Cherreads

Chapter 125 - Bab 125: Kuping Dijewer, Hati Diseret Kembali

Ravien keluar dari restoran dengan langkah cepat—bukan karena terburu-buru, tapi karena kesalnya sudah menumpuk seperti bara kecil yang ditahan sejak pagi. Di satu tangan, ia menggenggam kartu akses yang dipinjam dari Aelria. Di pikirannya, hanya ada satu kalimat yang terus mengganggu:

Ravien (dalam hati):

Pagi ini harusnya tenang.

Aku cuma mau makan… dengan Hina.

Tapi selalu ada yang membuat segalanya jadi ribut.

Angin pantai menyapu rambutnya, tapi tidak cukup mendinginkan wajahnya. Ia melangkah masuk ke lobby hotel, menembus keramaian tamu-tamu yang berjalan santai, lalu menuju lift. Beberapa orang sempat melirik—bukan hanya karena aura demon yang tajam, tapi karena cara Ravien berjalan seperti seseorang yang tidak peduli dunia.

Di depan kamar Aelria dan Seris, Ravien tidak mengetuk.

Beep.

Kartu akses ditempel. Pintu terbuka.

Ia masuk tanpa salam.

—Di dalam kamar—

Ruangan itu tenang. Cahaya matahari masuk dari celah tirai, jatuh di lantai seperti garis-garis hangat. Suasana kamar jauh berbeda dari restoran—tidak ada obrolan, tidak ada tawa. Hanya ada udara diam yang terasa berat.

Di dekat jendela, Seris berbaring miring menghadap cahaya. Tubuhnya kaku, matanya tidak benar-benar fokus pada pemandangan luar. Seolah ia menatap jauh… padahal yang ia lihat hanya rasa bersalahnya sendiri.

Seris (dalam hati) :

Aku… merusak hari bahagianya Hina.

Aku juga… membuat kakakku kehilangan kendali.

Aku ini… adik paling buruk.

Ia mendengar pintu terbuka.

Seris berhenti bernapas sesaat.

Seris (dalam hati):

Aelria kenapa dia kembali…?

Namun bayangan yang jatuh di lantai bukan siluet Aelria. Terlalu tinggi. Terlalu berat. Terlalu… familiar.

Seris menelan ludah, lalu menoleh pelan.

Dan benar.

Sosok itu berdiri di sana, tatapan tajam seperti pisau yang tidak perlu diangkat untuk membuat seseorang takut.

Ravien :

"Seris."

Suaranya rendah—dingin—dan menggeram tipis.

Ravien :

"Kau bikin masalah."

"Kau ganggu sarapanku… dengan wanitaku."

Seris membeku. Bahunya mengeras. Suara itu bukan marah meledak—justru lebih menakutkan karena ditahan rapat.

Seris :

"K-ka… Ravien…?"

"K-kenapa… k-ke sini…?"

Seris menelan rasa takutnya sendiri.

Seris :

"A-aku… aku salah…"

"Aku… aku nggak tau harus apa…"

Ravien tidak menjawab panjang.

Ia melangkah mendekat.

Lalu—

JLEB.

Dua jari Ravien menjepit telinga Seris, menjewer tanpa ampun.

Seris :

"A-adu—! S-sakit! Maaf! Maaf!"

Ravien :

"Berisik."

"Sekarang ganti baju."

"Ikut aku."

Seris :

"U-untuk apa…?"

Ravien :

"Ke restoran."

"Aku masih makan."

"Hina masih di sana."

Seris terpaku… lalu rasa lega tiba-tiba menghantam dadanya.

Seris (dalam hati):

Hina… masih di sana?

Berarti… kakak sudah baikan?

Berarti… semuanya sudah terselesaikan?

Seris buru-buru mengangguk sambil mengusap telinganya sendiri.

Seris :

"B-baik!"

"T-tapi… ka… tunggu di luar… a-aku mau ganti baju…"

Ravien mendecakkan lidah, lalu berbalik.

Ravien :

"Cepat."

Ia keluar kamar.

Di koridor hotel, Ravien berdiri bersandar pada dinding koridor. Matanya menatap lurus, namun pikirannya tidak benar-benar tenang.

Ravien (dalam hati):

Aku datang menjemput Seris… bukan karena aku baik.

Tapi karena… Hina menunggu.

Dan aku yakin sekarang ia pasti sedang menahan makan karena menungguku.

Tidak sampai lima menit, pintu terbuka. Seris sudah rapi—rambutnya disisir cepat, wajahnya masih menyimpan sisa panik.

Ravien menatapnya sekilas.

Ravien :

"Jalan."

Seris mengejar langkah kakaknya, hampir berlari.

Di dalam lift

Lift turun perlahan. Seris mencuri pandang ke arah Ravien—wajah kakaknya datar, seperti biasa. Tapi Seris tahu… pagi ini beda.

Seris :

"Ka…"

"A-apa… ka Ravien sudah… b-baikan sama Hina?"

Ravien diam beberapa detik.

Lalu jawabannya keluar lebih pelan dari biasanya—tidak hangat, tapi… tidak kasar.

Ravien :

"Iya."

"Aku sudah minta maaf."

"Aku juga… sudah menjelaskan semuanya."

Seris menahan senyumnya.

Seris :

"S-syukurlah…"

Namun Ravien menoleh sedikit, tatapannya tajam.

Ravien :

"Tapi dengar."

"Kalau kau ngomong aneh-aneh… atau bocorin apa pun… bukan cuma kupingmu yang kujewer."

Seris langsung panik lagi.

Seris :

"M-maaf! Maaf!"

"Aku janji! Aku nggak akan ngomong apa-apa!"

"Aku—aku nggak akan bikin masalah lagi!"

Ravien :

"Bagus."

Pintu lift terbuka.

Kembali ke restoran

Begitu mereka masuk, beberapa pasang mata langsung mengikuti langkah Ravien—lalu berpindah ke Seris. Semua orang yang duduk di meja Rei menoleh serempak.

Aelria :

"…Akhirnya."

Noelle menyenggol Nerine pelan.

Noelle :

"Tuh kan… dijemput pakai cara demon."

Seris (pelan):

"Aku masih sakit…"

Nerine :

"Lihat telinganya dijewer dulu baru mau makan."

Seris berjalan cepat ke meja, menunduk canggung, lalu menyapa.

Seris :

"P-pagi… maaf… aku telat…"

Rinna menyerahkan menu ke Seris.

Rinna :

"Pesan dulu."

"Kamu pasti lapar."

Seris mengangguk, masih seperti orang yang baru diseret keluar dari rasa bersalahnya sendiri.

Di sisi lain meja… Ravien kembali duduk dekat Hina.

Hina benar-benar menunggu.

Piringnya nyaris tidak tersentuh. Ia menatap Ravien dengan mata yang lembut—bukan menuntut, hanya memastikan Ravien kembali.

Ravien menatap piring itu, lalu menatap Hina.

Ravien :

"Kau kenapa nggak makan?"

"Masakanku… tidak enak?"

Nada suaranya pelan, perhatian, bahkan ada sedikit khawatir yang tidak ia ucapkan sepenuhnya.

Hina menggeleng cepat, suaranya kecil dan gemetar karena malu.

Hina :

"B-bukan…"

"Aku… aku cuma…"

"…ingin makan b-bareng kamu…"

Sejenak, wajah Ravien melunak.

Ravien :

"…Merepotkan."

"Tapi… baik."

Ia mulai makan. Dan Hina akhirnya ikut makan, seolah baru bisa menelan setelah memastikan Ravien ada di hadapannya.

Ravien melirik Seris sebentar—tatapan tajam, jelas menyalahkan.

Tatapan itu seperti berkata:

Ravien (dalam hati):

Lihat? Kalau tadi kau nggak ikut, Hina masih akan menunggu.

Seris menangkap maksud itu dan langsung bergumam kecil:

Seris :

"M-maaf…"

Noelle dan Nerine mendorong Seris agar duduk benar.

Noelle :

"Udah, duduk."

"Jangan kaget."

Nerine :

"Kakakmu itu lembut cuma ke Hina."

"Ke kita… ya tetap demon."

Seris menatap punggung Ravien, lalu menatap Hina yang tersenyum kecil saat makan.

Seris (dalam hati):

Dia benar-benar… kembali.

Bukan seperti dulu… bahkan lebih dari cukup.

Dan itu semua… karena Hina.

Saat makanan datang

Makanan untuk Seris akhirnya tiba. Ia makan pelan, ditemani obrolan ringan yang mulai menghidupkan suasana. Hawa tegang yang tadi menempel seperti kabut perlahan memudar.

Riku, seperti biasa, membayar tagihan dengan tenang. Rei ikut membantu memastikan semua orang nyaman.

Lalu, di tengah obrolan, Ravien bangkit.

Ia mengulurkan tangan ke arah Hina. Kali ini… tidak ragu.

Ravien :

"Ayo."

"Kita pergi."

Nada lembut. Singkat, tapi penuh makna.

Hina menatapnya, lalu mengangguk cepat. Ia menggenggam tangan Ravien dengan dua tangan sejenak sebelum akhirnya menggenggam satu—seolah memastikan ini nyata.

Sora melompat ringan ke pundak Ravien.

Ravien menoleh sekilas ke hewan kecil itu, tidak mengusir. Ia membiarkannya, seolah mengizinkan Sora menjadi bagian dari lingkar aman Hina.

Ravien menarik Hina mendekat, memeluk pinggangnya, lalu berjalan keluar restoran.

Di meja lain, semua terpaku.

Nerine :

"…Itu Ravien?"

Noelle :

"Kalau buat Hina… dia bisa jadi malaikat."

"Kalau buat kita… balik lagi jadi demon."

Rei tertawa kecil.

Rei :

"Biarkan."

"Yang penting… Hina nyaman."

Dan pagi itu kembali berjalan—dan Hina akhirnya tahu: ia pantas dicintai, pantas dijaga.

More Chapters