Restoran Pagi — Pertanyaan yang Menggigit Pelan
Tak lama setelah meninggalkan hotel, Rei tiba di restoran dengan Airi dan Aelria yang masih menempel di tiap sisi lengannya—seperti dua penjaga yang sama-sama tidak mau melepaskan.
Begitu Rei muncul, Rika yang sudah duduk di meja langsung melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Rika:
"Rei! Sini!"
Di meja itu, Riku, Seris, Rinna, serta si kembar Noelle dan Nerine sudah menunggu. Suasana pagi masih hangat—aroma roti panggang dan kopi bercampur dengan udara laut yang ikut terbawa masuk dari pintu restoran.
Rei duduk, dan sebelum ia sempat menyusun napas, Riku sudah menatapnya penuh rasa ingin tahu.
Riku:
"Gimana latihannya?"
"Apakah menyenangkan?"
Rei tersenyum tipis—senyum orang yang baru saja diseret melewati batas tubuhnya sendiri.
Rei:
"Lumayan berat… untuk ukuran manusia tanpa kekuatan."
"Tapi… aku nggak bisa menyerah."
"Aku punya orang yang harus kulindungi."
Nada Rei terdengar tenang, tapi semua orang bisa membaca tekad yang keras di balik kalimat itu.
Riku mencondongkan badan sedikit.
Riku:
"Energi itu…"
"Yang dulu muncul dan bantu kamu waktu insiden… muncul lagi nggak?"
Rei menggeleng.
Rei:
"Tidak."
"Aku nggak merasakan perubahan apa pun."
"Bahkan… nggak ada percikan kecil pun."
Aelria menatap Rei agak lama—seolah mencari sesuatu di wajahnya, di napasnya, di cara bahunya naik turun.
Lalu ia berbicara, suaranya pelan tapi padat.
Aelria:
"Kalau soal energi itu…"
"Aku pernah merasakannya waktu aku masih kecil."
"Di Hutan Terlarang… di Elyndor."
Semua mata mengarah ke Aelria.
Aelria melanjutkan, dan kali ini ia menatap Rei langsung.
Aelria:
"Energinya mirip… dengan yang aku rasakan saat tes kebangkitanmu."
"Rei… kamu pernah ke dunia ku?"
"Atau… kamu tahu sesuatu tentang Elyndor?"
Rei terlihat terdiam sepersekian detik, seperti menimbang apakah ia harus tertawa atau menjawab serius.
Akhirnya ia menarik napas.
Rei:
"Aku… nggak tahu."
"Aelria, kamu juga tahu… sejak kecil aku cuma bocah manusia biasa."
"Waktu kita ketemu di SMP 3… aku cuma anak yang datang karena… pengen punya teman."
"Dan… waktu itu pun aku sudah hidup sendiri."
Nada "hidup sendiri" keluar tanpa dramatis—justru itu yang membuatnya terasa berat.
Seris yang sedari tadi diam akhirnya ikut menyela, matanya tajam namun ragu.
Seris:
"Aelria… yang kamu lihat waktu kecil itu… benar-benar manusia?"
Aelria mengangguk pelan.
Aelria:
"Iya."
"Tubuhnya fisik manusia."
"Rambutnya… putih. Mirip Rei."
"Tapi… aku nggak melihat wajahnya jelas."
"Aku sudah setengah pingsan waktu itu."
Percakapan itu nyaris berubah menjadi diskusi panjang… namun tepat saat itu, makanan mereka datang—seolah restoran sengaja "memotong" topik yang terlalu serius.
Rei baru sadar satu hal: ia belum memesan apa pun.
Ia menoleh ke Riku, bingung.
Rei:
"…Aku belum pesan."
Riku hanya mengangkat bahu, seperti itu hal paling normal di dunia.
Riku:
"Aku pesankan."
"Kamu butuh makan. Itu aja."
Rei, Airi, dan Aelria terlihat sama-sama terkejut—bukan karena Riku melakukannya, tapi karena Riku melakukannya tanpa perlu bicara.
Riku menatap Rei.
Riku:
"Makan dulu."
"Kita bahas sambil makan."
Mereka mulai makan.
Di tengah suara sendok dan piring, Rinna menyandarkan siku, menatap Aelria dengan serius tapi santai.
Rinna:
"Aelria… kamu pernah tanya orang tuamu?"
"Soal insiden waktu kamu kecil itu."
Aelria menghela napas, menunduk sebentar.
Aelria:
"Sudah."
"Aku sudah cerita ke pengawal… ke orang tuaku…"
"Tapi mereka nggak tahu."
"Yang mereka temukan cuma… tubuhku tergeletak di jalan utama."
"Mereka bahkan nggak tahu siapa yang mengangkatku ke sana."
Nerine menatap Seris, mata merahnya berkilat penasaran.
Nerine:
"Seris… kakakmu itu pasukan khusus kota demon, kan?"
"Ravien nggak—maksudku Lirya atau Ravien… mereka nggak tahu soal 'manusia rambut putih' ini?"
Noelle menambahkan pelan, nadanya malas tapi tajam.
Noelle:
"Pasukan khusus pasti punya catatan… atau rumor."
Seris menggeleng, rautnya minta maaf.
Seris:
"Aku nggak tahu misi-misi Kak Lirya…"
"Dia jarang cerita."
"Tapi… aku bisa coba tanya nanti."
"Kalau ada petunjuk… aku bakal kabari kalian."
Semua mengangguk.
Topik itu tidak selesai, tapi setidaknya sekarang mereka punya arah: bertanya pada Lirya.
Setelah sarapan beres, rombongan itu keluar restoran bersama—dan karena liburan mereka tinggal hitungan hari, mereka memutuskan pergi ke mal untuk belanja dan bermain, menekan rasa cemas dengan tawa dan keramaian.
—Taman Pagi— Pengakuan Ravien, dan Cemburu yang Hampir Terlahir
Sementara itu, beberapa jam setelah mereka meninggalkan pantai, Ravien membawa Hina ke taman.
Daun bergerak pelan—seolah taman ikut menyimpan rahasia yang tidak boleh keras-keras.
Udara pagi sejuk, dan matahari menembus sela ranting seperti kaca-kaca tipis yang jatuh ke tanah.
Suasana taman ini selalu terasa "milik mereka"—tempat yang terlalu tenang untuk dunia yang terlalu ramai.
Hina duduk di bangku, Sora di pangkuannya, sementara Ravien duduk di samping, tubuhnya tegak tapi tangannya lembut—mengelus rambut Hina pelan, seperti menenangkan sesuatu yang selalu rapuh di dalam dirinya.
Hina mengumpulkan keberanian.
Hina:
"Ravien…"
"Kalau aku boleh tahu…"
"Kenapa kamu dihukum… di sekolah lamamu?"
Ravien terdiam, napasnya terdengar pelan.
Sejenak matanya seperti menatap jauh—bukan ke taman, tapi ke memori yang tidak ia suka.
Ravien:
"Aku dikeluarkan."
"Sebulan nggak ikut pelajaran."
"Nggak patuh aturan."
"Dan… ada murid dari akademi lain yang ganggu siswi akademiku."
Ia berhenti sebentar, rahangnya mengeras.
Ravien:
"Aku hajar mereka."
"Akademi… tidak membenarkan caraku."
Hina menelan ludah, menatap wajah Ravien yang tetap tampak tenang, tapi ada amarah lama yang tertahan rapi.
Hina:
"…Terus… kenapa kamu bisa di sini?"
Ravien mendecakkan lidah kecil, tapi kali ini bukan kesal—lebih seperti mengakui sesuatu yang tidak bisa ia bantah.
Ravien:
"Karena Kak Lirya."
"Seberapapun kuatnya aku… tetap saja… aku nggak bisa melawan dia."
Ia berkata itu dengan nada datar, namun Hina bisa merasakan satu hal: Ravien menghormati Lirya… dan juga takut pada ketegasannya.
Ravien menatap Hina, suaranya sedikit melembut.
Ravien:
"Tapi di balik sikap kerasnya… kakakku itu lembut."
"Dia… memastikan orang-orang yang dulu jadi luka… tidak ada lagi di sekitarku."
"Aku… bersyukur dia nyuruh aku ke dunia manusia."
Hina menatap Ravien lebih dalam.
Ravien:
"Kalau bukan itu…"
"Aku nggak akan ketemu kamu."
"Dan aku nggak akan… punya alasan untuk berubah."
Hina menunduk, pipinya memanas.
Hina:
"Terima kasih…"
"Karena menerima aku… di sisimu."
"Aku… senang… akhirnya bisa punya kebahagiaan."
"Aku dulu pikir… apa aku pantas…"
"Aku… lihat Riku memilih Rika… dan aku cuma… berdiri di belakang."
Ravien mengerut, matanya menajam.
Ravien:
"Jadi… dulu kamu cinta Riku."
"Terus Riku cinta Rika."
Hina buru-buru mengangguk.
Hina:
"Iya… tapi aku nggak mau merusak hubungan mereka."
"Aku nggak mau merusak pertemanan—"
Ravien langsung memotong, suaranya dingin mendadak.
Ravien:
"Tenang."
"Kalau ketemu… aku 'tanya baik-baik' si Riku."
"..."
"Dengan caraku."
Hina langsung menjauhkan kepala dari dada Ravien, panik kecil.
Hina:
"Jangan!"
"Riku nggak salah!"
"Itu… keputusan dia… dan… aku juga sudah punya kamu."
"Aku nggak mau kamu hancur karena itu…"
Ravien menatap Hina lama, lalu… senyum kecil muncul.
Senyum yang berbeda dari biasanya—lebih lembut, lebih tulus.
Ravien:
"Baik."
"Selama kamu tidak tersakiti… aku akan menahan diri."
"Karena… cuma kamu yang bisa menenangkan aku."
Ia mengelus rambut Hina lagi, lebih pelan.
Ravien:
"Aku suka… sikap manis kamu."
"Jangan hilangin itu."
Hina kembali menyender, suaranya kecil.
Hina:
"Terima kasih… Ravien."
"Karena jadi pelindungku…"
"Dan… bagian dari hidupku."
Sora mengeluarkan suara kecil, lalu meringkuk—seolah setuju.
—Elyndor— Gerbang, Nama, dan Umur yang Membuat Guardian Terdiam
Sementara itu—di Elyndor, jiwa Rei yang menjaga gerbang merasakan getaran yang sama.
Seolah sebagian dirinya masih sarapan di dunia manusia, sementara tubuhnya tetap menjaga di sini.
Garm sempat mendekat sebelumnya, suaranya muram tapi tegas.
Garm:
"Aku ke kota."
"Aku mau menunggu Nyra."
Lalu ia pergi.
Setelah sosok besar itu menghilang di balik pepohonan, Lirya menoleh ke Rei.
Lirya:
"Ada informasi baru dari jiwamu di dunia manusia?"
Rei melirik Lirya, lalu menatap gerbang lagi.
Rei:
"Ada."
"Tapi tidak penting."
"Dia… menjalani kehidupan normal."
Lirya mengernyit, jelas tidak puas. Tatapan matanya seperti bara yang ingin memaksa jawaban.
Lirya:
"Rei…"
"Aku penasaran."
"Kau katanya sudah bereinkarnasi dua kali."
"Umurmu sebenarnya… berapa?"
Rei menghela napas panjang—seolah sudah menduga ini akan datang.
Rei:
"Aku tahu pertanyaan ini akan muncul suatu saat."
Lirya tersenyum tipis—menang.
Lirya:
"Jadi?"
"Berapa umurmu?"
Sebelum Rei menjawab, udara di sekitar pohon besar bergetar pelan. Daun-daun bergerak meski tidak ada angin.
Lalu muncul Sylvhia, Ratu Dryad, melangkah cepat seolah ia datang hanya untuk mendengar jawaban itu.
Sylvhia:
"Ara ara… kalian bahas umur Rei?"
"Menarik."
Rei memandang keduanya seperti memandang dua anak kecil yang penasaran soal rahasia orang dewasa.
Rei:
"Kalau harus kira-kira…"
"Mungkin… lima ratus sampai delapan ratus tahun."
Hening. Bahkan suara daun seperti menahan diri.
Lirya tidak berkedip. Sylvhia—untuk pertama kalinya—kehabisan kata.
Rei:
"Karena penampilanku berhenti di sekitar umur tujuh belas."
"Setelah lewat lima ratus… aku berhenti menghitung."
Sylvhia menutup mulut, matanya melebar.
Sylvhia:
"Rei… itu…"
"Itu setara… atau bahkan bisa lebih tua daripada—"
Ia menyebut sebuah nama dengan refleks, nyaris seperti gumaman hormat.
Sylvhia:
"...Vhaldrake."
Lirya menelan ludah.
Lirya:
"Maksudmu… Guardian lain?"
"Kalau itu benar…"
"Maka semua yang kita kira tentangmu… salah."
Rei mengangkat bahu kecil.
Rei:
"Itulah kenapa aku diam saja waktu kalian panggil aku 'bocah'."
"Karena sebenarnya… kalian yang masih anak kecil."
Sylvhia tersentak, lalu tertawa kecil—gagal menyembunyikan rasa suka yang tiba-tiba makin menjadi.
Sylvhia:
"Ara ara… makin menggoda."
"Kalau begitu… kapan kamu mau jadi suamiku, Rei?"
Ia merangkul lengan Rei, dan sengaja menempelkan dadanya ke lengan Rei seperti tidak tahu malu.
Lirya langsung bergerak, menarik Sylvhia menjauh dengan cepat.
Lirya:
"Sadar!"
"Kau itu Guardian— ratu pula!"
"Jaga martabatmu!"
Sylvhia menatap Lirya dengan senyum nakal.
Sylvhia:
"Untuk Rei… martabat itu fleksibel."
"Aku bahkan mau punya anak darinya."
Lirya terkejut—wajahnya tegang.
Namun Rei—bukannya panik—malah mengangkat tangan dan tok memukul kepala Sylvhia ringan.
Rei:
"Jangan main-main."
"Kau bukan cinta."
"Kau cuma nafsu."
"Jangan berharap aku mau."
Sylvhia langsung murung, bibirnya mengerucut seperti anak kecil yang mainannya direbut.
Sylvhia:
"…Hmph."
Lirya menghembuskan napas lega—tapi di dalam hatinya, ada rasa yang berbeda tumbuh cepat.
Lirya (dalam hati):
Dia… menolak Sylvhia tanpa ragu…
Kalau begitu…
Aku tidak boleh kalah.
Ia menatap Rei dari samping, mata merahnya menyala samar—bukan marah, tapi tekad.
Di depan gerbang dimensi itu, rahasia umur Rei sudah terucap… dan itu mengubah cara Lirya serta Sylvhia memandangnya untuk selamanya.
