Cherreads

Chapter 123 - Bab 123: Pesan Pagi dan Riasan yang Dipaksakan

Pagi di hotel datang dengan cahaya yang lembut—matahari memantul di kaca jendela dan tirai tipis, membuat kamar terasa hangat meski AC masih berdesis pelan. Dari lorong luar, samar terdengar suara troli housekeeping dan langkah kaki tamu yang sudah lebih dulu bangun.

Di dalam kamar para gadis, Airi sudah berdiri di depan cermin. Ia merapikan kerah baju santainya, memeriksa rambutnya, lalu menepuk pipinya pelan seolah menyemangati diri sendiri.

Di kamar mandi, suara air mengalir. Rika sedang mandi.

Sementara itu, di atas kasur, Hina masih tertidur pulas—napasnya teratur, wajahnya damai. Di samping kepala Hina, Sora melingkar seperti bola hangat. Telinganya sedikit bergerak setiap kali Hina mengubah posisi tidur.

Tiba-tiba…

Bzzzt… bzzzt…

Ponsel Hina bergetar di atas meja kecil dekat kasur. Sekali, dua kali.

Airi menoleh, lalu mendekat. Ia ragu sebentar, lalu menepuk bahu Hina pelan.

Airi :

"Hina… bangun…

Ponselmu bunyi. Kayaknya ada pesan."

Hina menggeliat, wajahnya kusut, suaranya masih serak.

Hina :

"Hm…?"

Sora ikut mengangkat kepala, matanya bening seperti kaca, menatap Airi tanpa berkedip—seolah menilai apakah ini ancaman atau bukan.

Ponsel bergetar lagi.

Hina tersentak sedikit, langsung setengah duduk dan meraih ponselnya. Begitu layar menyala, nama itu muncul.

Ravien.

Hina (dalam hati):

Dari tadi… dia nunggu?

Aku… aku harus cepat.

Hina buru-buru mengetik, jari-jarinya masih kaku karena baru bangun.

Hina (pesan):

"Aku akan segera datang… aku belum mandi… t-tunggu aku."

Ia mengirim pesan itu, lalu menatap layar beberapa detik lebih lama dari yang perlu—seolah takut kalau pesan itu tiba-tiba hilang.

Di saat yang sama, pintu kamar mandi terbuka. Rika keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, wajahnya segar habis mandi.

Rika :

"Hina kenapa keliatan seneng banget pagi-pagi?"

Airi melirik ke arah kasur, lalu menahan senyum.

Airi :

"Mungkin… karena pesan."

Rika mengangkat alis. Dengan gaya "beastskin" yang kadang suka jahil—tatapannya tajam tapi lucu—ia memiringkan kepala, melihat ponsel Hina yang tadi sempat ditaruh di kasur saat Hina bangkit untuk mandi.

Ponsel itu masih menyala—layarnya terbuka pada chat Ravien, karena Hina lupa menguncinya saat panik tadi.

Rika dan Airi saling pandang.

Godaan itu… terlalu mudah.

Rika mencondongkan badan ke Airi, berbisik.

Rika (berbisik):

"Kita… cek sebentar."

Airi langsung menolak setengah panik.

Airi (berbisik):

"Rika! Itu privasi—"

Rika (berbisik):

"Demi kebaikan hubungan mereka."

Airi menelan ludah. Ia ragu, lalu menyerah dengan wajah bersalah.

Airi (berbisik):

"Cuma… sebentar."

Mereka berdua mendekat ke kasur seperti dua pencuri amatir.

Sesekali mereka melirik ke arah pintu kamar mandi—siap kabur kalau Hina muncul.

Rika mengangkat ponsel itu pelan, lalu mereka berdua berbisik sangat kecil.

Rika (berbisik):

"Maaf ya, Hina…"

Airi (berbisik):

"Maaf…"

Layar memperlihatkan chat sederhana: Ravien menyuruh bangun dan menemani sarapan. Hina membalas akan segera datang.

Rika tersenyum miring—ide nakal sudah lahir.

Rika (berbisik):

"Pancing."

Airi (berbisik):

"Rika…"

Namun Rika sudah mengetik, cepat, licin.

Pesan yang terkirim:

"Aku harus dandan seperti semalam…? Kalau kamu mau… aku coba. Tapi kalau kamu nggak suka… aku biasa aja."

Airi menutup mulutnya, menahan napas.

Beberapa menit terasa seperti sejam.

Lalu balasan datang.

Balasan Ravien:

"Kau cantik semalam. Kalau kau tidak keberatan, tampil seperti itu."

Airi dan Rika saling pandang. Mata mereka membesar, lalu keduanya menahan tawa sampai bahunya bergetar.

Airi (berbisik):

"Dia… beneran jawab begitu…"

Rika (berbisik):

"Berhasil."

Mereka langsung panik pada detik berikutnya.

Rika :

"Hapus. Cepat."

Rika menghapus pesan mereka… dan menghapus balasan Ravien juga, memastikan chat kembali "normal" seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Lalu ponsel diletakkan lagi di posisi semula, rapi.

Sora, yang melihat sedari tadi menatap teman majikannya, mengeluarkan suara kecil.

Sora :

"Kyuu…"

Seperti suara setuju… atau mungkin suara "kalian ini manusia aneh".

Airi menepuk kepala Sora pelan.

Airi (berbisik):

"Shh."

Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari kamar mandi. Hina keluar, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya bersih, sudah memakai pakaian santai rapi. Ia melirik ponselnya yang menyala dan langsung buru-buru mengambilnya.

Hina (dalam hati):

Astaga… aku ceroboh.

Jangan sampai mereka lihat…

Ia membaca—semuanya tampak normal. Tidak ada yang aneh. Tidak ada pesan tambahan.

Hina menghembuskan napas lega, kecil.

Hina (dalam hati):

Syukurlah…

Lalu Hina melanjutkan untuk berpakaian.

Di belakangnya, Airi dan Rika menutup mulut, menahan tawa.

Tak lama Hina menaruh ponsel ke tas selempangnya dan merapikan rambut. Namun sebelum ia bisa melangkah, Airi menghentikannya.

Airi :

"Tunggu."

Hina :

"E-eh?"

Rika sudah bergerak cepat ke belakang Hina dan memegang kedua tangan Hina dari belakang—pegangan kuat, seperti "kunci" yang tidak bisa dilepas.

Hina :

"Rika?!"

Hina mencoba menarik tangan, tapi Rika tidak bergeser satu inci.

Rika :

"Tenang."

Airi mengeluarkan perlengkapan make up dengan senyum polos yang justru terasa mengerikan bagi korban.

Airi :

"Aku mau kamu tampil sempurna."

Hina :

"U-untuk apa…? K-kita cuma sarapan…"

Airi :

"Pokoknya."

Hina menelan ludah. Ia sudah tahu: melawan Airi dan Rika saat mereka kompak sama saja seperti melawan ombak.

Sepuluh menit kemudian, Hina selesai "dipoles"—lebih rapi dari semalam. Tidak berlebihan, tapi cukup membuat aura Hina berubah: rambut panjangnya lebih tertata, wajahnya lebih cerah, matanya terlihat lebih hidup.

Airi langsung mengangkat ponselnya.

Airi :

"Aku foto dulu."

Hina menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Hina :

"J-jangan…!"

Airi :

"Sudah terlambat."

Klik.

Sora melompat ke pundak Hina, menempel seperti aksesoris hidup. Ekor tipisnya bergerak pelan.

Lalu terdengar ketukan di pintu.

Tok. Tok.

Rika dan Airi langsung saling pandang—mereka tahu siapa itu.

Hina berjalan untuk membuka pintu.

Di sana berdiri Ravien.

Wajahnya seperti biasa: dingin, sedikit malas, tatapan tajam. Tapi begitu ia melihat Hina—

Ravien terdiam setengah detik terlalu lama.

Ravien (dalam hati):

Kenapa… hari ini lebih…

…merepotkan.

Hina menunduk, suaranya kecil, gemetar halus.

Hina :

"M-maaf… menunggu lama…"

Ravien tersadar, memalingkan pandangan sebentar seperti menelan rasa yang tiba-tiba muncul di tenggorokan.

Ravien :

"Nggak apa. Ayo."

Ia mengulurkan tangan. Hina menggenggamnya cepat—seolah takut kalau kesempatan itu hilang.

Mereka berjalan menuju lift. Di lobby, beberapa pasang mata menatap Hina. Ada tatapan kagum, ada tatapan iri. Hina mengecil, merapatkan tas selempangnya ke dada.

Hina (dalam hati):

Kenapa… semua orang melihatku seperti itu?

Apa aku… terlihat aneh?

Ravien menangkap kegelisahan itu dari cara bahu Hina menegang.

Tanpa banyak bicara, Ravien merangkul pinggang Hina dan menariknya sedikit lebih dekat.

Gerakannya tegas—seperti garis batas yang jelas.

Ravien :

"Mendekatlah. Aku di sini."

Hina membeku sedetik, lalu pelan-pelan menyandarkan kepala ke sisi tubuh Ravien, wajahnya memerah tapi… ia merasa aman.

Sora hampir terpeleset karena gerakan itu. Ia mencengkeram baju Hina, lalu dengan lincah pindah—naik ke bahu Ravien.

Ravien melirik sekilas, tapi tidak mengusir.

Ravien (dalam hati):

Tidak takut padaku, ya. Bagus.

Kalau suatu hari aku tidak ada di sisi Hina… kau yang jaga.

Mereka melangkah menuju restoran. Ombak terdengar jauh, pagi terasa lebih terang, dan tangan Hina yang menggenggam tangan Ravien… tidak lagi gemetar karena takut—melainkan karena bahagia yang masih belum ia percaya sepenuhnya.

Dan untuk pertama kalinya, pagi terasa berpihak pada mereka.

More Chapters