Cherreads

Chapter 7 - Kebaikan yang Terkubur

Suatu sore yang hampir berakhir, setelah kembali menjalani hari panjang yang melelahkan, Kaivan berjalan pulang di bawah cahaya matahari yang perlahan tenggelam. Langit dilukis dengan gradasi jingga lembut, membungkus dunia dengan kehangatan yang fana. Di sepanjang jalan yang sepi, dari kejauhan ia melihat sosok seorang wanita tua berdiri di bawah pohon besar. Senyum samar di wajah keriputnya seakan menyimpan makna yang tak bisa Kaivan pahami.

Langkah Kaivan melambat. Ia menyipitkan mata. Ada sesuatu dari wanita itu yang terasa aneh, terlalu akrab, seolah membangkitkan kenangan yang telah lama terkubur.

"Apakah ini jalan menuju Hegarmanah?" tanya wanita tua itu. Suaranya bergetar, rapuh, seperti seseorang yang tersesat di tengah badai dan menggenggam secercah harapan terakhir.

"Tentu bukan. Jalan ini menuju kawasan barat," jawab Kaivan dingin. Nada suaranya tajam, seolah ingin memadamkan harapan kecil yang sempat muncul di wajah wanita itu. Ia berharap percakapan tak diinginkan ini segera berakhir, namun tatapan wanita itu tetap terpaku padanya, kebingungan berkelip di matanya.

Pandangan Kaivan jatuh pada peta terlipat di tangan wanita itu yang gemetar. Jelas, benda itu sama sekali tidak membantunya. Meski berusaha mengabaikannya, guratan di wajah renta itu entah mengapa menarik perhatiannya.

"Itu peta, kan?" tanyanya datar, lebih menyerupai perintah daripada pertanyaan. Wanita itu mencoba merapikan kertasnya, namun jelas ia tak mengerti apa pun dari sana.

"Iya, Kaivan, ini petanya. Tapi… bukankah aku sekarang berada di sini?" ucapnya sambil menunjuk satu titik dengan jari keriputnya. Matanya terangkat menatap Kaivan, menyisakan secuil harapan yang hampir runtuh.

Kaivan terdiam. Kekosongan di tatapan wanita itu mengusik sesuatu dalam dirinya, sisa kemanusiaan yang ia kira telah terkubur di balik sikap dinginnya. Mata hijaunya menelusuri tangan yang bergetar, kacamata berwarna keunguan, dan kerapuhan sosok di hadapannya.

"…Maaf, Nek," gumamnya pelan, nadanya melunak. Ia mengambil peta itu dengan hati-hati, lalu menelitinya. "Kita ada di sini. Bukan di tempat yang sedang Nenek tuju."

"Punya uang? Kalau mau, aku bisa panggilkan taksi," tawarnya canggung, berusaha menutupi empati yang tiba-tiba muncul. Wanita itu tersenyum lelah, lalu mengeluarkan dua lembar uang kusut dari kantong kecilnya.

"Ini saja yang Nenek punya," bisiknya, menyerahkan dua puluh ribu rupiah. Kaivan mengernyit. Cepat-cepat ia menghitung di kepalanya, ongkosnya pasti minimal lima puluh ribu.

"…Cuma ini?" tanyanya hati-hati. Wanita itu mengangguk, tetap memaksakan senyum.

"Ada uang di rumah. Ayo, kita ke rumah teman Nenek dulu," ujarnya tiba-tiba sambil menarik lengan Kaivan pelan. Sentuhannya lemah, langkahnya kecil, membawa mereka menjauh dari jalan utama, menuju arah yang justru terasa terlalu dekat dengan rumah Kaivan sendiri.

Ia mengikutinya, meski rasa tak nyaman menggerogoti dadanya. "Tapi bukannya rumah Nenek di Hegarmanah?" tanyanya lagi. Wanita itu hanya menggeleng.

"Nenek dulu pernah tinggal di sini," jawabnya tenang, membuat kebingungan Kaivan semakin dalam. Pandangan tajamnya menangkap tas besar yang dibawa wanita itu. Didorong insting, Kaivan memeriksanya perlahan dan menemukan sebuah kartu identitas.

"Belana Berliana, Jalan Hegarmanah," bacanya lirih. Nama dan alamat itu membuat dadanya makin gelisah. Jalan yang mereka lewati jelas tidak cocok.

"Nek… rumah Nenek di Jalan Hegarmanah, kan? Seperti yang tertulis di KTP ini?" tanyanya lembut, mencoba memastikan. Sejak awal, ada sesuatu yang terasa janggal.

Wanita itu hanya tersenyum samar. Tatapannya kosong, seakan melayang jauh ke tempat yang tak bisa Kaivan jangkau. Kerutan di dahi Kaivan semakin dalam. Namun meninggalkan wanita setua itu sendirian, tidak, itu bukan pilihan. Bukan bagi Kaivan, yang meski hidup menyendiri, masih menyimpan hati rapuh dan rasa tanggung jawab yang tak terduga.

"…Aku antar naik angkot saja ya, Nek. Nanti bayarnya belakangan," katanya akhirnya. Nadanya sopan, meski pikirannya diliputi keraguan. Mengandalkan angkot di malam hari di kota sebesar ini jelas sebuah pertaruhan.

Wanita itu mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, Kaivan menuntunnya ke halte terdekat. Saat angkot datang, ia membantu wanita itu naik, memastikan tubuh rapuhnya tetap seimbang. Selama perjalanan, Kaivan hanya diam, terombang-ambing antara tanggung jawab dan kecurigaan.

"…Apa aku membuat pilihan yang benar?" batinnya.

Rasa bersalah menekan bahunya, menggigit setiap langkah yang ia ambil. Mungkin ia terlalu baik untuk kebaikannya sendiri, atau mungkin ini hanyalah kebiasaan yang tak pernah bisa ia lepaskan.

Saat angkot berhenti dengan decitan kasar, Kaivan dan wanita tua itu turun. Jalan di depan mereka memanjang sunyi, diapit pepohonan tinggi yang menelan cahaya lampu jalan yang jarang. Keheningan malam terasa menyesakkan. Kaivan menatap deretan rumah, mencari petunjuk apa pun.

"Yang mana rumah Nenek?" tanyanya, melirik ke arahnya. "Dan… Nenek punya uang buat bayar angkot, kan? Biar aku bisa langsung pulang setelah ini."

Wanita itu mengangguk mantap. "Rumah Nenek yang gerbangnya banyak pohon," katanya tenang, dengan nada yang entah mengapa terdengar misterius.

Kaivan mengikuti arah pandangnya. Di depan mereka berdiri sebuah gerbang besar. Di baliknya, menjulang sebuah mansion, terlalu megah, terlalu mewah untuk sosok renta seperti dirinya.

"Yakin ini rumah Nenek?" Kaivan bertanya ragu. "Nama jalannya saja tadi Nenek lupa. Dan lihat, gerbangnya pakai kunci digital. Ini benar rumah Nenek?"

Wanita itu hanya tersenyum tipis. Tangan keriputnya yang gemetar meraih panel angka dan memasukkan kombinasi tertentu. Bunyi bip pelan terdengar, lalu gerbang terbuka dengan dengungan mekanis. Kaivan membeku, matanya melebar.

"Serius…?" desahnya tak percaya.

"Iya. Ini rumah Nenek," ujar wanita itu sambil melangkah masuk. "Mana mungkin Nenek lupa kode gerbang rumah sendiri?"

More Chapters