Cherreads

ARLAN The Echo of Silence

Dream_Traveller
28
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 28 chs / week.
--
NOT RATINGS
406
Views
Synopsis
Arlan adalah seorang pecundang di era modern. Terjebak dalam trauma perundungan dan ketidakmampuan bersosialisasi, ia hanya bisa menuangkan isi kepalanya ke dalam catatan rahasia yang tak pernah dibaca siapa pun. Namun, takdir berkata lain saat sebuah kecelakaan maut di hari kedua SMA merenggut kesadarannya. Alih-alih terbangun di rumah sakit, Arlan justru membuka mata di sebuah loteng pengap tahun 1980-an. Ia mendapati dirinya berada di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama, namun hidup di era di mana mesin ketik adalah senjata dan koran adalah penguasa informasi. Tanpa ponsel, tanpa internet, dan tanpa media sosial yang menghakiminya, Arlan menemukan sebuah keajaiban: Di era ini, dia bisa bicara tanpa ragu. Dipandu oleh Maya, seorang asisten redaksi yang misterius dan penuh gairah, Arlan mulai menggunakan pengetahuan "masa depan"-nya untuk menulis karya-karya yang mengguncang industri literasi dan film era tersebut. Dari seorang remaja yang tak dianggap, Arlan bertransformasi menjadi jenius sastra yang dikagumi banyak orang. Namun, di tengah kesuksesannya, Arlan mulai dihantui oleh bayangan-bayangan aneh. Suara tangis ibunya yang menggema di langit-langit kota dan kilatan lampu putih yang mencoba menariknya pulang. Arlan harus memilih: Menetap di masa lalu sebagai legenda yang dicintai, atau mencari jalan kembali ke masa depan untuk menghadapi ketakutan yang belum ia tuntaskan. Akankah Arlan berhasil mempertahankan kejayaannya, ataukah sejarah yang ia tulis hanya akan menjadi abu saat takdir memaksanya kembali?
VIEW MORE

Chapter 1 - Chapter 1: Kebisingan di Balik Mulut yang Terkunci

Dunia adalah tempat yang terlalu bising bagi orang-orang sepertiku. Bukan bising karena suara kendaraan atau klakson yang bersahutan di jalanan Jakarta pagi ini, melainkan bising oleh pikiran-pikiran yang tidak pernah menemukan pintu keluar.

Aku, Arlan, adalah seorang remaja yang memiliki seluruh galaksi di dalam kepala, namun hanya memiliki keheningan di ujung lidah.

"Arlan, sarapan dulu. Jangan melamun terus," suara Ibu terdengar datar, seolah sudah terbiasa bicara dengan tembok.

Aku hanya mengangguk. Tidak ada kata "pagi, Bu" atau "terima kasih". Bukan karena aku tidak mau, tapi ada sesuatu yang mencekik di tenggorokanku setiap kali aku ingin mengeluarkan suara. Trauma SMP itu—kejadian di mana mereka menertawakan gagapku hingga aku menjadi bahan tontonan satu sekolah—masih terasa seperti kawat berduri yang melilit pita suaraku.

Hari ini adalah hari kedua di SMA. Kemarin, di hari pertama, aku berhasil menjadi "bayangan". Tidak ada yang mengajakku bicara, dan itu adalah zona nyamanku.

Di dalam bus menuju sekolah, aku mengeluarkan buku catatan kecil. Di sana, aku tidak lagi menjadi Arlan yang pecundang. Aku adalah seorang detektif era 1940-an yang sedang memecahkan kasus pembunuhan di bawah guyuran hujan. Penaku menari cepat, menggambarkan aroma kopi pahit dan suara musik jazz yang mengalun dari piringan hitam. Imajinasi adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa menjadi siapa saja.

Tin! Tinnnn!

Bus berhenti mendadak. Lamunanku buyar. Aku turun di halte dekat sekolah dengan kepala yang masih penuh dengan adegan-adegan film noir yang baru saja kutulis. Aku melangkah di trotoar, melewati kerumunan siswa berseragam putih-abu yang saling bercanda.

Aku merasa terasing. Dunia modern ini terasa terlalu cepat, terlalu digital, dan terlalu dingin. Aku merindukan sesuatu yang belum pernah aku kunjungi. Sesuatu yang terasa... klasik.

Aku sampai di persimpangan lampu merah. Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi masuk dari grup angkatan sekolah yang baru.

[Grup Angkatan SMA 12]

"Eh, si bisu yang kemarin duduk di pojok itu masuk kelas mana sih? Serem banget nggak ngomong sama sekali."

Darahku berdesir. Rasa takut itu kembali. Tanganku gemetar memegang ponsel. Bayangan ejekan di SMP muncul kembali seperti kaset rusak yang diputar paksa. Aku tertunduk, mempercepat langkah tanpa melihat lampu penyeberangan yang sudah berubah warna.

"Arlan, awas!"

Suara teriakan itu sayup-sayup terdengar. Aku menoleh ke arah kanan. Cahaya silau dari lampu truk menghantam mataku. Tidak ada suara dentuman yang keras dalam pendengaranku. Hanya ada suara sunyi yang panjang.

Pandanganku mengabur. Aspal yang panas terasa dingin. Bau bensin bercampur dengan bau darah yang amis.

Lalu, perlahan-lahan, semuanya berubah.

Bau bensin berganti menjadi aroma kertas tua yang terbakar. Aspal keras di bawah tubuhku berubah menjadi karpet beludru merah yang lembut. Dan di telingaku, suara klakson yang memekakkan telinga berganti menjadi denting pelan sebuah mesin ketik.

Tik... tik... tik...

Aku membuka mata. Cahaya matahari yang masuk dari jendela kayu yang besar menyapa wajahku. Aku tidak lagi berada di aspal Jakarta yang kotor.

Aku berada di sebuah loteng kecil yang dipenuhi tumpukan buku. Di depanku, berdiri sebuah mesin ketik besi bermerek Brother. Dan di ambang pintu, seorang gadis dengan rambut sebahu dan gaun bergaya vintage menatapku dengan heran.

"Arlan? Kamu melamun lagi? Cepat selesaikan naskahnya, Redaktur koran akan datang sebentar lagi!"

Duniaku tidak lagi sunyi. Duniaku baru saja dimulai.