Sore merayap pelan di lorong-lorong hotel, membawa udara lembap yang masih menyisakan aroma laut. Di lantai tiga, langkah kaki sesekali terdengar lewat—tapi kamar Riku terasa sunyi, hangat, seperti tempat orang menyimpan rahasia yang belum siap diucapkan.
Di dalam kamar, Riku baru saja selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai, rambut masih sedikit lembap, dan napas yang terdengar lega… namun matanya menyimpan gelisah yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Tak lama, pintu kamar terbuka.
Rei masuk sambil mengangkat tangan kecil sebagai salam.
Rei :
"Sudah lama?"
Riku menoleh, tersenyum tipis.
Riku :
"Baru."
Rei langsung melangkah menuju kamar mandi untuk bergantian mandi. Suara pintu kamar mandi menutup, lalu suara air mengalir terdengar pelan—ritme tenang yang biasanya membuat orang nyaman.
Riku duduk di tepi kasur. Tangannya menyentuh cincin di jarinya—cincin yang sepasang dengan Rika.
Ia memutar cincin itu pelan, seolah takut kalau cincin itu bisa hilang hanya karena ia berkedip.
Riku (dalam hati):
Semoga… ayah dan ibu setuju. Semoga keputusan ini… tidak merusak apa pun.
Aku hanya… ingin mempertahankan yang benar-benar aku pilih.
Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Rika—bukan sesuatu yang besar. Hanya kalimat pendek yang menyimpan rasa aman.
Setelah mengirimnya, napasnya turun perlahan. Beban di dadanya tidak hilang, tapi setidaknya lebih ringan.
Beberapa menit kemudian, suara air berhenti.
Rei keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai. Saat ia menoleh, ia melihat Riku sudah tertidur—napasnya teratur, tubuhnya jatuh lelap seperti orang yang memang memikul terlalu banyak hari ini.
Rei mendekat tanpa suara, duduk di tepi kasur.
Rei (dalam hati):
Dia mengurus semuanya sendiri… dari pagi sampai malam.
Dia memang selalu bilang 'tidak apa', tapi aku tahu… lelah itu tidak bisa bohong.
Rei menatap wajah Riku beberapa detik, lalu menarik selimut lebih rapi agar sahabatnya tidak masuk angin.
Rei (dalam hati):
Terima kasih… karena selalu peduli kepada kami.
Saat Rei baru hendak berbaring…
Pintu kamar terbuka lagi.
Ravien masuk.
Rei menoleh. Pandangannya langsung menangkap hal yang mencolok: Ravien masih tanpa atasan, kulitnya masih menyisakan jejak matahari dan air laut.
Rei :
"Kenapa kau tidak pakai baju? Hanyut terbawa ombak?"
Ravien mendecakkan lidah, ekspresinya datar tapi jelas kesal karena harus menjelaskan.
Ravien :
"Bajuku… kuberi ke Hina.
Karena ada insiden."
Rei mengangkat alis, tapi tidak mengejar pertanyaan. Ia hanya tersenyum kecil, seperti memahami lebih dalam dari sekadar jawaban itu.
Rei (dalam hati):
Dia tidak suka bicara… tapi dia bertindak. Dan kalau itu untuk Hina… dia bergerak.
Ravien berjalan menuju kamar mandi.
Ravien :
"Aku mau mandi. Jangan cerewet."
Rei mengangkat tangan kecil sebagai tanda menyerah.
Rei :
"Baiklah."
Beberapa menit kemudian, Ravien keluar dari kamar mandi, sudah berpakaian santai. Ia melirik sekilas dua temannya yang tertidur, lalu tanpa komentar… berbaring dan ikut tidur. Seolah semua hal di dunia ini bisa disimpan besok saja—selama Hina aman, ia tak perlu membuang energi untuk hal lain.
—Jam yang Mengubah Suasana
Waktu meloncat.
Saat Rei membuka mata lagi, ruangan sudah gelap, hanya lampu kecil di sudut kamar menyala redup. Ponselnya menunjukkan angka:
19.20
Rei tertegun sebentar, lalu cepat bangkit.
Rei :
"Riku."
Ia mengguncang bahu Riku pelan. Riku mengerang kecil, lalu membuka mata dengan wajah setengah bingung.
Riku :
"Sudah jam berapa…?"
Rei :
"19.20. Kita harus siap."
Riku langsung duduk, rambutnya acak-acakan, tapi matanya langsung fokus begitu mengingat rencana malam ini.
Riku :
"Benar… ulang tahun Hina."
Rei mengangguk dan menoleh ke sisi lain kasur.
Rei :
"Ravien, bangun."
Ravien tidak bergerak.
Rei menatapnya beberapa detik, lalu memilih cara paling efektif—menyebut satu nama.
Rei :
"Ini tentang Hina."
Kelopak mata Ravien terbuka sedikit.
Ravien :
"…Apa."
Rei menahan senyum.
Rei :
"Kita mau siapkan acara."
Ravien diam sebentar, seperti menilai apakah ini penting atau hanya gangguan.
Lalu ia bangkit.
Ravien :
"Cepat."
Riku dan Rei saling pandang.
Riku (dalam hati) :
Benar… dia hanya bergerak kalau itu tentang Hina.
Tak sampai lima belas menit, mereka bertiga sudah rapi.
Pukul 19.45, mereka keluar kamar dan bergegas menuju restoran yang sudah dibooking penuh.
—Restoran Tanpa Pengunjung, Tapi Penuh Rencana
Restoran itu benar-benar kosong.
Tidak ada pengunjung lain. Tidak ada suara piring dari meja-meja biasa. Yang ada hanya pegawai yang siaga, lampu yang sengaja dibuat hangat, dan meja besar yang sudah dipersiapkan untuk satu acara.
Begitu melihat mereka, para pegawai langsung menyambut dengan sopan.
Pegawai :
"Selamat malam. Tamu VIP."
Riku mengangguk.
Riku :
"Ya. Meja yang sudah disiapkan."
Mereka diantar ke meja panjang—cukup besar untuk semua. Dekorasi sederhana, tapi terasa hangat: bunga kecil, taplak bersih, dan ruang yang cukup untuk membuat malam ini terasa "milik mereka".
Namun sebelum Rei dan Riku sempat duduk…
Ravien berhenti, menoleh pada pegawai.
Ravien :
"Di mana. Dapurnya."
Pegawai itu membeku.
Pegawai :
"E-eh… dapur itu area khusus, Tuan…"
Ravien menatapnya datar.
Ravien :
"Aku mau masak."
Ravien :
"Tunjukkan."
Nada suaranya tetap dingin, tapi ada sesuatu yang membuat pegawai itu takut menolak—bukan karena teriakan, melainkan karena ketenangan Ravien yang terasa seperti ujung pisau.
Pegawai itu buru-buru memanggil manajer.
Manajer datang dengan wajah bingung tapi tetap profesional.
Manajer :
"Maaf, Tuan. Anda ingin… memasak?"
Ravien :
"Iya."
Ravien :
"Kalian bisa lihat. Kalau tak percaya."
Manajer ragu sebentar, lalu mengangguk.
Manajer :
"Baik. Silakan ikut saya."
Rei dan Riku ikut dari belakang, penasaran.
Begitu pintu dapur terbuka, aroma bumbu dan panas kompor menyambut. Para koki dan head kitchen terkejut melihat orang asing masuk.
Head Kitchen :
"Manajer! Ini dapur. Tidak sembarang orang bisa masuk!"
Manajer mencoba menjelaskan, namun Ravien sudah bergerak.
Ia membuka lemari bahan, mengambil beberapa bahan dengan cepat—tapi bukan asal ambil. Tangannya presisi, seperti sudah hafal letak semua yang ia cari.
Head kitchen naik darah.
Head Kitchen :
"Hei! Kamu—!"
Manajer menahan, memohon.
Manajer :
"Tolong… beri kesempatan sekali ini saja."
Head kitchen mendecak, tapi akhirnya memilih mengawasi.
Ravien menyiapkan hidangan sederhana—tidak banyak bumbu, tidak banyak drama. Ia bekerja cepat, dan sesekali ada kilau halus dari sihir yang ia gunakan untuk mempercepat panas dan mengatur tekstur.
Tidak sampai sepuluh menit…
Aroma kuat memenuhi dapur.
Bukan aroma "mewah"—tapi aroma yang membuat perut seperti ditarik untuk mengaku lapar.
Ravien menyerahkan semangkuk kecil pada head kitchen.
Ravien :
"Cicipi.
Kalau tak enak, aku pergi.
Kalau kau ambil suap kedua—
dapur ini milikku malam ini."
Head kitchen menatapnya tajam, lalu mendecak.
Head Kitchen :
"Bocah demon sombong… berani menantangku?"
Ia mengambil sendok, memasukkan satu suap.
Lalu—
Clang!
Sendoknya jatuh ke lantai.
Wajahnya membeku, seperti baru saja menemukan sesuatu yang mustahil.
Ravien menatap tanpa emosi.
Ravien mengambil mangkuk itu sebelum tangan head kitchen refleks ingin mengambil lagi.
Ravien :
"Kau kalah. Sekarang keluar."
Ravien lalu membuang makanan itu, seolah sejak awal fungsinya bukan untuk dimakan.
Ravien :
"Kalau makanan sesederhana ini saja membuatmu kalah…
jangan ganggu aku."
Head kitchen menatap mangkuk kosong itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya… ia tidak tahu harus membantah apa.
Lalu menoleh ke manajer dengan mata yang seolah bertanya: Siapa dia?
Manajer menelan ludah.
Manajer :
"Dia… teman tamu VIP malam ini."
Head kitchen tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Ravien dengan rasa tidak terima… bercampur kagum yang tidak bisa ia akui.
Ravien menatap koki-koki lain.
Ravien :
"Keluar."
Nada dingin—tanpa teriak—tapi cukup untuk membuat semua koki menurut dan meninggalkan dapur.
Tinggal Ravien sendiri, mulai memasak untuk acara malam ini.
Rei dan Riku saling pandang.
Rei (dalam hati):
Dia… bisa memasak?
Riku (dalam hati):
Dan kelihatannya… dia masak bukan untuk pamer.
Mereka memilih mundur, kembali ke meja acara—membiarkan Ravien melakukan caranya sendiri.
—Kursi-Kursi yang Mulai Terisi
Tak lama, satu per satu orang mulai datang.
Seris, Rinna, dan si kembar masuk ke restoran. Mereka duduk, melihat meja besar yang sudah siap, dan lampu-lampu hangat yang membuat ruangan terasa lebih lembut.
Riku mengangkat tangan kecil menyambut.
Riku :
"Kalian duduk dulu."
Lalu Riku menatap Seris, bertanya hal paling penting.
Riku :
"Hina sudah bangun?"
Seris menggeleng.
Seris :
"Belum."
Seris :
"Aku dapat pesan dari Airi. Hina masih tidur. Mereka akan bangunkan kalau di sini sudah siap."
Riku menghela napas lega.
Rei juga.
Karena malam ini… mereka tidak ingin ada yang terlambat untuk Hina.
Di sudut restoran, aroma masakan mulai merembes keluar dari arah dapur—seakan memberi tanda bahwa Ravien benar-benar serius.
Dan semua orang tahu…
Jika Ravien sudah "serius" tentang sesuatu…
Biasanya itu berarti satu hal.
Hina.
