Keesokan paginya, Garm bangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena tugas.
Bukan karena latihan.
Tapi karena satu hal sederhana yang membuat dadanya terasa lebih ringan dari hari-hari sebelumnya:
Nyra.
Ia merapikan rambut cokelat kusutnya seadanya, mengenakan pakaian yang paling rapi yang ia punya, lalu berjalan menuju rumah kecil keluarga Fenwald di Kota Veyra.
Langkahnya cepat, tapi hatinya lebih cepat lagi—seolah kebahagiaan ini bisa lenyap kalau ia datang terlambat.
Saat sampai di depan rumah, ia menarik napas.
Tenang. Jangan seperti bocah.
Garm (dalam hati):
Aku harus tenang.
Garm mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan menampakkan wajah yang sudah ia kenal kemarin—wajah yang ekspresif, usil, dan selalu seperti sudah tahu isi kepala orang lain.
Kanna Fenwald.
Kanna menyipitkan mata, menatap Garm dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Kanna:
"Ka Garm?"
"Pagi-pagi banget datangnya… ada apa?"
Garm berdehem, mencoba terdengar santai.
Garm:
"Ah… aku cuma mampir."
"Kebetulan lewat."
Kanna menatapnya tanpa berkedip.
Lalu senyum jahilnya muncul.
Kanna:
"Bohong~"
"Mana mungkin pagi-pagi lewat depan rumah kami tanpa alasan."
"Ka Garm… kamu mau ketemu Ka Nyra ya?"
Garm seketika kalah.
Ia tertawa kecil, menggaruk belakang kepalanya.
Garm:
"…Iya."
"Aku nggak bisa bohong ke kalian."
Kanna langsung membuka pintu lebih lebar.
Kanna:
"Bagus!"
"Ayo masuk."
"Ka Nyra lagi masak sarapan."
Dari dalam rumah terdengar suara perempuan—tenang tapi tegas, seperti pemilik rumah yang sudah terbiasa mengatur segalanya sendirian.
Nyra (dari dapur):
"Siapa yang datang, Kanna?"
Kanna berteriak balik, sengaja dibuat heboh.
Kanna:
"KA GARM!"
Beberapa detik hening.
Lalu suara Nyra terdengar lagi, kali ini seperti… menahan napas.
Nyra (dari dapur):
"…Garm?"
"Kenapa pagi sekali dia datang?"
"Ya sudah, ajak masuk."
Kanna menoleh ke Garm, menahan tawa.
Kanna:
"Tuh kan."
"Ka Nyra nyuruh masuk."
"Ayo, Ka Garm~"
Garm masuk dengan langkah sedikit kaku, seperti serigala besar yang tiba-tiba dipaksa masuk kandang kelinci.
Kanna mengajaknya ke ruang makan yang sederhana, lalu Garm duduk dengan agak kaku.
Kanna mengambilkan air dingin dan meletakkannya di depan Garm seperti tuan rumah kecil yang bangga.
Kanna:
"Nih. Minum dulu."
Garm:
"Makasih…"
Tak lama, Nyra muncul dari arah dapur membawa piring-piring sarapan. Rambut panjangnya terikat sederhana, wajahnya masih terlihat "pagi", tapi tetap cantik dengan cara yang tidak dibuat-buat.
Nyra menaruh satu porsi di depan Kanna, satu di depan dirinya, dan…
satu di depan Garm.
Garm menatap mangkuk nasi itu, terkejut.
Garm:
"…Eh?"
"Aku… ikut makan?"
Nyra duduk, menatapnya seolah itu hal paling wajar di dunia.
Nyra:
"Makan."
"Aku tahu kamu belum makan."
Kanna langsung bersandar di kursi, senyum jahilnya kembali hidup.
Kanna:
"Kalian belum nikah…"
"tapi Ka Nyra udah kayak istri Ka Garm aja."
Nyra mengangkat centong nasi.
PLOK.
Centong itu mendarat pelan tapi "menyakitkan" di kepala Kanna.
Nyra:
"Jangan ribut."
"Makan."
"Biar kamu nggak telat."
Kanna memegang kepala, pura-pura sedih, lalu menoleh ke Garm mencari pembelaan.
Kanna:
"Ka Garm… liat tuh…"
Garm tertawa canggung, baru mau bicara—
Nyra menatap tajam.
Nyra:
"Garm."
"Jangan memanjakannya."
Garm langsung menyerah total.
Garm:
"Maaf, Kanna…"
"Aku nggak bisa bela kamu."
"Aku lebih takut sama kakakmu… daripada berhadapan sama monster."
Kanna mengangguk serius, seolah itu kebenaran ilmiah.
Kanna:
"Bener."
"Kakakku kalau marah… bisa melebihi monster."
Nyra membeku dan dengan kesal mengatakan.
Nyra:
"…Jadi aku di mata kalian monster, ya?"
Kanna dan Garm baru sadar mereka salah.
Tapi terlambat.
PLOK. PLOK.
Centong itu mendarat ke dua kepala sekaligus.
Garm:
"Aduh—!"
Kanna:
"Maaf! Maaf!"
Nyra mendengus, tapi ujung bibirnya melengkung tipis—tanda ia tidak benar-benar marah.
Nyra:
"Sudah."
"Makan."
Mereka makan—masih dengan suasana hangat yang aneh, seperti keluarga kecil yang tiba-tiba bertambah satu anggota besar berotot bertelinga serigala.
Setelah selesai, Nyra berdiri membereskan piring.
Nyra:
"Kanna, hari ini berangkat sendiri ya."
"Kakak mau beberes halaman… sudah lama rumah kakak tinggalkan."
Kanna:
"Baik, Ka…"
Namun sebelum Kanna selesai, Garm mengangkat tangan sedikit.
Garm:
"Biar aku yang antar Kanna."
Nyra menoleh, kaget.
Nyra:
"Hah?"
"Tidak merepotkan kamu, Garm?"
"Aku nggak mau kamu repot…"
Garm menggeleng kuat.
Garm:
"Nggak repot."
"Cuma antar adik kecilku sekolah."
"Biar dia juga lebih aman."
Kanna sampai melongo.
Kanna:
"Bodyguard?!"
Garm:
"Bisa dibilang."
Nyra menatap Garm beberapa detik, lalu mengangguk kecil—menerima perhatian itu walau masih merasa "tidak terbiasa ditolong."
Nyra:
"…Baik."
"Tapi pulang lagi setelah itu ya."
Garm tersenyum.
Garm:
"Tentu."
—Jalan ke Sekolah— Pertanyaan yang Penting
Di pertengahan jalan, Kanna berjalan di samping Garm, menatapnya dengan ekspresi serius yang jarang ia pakai.
Kanna:
"Ka Garm."
Garm:
"Hmm?"
Kanna:
"Ka Garm suka Ka Nyra karena apa?"
"Aku… nggak mau Kakakku dapat orang yang cuma mau tubuhnya."
Garm terdiam sejenak, lalu senyumnya melunak.
Garm:
"Aku suka kakakmu…"
"karena dia kuat."
Kanna menoleh.
Garm:
"Bukan kuat karena bisa bertarung."
"Tapi kuat karena dia tetap berdiri… walau sendirian."
"Dia hidup untuk kamu, Kanna."
"Dia menahan sepi… tanpa membuat kamu merasa kekurangan."
Garm menatap jalan, suaranya jujur.
Garm:
"Dan… kebaikannya."
"Keteguhannya."
"Itu yang bikin aku jatuh."
Kanna menghela napas lega.
Kanna:
"…Syukurlah."
Lalu Kanna tiba-tiba tertawa kecil.
Kanna:
"Oh iya."
"Ka Garm… Kakakku bisa mendeteksi kebohongan."
"Jadi aku harap kak Garm jangan berbohong di depannya."
Garm:
"Pantesan… aku rasanya nggak bisa menyembunyikan apapun."
Kanna mengangguk.
Kanna:
"Di desa dulu… banyak orang nggak berani dekatin kakakku."
"Kakakku nggak suka kepalsuan."
"Jadi… Ka Garm…"
"jangan pernah bohong."
Garm menatap Kanna, serius.
Garm:
"Aku janji."
Kanna tersenyum lebar.
Tak lama mereka tiba di gerbang sekolah. Kanna melambaikan tangan.
Kanna:
"Sampai nanti!"
Garm:
"Belajar yang baik."
Saat Kanna berlari ke teman-temannya, Garm masih bisa mendengar suara anak-anak itu.
Teman Kanna:
"Eh, siapa cowok itu?"
Kanna (lantang):
"Itu Kak Garm."
"Pacar kakakku."
"Jadi jangan coba-coba rebut ya!"
Garm tersenyum sendiri, lalu berbalik pulang.
—Halaman Rumah— "Aku Tidak Tega"
Di rumah, Nyra sudah mulai membersihkan halaman. Rumput liar tumbuh di sudut-sudut, tanda rumah itu memang sempat ditinggal cukup lama.
Nyra menunduk, mencabut rumput satu per satu.
Beberapa menit kemudian, langkah berat terdengar.
Nyra menoleh—
Garm sudah berdiri di dekat pagar, lalu tanpa banyak bicara langsung mulai membantu: mencabut rumput, merapikan batu, bahkan mengangkat pot tanaman yang miring.
Nyra:
"Kenapa kamu repot-repot ikut bersih-bersih?"
Garm menatapnya sambil bekerja.
Garm:
"Aku nggak tega lihat pacarku susah."
"Aku bantu… biar pacarku nggak terlalu lelah."
Nyra mendengus, pipinya sedikit memerah.
Nyra:
"Dasar… pandai bergombal."
Garm:
"Bukan gombal."
"Fakta."
Nyra menatapnya sebentar, lalu kembali bekerja—tapi kali ini ekspresinya lebih lembut.
Tiga puluh menit kemudian, halaman sudah rapi.
Mereka duduk di teras.
Nyra masuk sebentar, lalu kembali membawa dua gelas minuman dingin. Ia menyerahkan satu ke Garm.
Nyra:
"Ini. Minum dulu."
Garm:
"Makasih."
Garm meneguk, lalu menatap Nyra, seperti mengingat sesuatu yang mengganjal sejak kemarin.
Garm:
"Nyra…"
"Yang di pusat kota kemarin…"
"Gimana kamu bisa tiba-tiba ada di sebelahku?"
"Aku sama sekali tidak merasakan kehadiranmu."
Nyra terlihat canggung.
Ia menatap gelasnya, lalu menjawab pelan.
Nyra:
"Aku pakai sihir ilusiku."
"Itu bisa menutup… hawa keberadaanku."
"Aku jadi… seperti tidak ada."
Garm mengerutkan dahi.
Garm:
"Jadi… kamu diam-diam mengikutiku?"
Nyra cepat menggeleng, agak panik.
Nyra:
"Bukan begitu!"
"Aku cuma lihat kamu di pasar… kamu kelihatan seperti mencari sesuatu."
"Aku penasaran, jadi… aku pakai ilusi."
"Aku tidak menyangka… orang yang kamu cari itu aku."
Garm diam, sedikit takut.
Nyra melihat ekspresi itu dan menambahkan tegas—tapi tetap lembut.
Nyra:
"Tenang."
"Aku tidak akan melakukan itu lagi."
"Selama kamu jujur padaku."
Garm mengangguk kuat.
Garm:
"Aku tidak akan bohong."
Lalu ia tersenyum, mencoba mengubah suasana.
Garm:
"Kalau begitu… sebagai permintaan maaf…"
"Ayo kencan lagi."
Nyra menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk kecil.
Nyra:
"…Baik."
Dan pagi itu di Kota Veyra, kencan kedua mereka pun dimulai—lebih tenang dari kemarin, tapi jauh lebih "nyata", karena kali ini Nyra tidak cuma menerima perasaan Garm…
Ia mulai membiarkan dirinya hidup.
