Malam ini, loteng terasa berbeda. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara bising kota. Hanya ada aku, mesin ketik "Brother", dan sebuah tekad yang membara.
Aku tidak lagi menulis tentang fiksi ilmiah. Aku menulis tentang "Penjara Putih". Aku menulis tentang seorang anak yang terperangkap dalam mimpinya sendiri sementara tubuhnya menjadi asing. Aku menuangkan setiap rasa takut, setiap kerinduan pada Ibu, dan setiap cinta yang tumbuh untuk Maya ke dalam barisan kalimat.
Tik-tik-tik-tik-tik!
Kecepatan mengetikku tidak manusiawi. Bunyi mesin ketik itu memenuhi ruangan seperti rentetan tembakan. Aku tidak peduli lagi jika Satria curiga atau jika dunia ini mulai memudar di pinggirannya. Aku harus menyelesaikan ini.
"Arlan..."
Aku menoleh. Maya berdiri di sana. Ia tidak mendekat. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang sangat sedih, seolah ia tahu bahwa naskah yang sedang kutulis ini adalah surat perpisahan terselubung.
"Teruskan," bisik Maya. "Jangan berhenti untukku."
Aku kembali ke kertas. Bab terakhir.
Di dalam ceritaku, tokoh utama berhasil mencapai pintu keluar dari Penjara Putih. Ia menggenggam gagang pintu yang terbuat dari cahaya. Saat ia membukanya, ia tidak tahu apa yang menantinya di balik sana—kehidupan yang pahit atau kegelapan abadi—tapi ia memutuskan untuk melangkah keluar. Karena baginya, satu detik kejujuran lebih berharga daripada seribu tahun dalam ilusi.
Tik.
Aku menekan tombol titik terakhir.
Hening.
Seketika, loteng itu berguncang hebat. Lampu meja berkedip-kedip liar. Kertas-kertas naskahku terbang tertiup angin kencang yang entah datang dari mana. Di tengah kekacauan itu, Maya melangkah mendekat. Ia memegang tanganku yang gemetar.
"Kau sudah melakukannya, Arlan," ucap Maya. Suaranya terdengar sangat nyata, mengatasi suara gemuruh yang menghancurkan loteng kami. "Kau sudah menemukan suaramu."
"Maya! Apa yang terjadi?" teriakku.
"Waktunya makan siang di 'luar' sana, Arlan," Maya tersenyum, namun air mata jatuh di pipinya. "Suster akan datang untuk mengganti cairan infusmu. Tapi jangan takut. Naskah ini... naskah ini sudah tertanam di jiwamu. Kau akan membawanya pulang."
BEEEEEEEP—
Suara monitor jantung meledak dalam pendengaranku. Loteng kayu itu runtuh, berubah menjadi partikel cahaya putih. Maya menghilang, mesin ketik itu hancur, dan aku merasa tubuhku ditarik oleh gravitasi yang luar biasa kuat.
Aku kehilangan kesadaran, namun di genggaman tanganku yang kini tak kasat mata, aku masih bisa merasakan tekstur kertas naskah yang baru saja kuselesaikan.
Noktah terakhir telah diletakkan. Bagian pertama dari hidup baruku telah usai.
