Cherreads

Chapter 2 - Chapter 2: Mesin Ketik dan Gadis Beraroma Cengkih

Aku tertegun. Suaraku tertahan di kerongkongan, tapi kali ini bukan karena takut. Aku menatap jemariku. Tidak ada darah. Tidak ada luka parut. Hanya ada sedikit noda tinta hitam di ujung telunjuk kananku.

"Arlan? Kenapa melihat tanganmu seperti baru pertama kali punya jari?" Gadis itu melangkah masuk.

Sepatunya yang berbahan kulit berbunyi tuk-tuk di atas lantai kayu. Ia mengenakan blus krem dengan kerah lebar dan rok plisket selutut. Di matanya yang tajam, tersimpan binar tidak sabar yang entah kenapa terasa sangat akrab.

"Aku... aku di mana?" suaraku keluar.

Aku tersentak. Itu suaraku. Tapi nadanya lebih berat, lebih tenang, dan yang paling mengejutkan: tidak ada getaran gagap yang biasanya menghancurkan setiap kalimatku.

Gadis itu tertawa kecil, suara tawanya renyah seperti gesekan piringan hitam yang diputar. "Di mana lagi? Di loteng Biro Pers 'Gema Sastra'. Kamu terlalu banyak menghirup uap tinta ya? Aku Maya, asisten redaksimu yang paling malang karena harus menunggu naskahmu yang tak kunjung usai."

Maya. Nama itu terasa manis sekaligus asing.

Ia mendekat ke arah meja kayu besar di tengah ruangan. Di sana terletak sebuah mesin ketik besi yang terlihat kokoh namun elegan. Di sampingnya, tumpukan kertas samir berwarna agak kekuningan berserakan, penuh dengan coretan tangan yang rapi.

"Lihat ini," Maya menunjuk salah satu paragraf di kertas itu. "Imajinasi tentang 'Kota Masa Depan yang Dingin dan Penuh Kabel' ini luar biasa, Arlan. Tapi pembaca kita di tahun 1982 lebih suka cerita tentang kemanusiaan. Kau harus memberikan jiwa pada tulisanmu."

1982? Aku menelan ludah. Aku baru saja mengalami kecelakaan di depan SMA-ku pada tahun yang penuh dengan smartphone dan media sosial, tapi sekarang aku terdampar di tahun di mana berita dikirim lewat kurir dan telepon masih memiliki kabel melingkar.

Aku mencoba berdiri. Kakiku terasa ringan. Tidak ada rasa sakit dari hantaman truk yang seharusnya menghancurkan tulang-tulangku. Aku berjalan menuju jendela loteng yang terbuka.

Di bawah sana, pemandangan kota terlihat sangat berbeda. Tidak ada gedung pencakar langit yang membosankan. Jalanan dipenuhi oleh mobil-mobil berbentuk kotak dengan warna-warna pastel. Orang-orang berjalan kaki sambil memegang koran fisik, dan udara... udara ini tidak berbau polusi tajam. Udara ini berbau kayu terbakar, cengkih, dan kebebasan.

"Arlan, apa kau baik-baik saja?" Maya berdiri di sampingku. Aroma cengkih dan sabun mandi bayi menguar dari tubuhnya.

"Aku hanya... merasa seperti baru saja bangun dari mimpi buruk yang sangat panjang," bisikku.

Maya menatapku lembut, lalu tangannya yang hangat menepuk bahuku. Sebuah sentuhan nyata. Terlalu nyata untuk sebuah mimpi. "Kalau begitu, jadikan dunia ini mimpi indahmu. Di sini, kau bukan orang asing. Kau adalah penulis kita. Sekarang, duduklah. Biarkan mesin ketik itu bicara untukmu."

Aku duduk di depan mesin ketik itu. Jemariku gemetar saat menyentuh tuts-tuts besinya yang dingin.

Tik.

Aku menekan satu huruf. Suaranya bergema di ruangan itu, memberikan kepuasan yang tidak pernah kudapatkan dari mengetik di layar ponsel.

Di dunia nyata, aku adalah Arlan yang tidak bisa bicara. Di sini, aku adalah Arlan yang setiap ketukan jarinya menciptakan dunia. Aku mulai mengetik, melupakan rasa sakit di aspal jalanan Jakarta, membiarkan diriku tenggelam dalam simfoni tik-tik-tik yang mulai memenuhi loteng itu.

Tanpa kusadari, di sudut ruangan, sebuah jam dinding kuno berdetak. Namun, jarum detiknya tidak bergerak maju. Ia bergetar, seolah sedang menahan sesuatu yang besar dari dunia luar agar tidak masuk ke sini.

More Chapters