emas yang masih setengah malas namun jelas terkejut—Ravien berdiri menatap mereka berlima yang berjejer di depan pintunya.
Ravien : "…Apa kalian semua tersesat, atau apartemen ini tiba-tiba berubah jadi ruang kelas?"
Wajahnya jelas menunjukkan satu hal:
Ia sama sekali tidak menyangka mereka akan datang mengetuk pintunya seperti ini—bahkan tangannya masih menggenggam gagang pintu, seolah ragu untuk menutupnya kembali.
