Cherreads

Chapter 135 - Bab 135: "Keajaiban di Bangku Air Mancur" — Kencan Pertama Nyra & Garm

Pagi berikutnya di Kota Veyra selalu dimulai dengan suara pasar: roda gerobak, teriakan pedagang, dan aroma buah segar yang mengisi jalanan. Garm berjalan di antara keramaian itu sejak matahari baru naik—matanya menyisir setiap sudut, setiap kios, setiap bayangan rambut panjang yang mungkin saja… 

Milik Nyra.

Namun tiga puluh menit berlalu.

Tidak ada.

Tidak ada ekor rubah yang ia cari. Tidak ada mata bening yang selalu terasa "melihat lebih dalam" dari sekadar tatapan.

Garm berhenti di ujung pasar, menoleh ke kanan-kiri sekali lagi, lalu menghembuskan napas panjang.

Garm (dalam hati):

Ya… benar.

Aku bahkan tidak tahu rumahnya.

Nyra sedang cuti. Dan Garm tidak mungkin mendatangi gerbang dimensi hanya untuk bertanya-tanya pada teman-teman Nyra. Ia tidak mau terlihat seperti penguntit—walau hatinya memang menuntun ke arah yang sama setiap kali.

Akhirnya ia berjalan ke pusat kota, menuju air mancur besar yang menjadi titik ramai Veyra. Ia duduk di salah bangku kayu dekat air mancur itu, bahunya jatuh sedikit, wajahnya menghadap langit seolah mencari jawaban di awan.

Garm:

"Nyra… di mana kamu…"

Ia menyenderkan tubuh, menutup mata, lalu tertawa kecil—tawa hambar yang lebih terdengar seperti menyerah.

Garm:

"Apa memang aku nggak punya kesempatan…?"

Angin melintas lembut.

Garm menghela napas lagi, masih menutup mata.

Garm:

"Aku harap… ada keajaiban yang menghampiriku…"

Ia tersenyum sendiri.

Garm:

"Walau… mana mungkin keajaiban datang begitu—"

Suara lembut muncul dari samping kanan.

Nyra:

"Memangnya keajaiban apa yang kamu inginkan, Garm?"

Garm membeku.

Matanya terbuka cepat—dan seketika jantungnya seperti terpeleset.

Di sebelahnya, Nyra duduk tenang, rambut panjangnya jatuh rapi, wajahnya penuh rasa ingin tahu… dan mata rubahnya menatap Garm tanpa celah untuk bersembunyi.

Garm tersentak berdiri setengah badan, panik.

Garm:

"B-bukan apa-apa!"

"Aku cuma… keajaiban kota ini saja… maksudku—bukan keajaiban—bukan kamu—"

"…ah!"

Nyra menatapnya beberapa detik. Tidak marah, tapi jelas tidak suka dengan cara Garm mencoba menutup-nutupi sesuatu.

Nyra:

"Garm."

Nada suaranya pelan, tapi tegas.

Nyra:

"Aku punya kelebihan… merasakan kebohongan."

"Dan aku benci orang yang berbohong terus-menerus."

Garm menelan ludah.

Nyra:

"Kalau kamu masih mau berteman denganku…"

"Coba jujur."

"Apa yang kamu tutupi?"

Kata-kata itu tidak keras, tapi menampar tepat di tempat yang paling ia hindari.

Garm menunduk. Tangannya mengepal pelan di atas lutut.

Garm (dalam hati):

Kalau aku berbohong lagi… aku kehilangan dia.

Kalau aku jujur… aku bisa kehilangan dia juga.

…tapi setidaknya aku kalah sebagai orang yang jujur.

Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Garm:

"Baik."

Ia menatap Nyra—langsung, tanpa lari.

Garm:

"Aku datang ke Veyra… karena kamu."

Nyra tidak memotong. Ia diam, menunggu.

Garm melanjutkan, suaranya lebih pelan—tapi jauh lebih berat.

Garm:

"Pertama kali aku datang ke tempat kerjamu… untuk melapor soal energi anomali ke atasanmu…"

"…sejujurnya aku melihat kamu."

Ia berhenti sebentar, seperti memilih kata yang tidak merusak.

Garm:

"Dan aku sadar… ini mungkin seperti yang pria-pria lain lakukan."

Nyra menegang sedikit, karena kalimat itu menyentuh luka lama.

Garm buru-buru menambahkan.

Garm:

"Aku tidak tertarik karena ras rubah itu langka."

"Aku tidak melihatmu sebagai benda yang bisa dimiliki."

Ia menelan ludah, lalu menunduk sebentar—malu, tapi memaksa diri tetap bicara.

Garm:

"Aku… tertarik karena kamu… kamu."

"Karena cara kamu berdiri sendirian tapi tetap kuat."

"Karena kamu tetap sopan bahkan saat dunia tidak sopan ke kamu."

"Dan… aku merasa…"

"…aku jatuh cinta."

Kalimat terakhir itu keluar seperti batu yang dilempar—tidak bisa ditarik kembali.

Garm menatap Nyra, gugup namun jujur.

Garm:

"Aku tahu kamu mungkin tidak percaya."

"Tapi itu yang aku rasakan."

Hening.

Air mancur terus berbunyi.

Nyra menatap Garm lama sekali. Ia seperti "mencium" setiap kata—menguji apakah ada kebohongan, apakah ada niat tersembunyi.

Lalu… senyumnya muncul pelan.

Nyra:

"Akhirnya kamu jujur."

Garm terpaku, takut berharap.

Nyra:

"Aku percaya."

"Aku tidak merasakan kebohongan dari kata-katamu."

Garm hampir tidak percaya telinganya.

Nyra melanjutkan, kali ini nada suaranya lebih lembut—lebih rapuh.

Nyra:

"Tapi… aku belum tahu apa aku bisa mencintaimu sekarang, Garm."

"Aku masih… tidak bisa meninggalkan adikku."

"Aku… hidupku… sebagian besar untuk dia."

Garm langsung menggeleng, mendekat setengah langkah. Tangannya menyentuh kedua lengan Nyra—bukan memaksa, lebih seperti menahan agar Nyra tidak pergi jauh dari kalimat-kalimat itu.

Garm:

"Kamu tidak perlu meninggalkan adikmu."

"Aku tidak akan memisahkan kalian."

Nyra menatapnya—terkejut.

Garm:

"Aku yatim piatu juga."

"Aku tahu rasanya ditinggalkan."

Garm menarik napas, lalu menatap Nyra dengan keberanian yang akhirnya utuh.

Garm:

"Jadi…"

"Nyra…"

"mau… menerima perasaanku?"

Nyra menghela napas pendek. Matanya melembut.

Ia ragu sepersekian detik—lalu mengangguk kecil.

Nyra (pelan, hampir berbisik):

"...Baik."

"Aku belum tahu akan sejauh apa perasaanku nanti…"

"Tapi aku mau mencoba."

Dunia Garm langsung meledak.

Ia bangkit, mengangkat kedua tangan ke udara.

Garm:

"DIA MENERIMA AKU!"

"TERIMA KASIH KEAJAIBAN!"

Orang-orang di pusat kota berhenti. Beberapa menoleh. Beberapa tertawa. Beberapa berbisik.

Nyra langsung menutup wajahnya, merah padam.

Nyra:

"Garm…!"

"Cukup… aku malu!"

Nyra menarik tangan Garm, mencoba menurunkan "volume" kebahagiaan itu.

Namun Garm tidak peduli. Ia menggenggam bahu Nyra dengan senyum lebar, mata berbinar seperti anak kecil yang baru menang lomba.

Garm:

"Aku tidak peduli siapa yang lihat!"

"Yang penting… kamu menerima aku."

"Ayo."

"Kita kencan."

"Siang ini."

Nyra ingin menolak, tapi… ia tidak bisa. Bukan karena Garm menarik tangannya, tapi karena hatinya sendiri yang… akhirnya ingin berjalan.

Nyra:

"…Baik."

"Tapi… jangan teriak lagi."

Garm:

"Tidak janji."

Nyra:

"Garm."

Garm:

"…baik, aku janji."

Dan sejak siang itu, langkah mereka tak lagi berjalan sendiri-sendiri.

—Kencan Pertama di Veyra — Sederhana, Tapi Baru

Mereka berjalan di pasar, membeli makanan ringan, tertawa saat Garm terlalu antusias menawar harga, lalu Nyra menegurnya dengan nada "kakak" yang terbiasa mengatur rumah.

Nyra:

"Kamu itu… terlalu semangat."

Garm:

"Aku cuma… senang."

Nyra menatapnya sekilas, lalu menunduk—menyembunyikan senyum.

Mereka melihat toko kain, toko perhiasan murah, dan sebuah penjaja bunga kecil. Garm sempat mau membelikan bunga, tapi Nyra cepat menahan.

Nyra:

"Jangan boros."

"Kita… bukan pasangan kaya."

Garm tersenyum.

Garm:

"Kita bukan."

"Tapi aku… ingin memberi kamu sesuatu."

Nyra menatapnya sebentar, lalu memalingkan wajah.

Nyra:

"Kalau begitu… nanti saja."

"Kalau kita… sudah benar-benar kuat."

Kalimat itu membuat Garm mengangguk dengan sungguh-sungguh.

—Restoran Sore— Lupa yang Terlalu Manusiawi

Menjelang sore, mereka duduk di restoran kecil. Makanannya sederhana, tapi suasananya hangat.

Garm menatap Nyra saat Nyra mencicipi makanan, dan hati Garm terasa penuh hanya karena melihat Nyra… tidak menahan senyum.

Garm:

"Kamu senang hari ini?"

Nyra menjawab pelan—jujur.

Nyra:

"Senang."

"Aku… belum pernah merasakan ini sebelumnya."

Garm ingin mengatakan seribu hal.

Waktu berjalan terlalu ringan di antara mereka—dan justru karena itulah, sesuatu yang penting luput.

Garm:

"Eh…"

"Ngomong-ngomong…"

"Apa kita melupakan sesuatu?"

"Aku merasa… ada yang harus kita lakukan."

Nyra memikirkan sesuatu tentang ucapan Garm.

Lalu Nyra membeku.

Nyra melebarkan matanya.

Nyra:

"KANNA!"

Nyra berdiri panik, kursi bergeser keras.

Garm langsung bangkit.

Garm:

"Sial—ya!"

Garm buru-buru membayar ke kasir, dan mereka berlari.

—Di Sisi Kanna— Menunggu, Kesal, Lalu Pulang Sendiri

Di sekolah, gerbang sudah hampir sepi. Teman-teman Kanna pulang satu per satu.

Kanna berdiri sendiri, menatap jalan, wajahnya semakin kesal.

Kanna (menggerutu):

"Ka Nyra… apa sih yang kakak lakukan…"

"Baiklah!"

"Aku pulang sendiri saja!"

Kanna berjalan pulang, kesalnya bertambah tiap langkah. Sepuluh menit kemudian ia sampai rumah—dan mendapati rumah kosong.

Kanna:

"HEH?!"

Ia semakin kesal.

Kanna mandi, mengambil cemilan dari lemari pendingin, lalu duduk di ruang tengah dengan muka datar—berusaha tenang, tapi jelas menahan amarah.

Lima menit kemudian, pintu rumah terbuka.

Kanna menoleh tajam.

Dan di ambang pintu, Nyra muncul terengah-engah, napasnya tersengal karena berlari.

Kanna:

"Kakak."

"Ke mana saja?"

"Kakak lupa jemput aku!"

Nyra menunduk cepat.

Nyra:

"Maaf… Kanna."

"Aku—aku lupa…"

Kanna berdiri, masih kesal, tapi juga sedikit khawatir.

Kanna:

"Kakak pergi ke mana?"

Nyra hendak menjawab, tapi…

Suara dari balik pintu muncul, gugup namun tegas.

Garm masuk setengah badan.

Garm:

"Itu salahku."

"Aku yang mengajak kakakmu kencan, Kanna."

"Jadi jangan salahkan kakakmu."

Kanna membeku.

Lalu… matanya melebar—bukan marah, tapi senang yang meledak diam-diam.

Kanna:

"…Hah?"

"Kencan?"

Nyra menutup wajah, malu.

Nyra:

"Kanna… jangan…"

Kanna langsung menghela napas panjang seperti orang dewasa.

Kanna:

"Baiklah."

"Aku maafkan."

"Tapi kalian jangan melupakan aku lagi karena…"

"…kemesraan kalian."

Garm mengangguk cepat.

Garm:

"Iya."

"Kami tidak kan seperti itu lagi."

Nyra menoleh cepat.

Nyra:

"…Jadi kita sampai sini saja?"

Garm panik total.

Garm:

"Bukan!"

"Bukan itu maksudku!"

"Maksudku… kesalahan melupakan Kanna!"

"Bukan hubungan kita!"

Nyra dan Kanna sama-sama terdiam sesaat…

Lalu tertawa.

Nyra:

"Tenang."

"Aku paham."

Kanna menatap Garm dengan serius, tapi suaranya hangat.

Kanna:

"Kak Garm… kamu harus terbiasa dengan candaan kakakku."

"Kak Garm… kalau kamu serius, jangan setengah-setengah."

"Jaga kakakku."

"Dia keras kepala."

"Tapi dia… paling penyayang."

Garm mengangguk, wajahnya sungguh-sungguh.

Garm:

"Tenang saja."

"Aku akan melindunginya."

Nyra menatap Garm lama. Untuk pertama kalinya, ada rasa "aman" yang benar-benar menyentuh dadanya.

Malam mulai turun.

Garm akhirnya pamit.

Nyra mengantar sampai ambang pintu.

Nyra:

"Terima kasih… untuk hari ini."

"Dan… maaf… karena membuatmu ikut panik mencari Kanna."

Garm tersenyum, lembut.

Garm:

"Sama-sama."

"Aku juga senang."

"Akhirnya… aku tidak perlu melihatmu dari kejauhan lagi."

Nyra menunduk, lalu mengangguk kecil.

Nyra:

"…Sampai besok, Garm."

Garm:

"Sampai besok."

Dan pintu tertutup pelan—menyisakan malam yang hangat, rumah kecil yang tak lagi terasa sunyi, dan dua hati yang diam-diam mulai menunggu hari esok.

More Chapters