Angin dari Hutan Terlarang masih menempel di napas Garm ketika ia berlari tanpa henti—menyusuri jalur akar tua, melompati batu licin, menerobos semak berduri yang seakan mencoba menahan langkahnya.
Di kepalanya hanya ada satu kalimat yang berulang-ulang:
"Semoga Nyra sudah kembali."
Bukan karena ia lemah.
Justru karena ia terlalu lama kuat sendirian—dan untuk pertama kalinya, ia ingin kuat bersama seseorang.
—Perbatasan Hutan Terlarang — Langkah yang Tidak Mau Berbalik
Tiga jam berlari akhirnya membawanya ke perbatasan: gerbang batu tua yang menandai akhir wilayah liar dan awal jalan utama.
Garm berhenti, menunduk, menarik napas dalam. Dada bidangnya naik turun cepat, namun matanya justru tenang—tenang yang menandakan ia sudah memutuskan.
Garm (dalam hati):
Kalau hari ini aku ketemu dia…
Kalau hari ini aku bisa bicara…
…aku nggak akan mundur lagi.
Ia melangkah keluar dari bayang pepohonan. Jalan utama terbentang, lebih rapi, lebih ramai—dan jauh dari bau tanah basah hutan.
Ia mengarahkan langkah ke sebuah kota elf terdekat untuk mencari tumpangan.
—Kota Elf Aurelith— Kereta Kuda Sihir dan Iri yang Diam-diam
Kota itu bernama Aurelith—bangunan putih menjulang, lengkungan elegan, dan jalanan berbatu yang rapi seakan tidak pernah disentuh debu.
Di terminal kereta kuda sihir, Garm membayar tumpangan menuju kota tempat Nyra tinggal: Kota Veyra—kota perdagangan yang menjadi simpul jalur penghubung menuju area gerbang dimensi.
Begitu kereta bergerak, roda kayu berputar halus, dan glyph sihir di bawahnya menyala samar. Garm duduk dekat jendela, menatap pemandangan yang bergerak mundur.
Di sela denting lonceng kereta, pikirannya melayang ke Rei—teman yang aneh itu.
Garm (dalam hati, getir tapi juga kagum):
Rei… tidak mengejar cinta.
Tapi cinta yang mengejar dia.
Aku… harus lari tiga jam dan naik kereta dua jam… cuma buat satu kesempatan bicara.
Ia menutup mata sebentar. Membayangkan Nyra.
Garm (dalam hati):
Kalau aku bilang langsung…
Apa aku terdengar bodoh?
Kalau aku terlalu cepat… apa dia akan takut?
…atau justru… dia akan tertawa dan menganggapku hanya orang aneh?
Pikirannya membuat perutnya terasa aneh.
Dan ketika dua jam perjalanan hampir selesai, kereta memasuki gerbang kota besar: Veyra.
—Kota Veyra— Pasar, Buah, dan Sentuhan yang Mengubah Hari
Veyra ramai, tapi hangat. Pasar pusatnya hidup—aroma roti panggang, rempah, dan buah segar bertabrakan di udara. Suara pedagang bercampur tawa anak-anak dari berbagai ras.
Garm turun dari kereta, menatap kota yang beberapa hari lalu ia datangi dengan hati kosong—dan hari ini ia datang dengan hati penuh harap.
Ia singgah sebentar di penginapan guild untuk menaruh barang, lalu keluar lagi. Masih siang. Masih ada waktu.
Garm berjalan di pasar, mencoba menahan gugupnya dengan hal sederhana: membeli buah untuk dimakan malam nanti.
Ia berhenti di sebuah kios buah. Pemiliknya seorang beastkin perempuan, tangannya cepat menimbang dan memotong.
Garm menunduk memilih buah—dan saat ia mengulurkan tangan, jari-jarinya bersentuhan dengan jari orang lain.
Sentuhan singkat.
Tapi cukup untuk membuatnya membeku.
Garm menoleh… dan dunia seperti berhenti sejenak.
Itu Nyra.
Rambut panjangnya jatuh melewati punggung, warna hitam kecokelatan yang memantulkan kilau kemerahan saat terkena cahaya siang. Wajahnya halus tapi tegas, mata beningnya tajam—mata yang terasa seperti bisa membaca niat orang lain tanpa perlu bertanya.
Nyra refleks menarik tangannya.
Nyra:
"M-maaf…"
Garm langsung panik, suaranya keluar lebih pelan dari biasanya.
Garm:
"Tidak—harusnya aku."
"Maaf… aku menyentuh tanganmu tanpa izin."
Nyra menatapnya sebentar, lalu… tertawa kecil. Bukan mengejek. Lebih seperti terkejut karena ada pria yang meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
Nyra:
"Tidak apa."
"Itu sepele."
Namun ia mencondongkan wajah sedikit, mendekat penuh rasa ingin tahu—membuat Garm nyaris lupa caranya bernapas.
Nyra:
"Tapi… kamu…"
"Kamu beastkin yang pernah datang ke tempat kerjaku, kan?"
"Yang melapor soal energi anomali ke atasanku."
Garm menegang. Lalu mengangguk cepat, gugupnya kentara.
Garm:
"Iya… itu aku."
"Aku… nggak nyangka kamu ingat."
"Aku jarang ke sana."
Nyra mundur setengah langkah, senyum kecilnya tetap ada.
Nyra:
"Aku ingat… karena kamu satu-satunya yang tidak melihatku seperti…"
"…seperti kebanyakan pria."
Garm menggaruk pipinya dengan sikap canggung.
Nyra melanjutkan, suaranya jadi lebih pelan—lebih jujur.
Nyra:
"Kebanyakan pria menatapku… bukan sebagai orang."
"Tapi sebagai sesuatu yang ingin mereka miliki."
"Kamu beda."
"Itu… bikin aku penasaran."
Garm ingin bilang bahwa ia tidak benar-benar berbeda.
Ia juga melihat Nyra. Ia juga tertarik.
Ia juga tertarik.
Dan sebelum sempat berpikir, mulutnya sudah lebih dulu menghancurkan semuanya.
Garm:
"Tapi aku melihatmu… karena kamu cantik."
Nyra menoleh ke arah Garm dan membeku.
Garm juga membeku.
Pemilik kios buah bahkan berhenti mengusap pisau.
Nyra mendekat sedikit.
Nyra:
"Apa?"
"Coba ulangi."
Garm panik, mengibas-ngibaskan tangan seperti orang menolak tuduhan.
Garm:
"Tidak! Maksudku—bukan! Lupakan!"
"Aku… aku cuma…"
"Ah—tidak ada!"
Nyra menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum lebih lebar—senyum yang membuat Garm merasa seperti kalah sebelum bertanding.
Nyra mengulurkan tangan.
Nyra:
"Nyra Fenwald."
Garm buru-buru menjabat, cengkeramannya hangat, tapi ia gugup sampai telinganya terasa panas.
Garm:
"Garm…"
Pemilik kios buah berdehem keras, menatap mereka dengan muka lelah.
Pemilik kios:
"Sudah puas bermesraan?"
"Jadi beli buah apa kalian ini?"
Nyra tersipu, Garm salah tingkah.
Mereka buru-buru memilih buah masing-masing, membayar cepat, lalu menjauh dari kios seperti dua orang yang baru ketahuan melakukan sesuatu yang "tidak seharusnya"—padahal mereka cuma berbicara.
—Makan Siang Sederhana— Dua Orang Dewasa yang Gugup Seperti Anak Sekolah
Garm menelan ludah, memaksakan keberanian.
Garm:
"Nyra…"
"Sebagai permintaan maaf…"
"Mau… makan siang bareng?"
Nyra menatapnya sebentar. Lalu mengangguk.
Nyra:
"Boleh."
Jawaban itu sederhana… tapi untuk Garm, rasanya seperti pintu besar yang akhirnya terbuka.
Mereka memilih tempat makan sederhana—meja kayu, aroma sup hangat, dan keramaian yang tidak terlalu bising. Mereka memesan, lalu menunggu.
Dan justru saat menunggu itulah… gugup mereka meledak.
Garm membuka mulut untuk bicara.
Nyra juga membuka mulut untuk bicara.
Mereka bicara bersamaan.
Garm & Nyra:
"Jadi—"
Hening sepersekian detik.
Lalu keduanya tertawa—tawa kecil yang sama-sama lega.
Garm menggaruk belakang kepala.
Garm:
"Kamu duluan."
Nyra menggeleng.
Nyra:
"Tidak, kamu."
Garm menarik napas.
Garm:
"Kamu… kenapa tidak bertugas seperti biasa?"
"Aku… beberapa hari ini tidak melihatmu."
Mendengar itu Nyra sedikit heran.
Nyra (dalam hati):
Jadi selama ini dia mencariku?
Tapi untuk apa?
Nyra menjawab jujur, tapi tetap rapi—seperti menyimpan bagian yang belum boleh dikeluarkan.
Nyra:
"Aku baru saja dapat cuti."
"Habis menjalankan tugas khusus… di Dunia Manusia."
Garm menatapnya—penasaran, tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut.
Nyra balik bertanya.
Nyra:
"Kamu juga cuti?"
Garm mengangkat bahu.
Garm:
"Aku… dibebastugaskan."
"Kerjaanku… tidak selalu punya jadwal tetap."
Nyra mengangguk pelan.
Nyra:
"Pantas."
"Aku sempat mikir… kamu menghilang."
Garm hampir menimpali: "Aku mencari kamu."
Tapi kata-kata itu tertahan di ujung lidahnya.
Sebagai gantinya, ia mengajukan pertanyaan yang membuat Nyra menatapnya tajam.
Garm:
"Kamu… makan siang denganku begini…"
"Tidak ada yang marah?"
"Misalnya… pacarmu?"
Nyra langsung panik—panik yang jujur.
Nyra:
"A-apa?"
"Aku… aku tidak punya pacar."
Garm refleks:
Garm:
"Benarkah?"
Nyra menghela napas, lalu tersenyum pahit.
Nyra:
"Banyak yang mendekat."
"Tapi… kebanyakan hanya ingin 'ras rubah'."
"Ras kami langka… seperti peri dan naga."
"Dan mungkin… sekarang hanya tersisa aku… dan adikku."
Garm merasa dadanya mengencang.
Nyra melanjutkan, suaranya lebih lembut.
Nyra:
"Aku tidak mau menjalin hubungan… kalau aku hanya dilihat sebagai objek."
Garm menunduk, spontan keluar suara lesu:
Garm:
"Ha… jadi aku masih… ada harapan nggak, ya…"
Nyra berkedip.
Nyra:
"Maksudmu… apa?"
"Tidak ada harapan?"
Garm tersentak, panik, langsung mengibaskan tangan.
Garm:
"Bukan! Tidak ada apa-apa!"
"Lupakan!"
Nyra menatapnya—insting rubahnya jelas menangkap "ada sesuatu"—tapi ia tidak memaksa. Ia hanya mengganti arah pembicaraan saat makanan datang.
Mereka makan, dan obrolan berubah lebih ringan. Nyra tertawa beberapa kali, dan setiap kali itu terjadi, Garm merasa hari itu… tidak sia-sia.
—Gerbang Sekolah— Kanna Sang Mak Comblang
Setelah makan, Nyra bangkit.
Nyra:
"Aku harus jemput adikku."
"Dia pulang sekolah sebentar lagi."
Garm langsung menawarkan tanpa berpikir terlalu lama.
Garm:
"Aku… boleh menemani?"
Nyra tersenyum, hangat.
Nyra:
"Tentu."
Mereka berjalan ke sekolah campuran ras—murid-murid elf, beastkin, bahkan beberapa ras lain. Tidak ada manusia di sini, dan itu membuat Veyra terasa "murni Elyndor."
Di gerbang sekolah, Nyra dan Garm menunggu. Lima menit kemudian…
"Kak Nyra!"
Suara ceria itu milik Kanna Fenwald—gadis rubah usia 17 tahun, tinggi sekitar 155–158 cm, rambut hitam kecokelatan lebih pendek dari kakaknya (sebatas punggung tengah) dan kadang dikuncir. Matanya amber muda, lebih cerah, dan ekspresinya selalu "punya rencana".
Kanna datang bersama dua temannya—satu elf, satu beastkin. Begitu melihat Garm berdiri di samping Nyra, mata Kanna langsung membesar.
Kanna (langsung):
"Kakak…!"
"Jangan bilang… kalian pacaran?!"
Nyra hampir tersedak udara.
Nyra:
"Tidak! Kanna!"
"Dia cuma teman… baru kenal hari ini!"
Kanna terlihat kecewa sedetik, lalu langsung berubah jadi "mak comblang mode".
Kanna:
"Yah… padahal aku senang kalau kakak punya pendamping."
"Aku nggak mau kakak sendirian terus…"
Teman elf Kanna menatap Garm, menilai tanpa malu.
Teman elf:
"Ka Nyra… cowok di sebelah kakak tampan loh."
"Kalau kakak nggak mau… aku mau kok."
Kanna langsung menatap temannya.
Kanna:
"Jangan!"
"Dia… dia harusnya sama kakakku!"
Garm yang dari tadi jadi bahan diskusi hanya bisa menggaruk kepala, malu setengah mati.
Nyra menutup wajah sebentar, lalu menatap Garm meminta maaf.
Nyra:
"Maaf… mereka…"
"Mereka suka bercanda."
Garm tersenyum, suaranya lembut.
Garm:
"Tidak apa."
"Aku… tidak keberatan."
Kanna langsung maju, menatap Garm serius seolah sedang wawancara.
Kanna:
"Jadi, Kak Garm…"
"Kalau aku kasih izin, Kakak mau pacarin kakakku nggak?"
Garm membeku total.
Nyra cepat menjewer telinga Kanna.
Nyra:
"Kanna!"
"Jangan begitu!"
Kanna meringis.
Kanna:
"Aduh—maaf…"
"Aku cuma…"
Nyra menghela napas, lalu berkata setengah menggerutu sambil menahan malu:
Nyra:
"Garm itu… memang tampan."
"Tapi… jangan asal bicara."
"Sulit dipercaya pria setampan dia tidak punya siapa-siapa."
Garm ingin bilang: tidak, aku tidak punya siapa-siapa. Aku datang ke kota ini justru untuk mencarimu.
Tapi lidahnya kelu, dan keberanian itu mati sebelum sempat lahir.
Kanna akhirnya menunduk, minta maaf.
Kanna:
"Maaf, Kak."
"Aku nggak ulangi…"
Setelah itu Nyra dan Kanna pamit pulang bersama. Di langkah terakhir sebelum menghilang di sudut jalan, Kanna menoleh diam-diam pada Garm dan memberi isyarat tangan kecil:
"Berjuang."
Garm membalas dengan anggukan pelan.
Garm (dalam hati):
Dia tahu…
Adiknya tahu aku suka kakaknya.
Kalau begitu…
mungkin… aku benar-benar punya kesempatan.
Ia kembali ke penginapan guild sore itu—membawa buah, membawa lelah, dan membawa sesuatu yang jauh lebih berat dari semuanya:
harapan yang akhirnya hidup.
