Langkah Airi, Aelria, dan Hina menyusuri koridor hotel terasa seperti langkah menuju sesuatu yang "tidak disebutkan".
Lampu-lampu lorong memantulkan kilau lembut di lantai, dan tiap beberapa meter, ada mata yang menoleh—bukan menatap sinis… tapi menatap dengan rasa penasaran.
Hina langsung mengecil. Bahunya menegang.
Hina :
"A-Airi… aku… kelihatan aneh ya…?
K-kenapa… banyak yang lihat aku…"
Airi hendak menjawab, tapi Aelria lebih dulu tersenyum.
Aelria :
"Mereka melihatmu karena kamu cantik, Hina.
Jadi… coba percaya diri."
Hina semakin merah. Tangannya meremas tali tas kecilnya.
Hina :
"T-tapi… apa… harus begini… cuma buat makan malam biasa…"
Hina menelan ludah, lalu suaranya turun, nyaris berbisik.
Hina :
"Aku… jadi curiga…"
Hina :
"Kalian… rencanain sesuatu yang… aneh buat aku…"
Airi dan Aelria saling melirik cepat.
Ada sepersekian detik panik—detik yang nyaris membuat rahasia mereka bocor.
Aelria langsung mengubah arah pembicaraan dengan wajah setenang mungkin, walau matanya sempat berkedip lebih cepat.
Aelria :
"Kamu cuma belum terbiasa dilihat… karena biasanya kamu memilih menghilang."
Airi buru-buru menambahkan dengan nada ceria yang dibuat-buat.
Airi :
"Iya. Hari ini kamu kelihatan beda—makanya orang-orang ngeh."
Hina menunduk, masih ragu, tapi pintu lift sudah terbuka.
Mereka masuk.
Di dalam lift, suasananya lebih sunyi—hanya suara mesin bergerak pelan, dan detik-detik yang terasa panjang.
Hina (dalam hati):
Kenapa… aku merasa… seperti ada sesuatu yang disembunyikan…
Saat lift tiba di lobi, pintunya terbuka.
Airi menarik napas lega.
Aelria berjalan lebih dulu, seolah yakin mereka hanya menuju makan malam biasa.
Namun jantung Hina tetap berdebar, seperti tahu… kebohongan kecil itu akan pecah sebentar lagi.
—Popper, dan Air Mata yang Tidak Ditahan
Mereka berjalan menuju restoran yang biasa.
Begitu pintu restoran terbuka, Hina melangkah satu langkah—
POP! POP!
Suara popper party memecah udara.
Potongan kertas kecil melayang turun seperti hujan warna-warni.
Lampu-lampu hangat menyala—seolah ruangan itu baru saja "dibuka" untuknya.
Dan suara itu, serempak, memenuhi ruangan:
"Selamat ulang tahun, Hina!"
Hina membeku.
Matanya melebar, bibirnya terbuka tapi tak keluar suara.
Di sana—di depan meja besar yang sudah ditata rapi—ada semuanya:
Rei, Riku, Rika, Seris, Rinna, si kembar Noelle dan Nerine, dan bahkan Aelria yang tadi berjalan bersamanya ikut mengucapkan selamat.
Para pegawai restoran ikut tersenyum, ikut tepuk tangan.
Hina menatap satu per satu wajah mereka seperti takut ini mimpi.
Dan di detik berikutnya… matanya berkaca.
Air mata jatuh, tanpa bisa ditahan.
Bukan karena sedih.
Tapi karena ada seseorang… yang peduli.
Hina :
"A-aku…
Aku… kalian…"
Suara Hina pecah. Ia mengusap pipinya cepat, tapi air mata tetap jatuh.
Hina (dalam hati):
Aku… masih bisa punya hari seperti ini…?
Rei maju pelan. Suaranya lembut, penuh penyesalan yang jujur.
Rei :
"Hina…
Maaf karena terlambat merayakannya.
Aku sebagai teman… bahkan tidak tahu hari spesialmu.
Maaf… kita baru bisa merayakannya sekarang."
Hina menggeleng cepat, masih menangis tapi tersenyum.
Hina :
"N-nggak…
Nggak apa-apa… Aku… aku senang…"
Riku kemudian mengangkat tangan, berusaha menghidupkan suasana.
Riku :
"Oke! Oke! Kalau begitu… ayo duduk.
Semua sudah siap."
Mereka bergerak ke meja besar.
Di sana sudah ada hidangan-hidangan yang ditata rapi, dan sebuah kue cantik—dengan lilin yang menyala hangat.
Doa yang Tak Dikatakan Keras-Keras
Airi berdiri di samping Hina, menepuk bahunya lembut.
Airi :
"Ayo, Hina. Tiup lilinnya.
Bikin permohonan."
Hina menatap lilin itu.
Api kecilnya bergetar pelan, seperti ikut bernapas bersama jantung Hina.
Ia menutup mata.
Hina (dalam hati):
Tolong… biarkan aku tetap bersama dengan mereka…
Biarkan aku tetap mendapat bagian dari tempat ini…
Ia menelan napas.
Dan sebelum meniup, ia menambahkan satu doa lagi—doa yang membuat dadanya terasa hangat sekaligus takut.
Hina (dalam hati):
…dan…
kalau boleh…
biarkan aku… bisa bersama Ravien.
Hina membuka mata.
Lalu meniup lilin itu.
Api padam.
Tepuk tangan meledak, tawa memenuhi ruangan, dan Hina kembali mengusap air mata—kali ini sambil tertawa kecil.
Hina :
"T-terima kasih…
Terima kasih banyak…
Aku… aku nggak nyangka…"
Rika merangkul Hina sebentar.
Rika :
"Kamu teman kita. Udah.
Gak ada debat."
Hadiah yang Mengisi Kekosongan
Satu per satu hadiah diberikan.
Riku dan Rika maju duluan. Mereka menyerahkan sebuah kotak kecil.
Riku :
"Ini… sederhana.
Tapi kami pikir cocok."
Rika mengangguk, pipinya sedikit merah.
Rika :
"Anting. Cantik… tapi nggak berlebihan."
Hina membuka kotak itu.
Sepasang anting yang anggun, tidak mencolok, tapi memantulkan cahaya dengan lembut—seperti sesuatu yang "diam" tapi indah.
Hina menutup mulutnya, terharu.
Hina :
"Ini… bagus sekali…
T-terima kasih…"
Lalu giliran Seris, Rinna, serta Noelle dan Nerine.
Mereka memberikan sebuah sarung tangan sihir—bahannya halus, dengan pola rune tipis yang nyaris tak terlihat tapi terasa "hidup".
Seris :
"Ini sarung tangan sihir.
Membantu sihir penyembuhanmu lebih stabil.
Dan memberi pertahanan… dalam batas tertentu."
Nerine tersenyum ceria.
Nerine :
"Biar kamu nggak gampang ketakutan sendirian!"
Noelle menguap kecil, tetap malas, tapi suaranya jujur.
Noelle :
"Pakai saja.
Itu… berguna."
Hina menggenggam sarung tangan itu seperti menggenggam sesuatu yang akhirnya bisa ia percaya.
—Makhluk Kecil yang Mengerti Kata-Kata
Terakhir, Rei, Airi, dan Aelria saling pandang.
Aelria melambaikan tangan kecil ke arah pintu.
Tak lama, seorang penjaga toko hewan masuk, membawa sebuah kandang kecil.
Di dalamnya… ada makhluk mungil yang membuat semua orang otomatis menatap.
Seekor makhluk kecil berbulu lembut—mirip kelinci, tapi lebih kecil.
Telinganya sedikit panjang, matanya bening seperti kaca, dan ekor tipisnya bergerak pelan seolah sedang "menyapa".
Makhluk itu menatap Hina… tidak takut.
Seolah mengenalinya.
Aelria tersenyum hangat.
Aelria :
"Kami memilih ini untukmu.
Kalau kamu sendirian di rumah… dia bisa menemanimu.
Dan saat dia dewasa… dia bisa melindungimu."
Hina terpaku.
Hina :
"A-aku… dapat… peliharaan…?"
Penjaga toko lalu mengeluarkan gulungan kontrak.
Penjaga toko :
"Untuk kontrak pemilik, Nona harus meneteskan sedikit darah."
Hina gugup, tapi mengangguk.
Ia meneteskan darah kecil—sangat sedikit—ke titik kontrak.
Rune di gulungan itu menyala tipis.
Kandang dibuka.
Makhluk kecil itu langsung melompat pelan… dan duduk di pangkuan Hina, menatapnya dengan mata bening yang seperti memahami bahasa hati.
Hina menahan napas.
Hina (dalam hati):
Hangat…
Seperti… aku nggak sendiri…
—Kursi Kosong yang Mengguncang Hati
Saat semua hadiah selesai, suasana kembali ramai.
Namun di sela tawa itu—Rika menoleh, lalu mengernyit.
Rika :
"Eh…? Ravien mana?"
Hina ikut menoleh.
Benar.
Tidak ada Ravien.
Kursi itu kosong.
Dunia Hina mendadak seperti jatuh satu tingkat lebih dingin.
Hina (dalam hati):
Kenapa…? Jangan…
Jangan bilang… semua itu… bohong.
Hina menelan napas, dadanya nyeri, tapi ia tetap memaksa tersenyum agar tidak terlihat rapuh di depan teman-temannya.
Rei ingin menjelaskan—
Hina menelan ludah.
Untuk pertama kalinya malam itu… hangat di dadanya terasa retak.
Namun tiba-tiba…
Pintu dapur terbuka cukup keras.
BANG!
Semua kepala menoleh.
Dan di sana…
Ravien muncul.
Di tangannya, dua piring hidangan yang masih mengeluarkan uap hangat—aroma yang jelas berbeda dari makanan restoran.
Ia berjalan lurus, tanpa peduli tatapan orang.
Langkahnya tenang, dingin… tapi arahnya tepat menuju Hina.
Ia menaruh dua hidangan itu di depan Hina.
Ravien :
"Makan. Aku yang buat. Jangan sia-siakan."
Hina menatap dua hidangan itu.
Satu hangat dan lembut. Satu lagi sedikit manis—seolah Ravien menyiapkan "cadangan" untuk senyumnya.
Lalu menatap Ravien.
Tenggorokannya tercekat.
Hina :
"R-ravien…"
Ravien tidak menunggu reaksi.
Ia duduk di kursi kosong tidak jauh dari Hina, lalu menaruh kepalanya di atas meja—seolah tubuhnya sudah habis dipakai bertarung di dapur.
Ravien :
"Jangan berisik.
Aku capek."
Kalimatnya dingin.
Tapi Hina tahu…
Ia datang dan memasak.
Ia membuat "dua hidangan" hanya untuk satu orang.
Dan itu membuat mata Hina kembali berkaca—kali ini bukan karena sedih, tapi karena dada yang terlalu penuh.
Seris memandang dari kejauhan, lalu menutup mata sebentar, lega.
Seris (dalam hati):
Ka… akhirnya…
Seris (dalam hati):
Kamu benar-benar… menerima dia.
Hina memegang sendoknya, masih gemetar.
Ia teringat kata-kata Seris dulu—bahwa Ravien hanya memasak untuk orang yang benar-benar masuk ke hidupnya.
Hina (dalam hati):
Kalau begitu…
aku… boleh berharap, kan?
Ia tersenyum kecil, meski air mata masih menggantung di ujung matanya.
Di meja itu, Hina tidak lagi merasa "gadis yang selalu sendiri".
Malam itu, Hina tidak lagi merasa sebagai "gadis yang selalu sendiri".
Ada tawa di sekelilingnya, ada hangat di pangkuannya—dan ada seseorang yang datang dengan caranya sendiri: dingin, kasar… tapi memilihnya, tanpa ragu.
