Lirya dan Garm berdiri kaku.
Tatapan mereka berpindah dari batang pohon—ke Rei—lalu ke Sylvia yang masih tersenyum manis.
Seolah kepala mereka baru saja dipaksa menelan dua hal sekaligus:
selama ini mereka diawasi… dan sekarang yang mengawasi sedang terang-terangan menempel pada Rei.
Sylvia menoleh ke arah mereka berdua, tersenyum lembut.
Sylvia :
"Maaf ya, sepertinya aku kurang sopan kalau cuma mengintip tanpa memperkenalkan diri."
Ia mengangkat ujung roknya sedikit, memberi salam elegan.
Sylvia :
"Aku Sylvia, Ratu para Dryad, salah satu dari empat Guardian yang bertugas menjaga keseimbangan dunia ini."
Garm spontan menegakkan badan, ekornya hampir berdiri.
Garm :
"A-aku Garm! Prajurit beastkin, pengawal garis depan hutan terlarang!"
Lirya menyusul, sedikit menunduk.
Lirya :
"Aku Lirya, dari keluarga bangsawan demon. Saat ini… hanya 'penjaga gerbang' kecil yang membantu Rei."
Sylvia tersenyum makin lembut, jelas menikmati reaksi mereka.
Sylvia :
"Senang bertemu kalian berdua. Terima kasih sudah menemani Rei-kun di sini. Kalau hanya aku dan tiga Guardian lain… dia pasti lebih keras kepala."
Ia berkata begitu sambil berdiri, lalu dengan santai berjalan mendekati Rei dan duduk di sebelahnya, cukup dekat sampai Lirya refleks mengerutkan alis.
Pelan, Sylvia menyandarkan kepalanya ke bahu Rei yang saat itu Rei masih menatap gerbang.
Sylvia :
"Jangan terlalu kaku begitu, Rei-kun. Kau masih ingat kan, janji kita dulu?"
Rei tidak menjawab langsung. Matanya sedikit menyipit, jelas ingatannya kembali ke masa lalu.
—
…Hujan energi anomali. Hutan yang dulu subur, robek oleh retakan dimensi.
Seorang bocah manusia berambut putih, tubuhnya kurus, berdiri sendirian di lautan monster yang melolong, memuntahkan kekuatan asing dari dunia lain.
Rei kecil, napas tersengal, tangan gemetar memegang pedang energi. Aura ruang di sekelilingnya berdenyut liar.
Rei Kecil (dalam hati) : Kalau gerbang ini tidak aku segel… dunia ini akan hancur… sama seperti dunia tempat aku berasal…
Selama hampir satu tahun, ia terus menghalau gelombang demi gelombang monster anomali, nyaris tanpa tidur, nyaris tanpa jeda. Luka di tubuhnya tidak terhitung lagi.
Sampai akhirnya, pada salah satu hari terburuk—
Retakan dimensi melebar, dan dari dalamnya muncul kawanan monster yang auranya bahkan membuat hutan sendiri bergetar.
Rei kecil sudah hampir kehabisan napas saat itulah empat aura besar datang bersamaan.
Suara berat mengguncang langit:
Guardian Naga : "Manusia…? Bocah…? Menghadapi anomali sebanyak ini sendirian?"
Dari langit turun naga raksasa bermata emas, dari tanah muncul golem batu yang berkilau, dari angin muncul figur bercahaya, dan dari pohon besar… Sylvia.
Sylvia muda waktu itu menatap Rei dengan tidak percaya.
Sylvia (saat itu) : "Kau… manusia? Tidak ada sihir ras lain di tubuhmu…"
Rei kecil hanya tersenyum tipis, lalu kembali maju melawan monster.
Rei Kecil :
"Kalian sempatkan saja ada di sini… bantu lindungi hutan ini… sisanya biar aku selesaikan."
Pertempuran panjang pun terjadi.
Empat Guardian + satu bocah manusia melawan laut monster anomali. Kekuatan mereka besar—namun jumlah musuh dan intensitas energi asing itu gila-gilaan.
Di tengah pertempuran, Sylvia sempat terpojok, dinding akar pelindungnya retak dihantam dua monster besar sekaligus. Nafasnya terputus.
Sylvia (saat itu) : "…Buruk. Kalau begini, pohon-pohon di wilayah timur—"
Dalam sekejap, ruang di sekelilingnya bergetar. Rei kecil muncul di antara Sylvia dan monster, menggeser tubuhnya tanpa ragu.
Rei Kecil :
"Jangan tidur di medan perang, Guardian."
Dengan satu tebasan yang dilipat dengan kekuatan ruang, dia memotong kepala monster, sementara tangan satunya menahan cakar monster kedua dengan wajah datar.
Sylvia terpaku, jantungnya memukul keras.
Sylvia (saat itu, dalam hati) :
Manusia… melindungi Guardian dunia…? Siapa sebenarnya dia…?
Hampir setahun pertempuran.
Hampir setahun menahan anomali—tanpa tidur yang layak, tanpa jeda yang pantas disebut jeda.
Sampai akhirnya energi liar itu mereda, jalur utama anomali melemah, dan Rei—masih bocah—memanfaatkan momen itu untuk menyegel jalur dimensi dengan kekuatan ruangnya.
Saat semuanya selesai, mereka berempat mengelilingi Rei kecil yang hampir pingsan.
Guardian Naga :
"Siapa namamu?"
Rei Kecil :
"…Rei."
Guardian Naga menghela napas panjang tidak melanjutkan bertanya karena merasa Rei bukanlah orang jahat.
Guardian Naga :
"Rei. Jangan pernah lagi menanggung ini sendirian. Dunia ini bukan hanya tanggung jawabmu."
Golem raksasa menghentakkan kakinya ringan.
Guardian Bumi :
"Jika energi anomali muncul lagi, panggil kami. Kami Guardian, bukan hanya dekorasi."
Entitas angin yang melayang di udara terkekeh lembut.
Guardian Angin :
"Kalau kau tumbang, siapa yang mau menyambung garis cerita dunia ini? Jangan egois sendirian."
Terakhir, Sylvia mendekat, berlutut di depan Rei kecil, menatap langsung ke mata bocah itu.
Sylvia (saat itu) :
"Ini janji kita berempat, Rei. Gerbang ini, retakan dunia ini, bukan milikmu sendiri. Kami ikut menjaganya."
Ia mengulurkan tangan.
Sylvia :
"Dan pribadi… aku punya janji lain."
Rei Kecil :
"Janji… apa?"
Sylvia tersenyum, wajahnya sedikit memerah.
Sylvia :
"Kalau kau tumbuh besar dan tetap hidup… aku ingin kau bertanggung jawab."
Rei kecil mengerutkan kening.
Rei Kecil :
"Tanggung jawab… apa?"
Sylvia :
"Jadi suamiku."
—
Ingatan itu memudar, kembali ke saat ini.
Sylvia yang masih bersandar pada Rei dewasa, dengan senyum yang… tidak berubah sama sekali dari puluhan tahun lalu.
Sylvia :
"Jadi, Rei-kun… janji itu masih berlaku. Jangan menanggung semuanya sendiri. Dan soal yang satunya lagi…"
Ia mendekat sedikit, wajahnya hanya beberapa jengkal dari wajah Rei.
Sylvia :
"Kau bisa mulai menebus tanggung jawabmu kapan saja. Misalnya… dengan menjadikanku istri dan memberiku keturunan."
Garm hampir tersedak udara.
Garm :
"Huh!?"
Lirya refleks berdiri, wajah memerah, ekor demon kecil di belakang punggungnya sampai tegak.
Lirya (dalam hati):
Dia… dia mengucapkan segamblang itu!? Di depan Rei!? Di depan orang lain pula!? Aku merasa kalah telak…!
Rei menghela napas panjang dan memijat pangkal hidungnya.
Rei :
"Dirimu sendiri masih kesulitan menjaga tubuh asli yang tertanam di hutan suci. Bagaimana aku mau menitipkan tanggung jawab lain di pundakmu?"
Sylvia tidak tersinggung sama sekali. Justru tertawa pelan.
Sylvia :
"Justru karena itu, Rei-kun. Kalau aku punya suami sekuat kamu, yang bisa menyapu anomali dan membuat satu dataran jadi tandus hanya dengan amarah… aku bisa tidur lebih nyenyak."
Ia mengedipkan satu mata nakal.
Sylvia :
"Dan soal memberikan keturunan sebagai tanggung jawab… itu penawaran yang masih sangat serius, lho."
Rei :
"…Kau tidak malu sudah mengulang kalimat yang sama hampir ribuan kali?"
Sylvia :
"Selama kau belum menjawab 'iya' dengan jelas, aku tidak capek mengulangnya."
Garm menatap Lirya, berbisik pelan.
Garm :
"…Kalau ini yang namanya Guardian dunia, aku jadi kasihan sama Rei sedikit."
Lirya menggenggam ujung rok bajunya, pipinya memerah kesal.
Lirya (dalam hati):
Aku cuma berani memanggil namanya saja masih deg-deg-an… dia sudah lompat sampai 'anak'…
Rei akhirnya menghela napas sekali lagi, kali ini lebih pendek.
Rei :
"Cukup soal itu. Yang penting, kau dan tiga Guardian lain ingat bagian janji yang pertama."
Ia menatap gerbang lagi, ekspresinya kembali serius.
Rei :
"Jika energi anomali bangkit lagi… aku akan bergerak. Tapi jangan lupa, dunia ini bukan hanya milikku. Kalian juga harus maju, sebelum semuanya terlambat."
Sylvia menatap sisi wajah Rei, senyumnya melunak—kali ini tanpa godaan berlebihan.
Sylvia :
"Tentu. Kami sudah lama berhenti menganggapmu 'anak kecil yang nekat'. Sekarang, kau adalah salah satu pilar kami."
Ia berdiri pelan, menatap Lirya dan Garm.
Sylvia :
"Dan kalian berdua juga. Kalian mungkin tidak menyadarinya, tapi berada di sisi Rei… berarti kalian berdiri lebih dekat pada pusat badai dari siapa pun di dunia ini."
Lirya tercekat, namun kemudian mengangguk pelan.
Lirya :
"Aku… sudah memilih berdiri di sini."
Garm mengangkat bahu, tersenyum miring.
Garm :
"Kalau ada orang yang bisa kubantu dengan tinjuku, ya tidak masalah meski di tengah badai."
Sylvia tertawa ringan.
Sylvia :
"Baiklah. Kalau begitu, untuk sementara… aku akan kembali mengamati dari balik pohon. Tapi kali ini, aku janji akan lebih sering muncul kalau Rei-kun mulai keras kepala lagi."
Rei :
"Artinya… kau akan sering muncul."
Sylvia :
"Itu rencananya."
Ia melangkah mundur ke arah batang pohon besar, tubuhnya mulai berubah menjadi cahaya hijau lembut yang menyatu kembali dengan kulit kayu.
Sebelum sepenuhnya menghilang, Sylvia menoleh sekali lagi.
Sylvia :
"Dan Rei-kun… jangan lupakan. Di dunia lain, jiwa lainmu… akhirnya mulai mencintai dan dicintai lagi. Jangan hancurkan hatimu di sini sampai tidak bisa menerima kebahagiaan miliknya."
Rei terdiam. Resonansi halus di dadanya—pelukan Aelria, tangan Airi, tawa teman-temannya—bergetar pelan.
Rei (dalam hati):
Aku tahu. Karena rasa hangat itu… sampai di sini juga.
Sylvia tersenyum sangat lembut kali ini.
Sylvia :
"Bagus. Sampai nanti, Rei-kun."
Dalam sekejap, ia lenyap, menyatu dengan pohon, menyisakan hanya aura hutan yang kembali tenang.
Lirya dan Garm berdiri di tempat, masih mencoba mencerna semuanya.
Garm :
"…Jadi, selain monster anomali, dunia lain, dan jiwa kembaran… sekarang ada juga Ratu Dryad yang naksir berat ke kamu."
Lirya mengerling ke arah Rei, campuran cemburu dan kagum memenuhi dadanya.
Lirya (dalam hati):
Seperti yang kuduga… orang ini menarik perhatian segala sesuatu yang kuat—Guardian, dunia, bahkan diriku.
Rei tidak menjawab. Ia hanya menatap gerbang, namun kali ini, sudut matanya tampak sedikit lebih lembut.
Seolah, di tengah semua beban dan ancaman, keberadaan orang-orang yang keras kepala ingin berada di sisinya—baik di dunia ini maupun di dunia manusia—membuat langkahnya sedikit lebih ringan.
