Cherreads

Chapter 131 - Bab 131: Beban di Fajar, Luka yang Tak Terucap

Langit masih gelap kebiruan saat Ravien membuka mata.

Jam di ponselnya menunjukkan 05.00.

Udara kamar hotel dingin, sunyi—hanya suara napas pelan dari dua orang lain yang masih terlelap. Ravien tidak banyak berpikir. Ia berdiri, merapikan rambutnya yang masih sedikit basah oleh keringat semalam, lalu masuk kamar mandi tanpa menyalakan lampu besar.

Air dingin mengguyur punggungnya—membangunkan bukan hanya tubuh, tapi juga niatnya.

Ravien (dalam hati) :

Kalau Rei benar punya sesuatu… maka yang kubutuhkan bukan kata-kata. Aku butuh bukti.

Selesai mandi, Ravien mengenakan pakaian latihan sederhana. Lalu ia menghampiri tempat tidur Rei.

Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada "bangun pelan-pelan".

Ravien :

"Bangun."

Rei membuka mata setengah, menatap langit-langit.

Ponselnya ia raih—05.30.

Rei tidak membantah. Ia hanya duduk, menarik napas pelan, lalu berdiri.

Rei (dalam hati) :

Kalau aku mundur… aku akan kembali jadi aku yang dulu.

Ia masuk kamar mandi, membasuh wajah, menyikat gigi. Ketika keluar, Ravien sudah menunggu di dekat pintu seperti bayangan yang tak sabar.

Tanpa banyak kata, mereka keluar hotel.

Pantai masih sepi. Hanya beberapa orang yang jogging jauh di sisi lain, dan burung laut yang melintas rendah di atas ombak. Angin pagi membawa aroma asin yang bersih, dan pasir yang masih dingin menggigit telapak kaki.

Ravien berdiri menghadap laut, tangan di saku.

Rei berdiri di sampingnya—diam, menunggu instruksi.

Ravien :

"Kita mulai dari stamina."

Ia menunjuk ujung pantai yang jauh, lalu menunjuk kembali ke tempat mereka berdiri.

Ravien :

"Lari dari sana… kembali ke sini."

"Sepuluh kali."

Rei mengangkat alis sedikit.

Rei (dalam hati) :

Sepuluh bolak-balik? Masih masuk akal.

Namun Ravien tersenyum tipis—senyum yang membuat orang lain biasanya tidak nyaman.

Ravien membuka kantung dimensi, lalu mengeluarkan satu set gelang beban—empat buah: dua untuk pergelangan tangan, dua untuk pergelangan kaki.

Bentuknya logam hitam matte, ada ukiran merah tipis seperti retakan lava.

Ravien:

"Pakai."

Rei memasangnya: satu di pergelangan tangan kanan, satu di kiri… lalu satu di pergelangan kaki kanan, satu di kiri.

Ravien menatap Rei seperti menilai seberapa lama "percaya diri" itu bertahan.

Ravien :

"Mulai."

Rei berlari.

Sepuluh langkah pertama masih normal.

Lalu—

Ravien menyeringai sambil menjentikkan jari.

Gelang itu bercahaya merah sekejap—dan beban seperti runtuh dari langit, menindih kedua tangan dan kakinya sekaligus.

Rei jatuh berlutut ke pasir.

Napasnya tertahan, ototnya berteriak, sendinya seperti ditarik paksa.

Ravien melangkah mendekat, suaranya dingin seperti air laut dini hari.

Ravien :

"Mana rasa percaya dirimu tadi?"

"Bangun."

"Atau kau mau terus bersembunyi di belakang dua gadis itu?"

Rei menggertakkan gigi.

Ia tidak marah pada Ravien—ia marah pada dirinya sendiri.

Seketika ingatan saat insiden monster anomali di sekolahnya terulang kembali.

Rei (dalam hati) :

Benar… aku tidak bisa selamanya berada di belakang mereka.

Aelria… Airi… Riku… Hina…

Aku tidak mau jadi orang yang hanya bisa menonton seperti waktu itu.

Ia menekan telapak tangan ke pasir, mencoba berdiri. Tubuhnya gemetar—bukan karena dingin, tapi karena beban yang memaksa setiap otot bekerja dua kali lipat.

Langkah pertama… nyaris tidak bergerak.

Langkah kedua… menyakitkan.

Namun Rei tetap memaksa.

Ia mulai berjalan tertatih, lalu setengah berlari. Pasir terasa seperti lumpur berat. Setiap tarikan napas seperti menarik udara melalui kain basah.

Ravien mengamati tanpa berkata apa pun.

Ravien (dalam hati) :

Bagus.

Jangan berhenti.

Kalau kau berhenti, kau akan terbiasa berhenti.

Sepuluh menit berlalu. Rei mulai menemukan ritme—bukan ritme cepat, tapi ritme bertahan. Tubuhnya menyesuaikan. Nafasnya membaik sedikit demi sedikit.

Satu putaran… dua… tiga…

Waktu berlalu seperti digiling.

Satu jam berlalu.

Rei menyelesaikan sepuluh bolak-balik itu.

Begitu sampai titik akhir, tubuhnya goyah. Pandangannya berkunang.

Ia hampir jatuh menempel pasir—

Namun tangan Ravien menyambar bahunya, menahan tubuh Rei agar tidak membanting tanah.

Ravien :

"Jangan jatuh seperti sampah."

Nadanya kasar, tapi pegangan tangannya stabil—cukup kuat menahan, cukup hati-hati agar tidak membuat Rei cedera.

Ravien :

"Kau berhasil."

Rei hanya bisa mengangguk kecil, lalu Ravien menyeretnya menuju tembok pembatas pantai. Rei disandarkan di sana, napasnya berat.

Dunia terasa jauh.

Dan selama 15 menit, Rei benar-benar "hilang" sebentar.

Saat Rei membuka mata lagi, ia melihat sesuatu yang membuatnya terpaku.

Di dekat garis air, Ravien sedang berlari—dengan gelang yang sama.

Tapi Ravien memakainya dua set—total delapan gelang.

Dua di tiap tangan, dua di tiap kaki.

Langkah Ravien tetap ringan, seperti beban itu bukan apa-apa. Rambutnya tertiup angin, tubuhnya bergerak efisien. Tidak ada gerakan mubazir.

Rei (dalam hati) :

Apa… aku bisa sampai level itu?

Atau aku akan mati duluan?

Suara memanggil memotong pikirannya.

Aelria :

"Rei!"

Airi :

"Kami cari kamu!"

Mereka datang membawa minuman dingin dan handuk kecil, wajah mereka jelas panik begitu melihat Rei duduk bersender di tembok pembatas pantai dengan keringat membasahi pelipis.

Rei tersenyum lemah, ingin berdiri—

Dan rasa nyeri menyengat di tangan dan kaki, seperti ototnya sedang ditarik dari dalam.

Rei menahan napas.

Aelria langsung menahan bahunya.

Aelria :

"Jangan bergerak dulu!"

Airi sudah hampir menangis.

Airi :

"Ini… ini terlalu berat, Rei…"

Ravien menghentikan larinya, berjalan mendekat seperti tak ada rasa bersalah.

Ravien :

"Sudah sadar."

"Bagus."

Ia menatap Rei.

Ravien :

"Lima menit."

"Habis itu lanjut."

Aelria menoleh tajam.

Aelria :

"Ravien! Dia bahkan tidak bisa berdiri normal!"

Airi menambahkan, suaranya gemetar marah.

Airi :

"Kalau dia terluka, kami yang akan—"

"—Kami yang akan melindunginya!"

Ravien tidak menatap Airi dan Aelria lama. Ia menatap Rei.

Ravien :

"Mau sampai sini saja?"

"Kalau kau bilang ya, aku berhenti."

Hening.

Lalu Ravien menancapkan kalimat berikutnya—dingin, tajam, tepat sasaran.

Ravien :

"Apa kau mau terus lari… saat orang yang kau sayangi dalam bahaya… karena kau tak bisa melakukan apa-apa?"

Rei menutup mata.

Kata-kata itu bukan hinaan.

Itu cermin.

Rei (dalam hati):

Aku… tidak mau.

Aku tidak mau jadi orang yang hanya menggigil dan berharap orang lain menutupinya.

Aku… ingin berdiri.

Dalam diam, Rei berdoa—bukan pada siapa pun yang pasti menjawab, tapi pada sesuatu yang ia tidak berani beri nama.

Rei (dalam hati):

Kalau aku masih boleh bangkit…

Kalau aku masih boleh melindungi…

Tolong… beri aku kekuatan untuk tidak menyerah.

Tidak ada jawaban.

Hanya angin.

Dan itu cukup—karena Rei sadar: mungkin jawabannya bukan suara dari langit, tapi tekad yang harus ia paksa keluar sendiri.

Rei membuka mata.

Rei :

"Kita lanjut."

Airi dan Aelria membeku.

Airi :

"Rei… jangan…"

Rei mengangkat tangan, menyentuh pipi Airi dan Aelria bergantian—gerak kecil yang lembut, menenangkan.

Rei :

"Tak apa."

"Ini… demi kalian."

Mereka menahan napas, lalu membantu Rei berdiri. Keduanya jelas tidak rela, tapi mereka tahu—kalau Rei sudah memutuskan, ia sulit dihentikan.

Ravien melihat Rei yang kembali berdiri, dan untuk sepersekian detik, ada kepuasan tipis di matanya.

Ravien :

"Bagus."

"Aku suka semangatmu."

Ia menunjuk pasir yang rata.

Ravien :

"Push-up."

"Seratus."

Rei mengambil posisi.

Dengan gelang aktif, tubuh Rei seperti ditindih batu. Satu kali turun saja sudah membuat lengan bergetar.

Aelria (dalam hati):

Satu gelang itu… dua puluh lima kilo per anggota tubuh.

Dua tangan, dua kaki… setara seratus kilo.

Ravien… kau gila menyuruh Rei menggunakannya dalam latihan…

Aelria merapikan posisi tangan Rei—memastikan siku dan pergelangan tidak salah tumpu.

Baru setelah itu ia menoleh pada Ravien.

Tatapannya tidak berteriak. Tapi dingin seperti pisau tipis.

Aelria :

"Aku tahu kau ingin dia kuat."

"Tapi jangan paksa dia seolah dia sendirian."

"Dia tidak pernah sendirian."

Ravien menatap balik.

Ravien :

"Karena dia tidak sendirian… dia tidak boleh jatuh jadi beban."

"Aku sedang menyelamatkannya dari hari ketika kalian tidak bisa melindungi dia."

Ravien melihat ponselnya—06.30.

Ravien :

"Aku pergi sebentar."

"Kalian jaga dia."

"Hitung dengan benar."

"Setelah selesai, istirahat lima menit."

"Lalu sit-up seratus."

Airi :

"Kau mau ke mana?"

Ravien menjawab tanpa menoleh—dingin untuk orang lain, tapi tetap bukan jawaban asal.

Ravien :

"Mandi."

"Bangunkan Hina."

"Bawa dia sarapan."

Lalu ia pergi.

Airi dan Aelria mengelilingi Rei seperti penjaga.

Airi :

"Ayo… Rei… satu… pelan-pelan…"

Aelria :

"Tarik napas… jangan paksa sekaligus… kau bisa."

Rei mendorong tubuhnya naik—satu.

Turun lagi—dua.

Setiap angka seperti memeras hidup.

Butuh tiga puluh menit untuk menyelesaikan seratus.

Saat selesai, Rei terkapar di pasir seperti baru pulang dari perang.

Waktu istirahat cuma lima menit.

Airi menyodorkan minuman, suaranya lembut tapi takut.

Airi :

"Kalau kamu tidak sanggup… sudahi saja… aku khawatir…"

Rei meneguk sedikit, lalu tersenyum lemah.

Rei :

"Tak apa… tinggal satu gerakan lagi."

Aelria mengusap keringat di wajah Rei dengan kain kecil, matanya tegas walau hatinya nyeri.

Aelria :

"Berjuanglah…"

"Kami ada di sini."

Di sisi lain…

Ravien kembali ke hotel. Ia mandi cepat, mengganti pakaian, lalu menatap jam: 07.00.

Ia berjalan ke kamar Hina.

Ketukan di pintu—tidak keras, tapi pasti.

Tak lama pintu terbuka.

Hina sudah rapi.

Rambut cokelat bergelombangnya ditata sederhana, mata lembutnya masih sedikit mengantuk, namun wajahnya… hangat.

Ravien mengulurkan tangan.

Senyumnya kecil—tidak ramai, tidak manis berlebihan, tapi cukup untuk membuat dada Hina berdetak lebih cepat.

Ravien :

"Ayo."

"Kita sarapan."

Hina menatap tangan itu sejenak, seolah takut ini mimpi yang akan hilang.

Hina :

"I-iya…"

Ia menggenggam tangan Ravien.

Mereka masuk lift.

Di dalam lift, Ravien berdiri dekat Hina, bahunya hampir menyentuh. Hina memeluk tas kecilnya, gemetar halus karena gugup—bukan takut, tapi malu bahagia.

Hina :

"Ravien… latihan Rei… gimana?"

"A-apa dia… baik-baik saja?"

Ravien menatap angka lantai turun satu-satu, suaranya lembut saat menyebut Rei—lebih lembut daripada suaranya kepada orang lain, tapi tetap tegas.

Ravien :

"Dia punya tekad."

"Tidak banyak orang yang bisa berdiri setelah jatuh seperti itu."

"Rei… akan bertahan hari ini."

Hina menelan napas, lalu berkata pelan—ada bayangan masa lalu di ujung kalimatnya.

Hina :

"Rei… memang kuat…"

"Kalau tidak… d-dulu… mungkin dia sudah…"

"…mengakhiri semuanya…"

Kata-kata itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang.

Ravien menoleh.

Tatapan Ravien tajam—bukan marah pada Hina, tapi pada sesuatu yang Hina belum ucapkan.

Ravien :

"Apa yang terjadi pada Rei?"

Hina refleks memalingkan wajah, ragu-ragu seperti takut membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup.

Hina :

"…T-tunggu… di restoran saja…"

"Aku… tidak mau bicara ini… di tengah jalan…"

Ravien tidak memaksa. Ia hanya mengangguk.

Ravien :

"Baik."

"Kau yang tentukan waktunya."

Lift terbuka.

Mereka keluar menuju restoran dekat hotel, langkah mereka pelan. Ravien sengaja menjaga jarak tubuhnya agar Hina nyaman—tidak terlalu menekan, tapi cukup dekat untuk membuat Hina merasa aman.

Begitu masuk restoran, pegawai menyambut ramah. Mereka sudah hafal: demon tinggi itu akan dingin pada siapa pun, tapi hari ini… matanya sedikit lebih "hangat" karena Hina di sampingnya.

Ravien menarik kursi untuk Hina.

Ravien :

"Duduk."

Hina duduk, pipinya memerah.

Hina :

"T-terima kasih…"

Hina memilih menu—tangannya sedikit gemetar saat menunjuk, tapi ia mencoba terlihat normal. Ravien membiarkan—tidak merebut menu kali ini.

Ravien (dalam hati):

Biarkan dia memilih.

Dia bukan boneka. Dia… rumah yang baru kupelajari.

Setelah pesanan dibuat, suasana hening sejenak.

Ravien menatap Hina dengan sabar—aneh, seorang Ravien bisa sabar.

Ravien :

"Sekarang… kau mau cerita?"

Hina menunduk, menyusun kata-kata seperti merangkai pecahan kaca.

Hina (dalam hati):

Kalau aku salah kata… aku takut luka itu terbuka lagi.

Hina menarik napas pelan, lalu mulai bercerita—tentang masa ketika Rei diperlakukan seperti tidak ada, ditertawakan, dijatuhkan… tentang seseorang yang membuat Rei merasa kecil, tentang hari-hari yang terlalu panjang, tentang rasa hancur yang tidak terlihat di luar.

Di akhir cerita, Hina menatap meja, suaranya bergetar.

Hina :

"…Itu… lebih kejam… dari masa lalu kamu…"

"Menurutku…"

Ravien diam.

Diamnya bukan kosong—diamnya berat.

Ada api dingin yang bergerak pelan di balik mata tajamnya.

Ravien :

"Hayato…"

"Yang beastskin itu…"

"Dia yang dulu menabrakmu?"

Hina mengangguk pelan.

Hina :

"I-iya…"

Ravien bersandar sedikit, suaranya rendah, penuh ancaman—bukan pada Hina.

Ravien :

"Kalau aku tahu lebih awal…"

"Dia pasti sudah… lebih hancur."

Hina tersentak.

Cepat-cepat ia meraih tangan Ravien—menahan bukan dengan tenaga, tapi dengan perasaan.

Hina :

"J-jangan…"

"Kalau kamu lakukan itu… kamu yang akan hancur…"

"Aku… t-tak mau…"

Ravien menatap tangan Hina yang menggenggamnya.

Lalu wajah Hina.

Dan amarah itu… mereda sedikit.

Ia tersenyum kecil, hanya untuknya.

Ravien :

"Tenang."

"Aku tidak akan membuatmu takut."

"Selama kau di sisiku… aku tidak akan tersesat sejauh itu."

Hina menelan napas, lalu tersipu.

Hina :

"A-aku… juga senang…"

"Kalau kamu… butuh aku…"

Makanan datang.

Mereka makan bersama—lebih pelan dari biasanya, lebih hangat dari biasanya.

Sesekali Ravien mengingatkan Hina agar tidak terburu-buru. Sesekali Hina menatap Ravien seperti tidak percaya ia benar-benar duduk di sini—di dunia yang dulu terasa dingin, kini ada tempat kecil yang hangat di hadapannya.

Setelah selesai, Ravien berdiri duluan, merapikan tas kecil Hina yang ia bawa.

Sora sudah muncul entah dari mana—melompat ringan ke pundak Ravien, lalu duduk nyaman seperti sudah mengklaim tempatnya.

Ravien melirik Sora sekilas.

Ravien (dalam hati):

Kau… penjaganya nanti.

Kalau aku jauh… kau tetap di dekatnya.

Hina merangkul lengan Ravien, menyender pelan.

Hina :

"K-kita… ke pantai?"

Ravien menatapnya—senyum hangatnya muncul lagi, tipis tapi nyata.

Ravien :

"Iya."

"Ayo."

Dan mereka berjalan keluar restoran—menuju pantai, menuju ombak, membawa pagi yang pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lebih terang.

More Chapters