Di gerbang dimensi—tempat dua dunia saling menyentuh tanpa benar-benar menyatu—selalu ada suara yang sama: dengung sihir, langkah sepatu prajurit, dan desir angin yang membawa aroma dari dunia manusia.
Di sanalah Nyra Fenwald berdiri setiap hari.
Seorang Beastskin rubah—cantik, dewasa, dan terlalu sering tersenyum seolah hidupnya ringan. Rambutnya rapi, telinga rubahnya bergerak halus mengikuti suara, dan ekornya yang lebat selalu terawat seperti kehormatan. Banyak yang mengira Nyra hidup mudah karena pesona wajahnya—padahal Nyra hidup sederhana, bahkan kadang terlalu sederhana untuk ukuran perempuan seusianya.
Di mata orang lain, Nyra itu "sempurna."
Di hati Nyra sendiri… ia hanya perempuan yang selalu menunda dirinya.
Nyra (dalam hati):
Mereka melihat wajahku… bukan bebanku.
Mereka melihat senyumku… bukan alasan di baliknya.
Di rumah kecil itu, ia tinggal hanya berdua dengan adiknya.
Seorang gadis rubah berusia 17 tahun—lincah, keras kepala, dan diam-diam lebih peka dari yang Nyra kira. Mereka yatim piatu sejak kecil. Kedua orang tua mereka tewas ketika monster menyerang desa—sisa tragedi itu masih menempel pada Nyra, bukan sebagai luka yang berdarah, tapi sebagai bekas hangus yang tidak pernah benar-benar hilang.
Setiap malam, Nyra tak pernah bilang bahwa ia masih sering terbangun—hanya untuk memastikan napas adiknya masih ada.
Nyra (dalam hati):
Kalau aku kehilangan dia juga… aku tak tahu aku akan jadi apa.
Di lingkungannya, para tetangga sering menjodohkan Nyra. Ada yang membawa anak lelaki mereka datang ke rumah, ada yang "kebetulan" mengatur pertemuan di pasar, ada yang menawari Nyra "hidup lebih tenang" jika mau menikah.
Nyra selalu menolak.
Halus. Sopan. Tanpa membuat siapa pun malu.
Karena ia tahu, begitu ia menikah… banyak orang akan menganggap adiknya sudah bukan tanggung jawabnya lagi.
Dan itu tidak akan pernah Nyra izinkan.
Nyra (dalam hati):
Aku iri.
Iri melihat pasangan menyeberang jalan sambil tertawa.
Tapi iri bukan alasan untuk meninggalkan yang kupunya.
—Gerbang Dimensi dan Pekerjaan yang Menjaga Dunia
Nyra bekerja di Gerbang Dimensi penghubung dunia manusia dan dunia Elyndor. Pekerjaan itu bukan sekadar "jaga pintu." Ia mengurus izin lintas dunia, mencatat identitas, memeriksa stabilitas sihir gerbang, dan memastikan tidak ada penyusup yang membawa masalah dari satu sisi ke sisi lain.
Nyra dikenal ramah. Bahkan saat jadwalnya padat, ia tetap membantu orang-orang yang kebingungan—menunjukkan arah, menjelaskan prosedur, menenangkan mereka yang panik pertama kali menyeberang.
Namun di balik keramahan itu… Nyra punya batas.
Dan batas itu bernama: rahasia.
Atasan Nyra kerap menekankan satu hal:
"Gerbang ini bukan tempat untuk membicarakan hal-hal yang tidak boleh diketahui."
Nyra mengerti.
Karena ia hidup dari menjaga pintu yang bisa menjadi awal bencana—kalau salah dijaga.
—Pertemuan Pertama: Garm yang "Tak Melihatnya"
Hari itu tidak istimewa. Bahkan Nyra sempat berpikir hari itu akan lewat seperti hari lainnya: dokumen, cap izin, laporan rutin.
Lalu Garm datang.
Pria Beastskin serigala—tinggi, berotot, telinga runcing tegak, rambut cokelat kusut, dan ekor tebal yang bergerak santai. Tatapannya hangat tapi ada sisi usil yang membuat orang waspada.
Ia mampir ke pos gerbang bukan untuk menggoda. Bukan untuk pamer.
Ia datang karena urusan kerja: menanyakan laporan dari guild tentang anomali di Hutan Terlarang dan ingin bicara dengan atasan Nyra.
Nyra ingat, saat itu banyak pria lain biasanya melakukan satu dari dua hal saat bertemu dirinya:
Kebanyakan pria datang dengan dua tujuan: membuatnya tersenyum, atau membuatnya ingat.
Garm tidak membawa keduanya.
Ia bicara seperlunya. Bertanya seperlunya. Menunggu seperlunya.
Seolah Nyra hanyalah petugas yang kebetulan cantik—bukan "target" yang harus dikejar.
Nyra tidak tahu… justru itu yang membuatnya memperhatikan.
Nyra (dalam hati):
Aneh… dia tidak menatap lama.
Dia juga tidak mencoba membuatku tertawa.
Seolah aku… bukan sesuatu yang harus dimenangkan.
Nyra tidak melihat satu hal yang terjadi di dalam diri Garm:
Garm sebenarnya tertarik.
Tapi ia malu.
Dan Garm tipe yang kalau malu… akan berpura-pura tidak peduli.
—Pertemuan Kedua: Adik Nyra dan Benih Ide
Beberapa hari setelah itu, adik Nyra datang ke pos gerbang—membawakan makanan kecil untuk kakaknya. Ia selalu begitu: sok dewasa, tapi sebenarnya hanya ingin memastikan Nyra makan.
Saat itu, adiknya tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang mengobrol dengan petugas gerbang.
Ia terjatuh.
Belum sempat Nyra menghampiri, sosok itu sudah menoleh dan mengulurkan tangan.
Itu Garm.
Garm :
"Kau nggak apa-apa?"
Nada suaranya bukan manis yang dibuat-buat, tapi tulus seperti refleks.
Ia membantu adik Nyra berdiri tanpa banyak tanya. Tanpa komentar soal "ceroboh." Tanpa mengomel. Tangannya kuat, tapi gerakannya hati-hati—seolah takut membuat gadis itu merasa kecil.
Adik Nyra menatapnya beberapa detik, lalu… menatap kakaknya dari kejauhan.
Dan di kepala gadis 17 tahun itu, sebuah ide lahir.
Adik Nyra (dalam hati):
Dia baik.
Dan… dia tidak memandang kakakku seperti orang-orang itu.
Kalau kakakku pantas bahagia… mungkin ini jalannya.
Sejak hari itu, adik Nyra mulai "memantau" Garm.
Diam-diam. Sembunyi-sembunyi. Seperti rubah kecil yang sedang mengintai mangsa—bedanya, ini bukan untuk menerkam… tapi untuk menjodohkan.
Ia melihat Garm sering menolong orang. Sering menahan diri. Sering berpura-pura santai padahal jelas memperhatikan sekitar.
Dan puncaknya terjadi ketika adik Nyra membuntuti Garm dan melihat sesuatu yang membuatnya nyaris meloncat kegirangan:
Garm berdiri agak jauh… menatap seseorang.
Bukan menatap ramai-ramai. Bukan menatap pemandangan.
Ia menatap satu titik… dengan mata yang tidak bisa bohong.
Dan di titik itu berdiri Nyra.
Adik Nyra (dalam hati):
Ketahuan.
Ternyata dia memperhatikan kakakku.
Berarti… aku bisa mulai rencana.
Namun rencana itu belum sempat berjalan.
Karena setelah hari itu…
Garm menghilang.
Tidak ada di guild. Tidak terlihat di sekitar gerbang. Tidak muncul lagi seperti biasanya.
Adik Nyra frustrasi. Putus asa. Tapi Nyra… tidak terlalu memikirkan.
Nyra mengira, mungkin pria itu hanya lewat. Mungkin urusannya selesai. Mungkin ia memang tidak tertarik.
Nyra menutup kemungkinan itu dengan cepat—cara yang sama seperti ia menutup pintu hatinya setiap kali merasa iri melihat pasangan di jalan.
Nyra (dalam hati):
Jangan berharap.
Harapan itu mahal… dan aku punya adik yang harus kuutamakan.
—Tugas Rahasia: Dunia Manusia Memanggil
Hari-hari kembali normal—hingga normal itu pecah saat atasan memanggil Nyra.
Ruangan atasan lebih sunyi dari biasanya. Ada dokumen tertutup rapat. Ada cap keamanan. Ada tatapan serius yang tidak perlu dijelaskan.
Atasan Nyra :
"Nyra. Kau akan berangkat ke dunia manusia."
Nyra menegakkan punggungnya.
Nyra :
"Untuk apa, Pak?"
Atasan Nyra menurunkan suara.
Atasan Nyra :
"Penyelidikan energi anomali."
"Dua minggu lalu di dunia manusia."
"Kasus ini… tidak boleh diketahui siapa pun."
Nyra merasakan dingin merayap di tengkuknya.
Atasan Nyra :
"Diduga ada pelaku."
"Dan pelaku itu… punya kekuasaan."
"Kalau bocor, kita bukan cuma gagal… kita bisa diburu."
Nyra menelan ludah.
Nyra :
"Baik."
Atasan Nyra :
"Kau akan meninggalkan adikmu."
"Tapi kau harus pastikan dia aman."
Nyra sudah memikirkan itu bahkan sebelum atasan selesai bicara.
Nyra :
"Aku akan titipkan dia ke rekan satu divisi."
Ia pulang malam itu dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya.
Adiknya menyambut dengan senyum, tapi Nyra melihat ketakutan kecil di baliknya—takut ditinggal lagi.
Nyra memeluk adiknya lama.
Nyra :
"Kakak akan menjalankan tugas sebentar."
"Jangan bandel."
"Kalau ada apa-apa… cari penjaga divisi, ya?"
Adiknya mengangguk, menahan sedih.
Adik Nyra :
"Kak…"
"Kamu… bener-bener nggak ada yang kamu suka?"
Nyra terdiam.
Lalu tersenyum kecil—senyum yang lembut, tapi ada sesuatu yang dipendam.
Nyra :
"Yang paling penting… kamu. Selalu."
Nyra (dalam hati):
Maaf. Aku tidak bisa jujur sekarang.
Aku bahkan tidak yakin aku berhak menyukai siapa pun.
Malam itu, Nyra berangkat.
Tanpa banyak orang tahu.
Tanpa memberi ruang untuk dirinya ragu.
Gerbang dimensi menyala saat ia melangkah masuk—dan untuk pertama kalinya setelah lama, Nyra merasa seperti meninggalkan bukan hanya rumah…
Tapi juga sesuatu yang belum sempat ia beri nama.
Sesuatu yang bernama… kemungkinan.
