"Baik," ujar salah satu petugas keamanan sebelum mereka melanjutkan patroli. Keheningan pun kembali, hanya diiringi bisikan lembut angin malam.
Radit menghembuskan napas panjang, seolah baru saja melepaskan beban berat dari dadanya. "Gila… untung aku dengerin kamu," gumamnya pelan, masih dengan sisa kecurigaan di wajahnya. Pandangannya melirik ke arah Kaivan. "Tapi serius, kenapa kamu peduli? Kita juga nggak dekat di sekolah."
Kaivan tersenyum tipis, matanya menatap langit yang perlahan ditelan malam. "Mungkin karena aku tahu rasanya… butuh bantuan, tapi nggak tahu harus minta ke siapa."
Radit terdiam. Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi jujur, dan entah kenapa, menohok. Sesuatu bergetar di dalam dirinya. Sepintas, bayangan tentang pilihan-pilihan hidupnya, kesulitan yang ia hadapi, dan jalan buntu yang selama ini menekannya melintas begitu saja.
"Tapi sekarang gimana?" Radit bertanya tiba-tiba, suaranya berat oleh kecemasan. "Aku tetap butuh uang tambahan buat sekolah." Kelegaan barusan menguap, digantikan rasa takut akan masa depan.
Tangan Kaivan mengerat di sekitar Tome Omnicent. Kilatan pemahaman muncul di wajahnya, seolah hanya dia yang bisa melihat jalur tak kasatmata di depan mereka. Ia menoleh ke buku itu, lalu tersenyum kecil, tenang, yakin.
"Kamu bisa mukul, kan?" tanya Kaivan ringan, tapi sorot matanya tajam penuh maksud. Ia menatap Radit dengan senyum percaya diri. "Ayo tunggu di halte. Kita bakal ngehentikan copet."
Radit mengedip, tercengang. Anak ini… gimana bisa tahu bakal ada copet? pikirnya, tak percaya. Tapi meski ragu, ia tetap mengikuti Kaivan. Ada sesuatu pada diri Kaivan yang membuatnya merasa ini bukan sekadar tebakan.
Tak lama kemudian, sesosok pria muncul dari bayangan jalan, berjas rapi, membawa tas kerja, melangkah santai di bawah lampu jalan. Ia sama sekali tak menyadari bahaya yang mengintai hanya beberapa langkah dari dirinya. Kaivan, yang sejak tadi duduk tenang, bergerak sedikit dan memberi isyarat halus pada Radit.
Dan tepat seperti yang diramalkan Tome, seorang copet melesat keluar dari kegelapan, bergerak cepat menuju pria itu. Saat tangan si pencuri terulur hendak merampas tas kerja, Kaivan memberi aba-aba singkat.
Radit langsung bergerak. Dalam satu gerakan bersih, tinjunya menghantam wajah copet itu. Bunyi benturan keras menggema saat tubuh si pencuri terjungkal ke aspal. Tas kerja terlepas dan meluncur di jalan. Tanpa ragu, Radit melanjutkan, satu tendangan ke perut, disusul pukulan lagi hingga copet itu terkapar tak bergerak.
Pria berjas itu, masih gemetar oleh kejadian mendadak, bergegas mendekat. Matanya berpindah antara copet dan dua remaja di hadapannya, penuh takjub dan rasa syukur. Ia sedikit membungkuk. "Terima kasih… nama saya Levan."
Di bawah cahaya lampu jalan, Kaivan berdiri dengan tenang. Sementara itu, Radit, masih dipenuhi adrenalin, tak bisa menahan rasa bangga atas apa yang baru saja mereka lakukan bersama.
Saat ketenangan malam kembali turun, Levan merasa perlu mengungkapkan rasa terima kasihnya lebih jauh. Ia menatap Radit dengan sungguh-sungguh. "Saya ingin berkunjung ke rumahmu, untuk mengucapkan terima kasih kepada keluargamu juga."
Radit, masih terbawa arus kejadian, tersenyum kecil dengan rendah hati. "Tentu, Pak. Mereka pasti senang."
Dan begitulah, terikat oleh rasa syukur dan benang takdir yang tak terucap, ketiganya berjalan menuju rumah Radit. Di bawah langit malam yang sunyi, Tome Omnicent tetap erat dalam genggaman Kaivan, halaman-halaman tak kasatmatanya menuntun mereka ke bab berikutnya dari takdir yang saling terhubung. Lembar-lembar hidup baru mulai dituliskan, penuh kejutan dan janji perubahan.
,
Pagi yang sunyi. Embun masih menggantung di daun-daun, sementara sinar matahari perlahan menyinari Kota Bandung. Kaivan bangkit dari tempat tidurnya dengan langkah berat. Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia kembali bersiap menghadapi tekanan di sekolah.
"Berangkat sekolah, Ma," ucapnya pelan. Nadanya terdengar biasa saja, tapi di dalam dadanya, badai berputar tanpa kata. Ibunya, yang sibuk menyiapkan sarapan, hanya mengangguk tanpa menoleh, menganggapnya rutinitas.
Saat Kaivan mendekati gerbang sekolah, suara-suara yang familiar menyambutnya. Bukan sapaan ramah, bukan tawa teman, melainkan ejekan yang dipenuhi racun. Sekelompok siswa bermasalah berdiri menunggu, seperti pemangsa menanti mangsanya.
"Hei, Kaivan si yatim nggak tahu diri! Gimana rasanya hidup tanpa orang tua, hah? Enak ya, nggak ada yang ngatur, nggak ada yang marah-marah!"
Salah satu dari mereka mencibir, senyumnya tajam seperti pisau. Langkah Kaivan terhenti.
Ia tetap diam. Bahunya menegang, kepalanya tertunduk, berusaha mengabaikan mereka. Tapi hinaan justru makin deras. Mereka mendekat, membentuk lingkaran. Dari kejauhan, Kaivan melihat Tania, mantan sahabatnya, tertawa ringan. Dialah dalang runtuhnya posisi sosial Kaivan, dan kehadirannya membuat luka itu terasa lebih perih.
"Lihat dia! Nggak bisa melawan sama sekali! Seru, ya, Kaivan? Hidup tanpa tanggung jawab. Nggak ada yang peduli kamu gagal atau berhasil!" ejek yang lain dengan senyum kejam.
Kaivan tetap membisu, tapi dadanya terasa sesak. Ia sudah terbiasa dengan siksaan ini, tapi kebiasaan tak pernah membuatnya tak sakit. Rasa malu dan tak berdaya menghantam bertubi-tubi.
Lalu, sebelum hinaan berikutnya keluar, sebuah suara tegas memecah udara.
"Kalian lagi ngapain?"
Semua menoleh. Termasuk Kaivan.
Radit berdiri di sana. Sikapnya santai, tapi auranya penuh wibawa. Tangan kanannya masuk ke saku, tangan kirinya mencengkeram tali tas di bahu. Tatapannya tajam, tak goyah, seperti baja.
Kehadiran Radit saja sudah cukup untuk membuat udara berubah.
Kelompok pembully itu membeku. Mereka tahu, Radit bukan orang yang bisa dipermainkan. Meski begitu, salah satu dari mereka memaksakan tawa gugup.
"Ah, cuma bercanda," katanya sambil mengangkat bahu. "Cuma ngobrol dikit sama si yatim ini. Seru aja, tahu… ngerasain hidup tanpa bapak."
