Cherreads

Chapter 121 - Bab 121: Pulau Terapung di Balik Ilusi

Cahaya yang tadi meninggalkan hutan—itulah Sylvhia.

Ia melesat seperti serpihan kelopak yang dibawa angin, menembus kabut tipis di langit, melampaui awan yang menggumpal seperti gunung putih. Semakin tinggi ia naik, semakin sunyi dunia. Suara hutan hilang. Suara binatang lenyap. Hanya ada desir—desir yang bukan lagi dari dedaunan, melainkan dari batas-batas ruang yang dijahit rapat oleh kekuatan para Guardian.

Sylvhia (dalam hati):

Ada tempat yang bahkan langit pun harus mengetuk…

dan menunggu dijawab.

Tak lama, jauh di depan, tampak pulau terapung—sebuah daratan besar yang menggantung di udara seolah menolak hukum gravitasi. Di sekelilingnya, ada barrier ilusi: tirai tak kasat mata yang membuat pulau itu seperti tidak ada bagi mata biasa. Jika bukan Sylvhia—Ratu Dryad—tak seorang pun akan tahu bahwa di sana ada kota yang hidup.

Ia menembus barrier itu tanpa kesulitan.

Dan seketika, dunia berubah.

Langit di atas pulau itu lebih jernih, udara terasa lebih berat, dan aroma batu hangat bercampur logam—aroma khas tempat yang dihuni ras naga. Menara-menara batu menjulang, berukir motif sisik dan cakar. Di kejauhan, terdengar denting palu dan suara gemuruh rendah—seperti napas raksasa yang tidur.

Sylvhia mendarat ringan di sebuah pelataran tinggi.

Ia menegakkan bahu, senyum kecilnya muncul.

Sylvhia :

"Ah… lama sekali aku tidak ke sini."

Lalu ia memanggil, suaranya bergema lembut namun jelas—seakan akar-akar bumi di pulau itu ikut mendengar.

Sylvhia :

"Oi. Keluarlah, Vhaldrake kecil."

Beberapa detik hening.

Lalu—suara langkah berat, pelan, tapi penuh tekanan.

Dari sebuah gerbang batu, muncul seorang pria paruh baya berwujud manusia—Guardian dunia Elyndor dari ras naga. Aura yang ia bawa membuat udara seperti mengeras. Matanya tajam, rambutnya gelap, dan sikapnya… jelas tidak menyambut tamu.

Vhaldrake :

"Jangan panggil aku begitu. Aku lebih tua darimu."

"Apa tujuanmu? Cepat."

Sylvhia tertawa kecil, sengaja membuatnya terdengar manja.

Sylvhia :

"Cih… selalu tegang.

Aku jarang sekali ke sini, kau tahu."

Vhaldrake :

"Aku sibuk.

Jangan basa-basi."

Sylvhia mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah.

Sylvhia :

"Baik, baik.

Kalau begitu… aku langsung saja."

Namun sebelum Sylvhia sempat melanjutkan, pintu lain terbuka.

Udara berdesir.

Angin… masuk ke ruangan itu seolah memiliki tubuh.

Dan dari sana, muncul Aerisyl Feuthreia—Ratu Roh Angin. Sosoknya anggun, tenang, dan tatapannya seperti langit yang tidak pernah panik.

Sylvhia menoleh cepat, lalu tersenyum.

Sylvhia :

"Tumben kau di sini."

Aerisyl menatap Sylvhia tanpa ekspresi berlebihan.

Aerisyl :

"Aku sedang mencari informasi yang akan kau tanyakan."

Sylvhia mengerjap, lalu mendecak manja.

Sylvhia :

"Ah… jadi aku didahului."

Vhaldrake menghela napas, kesal.

Vhaldrake :

"Kalau kalian berdua datang untuk hal yang sama…

Ya, tunggu. Aku juga sedang cari lewat informanku.

Aku sudah tanya jalur raja-raja ras lain."

Sylvhia tersenyum, tapi ada hangat di matanya.

Sylvhia :

"Kalau begitu… perjalananku tidak sia-sia.

Aku senang kalian mau membantu."

Vhaldrake mendecakkan lidah, seperti tidak mau terlihat peduli.

Vhaldrake :

"Kalau bukan bocah itu… aku tak akan repot.

Tapi karena bocah itu juga… dunia ini masih berdiri."

Sylvhia tertawa kecil, kali ini tidak menggoda—lebih seperti mengenang sesuatu yang mustahil.

Sylvhia :

"Benar. Aku masih ingat.

Malam saat seorang bocah manusia…

…menghabiskan satu tahun melawan monster anomali bersama kita."

Sylvhia (dalam hati):

Bahkan para Guardian pun pernah terdiam… menyaksikan manusia kecil itu berdiri di depan sesuatu yang seharusnya memakan dunia.

Aerisyl mengangkat tangannya. Di telapak itu, muncul selembar dokumen informasi—bukan kertas biasa, melainkan lembar sihir yang menyimpan catatan seperti benang angin.

Aerisyl :

"Aku menemukannya.

Gadis yang dicari beastskin itu…

…sedang menjalankan misi pengintaian di dunia manusia."

Sylvhia langsung mencondongkan tubuh, matanya tajam.

Sylvhia :

"Pengintaian?"

Aerisyl mengangguk.

Aerisyl :

"Terkait insiden monster anomali.

Catatan ini menyebut… kemunculan monster itu janggal.

Hanya muncul di satu titik di dunia manusia.

Tidak menyebar ke wilayah lain. Itu mengarah pada dugaan… ada pelaku.

Dan dugaan terkuat… pelaku berada di posisi kekuasaan tinggi.

Karena itu misi ini dirahasiakan."

Vhaldrake menyilangkan tangan, mendengus.

Vhaldrake :

"Ya. Kalau bocor…

mereka akan menghapus jejak lebih dulu."

Sylvhia menghela napas, lalu mengangguk puas.

Sylvhia :

"Baik. Itu cukup. Aku akan kembali.

Aerisyl, kau ikut?"

Aerisyl menatapnya datar.

Aerisyl :

"Untuk apa aku ikut? Kau sudah cukup.

Dan jika aku ikut…

Kau hanya akan menggoda di depan dia."

Sylvhia tertawa kecil, menyenggol bahu Aerisyl dengan genit.

Sylvhia :

"Ah~ jadi kau sadar kau menyukainya juga.

Buang rasa malumu itu."

Vhaldrake mengerang pelan, jelas pusing.

Vhaldrake :

"Pergilah. Aku sakit kepala kalau kalian mulai berebut bocah itu."

Sylvhia menutup mulut, tertawa sebentar.

Sylvhia :

"Baik, baik. Terima kasih.

Karena kalian membantu Rei."

Ia melompat mundur, tubuhnya berubah jadi kilau hijau lembut—seperti kelopak yang hancur menjadi cahaya.

Dan ia pergi.

—Jawaban yang Dibawa Pulang

Angin hutan kembali menyambut Sylvhia saat ia menembus batas ilusi dan turun ke tanah lembap Hutan Terlarang. Suara daun, bau tanah, dan sunyi yang penuh kewaspadaan—semuanya terasa akrab.

Di depan gerbang, Rei masih duduk. Garm dan Lirya ada di dekatnya. Mereka menoleh saat Sylvhia muncul dari balik pepohonan.

Sylvhia berdiri santai, seakan ia baru pergi berjalan sebentar—padahal langit tadi sudah ia belah.

Rei :

"Bagaimana?"

Sylvhia mengangkat satu jari, seperti memberi peringatan.

Sylvhia :

"Ini informasi sensitif. Jangan disebar.

Bahkan jangan dibicarakan sembarangan."

Lirya menahan napas, Garm menegang.

Sylvhia menatap Garm langsung.

Sylvhia :

"Nyra… tidak hilang. Dia ditugaskan.

Ke dunia manusia. Untuk misi pengintaian.

Terkait insiden monster anomali."

Garm terdiam. Ekornya bergoyang kecil tanpa sadar—bukan karena santai, tapi karena lega yang tidak bisa ia kendalikan.

Sylvhia :

"Misi ini dirahasiakan.

Karena ada dugaan… pelaku berada di posisi kekuasaan tinggi."

Garm menelan ludah.

Garm (dalam hati):

Jadi… bukan dia menjauh.

Dia hanya… berjalan di jalan berbahaya.

Rei menatap Garm, suaranya tenang tapi tegas.

Rei :

"Kau dengar. Jaga informasi ini.

Cukup tunggu Nyra kembali.

Kalau kau gegabah…

Kau bisa membuat misi itu gagal."

Garm mengepalkan tangan, lalu mengangguk kuat.

Garm :

"Aku mengerti. Terima kasih…

Rei. Dan Ratu."

Lirya menatap Garm, lalu menepuk pundaknya pelan—tidak mengejek, tidak bercanda.

Lirya :

"Bagus. Kau masih punya kesempatan."

Sylvhia menguap kecil, lalu melirik Rei dengan senyum yang lebih lembut dari biasanya.

Sylvhia :

"Sudah. Aku pulang membawa jawaban.

Sekarang… giliran kau yang jangan menghilang."

Rei hanya mengangguk, menatap gerbang lagi seperti menunggu sesuatu yang bahkan waktu pun tidak bisa mempercepat.

Rei (dalam hati):

Satu hati menemukan jawabannya.

Hati lain… masih bertarung di dunia manusia.

Dan aku… hanya penjaga di antara dua takdir.

More Chapters