Cherreads

Chapter 124 - Bab 124: Pilih Kasih di Pagi Hari

Langit pagi cerah, cahaya matahari memantul di lantai marmer lobby hotel. Suasana restoran hotel sudah ramai oleh tamu dari berbagai ras—tawa kecil, denting sendok, dan aroma kopi memenuhi udara.

Di antara keramaian itu, Ravien berjalan dengan langkah santai, satu lengannya merangkul pinggang Hina. Seolah ia membangun dinding tak terlihat di sekitar gadis itu—bukan untuk mengekang, tapi untuk memastikan Hina tidak tenggelam oleh tatapan orang-orang.

Hina (dalam hati):

Banyak yang lihat…

Aku… harus kuat. Tapi… jantungku masih berdebar.

Ravien tidak mengatakan apa pun. Namun cara ia menarik Hina sedikit lebih dekat, cukup menjadi jawaban.

Begitu mereka masuk restoran, beberapa pegawai yang semalam melihat keributan langsung menegang. Ada yang menelan ludah, ada yang saling melirik, seolah takut hari ini akan terulang.

Pelayan :

"S-selamat pagi… T-tuan… ada yang bisa kami bantu?"

Ravien bahkan tidak menoleh. Tatapannya lurus, dingin. Ia hanya melangkah menuju meja kosong yang jauh dari keramaian.

Saat sampai, Ravien menarik kursi dan membantu Hina duduk. Gerakannya tegas, tapi tidak kasar—seperti kebiasaan seseorang yang tidak pandai bicara manis, namun paham cara menjaga.

Hina :

"T-terima kasih…"

Ravien :

"Duduk yang nyaman."

Hina hendak meraih buku menu, tapi Ravien mengambilnya pelan dari tangan Hina.

Ravien :

"Tidak usah pilih.

Kau tunggu di sini."

Nada suaranya… berbeda. Masih tenang, masih dingin—tapi ada kelembutan yang hanya keluar ketika ia berbicara pada Hina.

Hina terdiam sebentar, bingung, tapi juga… merasa aman.

Hina :

"B-baik… kalau itu maumu…"

Ravien menatap pelayan yang berdiri kaku di belakang.

Ravien :

"Minggir."

Pelayan tersentak.

Pelayan :

"E-eh… t-tuan mau—"

Ravien sudah berjalan, melewati pelayan itu tanpa peduli. Pelayan refleks membuntuti—panik, mencoba mencari cara menghentikan… tapi tak punya nyali menghalangi demon yang kemarin "mengambil" dapur restoran begitu saja.

Begitu Ravien masuk, pintu dapur terbuka lebar.

Semua koki, termasuk head kitchen, serentak menoleh. Suara pisau yang tadi berdetak di talenan langsung berhenti. Dapur seketika seperti membeku.

Ravien berdiri di ambang pintu—tatapan tajam, aura tenang, dan wajah yang seperti selalu berkata: jangan bikin aku repot.

Head kitchen menarik napas, lalu dengan satu gerakan tangan, ia memerintahkan semua koki keluar.

Head kitchen :

"Kalian semua… keluar."

Beberapa koki protes kecil.

Koki 1:

"Tapi, Chef—"

Head kitchen menatap tajam.

Head kitchen :

"Keluar."

Satu per satu koki lewat di depan Ravien, menunduk, tidak berani menatap langsung. Head kitchen sendiri mengikuti, lalu sebelum benar-benar pergi, ia membungkuk memberi hormat kecil—bukan karena takut semata, tapi karena… ia pernah mencicipi masakan Ravien. Dan ia tahu, demon itu bukan hanya kuat, tapi juga berbahaya dalam cara lain.

Ravien melewati mereka tanpa sepatah kata, langsung membuka lemari bahan, memilih potongan daging, bumbu, dan beberapa bahan sederhana yang tidak mencolok… namun ditangannya, sederhana itu menjadi ancaman bagi reputasi dapur mana pun.

Di luar, head kitchen menahan koki-kokinya yang masih menggerutu.

Koki 2:

"Kenapa kita harus nurut?!"

Head kitchen :

"Karena aku pernah kalah. Dan itu hanya dengan hidangan sederhana darinya."

"Kalau kalian maksa, kalian bukan cuma kehilangan dapur—kalian kehilangan harga diri."

Mereka terdiam.

—Kembali ke meja Hina—

Sementara itu, Hina menunggu. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Ravien, hanya bisa menatap Sora yang duduk manis di pangkuannya.

Sora mengibaskan ekor tipisnya pelan, menatap Hina dengan mata bening seperti kaca.

Hina :

"Sora aku… senang hari ini."

Hina (dalam hati):

Aku dulu selalu sendiri.

Sekarang… aku punya teman. Aku punya mereka.

Dan… aku punya dia.

Hina memeluk Sora dengan lembut.

Sora :

"Kyuu…"

Seolah menjawab: aku juga senang.

Di kamar Rei, pagi berjalan lebih ramai.

Rei dan Riku sudah rapi. Begitu pintu diketuk, Rei membuka, dan terlihat Airi, Aelria, serta beberapa gadis lain.

Aelria :

"Kalian sudah siap?"

Rei :

"Sudah."

Di belakang Aelria, Rika muncul dan langsung masuk dengan langkah cepat—tanpa izin, tanpa ragu—menuju Riku.

Riku :

"R-Rika?!"

Rika merangkul lengan Riku, wajahnya santai, seolah ini hal paling wajar di dunia.

Rika :

"Kamu lama."

Di pintu, Airi menahan tawa. Aelria menutup mulutnya, ikut geli. Mereka melihat Riku yang biasanya tenang… sekarang seperti kehilangan arah karena pacarnya tiba-tiba "menyerbu" kamar.

Rei (dalam hati):

Lucu juga… Riku bisa kalah sama rika.

Mereka pun berangkat bersama menuju restoran.

Di perjalanan, Aelria melirik Rei.

Aelria :

"Ravien… baik-baik saja?"

Rei :

"Baik. Dia itu… Ravien ingat."

Airi menyahut dengan senyum bangga.

Airi :

"Hina juga kelihatan bahagia. Buktinya, mereka sudah pergi sarapan berdua."

Semua lega.

Namun Riku menoleh ke sekitar.

Riku :

"Seris mana? Dari tadi tidak kelihatan."

Rinna menjawab pelan.

Rinna :

"Masih di kamar."

"Dia menyalahkan dirinya sendiri tentang semalam."

Rei menghela napas kecil.

Rei :

"Hah… kakak-adik memang kadang sama."

"Sama-sama keras kepala."

Mereka tertawa kecil, lalu tiba di restoran.

Satu meja menunggu dengan cemas.

Satu meja menunggu dengan penasaran.

Dan di tengah itu—Hina duduk sendiri, bermain dengan Sora. Mereka mendekat, memilih meja di sisi yang aman.

Airi :

"Hina! Kamu sendirian? Ravien mana?"

Hina menjawab pelan, masih agak malu di depan banyak orang.

Hina :

"Dia… pergi bikin makanan…"

Noelle (sambil menoleh ke Nerine):

"Bikin makanan? Lagi?"

Nerine :

"Serius? Dia buat makanan lagi?"

Belum sempat mereka bertanya lebih jauh, pelayan datang, gugup.

Pelayan :

"Ma-maaf… untuk saat ini dapur tidak bisa digunakan…"

"A-ada demon yang sedang memasak…"

Meja itu hening sesaat.

Riku mengusap pelipis.

Riku :

"Dia benar-benar mengambil dapur lagi…"

Mereka ingin protes, tapi tidak ada yang berani memaksa. Karena mereka semua tahu: Ravien bukan tipe yang bisa diajak debat saat ia sudah memutuskan sesuatu.

Lalu…

Pintu dapur terbuka.

Ravien muncul membawa dua piring.

Ia melangkah lurus ke arah Hina. Di dekat meja Hina, aura dinginnya seperti mencair.

Ravien :

"Ini."

"Makan pelan."

"Jangan buru-buru."

Ia meletakkan satu piring di depan Hina—dengan gerakan hati-hati yang hampir tidak cocok dengan ekspresi dinginnya.

Satu piring lagi ia taruh di depannya sendiri, lalu ia duduk menghadap Hina.

Aelria menatap itu dengan mata membesar.

Aelria (pelan) :

"…Pilih kasih yang sangat jelas."

Rei tersenyum tipis.

Rei :

"Tidak apa."

"Setidaknya kita tahu… Hina dapat orang yang akan menjaganya."

Namun begitu Ravien menoleh ke meja Rei dan yang lain, ekspresinya kembali dingin.

Ravien :

"Pesan makanan kalian."

"Jangan ganggu kami makan."

Nada sombong, singkat, dingin—Ravien yang "normal".

Noelle merinding.

Noelle :

"Wah… barusan kayak dua orang berbeda."

Nerine :

"Yang lembut cuma untuk Hina… sisanya ditendang pakai tatapan."

Hina tersenyum kecil, menunduk. Wajahnya hangat, matanya berbinar.

Hina (dalam hati):

Dia… benar-benar berubah hanya untukku.

Aku… tidak salah percaya.

Tak lama, pelayan kembali berani menerima pesanan—karena Ravien sudah selesai memakai dapur.

Mereka pun memesan makanan. Sambil menunggu, obrolan mengalir tentang rencana liburan hari ini—pantai, toko-toko, dan hal-hal sederhana yang membuat hati terasa ringan.

Hina membuka hidangan Ravien. Aromanya langsung membuat beberapa orang menelan ludah—terutama Rinna, Rika, dan Nerine yang tatapannya sudah seperti kucing melihat ikan panggang.

Hina mencoba satu suap.

Hina :

"…Enak."

Ravien menatap Hina, lalu senyum tipis muncul—bukan senyum mengejek, bukan senyum sombong.

Ravien :

"Syukurlah."

"Aku… senang kamu suka."

Semua yang melihat… terdiam.

Bukan karena takut.

Tapi karena mereka baru sadar:

senyum itu… tulus.

Dan itu hanya muncul ketika Ravien menatap Hina.

Di tengah suasana hangat itu, Hina teringat satu nama.

Hina :

"Aelria… Seris… masih di kamar, ya?"

Aelria mengangguk.

Aelria :

"Iya."

Hina menoleh ke Ravien, lalu menggenggam tangannya pelan—permintaan tanpa paksaan.

Hina :

"Boleh… tolong ajak dia?"

"Aku… aku tidak mau dia menyalahkan dirinya."

Ravien menghela napas pelan, tapi kali ini bukan napas kesal—lebih seperti napas orang yang akhirnya kalah karena tidak sanggup menolak.

Ravien :

"Baik."

"Kau tunggu di sini."

"Habiskan makanmu dulu."

Hina mengangguk cepat.

Ravien bangkit, lalu menghampiri Aelria.

Ravien :

"Kartu akses."

Nada kembali dingin.

Aelria mendecakkan lidah.

Aelria :

"Iya, iya… boss."

Ia menyerahkan kartu akses.

Ravien pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Hina dan yang lain.

Begitu Ravien menghilang, semua mata kembali ke Hina.

Nerine :

"Hina… kamu hebat."

"Kamu… beneran 'menjinakkan' Ravien."

Noelle :

"Aku masih nggak percaya."

Hina menunduk, senyumnya kecil tapi nyata.

Hina :

"A-aku… cuma…"

"…aku cuma tidak mau dia sendirian."

Dan pagi itu, Hina tidak iri pada siapa pun—karena ia tahu, ia yang dipilih.

More Chapters