Restoran yang tadi penuh tawa kini seperti ruangan yang kehilangan warna.
Orang-orang berbicara pelan—terlalu pelan—seakan takut suara mereka ikut memecahkan sisa-sisa kebahagiaan yang baru saja runtuh.
Rei menatap meja yang masih penuh makanan. Lilin kue sudah mati. Tapi rasanya… seperti ada api lain yang menyala, api yang tidak terlihat—api yang menghanguskan perasaan.
Rei :
"Kita pulang.
Hari sudah semakin malam."
Riku mengangguk. Ia memberi isyarat pada pelayan, suaranya tetap sopan walau dadanya juga berat.
Riku :
"Tolong bungkuskan makanan.
Biar bisa dibawa teman-teman."
Pelayan mengangguk cepat—mungkin ia juga merasakan betapa malam ini berubah terlalu mendadak. Satu per satu kotak makanan disiapkan, rapi, namun tidak ada yang benar-benar peduli soal rapi atau tidak. Mereka hanya ingin… keluar dari suasana itu.
Aelria dan Airi membantu, Rika masih menahan emosi, Seris menunduk lama seolah ingin menelan rasa bersalahnya sendiri, Rinna dan si kembar diam—tak biasa mereka diam.
Mereka pulang bersama.
Tapi satu orang tidak ikut.
—Hina yang Berlari, dan Langit yang Tidak Menjawab
Di luar restoran, udara malam terasa dingin. Hina berlari—napasnya putus-putus—mata basah, pipi panas.
Ia berlari menyusuri depan hotel—napasnya terpotong, pandangannya kabur.
Ke kanan. Ke kiri.
Tidak ada.
Lorong sempit. Taman kecil. Jalan menuju pantai.
Ombak memantulkan cahaya lampu. Sosok itu tetap tidak muncul.
Di pundaknya, Sora menempel erat. Telinganya bergetar, mata beningnya memandang wajah Hina yang basah. Makhluk kecil itu seperti mengerti—bukan dengan kata-kata, tapi dengan cara ia bertahan di sana, menemani.
Hina berhenti. Tubuhnya gemetar membuat kakinya tidak mampu menahan berat tubuhnya.
Hina (dalam hati) :
Apa… kebahagiaanku cuma sampai di sini…?
Apa memang… aku tidak pantas…?
Kalau aku pantas bahagia… kenapa selalu diambil lagi…?
Hina menutup mulutnya, menahan suara tangis, tapi tidak berhasil. Air mata jatuh begitu saja.
Hina (dalam hati) :
Ravien… kamu di mana…
Jangan tinggalkan aku… aku mohon…
Lalu pikirannya menangkap satu tempat.
Satu tempat yang sama yang menyimpan tangis, pelukan, dan rasa aman.
Hina mengangkat wajahnya.
Hina :
"T-taman…"
Ia bangkit berdiri dan berlari lagi.
—Ravien dan Angin Malam yang Menjadi Saksi
Di taman, lampu-lampu kecil di tepi jalan memantulkan bayangan daun. Angin melewati cabang pohon, membuat suara seperti bisikan.
Di bangku yang sama—tempat Ravien biasa tidur—Ravien duduk sendirian. Punggungnya bersandar, kepala menunduk sedikit. Matanya menatap kosong pada tanah.
Ravien :
"…Apa yang kau lakukan, Ravien."
Suaranya rendah, dingin—tapi kali ini bukan dingin yang sombong.
Dingin yang… menyesal.
Ravien (dalam hati):
Dia tidak tahu apa-apa.
Dan aku… menghukumnya… seolah dia pelaku.
Ravien menertawakan dirinya sendiri, pendek, pahit.
Ravien :
"Kau pengecut.
Kau hanya pintar menghajar orang… tapi bodoh menjaga satu orang yang ingin tetap di sisimu."
Ia mengusap wajahnya pelan, seperti ingin menghapus kata-kata yang tadi keluar di restoran.
Ravien (dalam hati):
Aku memang benci masa laluku…
Makanya aku menggigit siapa pun yang mendekat.
Termasuk… dia.
Lalu…
Suara napas berat.
Langkah tergesa di atas tanah taman.
Ravien menoleh.
Dan di sana—di bawah lampu taman yang redup—Hina berdiri, tubuhnya gemetar, napasnya seperti pecah, matanya basah sampai merah.
Ravien berdiri seketika.
Ravien :
"…Hina."
Hina tidak menjawab dengan kata.
Ia menjawab dengan tubuh.
Hina berlari dan memeluknya.
Kuat.
Seolah jika ia melepas, Ravien akan hilang lagi.
Hina :
"M-maaf… maaf… maaf…
A-aku salah…"
Hanya itu yang bisa Hina katakan diawal sambil menangis di dadanya.
Hina :
"J-jangan pergi…
Aku… aku tidak mau sendirian lagi…
Aku memang tidak mengerti masa lalumu…
T-tapi… biarin aku… di sisimu…
Biar aku… bantu mengobati lukamu…"
Ravien membeku sepersekian detik.
Lalu tangannya—yang biasanya dingin, kasar—turun pelan ke kepala Hina.
Ia mengusap rambut Hina, perlahan, seperti menenangkan sesuatu yang rapuh.
Ravien :
"Maaf."
Satu kata.
Tapi kata itu terdengar berat.
Ravien :
"Akulah yang bodoh."
Ravien menarik napas, lalu menunduk sedikit, seolah suara berikutnya harus dipaksa keluar.
Ravien :
"Aku tidak akan meninggalkanmu.
Dan… jangan minta maaf sendirian."
Ravien memegang bahu Hina, menariknya sedikit menjauh agar ia bisa melihat wajahnya.
Ravien :
"Aku salah.
Aku… tidak seharusnya bicara begitu."
Hina menatapnya, mata masih berair. Bibirnya gemetar.
Hina :
"R-Ravien…
A-aku cuma…"
Hina tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Karena Ravien menunduk.
Dan mencium Hina.
Ciumannya tidak panjang.
Tidak manis seperti dongeng.
Tapi cukup untuk berkata: aku di sini.
Hina tersentak, lalu membalas—pelan, ragu, seolah takut ini mimpi dan akan pecah.
Di pundak Hina, Sora menutup matanya dengan dua tangan kecilnya—gerakan konyol yang membuat suasana pecah sedikit.
Ravien menatap makhluk kecil itu… lalu, untuk pertama kalinya, ia tertawa sungguhan.
Bukan tawa mengejek.
Tawa yang hangat, kecil, jujur.
Hina tertegun.
Lalu ikut tertawa—masih dengan air mata yang belum benar-benar kering.
—Pengakuan yang Tidak Dibungkus Indah
Setelah agak tenang, mereka duduk di bangku taman.
Hina bersandar di pundak Ravien.
Ravien menggenggam tangan Hina, jari-jarinya menahan erat—seolah takut ia akan kehilangan lagi.
Angin malam menyapu pelan.
Dan Ravien mulai bicara.
Suaranya tetap dingin.
Tetap pendek.
Tapi setiap kalimatnya… penuh beban.
Ravien :
"Dulu aku pernah… percaya seseorang.
Hingga membuatku seperti Demon yang bodoh."
Hina menahan napas, mendengar.
Ravien :
"Dulu aku… tidak seperti sekarang.
Aku… ceria. Aku tidak peduli perbedaan ras.
Aku senyum ke siapa pun."
Hina menelan pelan.
Ravien :
"Sampai suatu ketika aku suka… seorang beastskin."
Hina merasa dadanya nyeri kecil, tapi ia tidak bergerak. Ia memilih mendengarkan.
Ravien :
"Aku pikir… dia tulus dan bisa menjadi terang dalam hidupku.
Ternyata… dia hanya menginginkan sesuatu dariku.
Dan… teman yang kupercayalah… yang mengambilnya dariku."
Ravien memejamkan mata sebentar, seperti menelan racun yang masih tersisa di tenggorokannya.
Ravien :
"Dengan tanganku sendiri… aku menghancurkan mereka.
Bukan cuma teman itu—tapi semua yang berdiri di belakangnya."
Hina menggenggam tangan Ravien lebih kuat.
Hina (dalam hati):
Jadi… itulah lukanya…
Bukan cuma marah… tapi takut percaya…
Ravien membuka mata, menatap depan—lampu taman, daun, malam—lalu berkata pelan:
Ravien :
"Sejak itu…
Aku benci bila ada gadis yang mendekat.
Aku benci tatapan mereka.
Aku benci… merasa akan dibodohi lagi."
Ia menoleh pada Hina.
Ravien :
"Tapi… kau hadir.
Kau selalu… menutup kesepianku.
Kau taruh makanan di mejaku.
Kau temani aku cari tempat sepi.
Kau… tidak bisa kubenci."
Hina tersipu—wajahnya memerah, tapi kali ini bukan karena malu semata.
Karena ia merasa… dipilih.
Hina :
"A-aku…?"
Ravien :
"Iya. Kau."
Hina menunduk, suaranya bergetar.
Hina :
"Kalau begitu… t-tolong…
J-jangan bicara seperti tadi… lagi…"
Hina mengangkat wajahnya, menatap Ravien seperti memohon hal yang paling sederhana tapi paling sulit.
Hina :
"Dan jangan… ninggalin aku…"
Ravien menatap balik, lama.
Lalu ia mengangguk kecil.
Ravien :
"Aku janji. Tapi… kau juga.
Jangan pergi."
Hina :
"A-aku… nggak akan."
Ravien :
"Bagus."
Dan untuk kedua kalinya malam itu, Ravien tersenyum tipis—hanya sedikit—tapi cukup untuk membuat dada Hina hangat.
—Janji yang Terlalu Gelap
Saat malam makin larut, Ravien berdiri.
Ravien :
"Ayo kita pulang.
Hari semakin gelap."
Mereka berjalan pelan menuju hotel.
Di perjalanan Hina bergandengan tangan dengan Ravien menikmati suasana malam hingga di dalam lift.
Ding!
Setelah pintu lift terbuka Ravien mengantar Hina menuju kamar.
Di depan kamar Hina, Ravien berhenti.
Ravien :
"Tidurlah.
Besok… jangan bikin matamu bengkak lagi."
Hina menahan tawa kecil—lalu mendekat.
Hina :
"R-Ravien…"
Ravien :
"Hmm…"
Dengan malu-malu Hina mencium Ravien singkat—cepat—lalu masuk dan menutup pintu, seperti pencuri yang mencuri keberanian sendiri.
Ravien berdiri di depan pintu beberapa detik.
Lalu menoleh ke lorong.
Ravien (dalam hati):
Aneh… kenapa aku cuma bisa jadi diriku yang dulu… kalau bersama dengannya.
Ravien tersenyum kecil dan berbalik menuju kamarnya.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia menggumam pelan—kata yang terlalu tajam untuk diucapkan keras-keras.
Ravien :
"Kalau aku buat kamu menangis lagi… anggap itu terakhir kali.
Karena setelah ini—aku yang akan berdiri di depan apa pun yang menyakitimu."
Ia menghela napas.
Langkahnya lenyap di ujung lorong, meninggalkan malam yang masih menyimpan luka—
tapi juga menyimpan alasan untuk pulang.
Karena malam ini, mereka memilih tidak lari.
Dan Hina… akhirnya punya seseorang yang kembali.
