Lampu-lampu restoran memantulkan kilau hangat di gelas dan piring. Tawa masih menggantung di udara—sejenis tawa yang membuat orang lupa kalau dunia bisa kejam… setidaknya untuk satu malam.
Di pangkuan Hina, makhluk kecil hadiah dari Rei, Airi, dan Aelria menggeliat pelan. Bulunya lembut, telinga sedikit panjangnya bergetar, mata bening seperti kaca menatap Hina seolah menunggu satu hal: namanya.
Hina menahan napas—masih sedikit tidak percaya bahwa ia benar-benar memilikinya.
Hina :
"A-aku… kasih nama kamu…"
Hina menatap telinganya yang bergerak pelan, lalu tersenyum kecil—gemetar, tapi hangat.
Hina :
"Sora…"
Makhluk kecil itu mengeluarkan suara lirih, hampir seperti dengusan mungil, lalu ekor tipisnya bergerak pelan. Ia menempel lebih rapat di pangkuan Hina, seolah memahami arti nama itu.
Hina (dalam hati):
Sora… langit… angin…
Kalau aku jatuh… semoga kamu jadi pengingat… aku masih bisa bernapas.
Hina merapikan napasnya, lalu melirik dua hidangan yang diletakkan Ravien di depannya. Piringnya masih mengeluarkan uap tipis, aromanya tajam—bukan aroma restoran… tapi aroma seseorang yang memasak dengan tangan sendiri.
Ravien yang duduk di samping Hina, sudah menjatuhkan kepala di atas meja. Diam. Seperti batu yang kelelahan, tapi tetap menjaga.
Lalu—seperti komedi yang terlambat datang—empat suara perut berbunyi keras sekaligus.
GROOAAK.
Semua kepala menoleh.
Rika, Rinna, dan si kembar Noelle serta Nerine terdiam membeku sepersekian detik… lalu tersenyum malu.
Nerine :
"E-eh… hehehe…"
Rinna menggaruk pipinya, telinga beastskin-nya berkedut halus karena malu.
Rika :
"A-aku… tadi… cuma… lupa makan…"
Ruangan meledak oleh tawa.
Riku menutup mulutnya dengan tangan, tapi bahunya naik-turun menahan geli.
Riku :
"Kalau begitu… ayo makan.
Udah malam. Jangan pulang terlalu larut."
Seolah mendapat komando perang, Rika, Rinna, dan si kembar langsung mengambil makanan di meja—terlalu cepat sampai Riku menahan senyumnya dan menepuk punggung Rika pelan.
Riku :
"Pelan-pelan.
Jangan sampai tersedak."
Rika menoleh cepat, pipinya memerah, tapi tetap makan dengan gaya "aku kelaparan dan aku tidak menyesal".
—Dua Hidangan, Satu Gigitan yang Meleleh
Hina menatap hidangan buatan Ravien.
Indah. Terlalu indah untuk dimakan.
Daging panggangnya tampak matang sempurna—kilau minyaknya tipis, garis bakarnya rapi, dan aroma bumbunya seperti… menampar lembut.
Aelria melirik sekali dan langsung tahu: ini bukan masakan asal.
Airi mencondongkan badan.
Airi :
"Ayo, Hina. Makan."
Hina ragu sebentar—bukan karena takut rasanya, tapi karena takut… kalau ia merusak sesuatu yang dibuat dengan susah payah.
Ia memotong kecil.
Lalu memasukkannya ke mulut.
Dan… seketika, Hina terdiam.
Daging itu seperti meleleh di lidahnya—hangat, gurih, dan ada rasa yang sulit dijelaskan… seperti rasa "aku diingat".
Hina menelan pelan, matanya berkaca tanpa sadar.
Hina (dalam hati):
Apa… ini… rasanya… dipedulikan…?
Bukan karena kasihan… tapi karena dipilih…
Seris memperhatikan wajah Hina dengan sudut mata yang tenang. Lalu ia bicara, suaranya datar tapi hangat.
Seris :
"Enak, kan.
Kamu beruntung, Hina. Kakak… sudah lama nggak masak buat orang lain."
Seris menarik napas kecil, lalu kata-katanya mulai mengarah ke sesuatu yang lebih dalam.
Seris :
"Dulu Kak Lirya juga pernah—
tapi Kak Ravien berhenti… sejak—"
Namun sebelum kalimat itu selesai…
Ravien mengangkat wajahnya sedikit. Matanya tajam. Suaranya dingin—seperti pintu besi yang ditutup.
Ravien :
"Seris. Cukup."
Ruangan yang tadi hangat… mendadak kehilangan suara.
Sendok berhenti bergerak.
Tawa lenyap.
Hina menelan sisa makanan dengan gugup.
Seris menunduk cepat.
Seris :
"Maaf Kak."
Hina melihat itu—melihat bagaimana satu kata dari Ravien bisa membuat semua orang menahan napas.
Dan tanpa berpikir panjang, Hina mencoba "menutup retak" itu dengan tangan kecilnya.
Hina :
"R-Ravien… maaf…
Jangan… jangan marah sama Seris…"
Hina menggigit bibir, lalu melanjutkan pelan, ragu.
Hina :
"...mungkin Seris cuma… ingin berbagi cerita kecil."
Kalimat itu jatuh.
Dan tepat saat kalimat itu jatuh—seperti memijak pecahan kaca—Ravien berdiri.
Kursinya bergeser keras.
Suara itu menggema di restoran yang sudah hening.
Ravien menatap Hina—bukan dengan marah yang meledak, tapi dengan sesuatu yang lebih berbahaya: marah yang ditahan terlalu lama.
Ravien :
"Kau… tidak tahu apa-apa."
Hina membeku.
Ravien menarik napas tajam, dan untuk pertama kalinya malam itu, suaranya naik—bukan panjang, bukan dramatis… tapi cukup untuk menyayat.
Ravien :
"Jangan bilang itu hal kecil…
kalau kau bahkan tidak paham."
Lalu ia berbalik.
Langkahnya cepat.
Tidak ada pamit.
Tidak ada penjelasan.
Hanya punggung yang menjauh—dan pintu yang menutup di belakangnya.
DUK.
Hina menunduk, dan air mata jatuh ke piringnya—tanpa suara.
Hina (dalam hati) :
Aku… bodoh…
Aku ingin jadi obat… tapi malah menusuk…
Kenapa aku… selalu salah saat ingin baik…?
Aelria segera mendekat, menarik kepala Hina ke pelukannya, mengusap rambutnya pelan.
Aelria :
"Tidak apa Hina…
Tarik napas…"
Rika berdiri setengah, wajahnya panas karena emosi.
Rika :
"Aku akan mengejar dia!"
Namun Riku cepat menahan pergelangan tangan Rika—tegas, tapi lembut.
Riku :
"Jangan.
Biar saja."
Rika memelotot, telinga beastskin-nya menegang.
Rika :
"Aku gak terima Hina disakiti!"
Riku :
"Aku juga. Tapi kalau kamu kejar dengan amarah… kamu cuma akan menambah api."
Seris diam, kepalan tangannya mengencang kecil.
Seris :
"Maaf…
Ini semua salahku."
Rei mengangkat tangan pelan—seperti menurunkan gelombang emosi semua orang.
Rei :
"Rika… tenang.
Masalah tidak selesai dengan marah."
Rei menoleh pada Seris.
Rei :
"Seris… kamu salah, iya.
Tapi jangan salahkan sepenuhnya dirimu karena itu."
Lalu Rei menatap Hina—tatapannya tenang, dewasa, seperti seseorang yang pernah jatuh dan belajar berdiri pelan-pelan.
Rei :
"Hina…
Kata-katanya memang menyakitkan.
Tapi itu berarti… di dalam dirinya ada luka yang sedang tutupi.
Dan dia tidak mau orang tahu."
Rei menarik napas, lalu lanjut pelan.
Rei :
"Kalau kamu benar mencintainya…
…kamu tidak perlu menang melawan masa lalunya.
Kamu cukup hadir. Pelan-pelan menyembuhkan lukanya."
Hina mengusap air mata. Dadanya masih sakit, tapi kata-kata Rei masuk seperti tangan yang menahan agar ia tidak jatuh lagi.
Hina (dalam hati) :
Benar… Dia pernah jadi obat untuk lukaku…
Kalau begitu… sekarang giliranku…
Hina berdiri.
Kursinya bergeser pelan.
Aelria menoleh cepat.
Aelria :
"Hina…?"
Hina menunduk sebentar, menahan napas.
Hina :
"A-aku…
Aku mau… minta maaf…
Aku akan… ngejar dia…"
Hina berlari keluar.
Di kursi tadi, Sora sempat meloncat panik—tergelincir ke lantai, lalu cepat berdiri lagi.
Ia menatap punggung Hina yang menjauh, telinganya bergetar.
Lalu ia berlari kecil mengejar di belakang Hina—seolah mengerti bahwa malam ini, tuannya sedang mengejar sesuatu yang lebih besar dari sekadar seseorang.
Sora (dalam hati, bila ia bisa bicara):
Jangan sendiri.
Dan langkah kecil itu pun menyusul Hina—menuju pintu yang baru saja ditutup—masih bergetar dari hentakannya—oleh seseorang bernama Ravien.
