Hutan Terlarang malam itu tidak benar-benar sunyi.
Ia hanya menahan suara, seperti mulut luka yang menolak menganga. Angin berputar pelan di antara batang-batang pohon tua, menyisakan aroma tanah basah dan getah pahit. Di depan gerbang—tempat batas dunia seperti disulam dengan benang sihir—Rei masih duduk diam, punggungnya tegak tapi tatapannya jauh.
Garm sudah tidak segelisah tadi. Lirya bahkan sempat bercanda kecil, meski ujung cemberutnya belum hilang sepenuhnya.
Namun di balik ketenangan itu, Rei merasakan sesuatu yang lebih dingin dari embun: rasa curiga.
Rei (dalam hati):
Monster anomali… bukan sekadar lahir di tempat yang salah.
Ia seperti panah yang ditembakkan—artinya ada tangan yang menarik busur.
Dan jika panah itu sampai menembus dunia manusia…
Rei mengusap pelipisnya pelan, seolah ingin menyingkirkan bayangan yang mencoba menempel.
Rei (dalam hati):
Ada cara untuk membawa 'energi itu' melintasi batas.
Cara yang dulu pernah kulihat… di dunia yang sudah jadi abu.
Tapi mereka… seharusnya sudah mati.
Sesaat, bayangan wajah-wajah dari dunia lamanya melintas—tidak jelas, tidak utuh, hanya serpihan: siluet jubah, tawa yang retak, simbol di lantai batu, dan langit merah yang runtuh.
Rei (dalam hati):
Tidak. Aku tidak akan mengejar hantu.
Hantu tidak bisa menghidupkan dunia. Tapi paranoia… bisa menghancurkan yang tersisa.
Ia menghembuskan napas panjang, mengubur prasangka itu dalam-dalam seperti menimbun bara agar tidak kembali menyala.
Di sampingnya, Lirya menatap Rei cukup lama—mata merahnya menyipit, bukan karena curiga, melainkan karena… ia mengenali tatapan itu.
Lirya :
"Hei. Kau kepikiran apa?"
Rei menoleh pelan, wajahnya tetap tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang barusan menahan badai di kepala.
Rei :
"Tidak ada."
Lirya mendengus, ekornya bergoyang malas tapi tanduk kecilnya sedikit menegang.
Lirya :
"Bohong. Tapi ya sudah.
Kau kalau belum mau ngomong… ya tidak akan ngomong."
Rei hanya tersenyum tipis.
Rei :
"Terima kasih."
Lirya memalingkan wajah, pura-pura jengkel.
Lirya :
"Cih. Aku bukan peduli. Aku cuma… tidak mau kau tiba-tiba rusak."
Rei tidak menjawab. Ia kembali menatap gerbang—seolah di sana ada dua dunia yang sedang bernapas bergantian di dadanya.
—Tawa yang Menutup Malu
Di dunia manusia, lorong hotel malam itu diterangi lampu kuning lembut. Suara langkah kaki tamu lain sudah jarang. Hanya sesekali terdengar pintu kamar yang tertutup pelan, atau desis AC yang seperti napas panjang.
Begitu Hina menutup pintu kamarnya—setelah ciuman singkat di depan pintu—ia berdiri membeku satu detik… lalu seperti kehilangan tenaga.
Hina :
"Ah…!"
Ia melangkah cepat ke arah kasur dan menjatuhkan diri, lalu menutup wajahnya dengan bantal.
Hina (dalam hati):
Aku tadi… aku beneran…?
Kenapa aku berani?
Kenapa jantungku seperti mau lompat keluar…
Di sudut kamar, Airi dan Rika menoleh bersamaan. Rika—dengan ciri beastskin yang halus (telinga kecil yang kadang tersembunyi di balik rambut saat ia menunduk)—sedang mengatur barang-barang belanjaannya. Airi baru saja menaruh tas kecilnya.
Airi :
"Hina…?
Kamu… masih sedih?"
Rika sudah berdiri, ekspresinya langsung berubah serius.
Rika :
"Kalau dia masih marah…
Aku datangi dia sekarang."
Rika melangkah ke arah pintu.
Hina tersentak, bangkit setengah badan dengan panik.
Hina :
"E-eh! Jangan!
Rika, t-tunggu…!"
Rika berhenti, menoleh.
Hina menarik napas, pipinya masih merah—bukan lagi merah karena sedih, tapi merah karena campuran lega dan malu.
Hina :
"U-udah… udah baik.
Ravien… sudah minta maaf."
Airi mendekat, mata berbinar penasaran—cara khasnya, seperti kucing yang mencium bau rahasia.
Airi :
"Serius?
Gimana caranya kamu 'menaklukkan' dia?"
Rika ikut mendekat, duduk di pinggir kasur, menatap Hina seperti menunggu cerita paling penting sedunia.
Hina menunduk, memeluk bantalnya seperti perisai.
Hina :
"A-aku… aku cuma…
Aku cari dia. Aku lari… ke mana-mana…
Aku pikir… kali ini aku beneran ditinggal."
Hina (dalam hati):
Dan aku takut… takut kembali sendirian.
Airi melunak, suaranya lebih pelan.
Airi :
"Terus?"
Hina menelan ludah, lalu perlahan menceritakan—tentang mencari sampai pantai, tentang taman, tentang pelukan, tentang dua orang yang akhirnya sama-sama minta maaf.
Hina :
"Dia bilang… dia nggak mau aku nangis lagi…
Dia… minta aku… tetap di sampingnya."
Rika mengangkat alis, lalu berdecak pelan—bukan sinis, tapi kagum.
Rika :
"Demon sombong itu… bisa ngomong manis juga ya."
Rika tersenyum setengah menggoda.
Rika :
"Jadi aku sedikit tertarik—"
Hina langsung mendongak, seperti anak kecil yang menjaga mainan paling berharga.
Hina :
"J-jangan gitu…! Jangan ganggu dia… dia… itu… dia punyaku…"
Hina tersendat, lalu menunduk lagi, malu pada dirinya sendiri yang terlalu jujur.
Airi meledak tawa pelan, menutup mulutnya.
Airi :
"Ya ampun. Hina kamu cemburu…"
Rika ikut tertawa, suasana yang tadi tegang langsung menjadi hangat—sehangat selimut setelah hujan.
Dan di sela tawa itu, Sora merangkak ke kasur, lalu duduk di dekat bantal Hina, seolah ikut menjaga rahasia bahagia tuannya.
Hina (dalam hati):
Aku… tidak sendirian.
Malam ini… aku benar-benar punya tempat pulang.
—Tiga Lelaki dan Sisa Amarah
Di kamar pria, suasananya jauh lebih sederhana.
Lampu kamar redup, tirai tertutup setengah, dan dari luar masih terdengar ombak yang jauh—seperti ketukan lembut yang tidak pernah lelah.
Riku duduk di lantai dekat meja kecil, membuka bungkusan makanan dari restoran. Rei sedang mandi; suara air dari kamar mandi terdengar konstan.
Pintu terbuka.
Ravien masuk dengan langkah pelan—tanpa banyak ekspresi, tapi ada sisa lelah di bahunya. Ia menutup pintu tanpa suara keras.
Riku melirik sekilas.
Riku :
"Duduk. Makan."
Ravien berdiri sebentar, seperti menilai apakah ini jebakan atau bukan.
Dari kamar mandi, suara Rei terdengar samar.
Rei :
"Itu Ravien?"
Riku :
"Iya."
Rei :
"Oh… syukurlah.
Jangan lupa, suruh dia untuk makan."
Ravien mendecakkan lidah pelan—bukan marah, lebih seperti tidak terbiasa diperlakukan biasa setelah ia membuat kekacauan.
Ravien :
"Kalian… nggak tanya apa-apa?"
Riku mengangkat bungkusan makanan lain dan mendorongnya ke arah Ravien.
Riku :
"Makan dulu."
Ravien duduk. Ia mulai makan tanpa banyak kata—gerakannya rapi, dingin, tapi tidak kasar.
Beberapa menit kemudian Rei keluar dari kamar mandi, rambut putihnya lembap, handuk menggantung di leher. Ia duduk ikut makan, mengambil porsi kecil.
Rei dan Riku tetap tidak membuka topik. Mereka membiarkan malam berjalan pelan.
Justru keheningan itulah yang akhirnya membuat Ravien gelisah.
Ravien :
"Kalian… marah?"
Riku berhenti mengunyah, menoleh sedikit.
Riku :
"Untuk apa?"
Ravien mengerutkan dahi.
Ravien :
"Aku… ngomong keras di restoran.
Ke Hina."
Rei mengunyah pelan, lalu menelan. Tatapannya tenang—terlalu tenang, seperti danau yang sudah belajar menelan badai.
Rei :
"Kau kembali.
Itu cukup buat kami."
Riku menambahkan dengan nada datar tapi jelas.
Riku :
"Kalau kau tidak kembali… baru aku marah.
Karena itu artinya Hina kau tinggal."
Ravien diam. Ujung sendoknya berhenti di udara sesaat, lalu ia melanjutkan makan.
Ravien (dalam hati) :
Mereka… tidak menghakimi.
Mereka hanya menilai dari satu hal: apakah aku meninggalkan Hina atau tidak.
Menyebalkan… tapi juga… entah kenapa, terasa benar.
Rei menatap Ravien sebentar.
Rei :
"Aku tidak tahu luka masa lalumu seberapa dalam.
Tapi aku tahu pola orang yang terluka.
Orang yang pernah terluka… biasanya paling keras saat disentuh."
Ravien mendecak, tapi kali ini tidak defensif—lebih seperti mengakui dengan enggan.
Ravien :
"Mulutmu… kadang terlalu tajam."
Rei tersenyum tipis.
Rei :
"Aku belajar dari hidup."
Riku menyuap lagi, lalu berkata santai.
Riku :
"Yang penting… besok kau masih jalan bareng kami.
Dan Hina masih bisa ketawa."
Ravien menatap bungkusan makanannya, lalu akhirnya menghembuskan napas—seolah melepaskan sesuatu yang ia bawa sejak restoran.
Ravien :
"Kalian, merepotkan.
Tapi… aku tidak menyesal."
Rei tertawa kecil, singkat.
Rei :
"Bagus."
Riku mengangkat botol minum.
Riku :
"Makan. Besok masih panjang."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah kekacauan, kamar itu kembali terasa seperti kamar liburan—bukan ruang pengadilan, bukan medan perang. Hanya tiga lelaki yang mengunyah pelan, mendengar ombak, dan membiarkan waktu mengeringkan luka dengan caranya sendiri.
