Cherreads

Chapter 8 - Tome yang Mengenalnya

Kaivan mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang terasa janggal, namun entah kenapa kakinya tetap melangkah mengikuti perempuan tua itu. Mereka melewati halaman luas, sementara bangunan besar di hadapan mereka memancarkan cahaya hangat dari setiap sudutnya. Namun justru kehangatan itulah yang terasa tidak wajar, seperti topeng rapi yang menutupi sesuatu yang besar, dalam, dan tak terjamah.

Di dalam, rumah itu dipenuhi perabotan yang terawat dengan baik. Aroma samar memenuhi udara, membawa nuansa nostalgia yang aneh, sekaligus menimbulkan rasa tidak nyaman. Kaivan duduk di sofa, memaksa pikirannya untuk tenang.

Namun keheningan di sana terlalu tebal. Terlalu disengaja.

Tiba-tiba, hembusan angin dingin menyapu ruangan. Bulu kuduk Kaivan meremang. Udara berubah, berat, menekan, seolah memenuhi paru-parunya.

"Di sanalah," terdengar suara serak dari belakangnya.

Kaivan tersentak dan langsung menoleh. "N-nenek! A-aku tidak mendengar langkahmu." Suaranya bergetar. Tatapan perempuan tua itu kini terasa tajam dan sulit ditembus, menahannya di tempat.

Tanpa berkata apa-apa lagi, perempuan tua itu menyodorkan sebuah buku tua ke arahnya. Sampulnya terbuat dari kayu, usang, penuh ukiran rumit yang seolah hidup. "Buku ini… harus diberikan kepadamu, Kaivan."

Kaivan menatapnya ragu. Buku itu terlihat kuno, berbahaya bahkan, namun sekaligus memikat. "Untukku? Bukan uang? Dan siapa yang memutuskan buku ini milikku?"

"Buku itu sendiri," jawab perempuan tua itu singkat. Ia membuka halaman pertamanya. Huruf-huruf di dalamnya bergerak, berputar, berubah bentuk, seakan memiliki kehendak sendiri.

Napas Kaivan tercekat. Tanpa sadar, tangannya terulur, ujung jarinya menyentuh lembaran kertas itu. Seketika, huruf-huruf tersebut berhenti bergerak dan membentuk satu kalimat dingin:

"Pemilikku: Kaivan Badrika Alijaya."

Jantungnya berdegup kencang. Keheningan di dalam mansion terasa semakin menekan, hanya ditemani bunyi detik jam dinding. Tangannya gemetar saat menggenggam buku berat itu, jarinya menyusuri simbol-simbol yang terukir di kayunya.

"Jadi… sebenarnya apa buku ini, Nek?" tanyanya pelan. Tatapannya menempel pada perempuan tua itu, setengah takut, setengah berharap akan jawaban yang tidak menghancurkan sisa ketenangan yang ia miliki.

Perempuan tua itu duduk dengan tenang. Ada cahaya samar di matanya, sesuatu yang hidup, sulit dijelaskan. Ia mengangkat cangkir teh dengan gerakan anggun, menyesapnya perlahan, seperti seseorang yang telah lama menguasai ketenangan.

Ia meletakkan kembali cangkir itu. "Buku ini…" Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara. "…adalah buku yang memberi petunjuk. Dahulu, buku ini milik seseorang yang sangat aku hormati. Lebih dari sekadar teman. Dia adalah suamiku."

Nada suaranya sarat nostalgia, seperti angin lembut yang membawa aroma masa lalu. Tatapannya tertuju pada buku itu, seakan bayangan sosok yang pernah ia cintai masih ada di sana. Keheningan kembali memenuhi ruangan, menarik Kaivan ke pusaran misteri yang tak terlihat.

Namun tiba-tiba, Kaivan memecah suasana itu dengan pertanyaan canggung. "Ngomong-ngomong, Nek," katanya setelah jeda kaku, "uang ongkos pulangku ada, kan?"

Suasana khidmat itu pecah seketika.

Perempuan tua itu terkekeh pelan. "Hahaha… kamu lucu. Kamu sama sekali tidak berubah." Senyumnya tetap tenang, namun Kaivan merasakan ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan tuanya.

"Hah? Maksudnya aku tidak berubah?" Kaivan mengerutkan dahi, kebingungan, seolah perempuan itu mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri.

Ia menerima uang itu dengan cepat, memasukkannya ke saku dengan ekspresi bingung. Tidak sempat mengucapkan terima kasih.

"Kaivan," panggil perempuan tua itu tiba-tiba. Suaranya lembut, namun sarat makna. Kaivan berhenti melangkah dan menoleh setengah badan. "Hati-hati. Jangan tersesat lagi."

Kaivan menatapnya heran. Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa. "Tentu saja aku tahu jalan pulang," gumamnya, sedikit kesal.

Perempuan tua itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, seolah makna kata-katanya harus Kaivan temukan sendiri. Tatapannya penuh kelembutan yang aneh, seperti seseorang yang telah lama mengenalnya.

Kaivan menahan tatapan itu sejenak. Ada sesuatu yang mengganggunya, seperti cermin yang memantulkan sisi dirinya yang tak ia kenali. "Aku tidak mengerti maksudmu… tapi aku akan mencoba." Suaranya merendah, hampir seperti janji yang enggan.

Tak lama kemudian, Kaivan dengan tergesa memasukkan buku itu ke dalam tas. Ia ingin segera pergi, menjauh dari atmosfer ganjil di rumah itu. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi.

"Jadi… aku boleh pulang sekarang, kan?"

"Tentu saja, Kaivan. Tapi ingat satu hal," katanya sambil mengangkat jari. "Tetaplah berada dalam penyangkalan." Kata-kata itu terdengar lebih seperti peringatan daripada nasihat.

"Penyangkalan? Aku bukan orang seperti itu," balas Kaivan ketus, jelas tidak menyukai ucapan samar tersebut.

Perempuan tua itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lagi, lebih lembut, seolah yakin suatu hari Kaivan akan mengerti.

Akhirnya, Kaivan melangkah keluar. Angin malam menyentuh wajahnya, dingin namun menenangkan. Langit dipenuhi bintang, tetapi hatinya penuh pertanyaan. Ia mengeluarkan buku itu, menatap sampul kayunya yang dipenuhi ukiran simbol-simbol misterius.

More Chapters