Cherreads

Chapter 116 - Bab 116: Riasan yang Dipaksa, Rahasia yang Disimpan

Di lorong lantai tiga, Hina masih berdiri di depan pintu kamarnya sendiri—napasnya belum benar-benar stabil.

Jantungnya masih berdetak terlalu cepat.

Seolah tiap detik mengulang adegan sore tadi: tangan yang menariknya, suara dingin yang menenangkan, pelukan yang membuatnya percaya… bahwa ia tidak sendirian.

Hina (dalam hati):

Tenang… Hina. Kamu sudah aman… kamu sudah aman…

Setelah beberapa tarikan napas, ia membuka pintu… lalu melangkah masuk.

Namun ia tidak bertahan lama di dalam.

Beberapa langkah kemudian, ia justru menuju kamar Airi, karena dari dalam terdengar suara riuh kecil—suara tawa yang hangat, suara barang-barang dibongkar, suara kertas belanjaan yang bergesek.

Saat pintu terbuka… Hina melihat pemandangan yang membuatnya terpaku sebentar.

Rika dan Airi sedang duduk di lantai, dikelilingi barang-barang belanjaan: kantong-kantong rapi, kotak-kotak kecil, dan beberapa bungkusan yang masih tersegel.

Rika terlihat sibuk membuka satu per satu dengan wajah campur aduk—senang tapi juga kesal.

Hina mendekat pelan.

Hina :

"I-itu… semua…?"

Rika menoleh, lalu mengangguk cepat.

Rika :

"Iya. Riku yang beliin."

Rika menghela napas panjang, lalu menunjuk beberapa bungkusan.

Rika :

"Aku cuma lihat sebentar… cuma sekali."

Rika mendengus pelan.

Rika :

"Tapi Riku itu… sekali aku melirik, dia langsung menganggap aku mau punya."

Rika menatap barang-barang itu seperti sedang menatap kesalahan kecil yang jadi terlalu besar.

Rika :

"Aku jadi menyesal… menyentuh barang yang bikin aku tertarik."

Hina tersenyum tipis, tapi pikirannya melayang.

Hina (dalam hati):

Dia dibelikan banyak

Aku… justru dipinjamkan satu baju… tapi… kenapa rasanya… lebih berharga.

Bayangan baju Ravien yang kebesaran, hangat, dan berbau bersih terlintas lagi. Bayangan itu datang bersama ingatan lain: Ravien yang melepas atasan tanpa ragu, lalu menyerahkannya seolah itu hal paling normal di dunia.

Hina menunduk, tanpa sadar senyum kecilnya muncul.

Tapi lalu—

Airi, yang sedang mengamati dari sudut matanya, tiba-tiba memperhatikan sesuatu yang "tidak biasa".

Airi menatap pakaian yang dipakai Hina: kebesaran. Panjang. Seperti bukan milik Hina.

Airi mendekat, mencondongkan tubuhnya.

Airi :

"Hina… Bajumu… kok gede banget?"

Hina membeku.

Rika ikut menoleh, lalu matanya menyipit, seperti detektif yang baru menemukan bukti.

Rika :

"Eh?"

Hina gugup. Suaranya kecil.

Hina :

"I-ini… baju Ravien…

D-dia… pinjemin."

Airi menahan tawa, tapi gagal.

Rika langsung menyambar kesempatan itu.

Rika :

"Oh… jadi itu bajunya.

Gimana aromanya?"

Rika tersenyum jahil.

Rika :

"Kamu suka?"

Hina refleks menjawab tanpa berpikir.

Hina :

"H-harum…

Aku… suka…"

Begitu kata itu keluar, Hina tersadar—seperti orang yang baru menyadari ia bicara terlalu jujur.

Wajahnya memerah dalam satu detik.

Hina :

"E-eh… b-bukan—!"

Rika menepuk telapak tangannya pelan, pura-pura kagum.

Rika :

"Oh begitu."

Rika :

"Pantas aja kamu belum ganti."

Rika :

"Padahal kamu sudah di kamar."

Hina semakin panas. Kepalanya seperti ingin menguap.

Tanpa menjawab, ia buru-buru—tapi tetap hati-hati—melepas baju itu, melipatnya rapi. Tangannya gemetar sedikit, seolah baju itu bukan kain biasa, melainkan sesuatu yang "penting" dan tidak boleh kusut.

Ia memasukkan baju itu ke kantong plastik dengan serius.

Hina :

"A-aku… besok aku cuci dan aku balikin… rapi."

Airi dan Rika tertawa kecil, tidak berniat jahat—justru puas, karena melihat Hina akhirnya punya alasan untuk malu yang indah.

Dan karena Hina tahu kalau ia bertahan lebih lama, mereka akan terus menggoda…

Hina menunduk, berjalan cepat menuju kamar mandi.

Hina :

"A-aku mandi dulu!"

Pintu kamar mandi menutup.

Airi dan Rika saling pandang, lalu tertawa lebih pelan—tawa yang seperti doa kecil.

Airi :

"Dia beneran mulai bahagia ya…"

Rika mengangguk, matanya hangat.

Rika :

"Semoga kali ini… dia nggak sendirian lagi."

—Kelelahan yang Manis

Sekitar dua puluh menit kemudian, Hina keluar dari kamar mandi dengan rambut masih setengah basah. Ia mengusap pelan ujung rambutnya, dan mendapati kamar sudah sunyi.

Airi dan Rika tertidur pulas.

Hina berhenti sebentar, menatap mereka.

Ada rasa hangat yang menekan dadanya—rasa "punya tempat" yang dulu tidak pernah ia miliki.

Ia naik ke tepi kasur, lalu ingatan kembali menyerbu pelan-pelan.

Hina (dalam hati):

'Benar.'

Kata itu…

Kenapa cukup satu kata… tapi rasanya bikin aku… percaya.

Bayangan Ravien tertidur di pangkuannya.

Bayangan Ravien menggendongnya sampai depan kamar.

Bayangan tangan Ravien yang tidak pernah ragu memegangnya—seolah menolak dunia yang ingin membuatnya jatuh.

Wajah Hina memerah lagi. Ia buru-buru berbaring miring, menutupi setengah wajah dengan bantal, seperti anak kecil yang ketahuan menyimpan rahasia.

Hina (dalam hati):

Aku… benar-benar… jatuh.

Tak lama kemudian, ia tertidur lelap—lelah, tapi tenang.

Tiga gadis itu terlelap dalam satu ruangan, masing-masing dengan kebahagiaannya sendiri.

—Setengah Delapan Malam

Beberapa jam berlalu.

Suara notifikasi halus dari ponsel membangunkan Airi. Matanya mengerjap, lalu ia melihat jam.

19.30

Airi langsung duduk.

Airi :

"Ah—!"

Ia bergegas mengganti pakaian dengan gerakan cepat, tapi tetap hati-hati agar tidak membangunkan Hina.

Lalu ia mengguncang Rika pelan.

Airi :

"Rika… bangun."

Rika membuka mata dengan wajah mengantuk.

Rika :

"U-udah jam berapa…"

Airi :

"Hampir jam delapan."

Rika langsung bangkit, panik kecil, lalu ikut mengganti pakaian.

Saat mereka masih sibuk, pintu kamar diketuk.

Tok. Tok.

Airi membuka pintu.

Di sana berdiri Aelria, sudah berpakaian rapi—cantik, anggun, dengan aura bangsawan elf yang tidak pernah hilang.

Di belakangnya, tampak juga beberapa temannya.

Aelria :

"Kalian sudah siap?"

Airi menggeleng cepat.

Airi :

"Belum sepenuhnya."

Airi :

"Rika masih ganti… Hina masih tidur."

Aelria melirik ke dalam kamar, lalu mengangguk.

Aelria :

"Kalau begitu…"

Aelria menoleh pada teman-temannya.

Aelria :

"Kalian duluan ke restoran."

Seris langsung mengangguk, tenang seperti biasa.

Seris :

"Baiklah."

Seris, Rinna, dan si kembar pun pergi lebih dulu menuju restoran, meninggalkan Aelria masuk ke kamar.

Airi menutup pintu, lalu mereka bertiga melihat satu hal yang sama: Hina masih tidur, damai sekali.

Airi mendekat pelan dan membangunkannya dengan suara lembut—suara yang sengaja dibuat normal, seolah ini hanya ajakan makan biasa.

Airi :

"Hina bangun…

Kita makan malam, ya."

Hina bergerak pelan, mengusap mata.

Hina :

"H-hm… makan…?"

Airi mengangguk cepat.

Airi :

"Iya. Kita belum makan sejak tadi."

Hina tidak curiga. Ia hanya bangkit, lalu mengganti pakaian dengan pakaian santai—sederhana seperti biasa. Ia mengambil tas kecil menyamping untuk ponselnya.

Saat Hina sudah hampir siap, Aelria menatapnya dari atas ke bawah, lalu menoleh ke Airi.

Aelria :

"…Kurang."

Airi berkedip.

Aelria :

"Airi.

Bantu aku."

Rika menyeringai, langsung mengerti.

Rika melangkah ke belakang Hina dan memegang kedua tangan Hina agar ia tidak kabur.

Hina panik.

Hina :

"E-eh?!

Kalian… Ng-ngapain?!"

Airi sudah mengambil perlengkapan make up kecil.

Airi :

"Diam.

Cuma sebentar."

Hina berusaha menolak.

Hina :

"T-tapi… ini cuma makan malam…"

Aelria menatapnya dengan senyum tipis, tapi tegas.

Aelria :

"Justru karena itu."

Hina tidak mengerti kalimat itu. Tapi ia tidak bisa lepas, dan mereka bertiga bekerja dengan cepat.

Wajah Hina dirapikan, riasan tipis dibuat natural. Rambutnya ditata lebih rapi—tidak berlebihan, tapi membuatnya terlihat… seperti versi dirinya yang lebih percaya diri.

Lima belas menit kemudian, mereka berhenti.

Hina menatap cermin.

Ia terdiam.

Hina :

"…I-ini aku?"

Airi menatapnya beberapa detik—lalu bersiul pelan, tak bisa menyembunyikan kagumnya.

Airi :

"Pantes Ravien nempel terus…"

Airi membeku sedetik, lalu buru-buru menutup mulutnya.

Airi :

"E-eh—maksudku! Kamu cantik banget, Hina!"

Rika mengangguk cepat, pura-pura kesal, tapi senyumnya bocor sedikit.

Rika :

"Serius. Kamu ternyata cantik."

Ia mendengus kecil.

Rika :

"Aku jadi iri."

Aelria tersenyum lembut, suaranya tenang seperti mengunci keyakinan itu di hati Hina.

Aelria :

"Lihat? Kamu memang cantik.

Kadang… kamu cuma lupa."

Hina memerah sampai telinga. Ia menunduk, tangannya menggenggam ujung bajunya seolah takut semuanya ini menguap.

Hina :

"B-baik…

T-tapi… cuma kali ini, ya…

Kenapa harus begini… cuma buat makan malam…?"

Airi, Rika, dan Aelria saling pandang.

Ada tawa kecil yang hampir lepas—tapi mereka menahannya rapat, seperti menyimpan rahasia yang sama.

Airi berdehem, lalu menarik napas seolah menormalkan semuanya.

Airi :

"Ayo. Kita jalan."

Dan tanpa memberi celah untuk curiga…

Empat gadis itu melangkah keluar kamar—membawa Hina dengan hati yang polos.

Di balik senyum mereka, sebuah kejutan sudah menunggu, rapi dan tepat waktu, di ujung jam delapan.

More Chapters