Cherreads

Chapter 130 - Bab 130: Senja, Ombak, dan Janji yang Diam-Diam Mengikat

Mereka keluar dari restoran dengan perut hangat dan hati yang lebih ringan—langkah berderap di trotoar, disambut angin pantai yang sejak tadi seperti memanggil dari kejauhan.

Riku sudah membayar semuanya seperti biasa—tenang, rapi, tanpa banyak bicara. Setelah itu, rombongan kecil itu bergerak bersama: Rei, Airi, Aelria, Rika, Rinna, Riku, Seris, dan si kembar Noelle serta Nerine.

Di sepanjang jalan, pemandangan mereka… terlalu "tidak adil" bagi orang-orang yang kebetulan lewat.

Rei digandeng di dua sisi—Airi di kanan, Aelria di kiri.

Riku berjalan berdampingan dengan Rika—kadang tangan mereka bersentuhan, kadang Rika menempelkan bahu seperti sedang mengisi kekosongan yang dulu ia takutkan.

Beberapa orang menoleh. Ada yang menahan senyum iri. Ada yang berbisik pelan. Ada yang menatap Rei seolah bertanya, manusia berambut putih itu… kenapa hidupnya seperti poster romansa?

Di belakang, Noelle melangkah seperti bayangan—wajahnya datar, ekspresi "capek hidup", namun matanya tak pernah benar-benar lepas dari dua pasangan di depan.

Nerine :

"Bukan dua."

Noelle melirik malas.

Noelle :

"…"

Nerine menyeringai, gesturnya besar seolah sedang menyebut hal yang sangat lucu.

Nerine :

"Tiga. Tapi yang satu lagi bisa jaga diri sendiri."

Rinna tertawa kecil, telinga serigalanya bergerak.

Rinna :

"Yang itu? Iya… kalau perlu, ombaknya yang bakal minta maaf."

Seris berjalan agak menunduk, namun saat nama itu terlintas, dadanya menghangat.

Seris (dalam hati):

Benar… Kak Ravien bisa menjaga wanita-nya sendiri. Bahkan terlalu… bisa.

Mereka sampai di pantai ketika siang mulai turun ke sore.

Hamparan pasir membentang, butiran halusnya memantulkan cahaya. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin yang bersih. Suara ombak menggulung dan pecah—ritmenya seperti detak jantung yang selalu sabar, selalu kembali.

Rinna langsung menendang pasir dengan kaki telanjang, lalu menyipitkan mata ke arah air.

Rinna :

"Ah… ini baru liburan."

Nerine sudah setengah berlari, mencipratkan air ke arah siapa pun yang dekat.

Nerine :

"Ayo! Jangan cuma jadi patung—hidup itu harus ada percikan!"

Noelle tidak bergerak banyak. Ia hanya mengangkat tangan sedikit—sebuah garis sihir halus melintas, membelah cipratan air Nerine jadi dua… tepat sebelum mengenai Rei.

Noelle :

"Jangan basahi yang lemah."

Rei menatapnya, lalu tertawa pelan.

Rei :

"Aku dengar itu pujian."

Noelle menghela napas kecil, seperti ya sudahlah, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis—hampir tak terlihat.

Mereka bermain: pasir menempel di kaki, suara tawa beradu dengan ombak, dan untuk sesaat… dunia terasa sederhana.

Rei berdiri sedikit jauh dari air, memandangi garis horizon. Langit biru luas, seolah tidak ada perang, tidak ada darah, tidak ada monster—tidak ada beban yang memaksa seseorang menjadi kuat.

Rei (dalam hati):

Kalau seperti ini terus… aku bisa pura-pura jadi orang normal. Bangun, sekolah, pulang, tertawa. Tanpa harus menghitung berapa nyawa yang masih tersisa.

Aelria memperhatikan Rei dari samping. Cara Rei memandang laut… seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak malam.

Aelria :

"Rei… kamu senang liburan bareng kami?"

Rei menoleh, senyumnya lembut.

Rei :

"Senang. Bahkan… terlalu senang."

"Kadang aku berpikir… aku ingin momen ini bertahan selamanya."

"Permintaan yang egois, ya."

Airi mendekat, memeluk lengan Rei dengan dua tangan—gerak kecil, tapi tegas.

Airi :

"Tidak apa-apa egois… kalau itu tidak menyakiti siapa pun."

Rei menunduk, seolah menimbang kata-kata itu.

Rei :

"…Benar. Selama tidak ada yang tersakiti."

Aelria menatap pantai, lalu kembali menatap Rei—ada sesuatu yang mengganjal.

Aelria :

"Kalau soal Ravien dan Hina… menurutmu, Ravien bisa benar-benar menjaga Hina?"

Rei mengingat satu momen yang masih jelas di kepalanya—di perlombaan, saat amarah Ravien naik seperti badai.

Rei :

"Tidak perlu cemas."

"Ravien bukan cuma kuat. Dia… punya batas."

"Dan batas itu bernama Hina."

Airi mengangguk, suaranya sedikit lebih pelan.

Airi :

"Benar… sejak Ravien ada… Hina seperti… melepas topeng."

Aelria berkedip.

Aelria :

"Topeng…?"

Airi menatap pasir, seperti memilih kata yang tidak melukai.

Airi :

"Hina selalu tersenyum… tapi bukan senyum yang bebas."

"Dia baik… tapi sering seperti… menahan sesuatu."

"Topengnya bukan untuk menyakiti kita… tapi untuk menutupi lukanya sendiri."

Rei menambahkan, suaranya tenang, namun ada berat di ujungnya.

Rei :

"Kadang orang paling lembut… justru paling terbiasa menahan sakit."

"Aku rasa, masa lalunya… belum kita tahu."

"Tapi sekarang… Ravien membuatnya berani jujur, sedikit demi sedikit."

Aelria menunduk, dan tanpa sengaja… kata yang tertimbun lama meluncur keluar, pahit, tajam.

Nama itu melintas begitu saja—seperti duri yang tidak pernah benar-benar tercabut.

Aelria :

"Aku… takkan memaafkan kau, Mina… sampai kapan pun."

Hening sesaat.

Rei tidak bertanya. Ia tidak menekan luka itu. Ia hanya mengangkat tangan, mengelus rambut Aelria perlahan—sentuhan yang berkata, aku di sini, tanpa perlu kalimat panjang.

Rei :

"Tidak perlu dipikirkan sekarang."

"Biarkan itu jadi masa lalu."

Airi ikut menahan napas, lalu berkata pelan—ada getar marah yang lama ia simpan.

Airi :

"Tapi… memang dia sulit dimaafkan."

"Rei… dulu kamu jadi seperti itu… hanya karena kamu tidak punya kekuatan."

"Aku bersyukur kamu tidak di sekolah lama lagi."

"Dan… aku senang kamu tidak menyapa Mina saat lomba."

Rei memejamkan mata sebentar, lalu tersenyum tipis.

Rei :

"Tidak apa."

"Selama aku punya kalian… yang jadi pilar… aku sudah cukup."

"Aku tidak butuh masa lalu untuk membuktikan siapa diriku."

Airi dan Aelria menatap Rei—serempak, seolah nama itu jadi doa.

Airi & Aelria :

"Rei…"

Mereka memeluk lengan Rei lebih erat—dua sisi, dua jangkar.

Aelria :

"Baik… tapi jangan sampai kamu terluka lagi."

Airi :

"Kami… tidak mau kehilanganmu."

Rei mengangguk, lalu menepuk tangan seperti mengusir suasana berat.

Rei :

"Ayo main lagi."

"Aku punya firasat… besok bakal berat."

Rinna menyenggolnya.

Rinna :

"Wah, itu kalimat orang yang mau diseret latihan."

Noelle, malas-malasan, menambahkan:

Noelle :

"Pasti."

Nerine :

"Kalau berat, kita ledakkan saja!"

Noelle :

"Jangan."

Mereka tertawa lagi.

Sore turun perlahan. Langit mulai berwarna jingga, matahari menurunkan panasnya menjadi lembut. Mereka akhirnya duduk berkumpul di pasir, menunggu sunset—momen yang selalu terasa seperti halaman terakhir sebuah buku.

Seris dan Rinna berinisiatif membeli minuman, lalu kembali setelah beberapa menit.

Dan ketika mereka kembali…

ada dua sosok lain yang menyusul dari arah jalan pantai.

Ravien dan Hina.

Hina merangkul lengan Ravien, kepalanya bersandar di pundaknya—seakan di sanalah tempat pulangnya. Sora bertengger di pundak Ravien yang lain, terlihat seperti raja kecil yang ikut mengawasi dunia.

Rei tersenyum melihat pemandangan itu.

Rei :

"Gimana kencannya?"

Ravien duduk beberapa langkah dari Rei, Hina di sampingnya. Ia menatap laut sebentar, lalu menjawab tanpa banyak gaya—dingin di luar, hangat karena menyebut satu nama.

Ravien :

"Cukup menyenangkan."

"Aku bisa lihat wanita-ku tersenyum."

Rei mengangguk.

Rei :

"Syukurlah."

"Dan… Ravien."

"Tolong jaga Hina."

Ravien menoleh, tatapannya tajam, namun tidak menolak.

Ravien (dalam hati):

Aku akan menjaganya… walau harus melawan semua ras.

Ia tidak berkata itu keras-keras. Tapi Hina merasakan sesuatu dari cara Ravien menggenggam lengannya sedikit lebih kuat.

Mereka menikmati sunset bersama—jingga memancar di laut, ombak memantulkan cahaya seperti serpihan emas.

Lalu malam datang.

Saat mereka berjalan kembali ke hotel, Riku menyarankan sesuatu yang terdengar sederhana tapi menyelamatkan.

Riku :

"Kita makan dulu."

"Kalau sudah naik nanti… malas turun lagi."

Semua setuju.

Hina menatap Ravien, lalu mengetik sesuatu di ponsel—jari-jarinya kecil dan ragu, tapi berani.

Hina (pesan):

"Aku tidak mau mereka cuma membayangkan… aku ingin mereka merasakan juga."

Ia menyodorkan ponsel pada Ravien. Ravien membaca, lalu menatap Hina sebentar—senyum tipis muncul, hangat, jelas hanya untuknya.

Ravien :

"Baik."

"Kalau itu kemauanmu… aku turuti."

Aelria melirik, setengah iri.

Aelria :

"Ya ampun… pilih kasihnya terang-terangan."

Seris menutup mulut, menahan tawa.

Noelle, datar.

Noelle :

"Wajar."

Nerine :

"Wajar dari mana?! Itu sudah level 'ketahuan banget'!"

Mereka tiba di restoran. Pegawai menyambut rombongan Riku dengan wajah campur aduk: senang karena pelanggan VIP kembali… namun tegang begitu melihat Ravien.

Tetap profesional, mereka mengantar ke meja yang dulu dipakai acara ulang tahun.

Di tengah jalan, Ravien melepas rangkulan Hina.

Ravien :

"Kau duduk dulu."

"Tunggu."

Hina mengangguk cepat, suaranya gemetar halus.

Hina :

"I-iya…"

Ravien berjalan sendiri menuju dapur.

Begitu pintu dapur terbuka, head kitchen menegang. Para koki lain saling pandang—mereka masih ingat semalam.

Ravien memanggil head kitchen dengan suara rendah, dingin.

Ravien :

"Siapkan lima koki terbaikmu."

"Bantu aku."

Head kitchen menelan napas. Ia memilih empat koki terbaiknya dan dirinya sendiri. Sisanya disuruh keluar.

Ravien mengambil pulpen dan kertas—geraknya cepat, rapi. Ia menulis instruksi: waktu, suhu, urutan bumbu, teknik panggang, cara plating. Lalu ia menyerahkannya tanpa penjelasan panjang.

Ravien :

"Ikuti kertas itu."

"Kalau salah—ulang."

Tidak ada yang berani membantah.

Di lemari bahan, Ravien memeriksa stok. Di antara bahan biasa, ia menemukan beberapa hati angsa—jelas bukan untuk pelanggan umum, melainkan stok impor untuk tamu tertentu.

Tanpa ragu, ia mengambilnya. Begitu wajan panas menyentuh mentega, aroma bawang dan rempah segera naik, memenuhi dapur. Ravien bergerak seperti seseorang yang hafal medan perang—bedanya, perang kali ini adalah rasa.

Sihirnya bekerja halus. Api bukan sekadar panas—api itu patuh. Udara bukan sekadar angin—udara itu menahan aroma agar tidak kabur.

Di meja, Hina duduk dengan gugup.

Hina :

"K-kalian… tidak usah pesan… Ravien… mau buat sesuatu…"

Mereka menatap Hina seperti menatap keajaiban kecil.

Rinna :

"…Hina. Kamu ini… hebat."

Rika mengangguk cepat.

Rika :

"Iya… aku bahkan tidak pernah lihat Ravien segiat itu."

Seris menunduk, tersenyum pahit-manis.

Seris (dalam hati):

Kak Lirya… lihatlah… dia menuruti seseorang. Bahkan kau pun dulu sulit.

Noelle menatap lurus.

Noelle :

"Dia tidak akan melakukan ini kalau bukan karena Hina."

Nerine menepuk bahu Hina keras-keras.

Nerine :

"Selamat! Kamu berhasil membuat demon paling sombong jadi pelayan pribadi!"

Hina hampir jatuh dari kursi, wajahnya memerah.

Hina :

"J-jangan bilang begitu…!"

Dua puluh menit kemudian, pintu dapur terbuka.

Ravien keluar membawa dua piring—satu untuk dirinya, satu untuk Hina.

Ia menaruh piring Hina perlahan, seolah itu barang paling penting di ruangan. Nadanya lembut, jelas berbeda dari suaranya di dapur.

Ravien :

"Makan pelan-pelan."

"Jangan terburu-buru."

"Kalau terlalu panas, tunggu."

"Aku tidak mau kau tersedak hanya karena senang."

Hina menatapnya—mata lembutnya bergetar.

Hina :

"…i-iya…"

Ravien duduk tepat di depan Hina, agar ia bisa melihat wajah Hina saat makan.

Sementara itu, para pelayan datang membawa hidangan lain—menu restoran yang sama… namun aromanya berbeda. Lebih tajam, lebih dalam, lebih "hidup".

Riku mengangkat alis setelah mencium aromanya.

Riku :

"…Ini… beda."

Rinna mencoba satu suap—matanya membesar.

Rinna :

"Ini… gila enak."

Aelria menutup mulut.

Aelria :

"Ini bukan menu yang tadi pagi."

Ravien menanggapi dingin, seperti biasa saat bicara pada orang lain.

Ravien :

"Itu bukan aku yang masak."

"Mereka yang masak."

"Aku cuma mengajari."

Mereka agak kecewa—tapi rasa di lidah membuat kecewa itu hilang.

Nerine langsung menyuap cepat.

Nerine :

"Kalau ini cuma 'mengajari'… aku takut kalau yang masak beneran!"

Noelle memakan dengan tenang, lalu berkata datar.

Noelle :

"Dia memang berlebihan."

Di tengah makan, Ravien menatap Rei—tatapan itu pendek, tapi artinya tegas.

Ravien :

"Rei."

"Besok… siap latihan."

Rei menghela napas, senyum tipis.

Rei :

"Benar… firasatku."

"Besok akan jadi hari yang berat."

Aelria langsung tegang.

Aelria :

"Tapi—"

Ravien memotong dingin, namun tetap rasional.

Ravien :

"Tidak usah khawatir."

"Dari yang kudengar… Rei punya sesuatu di dalam dirinya."

"Artinya, dia mampu."

"Lagipula ini hanya pemanasan."

"Latihan sesungguhnya… mulai saat sekolah nanti."

"Persiapkan dirimu, Rei."

Airi menggenggam tangan Aelria, menenangkan.

Airi :

"Onee-chan… Rei pasti bisa."

Hina menahan napas, lalu menyentuh tangan Ravien—lembut, seperti memohon tanpa menyuruh.

Hina :

"J-jangan… terlalu keras…"

Ravien menatap Hina. Suaranya turun, berubah lagi—hangat khusus untuknya.

Ravien :

"Aku tahu batasnya."

"Aku tidak akan menghancurkan orang yang kau pedulikan."

"Tenang."

Hina mengangguk pelan, lega.

Setelah makan selesai, mereka hendak membayar.

Namun manajer restoran datang, membungkuk dalam-dalam, wajahnya serius tapi penuh rasa syukur.

Manajer :

"Maaf… untuk makan malam ini kami tidak menerima pembayaran."

"Dan… kami ingin memberi perlakuan khusus."

"Mulai hari ini… rombongan kalian… akan kami gratiskan selama restoran ini masih berdiri."

"Karena… resep dan teknik malam ini… membuat pelanggan kami… kembali percaya pada restoran ini."

Semua terdiam.

Riku refleks ingin protes, namun melihat manajer yang hampir menangis bahagia, ia hanya menelan kata-katanya.

Rika berbisik pelan.

Rika :

"Ini… efek Ravien…?"

Aelria menatap ke arah Ravien yang sudah berdiri lebih dulu, membawa belanjaan Hina—Sora masih nyaman di pundaknya.

Mereka berkata serempak, setengah tertawa, setengah kagum.

Rinna / Nerine / Seris :

"Terima kasih, Ravien…"

Ravien melambaikan tangan tanpa menoleh—dingin seperti biasa, namun langkahnya menuju Hina tetap penuh kepastian.

Ravien :

"Ayo pulang."

Hina menempel di sisinya, dan mereka berjalan lebih dulu ke arah hotel—membawa malam yang hangat, membawa senyum yang tidak lagi harus disembunyikan.

Dan di belakang, Rei menatap punggung mereka… lalu menatap langit.

Rei (dalam hati):

Kalau besok benar berat… aku harus kuat.

Aku… tidak boleh runtuh.

Karena sekarang… ada banyak orang yang menyebut namaku sambil berharap.

More Chapters