Langit sudah mulai terang saat Ravien berjalan di sisi Hina.
Hina merangkul lengan Ravien, langkahnya pelan—bukan karena lelah, melainkan karena ia menikmati setiap detik yang terasa terlalu hangat untuk jadi nyata. Sora bertengger di pundak Ravien, ekor tipisnya bergerak pelan seperti jarum jam yang ikut berdetak bersama hati majikannya.
Di sepanjang jalan menuju pantai, banyak pasang mata menoleh.
Ada yang iri.
Ada yang bingung.
Ada yang hanya terpaku—seolah melihat kisah yang "tidak seharusnya terjadi".
Seorang demon di Dunia Manusia—di tempat yang jarang memberi ruang bagi rasnya—berjalan santai, merangkul dunia kecilnya sendiri: seorang gadis manusia.
Hina tidak lagi menunduk seperti dulu. Ia memang masih pemalu, tapi ia tidak lagi seperti ingin lenyap. Kini ia hanya menempel lebih dekat ke Ravien—cara kecilnya berkata: aku aman.
Ravien menatap jalan, lalu melirik Hina dari sudut mata.
Ravien :
"Syukurlah."
"Kau sudah terbiasa."
Hina mengangkat wajahnya pelan, tatapannya lembut dan bergetar halus—bukan karena takut, tapi karena perasaan yang terlalu penuh.
Hina :
"I-ini… karena kamu…"
"Kalau kamu di sisi aku… aku… nggak takut."
Ia menyenderkan kepala ke bahu Ravien, pelan seperti meminjam kekuatan dari tubuhnya.
Ravien tidak berkata lagi, tapi bibirnya melengkung tipis—senyum kecil yang hanya muncul saat Hina memberi alasan untuk muncul.
Langkah mereka berlanjut menuju pantai.
—Di Pantai: Rei dan "Pemanasan" yang Nyaris Membunuh
Di sisi lain pantai, Rei masih bergulat dengan tubuhnya sendiri.
Pasir di bawah punggungnya sudah basah oleh keringat. Napasnya berat, seperti dada yang dipenuhi batu. Airi menghitung dengan suara pelan, sementara Aelria berjongkok di dekat kepala Rei, menahan handuk dan menatapnya seolah kalau ia berkedip, Rei akan rubuh selamanya.
Rei memaksa satu gerakan lagi.
Perutnya menegang, lengan dan paha bergetar, lehernya terasa seperti tali yang ditarik sampai hampir putus.
Airi :
"...S-sembilan puluh delapan…"
"...Sembilan puluh sembilan…"
Aelria menahan napas.
Rei menggertakkan gigi, lalu memaksa tubuhnya naik untuk terakhir kali.
Airi :
"Seratus!"
Begitu angka itu keluar, Rei jatuh duduk di pasir seperti prajurit yang baru pulang dari perang—tatapannya kosong beberapa detik, napasnya terdengar kasar dan pecah-pecah.
Airi buru-buru menyodorkan minuman.
Airi :
"Rei… minum… pelan… pelan…"
Aelria menyeka keringat di pelipis Rei, senyumnya lembut tapi matanya masih tegang.
Aelria :
"Kamu berhasil."
"Bagus… Rei."
"Aku bangga."
Rei hanya bisa mengangguk kecil—bahkan mengangguk pun seperti menghabiskan sisa tenaganya.
Saat itulah suara langkah mendekat.
Ravien datang—bersama Hina dan Sora.
Sora duduk tenang di pundak Ravien, sementara Hina berjalan menempel pada lengan Ravien seperti kebiasaan baru yang ia simpan rapat di dada.
Ravien menatap Rei sekali, lalu mendecakkan lidah pelan, seolah berkata: setidaknya kau tidak mati.
Ravien :
"Kelihatannya selesai."
"Selamat."
Rei mengangkat kepala, masih terengah.
Ravien melanjutkan, suaranya datar—tapi ada sesuatu yang berbeda: ia tidak sedang mengejek, ia sedang mengukur.
Ravien :
"Tapi jangan senang dulu."
"Ini baru pemanasan."
"Cukup untuk hari ini…"
"…karena aku sudah janji pada Hina, aku tidak akan memaksa kau sampai rusak."
Hina menatap Ravien cepat—kaget karena namanya dipakai sebagai alasan "keringanan".
Airi dan Aelria juga kaget, tapi lebih lega daripada kaget.
Ravien menjentikkan jari.
Gelang beban di tangan dan kaki Rei meredup—cahaya merahnya padam. Seolah beban yang menindih tubuh Rei sejak fajar tadi dilepas sekaligus, seperti rantai yang dibuka.
Lutut Rei nyaris lemas lagi—bukan karena berat, tapi karena tubuhnya kaget kehilangan penindih yang sejak fajar menjadi "langit" di atas tulangnya.
Rei menghembuskan napas panjang.
Rei (dalam hati):
Rasanya… seperti aku melepas sesuatu yang kupikul bertahun-tahun.
Ravien menunjuk laut.
Ravien :
"Berdiri."
"Masuk ke laut."
"Basuh tubuhmu. Dinginkan ototmu."
"Jangan mendadak. Jangan bodoh."
Rei mencoba berdiri. Kaki dan tangannya masih nyeri, tapi… kali ini ia lebih stabil. Ia berjalan tertatih-tatih menuju air, hingga dinginnya mencapai betis. Rasa dingin menyengat ototnya, membuatnya meringis.
Rei tidak langsung merendam seluruh tubuh.
Ia menunggu, membiarkan tubuhnya menerima air sedikit demi sedikit—seperti mengajari ototnya untuk "bernapas" lagi.
Lima menit berlalu. Nyeri di tubuhnya mulai berubah menjadi pegal yang bisa ditahan.
Rei keluar dari laut, tubuhnya basah. Ia berjalan kembali dengan langkah lebih normal—walau tetap berat.
Ravien membuka kantung dimensi, mengeluarkan celana ganti dan melemparkannya ke Rei.
Ravien :
"Ganti."
"Kamar ganti pantai ada di sana."
Rei menerima celana itu, lalu ragu.
Rei :
"…Bajuku?"
Ravien menatap Rei seperti menatap pertanyaan yang terlalu lucu untuk dijawab.
Ravien :
"Aku tidak punya."
"Ini pantai."
"Pria tidak usah malu."
Kalimat itu membuat Rei ingin membantah—tapi ia tahu: Ravien tidak akan peduli.
Yang peduli justru… Airi dan Aelria.
Keduanya mendadak memerah.
Airi (dalam hati):
Kalau Rei… tanpa atasan…
Eh… bukan itu yang harus kupikirkan—tapi—
Aelria menunduk cepat, mencoba terlihat tenang, tapi ujung telinganya merah.
Hina juga ikut terdiam.
Ia teringat momen dulu—saat Ravien tanpa atasan menggendongnya, dan ia merasa tubuhnya akan meleleh karena malu.
Hina (dalam hati):
Kenapa… aku selalu mengingat hal memalukan… tepat saat tidak perlu…
Rei akhirnya berjalan ke kamar ganti.
Beberapa menit kemudian ia keluar.
Tanpa atasan.
Dan… ternyata di bawah pakaian biasa yang ia pakai, tubuh Rei terlatih. Garis otot di dada dan perut terlihat jelas—tidak berlebihan, tapi nyata, hasil latihan panjang yang tidak pernah ia pamerkan.
Airi dan Aelria menutup wajah dengan tangan, tapi tetap mengintip lewat sela jari—malu, namun tidak bisa tidak melihat.
Ravien menatap Rei dari atas ke bawah.
Ravien :
"Pengamatanku tidak salah."
"Tubuhmu sudah dilatih."
Rei menggaruk pipinya, senyum kecil muncul—malu mengakuinya.
Rei :
"Karena… aku tidak punya kekuatan."
"Aku latihan… supaya setidaknya tubuhku tidak ikut menyerah saat diriku hancur."
Ia menatap Ravien.
Rei :
"Jadi… selesai untuk hari ini?"
Ravien mengangguk.
Ravien :
"Iya."
"Sekarang balik."
"Mandi."
"Sarapan sama mereka."
Lalu Ravien menoleh ke Hina, suaranya berubah—lebih lembut, lebih hangat.
Ravien :
"Aku ajak kamu jalan."
Ravien melihat mereka sebentar.
Ravien :
"Dan untuk kalian, jangan ganggu kami."
Airi dan Aelria terkekeh kecil.
Airi :
"Baik, Tuan Demon."
Aelria :
"Hina, kalau dia macam-macam, bilang."
Hina tersipu malu, mengangguk kecil.
Ravien membawa Hina pergi—Sora tetap di pundaknya—dan pasangan itu menjauh di atas pasir, seolah dunia lain mengecil dan hanya tersisa mereka.
—Perjalanan Rei Kembali ke Hotel
Rei menarik napas, menatap Airi dan Aelria.
Rei :
"Kalian… tunggu di restoran saja. Aku—"
Airi langsung merangkul lengan Rei.
Airi :
"Tidak."
"Aku ikut."
Aelria menempel di sisi lain, sama tegasnya.
Aelria :
"Aku juga."
Rei ingin protes… tapi melihat tatapan mereka, ia hanya menghela napas pasrah.
Rei :
"…Baik."
Mereka berjalan menuju hotel—Rei tanpa atasan, diapit dua elf di sisi kiri dan kanan.
Tatapan orang-orang semakin ramai.
Ada yang berbisik.
Ada yang iri.
Ada yang terang-terangan memandang.
Rei merasa telinganya panas.
Rei (dalam hati):
Aku lebih berani menghadapi monster daripada ini…
Di tengah perjalanan, rombongan lain berpapasan: Riku, Rika, Seris, Rinna, dan si kembar Noelle & Nerine.
Riku langsung berhenti, terkejut.
Riku :
"…Rei?"
"Kenapa kamu… setengah telanjang di pagi hari?"
Rei menahan malu, menjelaskan singkat—tentang latihan Ravien dan air laut.
Rika menatap Rei sekejap—lalu cepat-cepat memalingkan muka, pipinya memerah.
Seris menutup mulut, berusaha tidak ketawa.
Nerine, yang ekspresif, hampir bersiul—tapi tertahan.
Noelle menatap Rei datar… lalu sedikit menyipitkan mata.
Noelle :
"…Hoh."
Nerine menyenggol Noelle.
Nerine :
"Bukan 'hoh' doang dong."
"Ini… lumayan."
Aelria dan Airi reflek berdiri lebih dekat, menutupi tubuh Rei dengan posisi tubuh mereka—posesif tanpa sadar.
Airi :
"Jangan lihat lama-lama!"
Aelria :
"Jaga pandangan kalian."
Rinna tertawa kecil, seperti menonton adegan lucu.
Rinna :
"Dua elf ini… protektif banget."
Riku berdeham, berusaha menahan senyum.
Riku :
"Kami tunggu kalian di restoran, Rei."
"Jangan lama-lama."
Rei mengangguk, lalu melanjutkan jalan, makin malu karena sekarang "satu pantai" sudah tahu.
—
Di Kamar Rei
Sesampainya di kamar, Airi dan Aelria masuk lebih dulu.
Rei buru-buru membuka lemari, mengambil pakaian, lalu masuk kamar mandi.
Suara air mengalir memenuhi ruangan.
Di luar, Airi duduk di tepi kasur, menatap Aelria dengan senyum kecil—kenangan hangat muncul begitu saja.
Airi :
"Suasana ini…"
"Mirip waktu pertama kali aku… bilang aku suka Rei."
Aelria tertawa pelan, matanya lembut.
Aelria :
"Dan waktu itu… kamu juga memaksaku jadi onee-chan kamu."
Airi :
"Hehe… soalnya aku takut."
"Aku takut kalau aku sendirian, aku nggak bisa jagain dia."
Aelria mengangguk pelan.
Aelria :
"Aku juga."
"Aku senang… kita tidak sendiri."
"Kalau suatu hari aku jauh… kamu tetap ada."
"Dan kalau kamu jatuh… aku akan menarikmu bangkit."
Mereka saling menatap—ada tawa kecil, tapi juga janji yang tidak diucapkan.
Lima belas menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Rei keluar sudah berpakaian rapi. Rambut putihnya masih sedikit basah, ia mengeringkannya dengan handuk, lalu mengikatnya agar tidak mengganggu.
Ia melihat Airi dan Aelria masih duduk bersama, tertawa kecil.
Rei tersenyum.
Rei :
"Ayo."
"Kita sarapan."
Airi dan Aelria berdiri bersamaan.
Airi & Aelria :
"Ya."
Dan mereka keluar kamar—menuju hari baru yang pelan-pelan mulai menuntut lebih banyak dari mereka semua.
