Cherreads

Chapter 129 - Bab 129: Jejak Dua Dunia di Tengah Keramaian

Langkah mereka menyatu di trotoar yang menuju pusat kota—Ravien berjalan tenang dengan satu lengan merangkul pinggang Hina, menariknya dekat seolah dunia di luar sana boleh ramai, tetapi jarak di antara mereka tidak boleh ada.

Di sekitar mereka, udara siang hangat—aroma garam laut masih menempel samar dari arah pantai, bercampur wangi kopi dari kafe-kafe kecil dan asap makanan dari gerobak jalanan. Orang-orang berlalu-lalang: manusia, beastskin, beberapa ras lain yang sudah biasa hidup berdampingan di dunia ini.

Namun… demon?

Itu bukan pemandangan biasa.

Banyak mata mencuri pandang—ada yang kagum, ada yang iri, ada yang menahan napas. Bukan semata karena Hina cantik—melainkan karena demon itu berjalan di sisinya… seolah melindungi adalah hal yang wajar.

Hina menyender pelan pada tubuh Ravien, merasakan hangat yang aneh—hangat yang bukan dari matahari. Detak jantungnya masih sedikit tidak teratur setiap kali lengan Ravien menguat di pinggangnya.

Hina :

"R-Ravien… kita… mau ke mana…?"

Ravien berhenti sejenak, matanya menyapu jalan seperti sedang memilih arah—taman, pantai… lagi-lagi itu saja. Ia mendecakkan lidah pelan, bukan kesal pada Hina, melainkan pada dirinya sendiri yang terasa bodoh karena tak punya ide selain tempat yang sama.

Ravien (dalam hati):

Aku selalu menyeretnya ke tempat yang sunyi… seolah kebahagiaan hanya pantas sembunyi. Padahal dia layak tertawa di mana pun.

Ravien mengangkat tangannya—sekali gerak, tegas.

Ravien :

"Kita keluar dari lingkaran itu. Ikut."

Ia memanggil taksi dengan singkat. Kebetulan, sopirnya beastskin—telinga hewan itu sedikit bergerak saat melihat wajah Ravien.

Di depan pintu taksi, Ravien membuka pintu lebih dulu, menuntun Hina masuk seolah itu hal yang paling wajar di dunia. Hina menelan ludah, tersipu.

Hina :

"…t-terima kasih…"

Ravien masuk menyusul, lalu tanpa basa-basi menatap kaca depan.

Ravien :

"Ke mal."

Sopir mengangguk cepat. Ada jeda beberapa detik yang canggung, seperti ia ingin bertanya namun takut salah kata.

Di perjalanan, Ravien menarik Hina agar bersandar pada pundaknya. Dengan telapak tangan yang biasanya dingin dan keras, ia mengelus kepala Hina pelan—lembut, hati-hati… seolah Hina adalah sesuatu yang rapuh tapi berharga.

Di bahu Ravien, Sora ikut menumpang—makhluk kecil itu bertengger manis, telinga panjangnya bergoyang-goyang, matanya bening seperti kaca memantulkan cahaya jalanan.

Sopir akhirnya memberanikan diri.

Sopir :

"E-eh… maaf, Tuan… kalian bukan orang sini ya? Soalnya… jarang sekali—"

Ravien menatapnya lewat pantulan kaca, suara datar.

Ravien :

"Jalan saja."

"Pertanyaanmu tidak penting."

Sopir langsung diam, menelan napas. Tapi di sudut matanya ia sempat melirik—melihat tangan Ravien tetap mengelus kepala Hina seperti menenangkan. Ia bergumam kecil dalam hati,

Sopir (dalam hati):

Ternyata demon itu… tidak sepenuhnya seperti cerita orang-orang.

Dua puluh menit kemudian, mereka tiba.

Ravien turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Hina.

"Tunggu sebentar," katanya singkat.

Di depan mereka Mal menjulang dengan kaca dan lampu, pintu otomatis membuka dengan hembusan udara sejuk yang menyapu kulit. Keramaian menyambut: tawa, langkah sepatu, suara iklan, aroma roti panggang dan gula karamel.

Hina memeluk lengan Ravien, sedikit mengencangkan pegangan saat beberapa orang menoleh lagi—lebih terang, lebih jelas, lebih dekat.

Ravien tidak peduli pada tatapan itu. Ia hanya menyesuaikan langkahnya agar Hina nyaman, lalu tiba-tiba berhenti di depan toko es krim.

Hina sempat menatap etalase… tapi menahan diri untuk tidak menunjuk.

Ravien melihatnya sekali—dan itu cukup.

Ravien :

"Kau ingin."

Hina :

"E-eh… n-nggak… maksudku… kalau—"

Ravien memotong lembut, bukan kasar.

Ravien :

"Tidak perlu menahan hal kecil. Pilih saja."

Merasa Ravien sudah menangkap keinginannya, Hina akhirnya mengangguk.

Lalu Ravien memesan cokelat untuk dirinya. Lalu menunduk pada Hina, suaranya turun, lebih hangat.

Ravien :

"Kau mau rasa apa?"

Hina ragu, suaranya gemetar kecil.

Hina :

"…s-strawberry…"

Ravien mengangguk.

Ravien :

"Baik."

Pegawai tersenyum, lalu setelah membayar, ia menyerahkan dua es krim… dan satu gantungan kunci bonus.

Pegawai :

"Ini bonus promo pasangan, Kak. Kalian cocok banget."

Hina langsung memerah sampai ke telinga.

Hina :

"Ka-kami…!"

Ravien mengambil gantungan itu begitu saja, tanpa menyangkal, tanpa menjelaskan. Ia hanya menyelipkannya ke kantong.

Hina menatap kantong Ravien sekilas, pipinya makin panas.

Ia tidak berani bertanya… tapi ia berharap gantungan itu tidak dibuang.

Ravien menaruh es krim strawberry ke tangan Hina.

Ravien :

"Kalau ada yang kau mau, katakan saja"

"Aku akan dengar."

"Aku tidak suka menebak-nebak dari tatapanmu terus."

Hina mengangguk cepat, malu, tapi bahagia.

Mereka berjalan sambil makan es krim. Sora di bahu Ravien kadang mengeluarkan suara kecil lucu, seperti ikut senang melihat tuannya tersenyum terus.

Di tengah jalan, Hina menatap Ravien lama—bukan karena ingin sesuatu… tapi karena ia masih tidak percaya hari ini nyata.

Ravien menoleh.

Ravien :

"Ada apa? Wajahku aneh?"

Hina menggeleng cepat.

Hina :

"B-bukan… a-aku cuma…"

Ravien, salah paham, menyodorkan es krim cokelatnya.

Ravien :

"Kau mau coba? Kalau itu yang kau pikirkan."

Hina terkejut, lalu menyicip pelan—satu gigitan kecil.

Hina (dalam hati):

Manis… tapi bukan es krimnya yang membuat dadaku hangat. Ini… karena dia menawariku sesuatu yang miliknya. Seolah aku… sudah termasuk 'rumah'.

Hina membalas, menyodorkan es krim strawberry-nya.

Hina :

"…k-kalau begitu… Ravien juga… coba…"

Ravien menyicip sekali, lalu mengangguk tipis.

Ravien :

"Enak."

Orang-orang di sekitar yang melihat momen itu mendadak menunduk pada ponsel atau pura-pura tidak memperhatikan—padahal jelas, mereka iri.

Ravien pun membawa Hina ke toko pakaian.

Hina langsung panik begitu mendengar kalimat berikutnya.

Ravien :

"Pilih."

Hina :

"E-eh?! N-nggak… aku… aku nggak perlu…"

Ravien menatapnya—dingin di luar, namun nada suaranya tidak menyakiti.

Ravien :

"Ini permintaan maafku. Aku tidak suka meninggalkan hutang… termasuk hutang perasaan."

Hina menelan ludah, tak bisa membantah namun hatinya terasa lebih hangat.

Pegawai toko mendekat ramah.

Pegawai :

"Selamat siang! Mencari pakaian seperti apa, Kak?"

Ravien menjawab tanpa ragu, datar tapi tegas.

Ravien :

"Carikan yang paling cocok untuk wanitaku."

Hina hampir tersedak napas.

Hina :

"W-wanita…!"

Pegawai itu tampak sangat profesional—tapi matanya berbinar. Ia mengajak Hina memilih, membawa beberapa gaun dan pakaian yang cocok. Hina masuk ruang ganti, jantungnya masih berdebar.

Saat Hina keluar dengan gaun sederhana tapi elegan—warna lembut yang membuat kulitnya terlihat hangat, pinggangnya tampak manis, rambut cokelat bergelombang jatuh rapi—Ravien… membeku.

Hingga sepuluh detik.

Seolah demon yang biasanya tidak peduli pada dunia tiba-tiba lupa cara bernapas.

Pegawai :

"Bagaimana, Tuan? Cocok?"

Ravien akhirnya menjawab, suara berusaha stabil.

Ravien :

"…Tidak buruk."

Ia mengalihkan pandang sebentar.

Ravien :

"Aku beli."

Pegawai tersenyum lebar.

Proses itu berulang—pakaian demi pakaian. Hina semakin lama semakin malu, karena setiap kali keluar, Ravien menatapnya seperti… menahan sesuatu yang tidak ingin ia perlihatkan pada siapa pun.

Akhirnya, saat pegawai hendak membawa pakaian lain, Ravien mengangkat tangan.

Ravien :

"Cukup."

Pegawai :

"Eh? Tapi masih ada yang—"

Ravien menatapnya tajam—sorotnya membuat pegawai menelan ludah.

Ravien :

"Aku tidak kuat melihatnya terus seperti itu."

Hina tercekat.

Pegawai… lalu tertawa kecil, menutup mulut sopan.

Pegawai :

"Baik, Tuan. Saya mengerti."

Ravien :

"Bungkus semuanya."

Pegawai hampir melompat kegirangan.

Saat kantong belanja menumpuk, Ravien menatap jam—bukan karena terburu-buru, tapi karena ingin mengisi hari Hina sampai penuh.

Hina sempat ragu di depan poster film, lalu Ravien berdiri di sampingnya seperti keputusan.

Di dalam bioskop, lampu redup. Hina bersandar pada pundak Ravien. Sora tertidur di bahu Ravien, ekornya bergerak pelan mengikuti napas.

Saat adegan ciuman muncul di layar, Hina mendadak menegang.

Hina (dalam hati):

Pintu kamar… ciuman singkat itu… rasa hangat yang membuatku gemetar… kenapa adegan film saja bisa membuat pipiku panas begini…

Hina menutup wajahnya.

Ravien menoleh pelan.

Ravien :

"Kau kenapa?"

Hina :

"N-nggak… a-aku tidak apa-apa…"

Suara kecil, malu, bergetar.

Ravien tidak memaksa. Ia hanya menyandarkan kepala sedikit, membiarkan Hina tetap aman dalam gelap bioskop.

Usai film, Hina tersenyum puas, seperti anak kecil yang akhirnya mendapat sesuatu yang lama ia simpan dalam mimpi.

Hina :

"A-aku… senang… sekali…"

Ravien menatapnya, lalu mengusap puncak kepalanya.

Ravien :

"Kalau kau senang… itu cukup."

Keluar dari bioskop, perut Hina baru menyadari lapar—dan Ravien sudah mengarahkan langkah ke restoran terdekat.

Mereka makan siang. Di meja makan, Ravien diam-diam memperhatikan Hina.

Ada sedikit saus menempel di sudut bibir Hina.

Tanpa berpikir panjang, Ravien mengulurkan jari, mengambilnya… lalu memasukkannya ke mulut sendiri, seolah itu hal biasa.

Ravien :

"Pelan-pelan. Kau selalu terburu-buru saat bahagia."

Hina memerah habis.

Hina (dalam hati):

Dia… melakukan hal kecil yang membuatku merasa… dipilih. Seolah aku bukan beban, bukan 'manusia biasa'… tapi seseorang yang layak dijaga.

Sore menjelang, Ravien memanggil taksi lagi. Namun di perjalanan pulang, Hina meminta berhenti di taman.

Mereka turun di taman yang sudah akrab—bangku yang sama, angin yang sama, burung yang sama. Tapi hari ini berbeda: di samping Hina ada belanjaan, di bahunya ada Sora, dan di sisinya… ada Ravien yang tidak pergi.

Ravien menaruh kantong belanja di sebelah bangku.

Hina menyenderkan kepala ke bahu Ravien. Suaranya kecil, seperti takut kata-kata ini menguap kalau terlalu keras.

Hina :

"R-Ravien… hari ini… mungkin… hari paling bahagia dalam hidupku…"

Ravien menatap langit sebentar, lalu menurunkan pandang ke Hina.

Ravien :

"Kalau itu benar… maka aku akan memastikan kau punya hari-hari seperti ini lebih banyak. Aku tidak pandai bicara manis… tapi aku pandai menepati."

Hina menggenggam tangan Ravien erat—tak mau lepas.

Hina (dalam hati):

Kalau kebahagiaan adalah angin, aku ingin menggenggamnya seperti ini… di antara jari-jariku. Dan kalau kebahagiaan bernama 'Ravien'… aku tidak ingin dia pergi.

Sora tertidur di pangkuan Hina, ekornya bergerak pelan seperti jam kecil yang berdetak lembut.

Di taman itu, dunia terasa sunyi—bukan karena tidak ada orang, tetapi karena untuk pertama kalinya… Hina merasa ia tidak sendirian, bahkan ketika diam.

Dan Ravien—demon yang dulu hanya percaya pada jarak—kini membiarkan satu manusia kecil bersandar di bahunya… seolah itu adalah tempat yang memang diciptakan untuknya.

More Chapters