Cherreads

Chapter 128 - Bab: Kilas Balik di Pusat Kota — Bayangan yang Menatap Balik

Pagi itu, Nyra bangun lebih cepat dari matahari.

Udara masih dingin ketika ia selesai mandi. Ia menyisir rambut panjangnya hingga jatuh rapi melewati punggung—lurus, lembut, dengan kilau hangat seperti cokelat gelap yang dipeluk cahaya. Telinga rubahnya bergerak pelan saat ia memasang jepit kecil agar helaian depan tidak mengganggu pandangan.

Ia memilih pakaian yang tidak mencolok: kemeja sederhana berwarna netral, rok panjang yang mudah dipakai bergerak, sepatu yang tidak berisik saat melangkah. Ia menutup aroma tubuhnya dengan sedikit minyak wangi tipis—bukan untuk menarik perhatian, melainkan untuk menyamarkan identitas rasnya dari hidung yang terlalu peka.

Nyra (dalam hati):

Hari ini… aku tidak boleh pulang dengan tangan kosong.

Energi anomali itu meninggalkan bekas.

Dan rubah… hidup dari jejak.

Ia keluar dari kamar 201 Sakura-so, menuruni tangga, dan berjalan menuju pusat kota.

—Titik Energi yang Menggigilkan Kulit

Kota sudah ramai. Suara kendaraan dan langkah kaki bercampur menjadi satu aliran yang tak pernah berhenti. Nyra berdiri di antara keramaian itu—terlihat seperti seorang wanita biasa… hanya saja ekor rubahnya disembunyikan rapi di balik mantel tipis yang ia pakai.

Ia menutup mata.

Mengulurkan indera.

Mencari "rasa" yang salah.

Beastskin rubah dikenal dengan ilusi—tapi Nyra dibekali satu kelebihan lain: resonansi energi.

Ada getaran yang tidak seharusnya ada di dunia manusia. Seperti noda tinta di atas kain putih.

Nyra mencoba dengan perlahan, mengikuti tarikan samar… hingga langkahnya berhenti di sebuah gang yang kini tampak normal, tapi masih menyimpan sisa ketakutan di udara.

Nyra (dalam hati):

Di sini.

Bekasnya masih ada… tipis, tapi hidup.

Ia masuk ke gang itu, menelusuri sisa energi yang masih menempel—tipis, namun hidup.

Di ujung gang, Nyra berhenti. Dengan ujung jari, ia menyentuh permukaan dinding yang terasa "dingin" bagi sihir.

Ia menutup telinga dari bising kota, lalu mengalirkan mantranya—perlahan, hati-hati.

Kemampuan Nyra bukan sekadar ilusi. Ia dapat memaksa ruang untuk menunjukkan cuplikan kecil dari masa lalu—seperti serpihan kaca yang memantulkan adegan.

Dan dunia pun bergetar.

—Cuplikan: Tudung, Bisik, dan Pintu yang Terbelah

Gambar pertama muncul dalam kepalanya: jalanan yang sama… tetapi lebih kosong, lebih tegang.

Beberapa sosok berdiri di dalam gang—mereka memakai tudung. Wajah tak terlihat. Suara mereka teredam seperti dibungkus kabut.

Nyra mencoba mendengar.

Potongan kata masuk-putus, tidak utuh.

Lalu—salah satu dari mereka mengangkat tangan.

Gerakannya tenang.

Terlalu tenang untuk seseorang yang akan memanggil bencana.

Sebuah retakan dimensi terbuka di tengah kota.

Dan dari sana—keluar monster.

Bukan monster biasa.

Wujudnya seperti campuran daging dan bayangan, dengan aura yang membuat udara terasa berat. Energinya menekan… bahkan dalam kilas balik. Nyra merasakan bulu halus di tengkuknya berdiri.

Nyra (dalam hati):

Ini… bukan sekadar monster.

Ini seperti… sesuatu yang dipaksa lahir.

Seperti luka yang disobek menjadi pintu.

Monster itu mengamuk. Suara jeritan, debu, bangunan yang retak—cuplikan itu bergerak cepat, melompat-lompat seperti ingatan yang tidak mau dipandang terlalu lama.

Lalu terdengar satu kalimat—jelas.

Sosok bertudung :

"Dengan ini saja… seharusnya sudah cukup untuknya."

Nyra tersentak.

Kata "untuknya" terasa seperti paku.

Nyra (dalam hati):

Untuk siapa?

Siapa targetnya…?

Namun saat ia memaksa menajamkan kilas balik—mencari wajah di balik tudung—ruang itu menolak.

Tekanan dingin menghantam balik, begitu berat sampai membuat lututnya lemas.

Karena… salah satunya menoleh, seolah tahu ada yang mengintip dari masa depan.

Walau itu hanya cuplikan, Nyra merasa tatapan itu menembus waktu.

Jantungnya berdetak keras. Keringat dingin mengalir di pelipis.

Nyra (dalam hati):

Tidak… ini bukan penolakan biasa.

Ini seperti… peringatan.

Kalau aku memaksa… aku bisa retak duluan.

Ia memutus sihirnya.

Kilas balik hancur seperti asap.

Nyra berdiri di dalam gang yang sudah kembali normal—namun tubuhnya gemetar halus, seperti baru keluar dari tepi jurang.

Ia menunduk, menahan napas panjang.

Nyra (dalam hati) :

Mereka… terlalu kuat.

Dan mereka membuat monster itu… bukan untuk kerusuhan.

Mereka ingin… sesuatu terjadi pada 'dia'.

Tapi siapa 'dia' yang mereka maksud.

Dan satu nama muncul di pikirannya—nama yang sekolah sembunyikan.

Rei.

—Sekolah: Nama yang Dipuji, Tapi Disimpan

Nyra kembali ke sekolah.

Kali ini bukan lewat jalur resmi, bukan lewat pintu depan seperti kemarin.

Ia memakai ilusi tipis—cukup untuk membuat orang-orang melewatkannya tanpa benar-benar "melihat."

Di lorong, halaman, kantin—murid-murid membicarakan hal biasa. Tapi kadang, ia menangkap potongan percakapan:

Murid :

"Kalau bukan Rei… waktu itu kita…"

"Dia beneran manusia biasa, tapi…"

Murid lain :

"Rei itu aneh… tapi baik."

"Dia nyelametin banyak orang."

Tidak ada yang menyebut "kekuatan." Tidak ada yang menyebut "sihir." Yang ada hanya pujian… dan kekaguman yang terasa jujur.

Nyra (dalam hati):

Manusia biasa?

Tapi sekolah menutup mulut rapat?

Kenapa terasa ada yang sangat disembunyikan…?

Dan akhirnya, Nyra melihat orang yang dibicarakan itu.

Rei.

Rambut putih yang mudah dikenali, dan mata yang berbeda—sepasang warna yang membuatnya tampak seperti seseorang yang membawa cerita panjang di balik wajah tenangnya. Rei berjalan bersama teman-temannya. Ia tersenyum kecil. Bicara seperlunya. Tidak ada gerak yang mencurigakan.

Namun Nyra tidak berhenti di kesan pertama.

Selama lebih dari satu minggu—bahkan mendekati dua minggu—Nyra memantau dari bayang-bayang. Kadang sebagai ilusi, kadang sebagai "orang lewat." Ia memperhatikan pola hidup Rei.

Rei pulang sekolah, makan bersama teman, belajar, tertawa, hidup sederhana.

Tidak ada tanda-tanda seseorang yang menyimpan kekuatan besar.

Nyra (dalam hati):

Kalau dia pelaku…

…dia tidak akan hidup setenang itu.

Kalau dia korban…

…kenapa kalimat itu berkata 'cukup untuknya'?

Waktu berjalan. Suatu hari, Rei pergi liburan. Nyra tidak mengikuti.

Bukan karena tidak bisa—melainkan karena biaya dan risiko. Ia sudah cukup lama berada di dunia manusia. Bekal tidak boleh dihamburkan untuk dugaan.

Dan justru pada hari-hari terakhir itu, ia baru sadar:

Rei tinggal di Sakura-so.

Di kamar 202.

Tepat di sebelah kamarnya.

Nyra berdiri di lorong malam itu, menatap pintu 202 beberapa detik.

Nyra (dalam hati):

Jadi sedekat ini…

Aku menginap di samping nama yang ingin kutahu.

Namun Rei sudah pergi.

Dan Nyra sudah mengambil kesimpulan sementara:

Rei tampak seperti manusia biasa.

Setidaknya… dari apa yang bisa dilihat.

Ia memilih berhenti.

Bukan karena puas, tetapi karena naluri rubahnya berkata: "Ada bahaya yang belum bisa kau sentuh."

—Kembali ke Dunia Asal: Laporan yang Tidak Lengkap, Tapi Jujur

Beberapa hari kemudian, pada siang hari Nyra kembali melewati gerbang dimensi—pulang ke dunianya.

Dunia itu… tempat ia berasal… lebih kaya sihir, lebih keras aturan, dan lebih dekat dengan ancaman monster.

Nama dunianya: Elyndor.

Di sana ia melapor pada atasannya. Ia menceritakan semuanya:

Tentang kilas balik: sosok bertudung, pembukaan dimensi, monster anomali.

Tentang kalimat "cukup untuknya."

Tentang penolakan energi—indikasi ada pihak yang jauh lebih kuat.

Tentang sekolah yang menutupi detail.

Tentang nama "Rei," yang diduga kunci.

Dan kesimpulan sementara: Rei tampak hidup sebagai manusia biasa.

Atasan Nyra diam lama.

Lalu berkata singkat, tapi berat:

Atasan :

"Ini cukup untuk memastikan… kemungkinan dugaanku tidak salah."

"Pihak yang punya kuasa… memang mungkin bermain di balik layar."

"Dan… kau yakin 'untuknya' itu Rei?"

Nyra :

"Saya tidak yakin… tapi nama itu selalu muncul di tempat yang sama: di mulut orang-orang yang ketakutan."

Atasannya hanya mengangguk seperti memikirkan sesuatu.

Namun ia juga tidak gegabah.

Atasan :

"Kau sudah melakukan tugasmu."

"Sekarang istirahat satu minggu."

"Kilas balik yang menekan seperti itu… bisa merusak jiwa kalau dipaksa."

Nyra menunduk.

Nyra :

"Terima kasih."

"Saya pamit undur diri."

Nyra (dalam hati):

Aku harus menjemput adikku.

—Rumah Sederhana dan Adik yang Menunggu

Nyra menuju rumah temannya untuk menjemput adiknya. Namun temannya tertawa kecil.

Teman :

"Dia masih sekolah."

"Ini masih siang."

Nyra tersenyum malu—ia terlalu lama hidup dalam mode "tugas," sampai lupa waktu normal.

Ia pulang ke rumahnya dulu: rumah kecil, sederhana, bersih, penuh barang yang fungsional—bukan hiasan mahal.

Ia merapikan rumah, menyiapkan bahan masak, lalu menjemput adiknya saat menjelang sore.

Di gerbang sekolah, adiknya langsung melambai.

Adik Nyra :

"Kakaaaak!"

Wajah adiknya cerah, telinga rubahnya sedikit lebih kecil dan lebih "muda," ekornya lebih halus.

Adik Nyra langsung bertanya bertubi-tubi sepanjang jalan pulang:

Adik Nyra :

"Dunia manusia gimana?"

"Makanannya enak?"

"Banyak toko?"

"Ada festival enggak?"

Nyra tertawa pelan—hangat, seperti seseorang yang akhirnya pulang dari medan dingin.

Nyra :

"Kakak hanya makan-makanan murah."

"Walau murah tetap enak."

"Juga banyak toko di sana yang menjual berbagai makanan."

"Dan untuk festival kakak tidak tahu karena hanya beberapa hari di sana."

Adiknya malah semakin kagum.

Adik Nyra :

"Kakak keren…."

"Tapi aku tetep pengen ke sana suatu hari."

Nyra menepuk kepala adiknya.

Nyra :

"Nanti."

"Kalau waktunya tepat."

Sesampainya di rumah, Nyra mulai memasak. Bau sup hangat memenuhi ruangan. Untuk sesaat, dunia terasa tenang lagi.

Nyra (dalam hati) :

Aku kembali ke hidup yang sederhana.

Tapi aku tahu… bayangan itu masih bergerak di luar sana.

Dan suatu hari…

mereka mungkin akan mengetuk pintu dunia ini.

More Chapters