Cherreads

Chapter 120 - Bab 120: Daun yang Berbisik, Nama yang Disembunyikan

Angin di Hutan Terlarang selalu punya cara sendiri untuk bicara.

Ia tidak berteriak. Tidak memaksa. Ia hanya menggesek dedaunan, mengusap batang-batang tua yang penuh lumut, lalu menyelipkan suara kecil—seperti rahasia—ke telinga siapa pun yang cukup diam untuk mendengar.

Di depan gerbang yang berdiri seperti luka tua di batas dunia, Rei masih duduk. Punggungnya tegak, napasnya tenang, tatapannya jauh… seolah menatap sesuatu yang tidak terlihat mata.

Ia baru saja merasakan resonansi dari "dirinya yang lain" di dunia manusia—gema emosi yang pecah, suara yang meninggi, lalu tangis yang berlari mengejar.

Rei (dalam hati):

Ada malam yang berulang… dalam bentuk lain.

Luka yang meminjam mulut orang lain…

dan cinta yang tetap kembali, meski kakinya gemetar.

Rei menoleh pada Lirya—demon berambut hitam merah gelap, mata merah menyala seperti bara. Tanduk kecilnya tampak manis, tapi auranya… tidak pernah lembut.

Rei :

"Lirya. Adikmu… Ravien.

Dia punya luka masa lalu… soal seorang gadis?"

Sejenak, Lirya membeku. Matanya menyipit.

Lirya :

"…Bagaimana kau bisa tahu?"

Rei tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sedikit bahu, seolah "resonansi" itu hal biasa seperti embun.

Rei :

"Aku merasakannya.

Dan pola lukanya… hampir sama dengan jiwaku di dunia manusia."

Lirya menghela napas, lalu duduk lebih dekat. Suaranya melembut sedikit—hanya sedikit.

Lirya :

"Benar. Ravien pernah… hancur karena seorang gadis.

Sejak itu dia jadi… seperti batu yang dipanaskan api."

Rei mengangguk kecil.

Rei :

"Kalau begitu… kau tidak perlu khawatir lagi.

Dia sudah menemukan orang yang cocok.

Untuk menyembuhkan luka masa lalunya."

Lirya mendongak cepat, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Rei—penasaran sekaligus senang. Ekor tipisnya bergoyang malas, tapi ekspresinya hidup.

Lirya :

"Benarkah itu?"

Rei mengangguk pelan.

Rei :

"Dia rela memasak.

Untuk ulang tahun gadis itu.

Dan itu… bukan hal yang dilakukan Ravien untuk sembarang orang.

Apa benar begitu?"

Lirya langsung mencemberut, seperti anak kecil yang iri.

Lirya :

"Sejak kapan batu itu mau repot-repot memasak… untuk seseorang lagi?"

Lirya (dalam hati):

Aku juga mau makan masakannya lagi…

Tapi dia selalu bilang capek… malas… menyusahkan…

Lirya :

"…Tapi ya sudah.

Aku senang dia bisa menerima seseorang lagi."

Rei melihat ke sekeliling.

Rei :

"Ngomong-ngomong… Garm ke mana?

Sudah seminggu aku tidak melihatnya."

Lirya baru ingat, lalu menjawab dengan nada yang dibuat-buat santai.

Lirya :

"Dia pergi ke kota. Katanya ada urusan.

Dan… dia mau menyatakan perasaan."

Rei menatap hutan sebentar—seolah mendoakan tanpa suara.

Rei :

"Semoga dia dapat kebahagiaannya."

Lirya mendengus kecil, tapi kali ini tidak mengejek.

Lirya :

"Walau dia usil… aku juga tidak mau dia sendirian."

Belum sempat percakapan itu memanjang—

Suara langkah terdengar dari belakang, ranting kecil patah, daun kering terseret.

Lirya menoleh.

Dan benar… Garm muncul dari balik pepohonan. Pria beastskin bertubuh tinggi berotot, telinga serigala, rambut cokelat kusut. Biasanya ia datang dengan tatapan usil.

Tapi kali ini… wajahnya muram. Bahunya turun. Ekor tebalnya bahkan tidak bergoyang.

Lirya :

"Garm! Ada apa dengan wajahmu? Kenapa muram begitu?"

Garm menghela napas berat, suaranya rendah.

Garm :

"Tidak apa-apa …sudah.

Aku mau sendiri."

Ia berjalan melewati mereka, menjauh seperti orang yang membawa beban di dalam dada.

Lirya mematung sebentar, lalu menoleh ke Rei—matanya bertanya.

Rei (dalam hati):

Langkah seperti itu… biasanya milik orang yang harapannya tidak pulang bersamanya.

Dan orang yang kehilangan harapan… itu punya aroma.

Rei :

"Kemungkinan… dia ditolak."

Lirya tertawa spontan—refleks nakal yang terlalu cepat keluar.

Lirya :

"HAHA—

Pantesan!"

Lirya langsung berdiri, seperti mau mengejar Garm untuk meledek. Namun baru dua langkah… ia tersadar, tawa itu padam.

Lirya (dalam hati):

Ah… bodoh.

Kalau dia benar-benar sedih…

Lirya tetap mengejar, tapi bukan untuk menghina—lebih seperti… memastikan.

Tak lama, suara Garm yang kesal terdengar dari jauh, disusul tawa Lirya yang lari-lari kecil. Mereka berdua mendekat kembali—Lirya berlari ke arah Rei, bersembunyi di sisi Rei sambil tertawa, dan Garm mengejar dengan wajah jengkel.

Garm :

"LIRYA!"

Lirya :

"Ehh, aku cuma bercanda!

Jangan serius-serius!"

Garm berhenti ketika sampai dekat Rei. Ia menahan marahnya—karena Rei ada di sana. Ia menarik napas, menenangkan diri.

Rei menatapnya, tenang.

Rei :

"Garm. Maaf.

Benarkah kau ditolak?"

Garm mendecak, tapi bukan marah—lebih seperti lelah.

Garm :

"Bukan. Dia… pergi. Entah kemana."

Lirya berhenti tertawa seketika.

Lirya :

"Hah pergi?"

Garm menatap tanah sebentar, lalu bicara dengan suara yang terdengar seperti menahan kecewa.

Garm :

"Sebenarnya aku memang mau menyatakan perasaanku.

Tapi… saat aku datang, dia sudah ditugaskan.

Lalu aku mencoba cari informasi selama beberapa hari.

Tetapi tidak mendapatkan apa-apa.

Seolah-olah namanya tidak pernah boleh disebut."

Rei mengangguk pelan.

Rei :

"Berarti kau belum kalah.

Kau hanya… terlambat satu langkah.

Tapi kau masih punya kesempatan.

Kau tahu kapan dia kembali?"

Garm :

"Tidak ada yang mau bilang."

Lirya memijat pelipis, lalu mendecak kesal pada "sistem" yang menyembunyikan segalanya.

Lirya :

"Dunia ini suka sekali bikin orang menderita."

Rei menghela napas kecil, lalu menatap pepohonan di sisi kanan—tempat satu pohon besar berdiri seperti raja.

Rei :

"Sylvhia.

Kau sudah dengar penjelasan Garm.

Kau tahu aku mau minta tolong ke siapa."

Lirya dan Garm saling pandang—mereka tidak melihat siapa-siapa.

Namun udara di sekitar pohon itu berubah.

Daun-daunnya bergetar seperti bertepuk tangan.

Akar-akar terasa "hidup".

Dan dari balik batang yang besar, Sylvhia muncul—Ratu Dryad, tersenyum dengan tatapan menggoda yang selalu terasa terlalu dekat dengan rahasia.

Sylvhia :

"Ara~ Memanggilku seperti itu…"

Kau yakin ingin minta bantuannya?"

Rei :

"Ya. Hanya dia satu-satunya yang punya akses informasi paling luas."

Sylvhia menyentuh bibirnya dengan ujung jari, berpikir seolah ini permainan.

Sylvhia :

"Baiklah.

Siapa nama gadis itu, Garm?"

Garm menatap Rei sebentar—ragu—lalu menyebutkan namanya pelan, seperti takut nama itu ikut hilang kalau diucapkan keras.

Garm :

"Nyra.

Nyra Fenwald."

Sylvhia mengangkat alis.

Sylvhia :

"Hmm…

Nama yang manis."

Lirya menoleh cepat pada Garm.

Lirya :

"Nyra…?"

Lirya (dalam hati):

Jadi itu namanya…

Pantas saja kau kelihatan seperti serigala kehilangan bulan.

Sylvhia tersenyum tipis pada Rei—senyum yang berkata: aku tahu harus ke mana.

Lalu tubuhnya mulai berubah menjadi cahaya lembut—seperti serbuk sari yang terangkat angin. Ia melayang naik, naik, hingga menjadi garis cahaya yang menembus rimbunnya hutan.

Sylvhia :

"Aku akan kembali membawa jawaban…

…semoga langit sedang ramah padaku."

Dan ia lenyap, meninggalkan Lirya dan Garm dalam kebingungan.

Garm menatap Rei, tidak mengerti.

Garm :

"Apa yang kau lakukan, Rei?"

Rei menatap gerbang lagi—tenang, seolah ia sudah tahu dari mana jawaban itu akan turun.

Rei :

"Tunggu saja.

Kau akan dapat jawaban."

Rei (dalam hati):

Ada nama yang hanya diketahui sebagian orang.

Dan saat angin memanggilnya… bahkan rahasia pun belajar menyerah.

More Chapters