Langit dunia manusia menyambut Nyra dengan warna yang berbeda.
Bukan biru yang "hidup" seperti di negerinya—bukan langit yang terasa bernapas bersama sihir—melainkan biru yang tampak tenang… namun menyimpan riuh di bawahnya. Gedung-gedung menjulang, jalanan penuh suara mesin, dan di sela keramaian itu… ada juga langkah kaki dari ras lain: Beastskin, manusia, dan beberapa makhluk fantasi yang sudah terbiasa hidup berdampingan.
Tapi Nyra tetap merasa… asing.
Nyra (dalam hati):
Dunia ini bergerak cepat.
Orang-orang berjalan seperti dikejar waktu… tapi tatapan mereka tetap bisa tajam.
Ia merapikan rambutnya yang panjang—hitam kecokelatan dengan kilau keemasan saat terkena cahaya—lalu menurunkan tudung kain tipis yang menutupi telinga rubahnya. Bukan untuk menyembunyikan, lebih seperti kebiasaan lama: selalu siap "menjadi kecil" saat berada di tempat baru.
Ia membawa tas sederhana, bekal uang dari atasan, dan satu tekad:
Menyelidiki energi anomali.
Tanpa membuat keributan. Tanpa menarik perhatian yang salah.
—Tempat Tinggal: Bersih, Murah, dan Tidak Mengundang Masalah
Hal pertama yang Nyra lakukan adalah mencari tempat tinggal.
Ia bertanya pada beberapa orang—manusia dan ras lain—tentang penginapan yang bersih, murah, dan dekat dengan wilayah insiden kemunculan monster anomali. Jawaban yang ia terima membuatnya menghela napas.
Harga-harga di dunia manusia… tinggi.
Nyra :
"Kalau… yang lebih sederhana?"
Seorang pemilik kios hanya mengangkat bahu.
Pemilik kios :
"Kalau mau murah, itu jauh dari pusat. Tapi kalau dekat lokasi kejadian… ya begini."
Nyra tersenyum sopan, lalu pergi.
Nyra (dalam hati):
Aku memang diberi bekal, namun itu bukan berarti aku boleh menghamburkannya.
Uang itu bukan milikku. Itu amanah.
Sore merambat. Nyra akhirnya masuk ke sebuah minimarket untuk membeli minum dan makanan ringan. Pendingin udara menyambutnya, dan lampu putih membuat bulu halus di telinganya terasa sedikit gatal—kebiasaan rubah yang peka terhadap perubahan suhu.
Saat membayar, Nyra menatap pegawai kasir—seorang manusia muda yang wajahnya terlihat lelah tapi ramah.
Nyra :
"Maaf… aku ingin tanya."
"Apa ada tempat tinggal murah dan bersih di sekitar sini?"
Pegawai minimarket menimbang sebentar, lalu mengangguk.
Pegawai minimarket :
"Ada. Deket sini."
"Apartemen… Sakura-so."
"Papan namanya bertulisan Jepang."
Nyra :
"Sakura-so…?"
Pegawai minimarket :
"Iya. Apartemen dua lantai. Namanya Sakura-so."
"Penyewanya campur, tapi aman."
"Murahnya… ya dibanding yang lain."
Nyra mengangguk, membayar, lalu menunduk sopan.
Nyra :
"Terima kasih."
—Apartemen Sakura-so dan Ibu Lena
Gang menuju Sakura-so tidak sepenuhnya sepi—masih ada beberapa orang lalu-lalang—tapi lebih sunyi dibanding jalan utama. Lampu-lampu kecil menggantung, beberapa tanaman pot di pinggir jalan, dan aroma masakan rumahan menyelinap dari jendela-jendela.
Saat Nyra tiba, ia melihat gerbang sederhana dengan papan nama:
さくら荘 — Sakura-so
Bangunan dua lantai, catnya tidak baru, tapi bersih. Tenang. Seperti tempat yang tidak suka masalah.
Nyra (dalam hati):
Aku suka tempat yang tidak banyak bertanya.
Tempat yang membiarkan orang hidup tanpa mengorek masa lalu.
Di samping bangunan apartemen ada rumah kecil terpisah—kemungkinan rumah pemiliknya. Nyra mengetuk.
Tak lama, pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya dengan wajah hangat dan mata yang seolah sudah melihat banyak cerita.
Lena :
"Iya? Ada perlu apa, Nak?"
Nyra menunduk sopan.
Nyra :
"Saya ingin menyewa kamar."
"Kalau ada yang… murah dan bersih."
Lena menatap telinga rubah Nyra, lalu tersenyum tanpa menghakimi.
Lena :
"Wah… Beastskin rubah ya."
"Jarang di sini."
"Masuk dulu, Nak."
Nyra masuk, dan Lena mengambil buku catatan penyewa.
Lena :
"Kebetulan ada."
"Lantai dua, kamar 201."
"Baru kosong beberapa hari."
Nyra :
"Berapa harganya?"
Lena menyebutkan angka.
Nyra sempat terdiam sepersekian detik—reflek—lalu mengangguk.
Nyra :
"Baik."
"Saya bayar satu bulan dulu."
Lena tersenyum puas, menerima pembayaran, lalu menyerahkan kunci.
Lena :
"Kalau butuh apa-apa, bilang."
"Di sini banyak penghuni dari berbagai ras, tapi mereka baik-baik."
"Cuma… jangan ribut malam-malam."
Nyra tersenyum kecil.
Nyra :
"Saya tidak suka ribut."
—Kamar 201: Sunyi yang Tidak Menghakimi
Kamar 201 kecil, tapi rapi. Ada jendela, meja sederhana, kasur, lemari, dan kamar mandi mungil.
Nyra berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling.
Nyra (dalam hati):
Ukuran kamar ini… mirip kamarku.
Walau lebih kecil, tapi cukup untuk bernapas.
Malam itu ia mandi, makan seadanya, lalu tidur lebih cepat dari yang ia kira—kelelahan perjalanan, dan beban misi yang menggantung seperti awan gelap di belakang kepala.
—Pagi Pertama: Sapaan Tetangga dan Tatapan yang Menghitung
Keesokan paginya Nyra bangun lebih awal.
Ia mandi, merapikan rambut panjangnya, mengenakan pakaian sederhana yang nyaman bergerak, lalu keluar kamar.
Begitu ia membuka pintu apartemen, beberapa tetangga menyapanya. Ada manusia, ada Beastskin lain—telinga kucing, telinga serigala—bahkan ada ras yang bentuknya lebih asing tapi tetap "warga" di dunia manusia ini.
Tetangga Elf:
"Oh, penghuni baru ya?"
"Selamat pagi!"
Nyra menunduk sopan, tersenyum tipis.
Nyra :
"Selamat pagi."
"Saya Nyra."
Beberapa orang menatap telinganya sedikit lebih lama dari biasa—wajar, rubah memang jarang—tapi tidak ada yang kasar.
Nyra berjalan, memetakan kota di kepalanya.
Nyra (dalam hati):
Aku harus terlihat biasa.
Bukan sebagai penyelidik.
Bukan orang yang sedang memburu rahasia.
—Kota dan Cerita yang Selalu Berakhir Sama
Nyra mencoba bertanya di sekitar pusat kota—pemilik toko, pedagang kaki lima, orang-orang yang terlihat "tahu banyak" karena sering berada di jalan.
Jawabannya hampir selalu sama:
Pemilik toko :
"Itu kejadian mengerikan."
"Banyak korban berjatuhan."
"Gedung rusak."
"Orang-orang trauma akan kejadian itu."
Nyra :
"Monsternya… pergi ke mana?"
Pemilik toko menggeleng, wajahnya pucat.
Pemilik toko :
"Saya lari."
"Yang saya pikirkan hanyalah keselamatan diri saya."
Orang lain pun sama—mereka lari, mereka tidak melihat akhir, mereka hanya ingat ketakutan.
Nyra mulai merasa jalannya buntu.
Nyra (dalam hati):
Bukan mereka tidak mau bicara…
Mereka benar-benar tidak sempat melihat.
Ketakutan membuat mata semua ras menutup.
Menjelang siang, ia kembali ke minimarket yang sama—membeli makan siang murah.
Pegawai minimarket yang kemarin melihatnya lagi.
Pegawai minimarket :
"Eh, Mbak Rubah."
"Udah dapet kamar?"
Nyra :
"Sudah. Terima kasih untuk kemarin."
"Saya mau tanya lagi… soal insiden dua minggu lalu."
Pegawai itu menurunkan suara.
Pegawai minimarket :
"Kalau itu… katanya pusatnya di sekolah deket sini."
"Banyak karangan bunga di gerbangnya kan?"
"Ada monumen kecil… bertuliskan nama-nama korban."
Nyra membeku sesaat.
Ia ingat.
Ia memang melewati sekolah itu—pagar dengan bunga, dan monumen yang sunyi.
Nyra :
"Terima kasih."
Nyra menggenggam kantong makanannya sedikit lebih erat, lalu melangkah menuju sekolah itu.
—Sekolah dan Pintu yang Tidak Mau Dibuka Sepenuhnya
Gerbang sekolah tampak lebih tenang dari yang seharusnya setelah tragedi. Tapi ada kesedihan yang tersisa seperti bayangan—tak terlihat, tapi terasa.
Nyra mendekati satpam.
Nyra :
"Maaf."
"Saya ingin bertanya… soal insiden monster anomali dua minggu lalu."
Satpam menatap Nyra, lebih waspada daripada ramah.
Satpam :
"Kenapa tanya itu?"
"Siapa Anda?"
Nyra menimbang kata-kata.
Nyra :
"Saya… diutus untuk menyelidiki penyebabnya."
"Saya tidak mencari sensasi."
"Saya hanya butuh informasi."
Satpam menatap telinganya, lalu menghela napas.
Satpam :
"Yang jaga waktu itu bukan saya."
"Tapi… rekan saya… dan ia sudah tiada."
Nyra menundukkan kepalanya karena pernah merasakan kesedihan saat kehilangan.
Nyra :
"Saya turut berduka."
Ada jeda hening.
Nyra :
"Kalau begitu… siapa yang paling tahu detailnya?"
Satpam ragu, lalu akhirnya menunjuk arah.
Satpam :
"Ada beberapa guru."
"Wakil kepala sekolah bisa bantu."
"Tapi apa nona ada surat tugas?"
Nyra :
"Ada. Tunggu sebentar."
Nyra membuka tasnya, mengeluarkan selembar dokumen penugasan—bukan untuk sekolah, melainkan surat tugas divisi gerbang. Nama instansi di bagian atas terlalu "asing" untuk dunia manusia.
Dengan sihir ilusi yang halus, ia menutupi bagian-bagian sensitif: lambang, kode divisi, dan kata-kata yang bisa menyingkap dunia asalnya—lalu menggantinya dengan cap netral yang meyakinkan mata manusia.
Nyra (dalam hati):
Aku benci berbohong… tapi aku lebih benci kalau orang tak bersalah jadi korban.
Satpam menerima kertas itu, menatap capnya lama.
Satpam :
"Baiklah… cukup. Mari ikut saya."
Ia mengantar Nyra melewati halaman sekolah.
Para murid—manusia dan ras lain—sedang istirahat, tertawa, bermain, berusaha menjalani hari biasa meski ada luka di tempat ini.
Namun begitu mereka melihat Nyra—Beastskin rubah dengan aura "dewasa" yang jelas berbeda dari pelajar—bisik-bisik kecil muncul.
Murid 1 :
"Itu siapa…?"
Murid 2 :
"Rubah… jarang banget."
Nyra menunduk sedikit, menjaga langkahnya tetap tenang.
Nyra (dalam hati):
Tatapan seperti ini… tidak menyakitkan.
Yang menyakitkan adalah tatapan yang menyembunyikan kebohongan.
—Fakta Yang Disembunyikan
Di ruang wakil kepala sekolah, Nyra memperkenalkan diri seperlunya. Tidak menyebut dunia asalnya terlalu detail—cukup untuk membuat pihak sekolah menganggapnya "petugas investigasi lintas wilayah".
Wakil kepala sekolah tampak sopan. Terlalu sopan.
Wakil Kepala Sekolah :
"Kami sudah melaporkan semua yang kami ketahui."
"Monsternya tiba-tiba menghilang."
Nyra mengangguk, tapi ekornya bergerak pelan—tanda ada sesuatu yang mengganjal.
Tak lama, pintu terbuka.
Seorang guru masuk membawa berkas.
Wakil Kepala Sekolah :
"Oh, Sakuraba-sensei."
Guru itu bernama Sakuraba Haruka.
Wakil memperkenalkan Nyra pada Sakuraba, lalu meminta Sakuraba menjelaskan karena ia termasuk yang "tahu kejadian".
Sakuraba :
"Insiden itu… kacau."
"Monsternya menyerang area sekolah."
"Kami mengevakuasi semampunya."
"Lalu… monster itu tiba-tiba menghilang."
Kalimatnya rapi.
Terlalu rapi.
Nyra menatap mata Sakuraba, lalu menyipitkan mata sedikit—bukan curiga berlebihan, tapi naluri rubahnya bergerak.
Nyra (dalam hati):
Ada bagian yang dipotong.
Bukan karena lupa.
Karena sengaja.
Nyra mencoba menekan lebih dalam.
Nyra :
"Monsternya menghilang… begitu saja?"
"Tidak ada yang menghentikan?"
"Tidak ada saksi yang melihat akhir pertarungan?"
Sakuraba menghela napas, memberi ekspresi lelah.
Sakuraba :
"Kami sibuk menyelamatkan murid."
"Tidak ada yang sempat memikirkan… hal lain."
Nyra tersenyum sopan.
Nyra :
"Saya mengerti."
"Terima kasih atas waktunya."
Ia berdiri.
Namun di dalam dadanya, sesuatu bergerak dingin.
Nyra (dalam hati):
Kebohongan itu bukan di kata-kata.
Kebohongan itu di jeda napas.
Di cara mata menghindari satu rahasia.
Wakil kepala sekolah terlihat lebih lega dari seharusnya saat Nyra "pamit."
Wakil (pelan, setelah Nyra seolah keluar):
"Syukurlah dia tidak menggali lebih jauh…"
Sakuraba (pelan):
"Kalau soal anak itu bocor… kita habis."
Wakil Kepala Sekolah :
"Benar."
"Rei… tidak boleh sampai terseret lagi."
Sakuraba :
"Kita cukup bilang monster menghilang."
"Itu sudah aman untuk keselamatan murid sekolah ini."
Dan pada momen itulah—mereka tidak sadar—yang "keluar ruangan" bukanlah Nyra sungguhan.
Di ambang pintu tadi, yang mereka lihat hanyalah fragmen ilusi: wujud Nyra yang berjalan pergi dengan langkah halus, seperti bayangan yang mematuhi perintah.
Nyra yang asli… masih berdiri di sudut ruangan.
Tak terlihat.
Ia menahan napas, memfokuskan energi di ujung telinganya, menangkap setiap kata.
Nyra (dalam hati):
Rei…?
Jadi ini nama kunci itu.
Kau siapa… sampai sekolah menutup rapat cerita tentangmu?
Ilusi itu berjalan keluar, menutup pintu, bahkan sempat menunduk pada satpam di gerbang—sempurna. Tak ada yang curiga.
Nyra sendiri menunggu beberapa detik lagi, memastikan tidak ada energi yang menekan ilusinya, lalu perlahan meleburkan dirinya ke aliran angin tipis—teknik manipulasi energi yang membuat langkahnya "terhapus" dari perhatian.
Ia keluar seperti orang biasa.
Tanpa suara dan jejak.
—Pulang ke Kamar 201: Nama yang Menggantung di Langit-langit
Malam menjelang saat Nyra kembali ke Sakura-so.
Ia berjalan melewati lorong apartemen yang tenang, mendengar suara televisi dari kamar lain, aroma masakan sederhana, dan tawa kecil yang terasa jauh.
Ia masuk ke kamar 201, duduk di tepi kasur, menatap langit-langit.
Nyra (dalam hati):
Rei. Nama itu disebut seperti pisau yang disimpan.
Kenapa mereka takut menyebutkan namanya.
Berarti dia bukan murid biasa… atau dia pernah melakukan sesuatu yang membuat dunia ini bergeser.
Nyra membuka telapak tangannya, memusatkan energi kecil, merasakan sisa-sisa getaran kota, sekolah, dan jalur mana yang paling kuat meninggalkan "bekas" insiden.
Walau sejatinya ras rubah lebih dominan pada sihir ilusi, Nyra punya kemampuan lain.
Kemampuannya memungkinkan ia melihat kilas balik—cuplikan kecil, bukan seluruh cerita.
Tapi ada batas.
Jika subjek yang ingin dilihat memiliki kekuatan lebih besar dari dirinya… gambarnya akan kabur, bahkan mungkin gelap sama sekali.
Nyra (dalam hati):
Kalau Rei benar-benar kunci… apakah energinya akan menolakku?
Kalau menolak… berarti jawabannya lebih besar dari yang kuduga.
Ia menutup mata sebentar, lalu berdiri.
Nyra (dalam hati):
Besok. Aku akan mencoba ke titik awal monster itu muncul.
Aku akan memaksa dunia ini menunjukkan setidaknya satu potongan kebenaran.
Malam itu Nyra mandi, belanja makan malam sederhana, lalu kembali ke kamar.
Ia tidak tahu—dan belum menyadari—bahwa di apartemen yang sama, di lorong yang sama, ada seseorang yang namanya ia dengar tadi…
Tinggal hanya beberapa pintu dari dirinya.
Dan rasa penasaran Nyra… baru saja menemukan alamatnya.
