Cherreads

Chapter 114 - Bab 114: Hadiah yang Bisa Menemani Kesepian

Angin sore berhembus lembut di sekitar kawasan hotel—membawa aroma asin laut, wangi roti panggang dari kios-kios kecil, dan suara riuh tawa para pengunjung yang berseliweran di trotoar. Jalanan ramai oleh berbagai ras yang hidup berdampingan di dunia manusia: manusia, beastskin, dan banyak ras lain… semuanya menikmati libur musim panas dengan cara mereka sendiri.

Di antara keramaian itu, Rei, Aelria, dan Airi berjalan beriringan.

Airi menggandeng lengan Rei dengan manja—seolah menolak memberi ruang bagi rasa sepi yang mungkin masih sesekali singgah di dada Rei. Sementara Aelria berjalan di sisi lain, ekspresinya tenang, namun matanya tajam, mencari sesuatu yang "tepat" untuk Hina.

Mereka sudah berkeliling hampir dua jam.

Masuk dan keluar toko aksesoris.

Melihat kalung, gelang, jepit rambut, bros… semuanya cantik, tapi tak ada yang terasa "Hina".

Airi menghela napas panjang sampai bahunya turun.

Airi :

"Kenapa susah banget… Hina itu nggak pernah pakai apa-apa di sekolah. Bahkan jepit rambut pun jarang…"

Aelria menatap etalase yang berkilau oleh pantulan lampu.

Aelria :

"Dia hidup… terlalu sederhana. Seakan-akan takut terlihat."

Rei diam beberapa detik. Matanya melayang, bukan ke etalase—melainkan ke memori.

Hina yang selalu membawa bekal diam-diam.

Hina yang menahan sedih sendirian.

Hina yang senyumnya kecil, tapi selalu ada… bahkan saat dirinya sendiri terluka.

Rei (dalam hati):

Hina itu… tidak pernah meminta apa pun. Tapi kesepiannya selalu terlihat.

Akhirnya, kaki mereka menyerah lebih dulu daripada pikiran.

Mereka masuk sebuah kafe kecil dekat deretan toko. Ada musik pelan, aroma kopi, dan kursi empuk yang membuat tubuh terasa ingin menyerah. Airi menjatuhkan diri ke kursi dan menempelkan pipinya ke meja.

Airi :

"Aku capek… Kita beli apa sih buat Hina…"

Rei menatap gelas di tangannya. Es batu bergeser pelan, berdenting lembut.

Lalu, tiba-tiba—seperti sebuah pintu yang terbuka dari dalam kepala—Rei teringat hal paling sederhana.

Hina selalu sendiri.

Rei (dalam hati):

Kalau dia pulang… dan apartemennya sunyi… tidak ada siapa-siapa yang menyambut…

Rei menegakkan tubuhnya sedikit, lalu menatap Airi dan Aelria.

Rei :

"Kalau… kita kasih dia peliharaan bagaimana?"

Airi mengangkat kepala cepat, matanya membesar.

Airi :

"Peliharaan…?"

Aelria menatap Rei, sejenak terdiam—lalu senyum kecil muncul.

Aelria :

"Itu… ide bagus."

Airi langsung bangkit, seperti kelelahan dua jam tadi menguap begitu saja.

Airi :

"Ayo! Cari toko hewan!"

—Toko yang Berisi 'Teman'

Mereka berjalan lagi, menyusuri jalan kecil yang lebih tenang. Setelah sekitar tiga puluh menit bertanya sana-sini, akhirnya mereka menemukan toko hewan peliharaan yang cukup besar.

Di balik kaca, ada kandang-kandang rapi.

Ada anak anjing menggonggong.

Ada kucing yang tidur malas.

Ada hamster berputar di roda kecilnya.

Dan di sudut lain… ada kandang khusus dengan simbol kecil seperti rune, menandakan hewan "mistik" yang bisa hidup di dunia manusia.

Aelria berhenti.

Matanya menatap seekor makhluk kecil berbulu lembut, dengan telinga sedikit panjang, mata bening seperti kaca, dan ekor tipis yang bergerak pelan—seolah sedang menilai balik siapa yang memandangnya.

Aelria memanggil Rei dan Airi dengan suara pelan, tapi tegas.

Aelria :

"Kemarilah."

Rei dan Airi mendekat.

Aelria menunjuk makhluk itu.

Aelria :

"Ini… cocok untuk Hina."

Airi mendekat ke kaca. Wajahnya langsung melembut.

Airi :

"Lucu banget…"

Rei menatap lebih teliti. Makhluk itu tidak tampak liar. Justru tenang—seperti… mengerti.

Aelria menjelaskan dengan nada seorang yang benar-benar mengenal.

Aelria :

"Hewan ini mengerti bahasa manusia dan ras lain… dan punya sihir angin untuk bertahan. Kalau dewasa, dia bisa melindungi pemiliknya."

Rei mengangguk kecil.

Rei :

"Berarti… dia tidak hanya lucu."

Rei (dalam hati):

Dia bisa jadi alasan Hina pulang tanpa merasa sepi.

Airi menatap Rei dengan mata berbinar.

Airi :

"Ini… ini hadiah paling Hina banget…"

Namun Rei juga tahu… hewan seperti ini pasti mahal.

Rei :

"Harganya… pasti tidak murah."

Aelria tersenyum tenang.

Aelria :

"Aku yang bayar."

Airi menoleh cepat.

Airi :

"Onee-chan…"

Aelria mengangkat bahu seakan itu hal biasa.

Aelria :

"Hadiah untuk sahabat Rei… dan temanku juga."

Mereka membawa hewan itu ke meja penjaga toko.

Namun, saat penjaga toko tersenyum ramah, ia mengatakan hal yang membuat mereka mendadak bingung.

Penjaga Toko :

"Hewan ini perlu cap kontrak pada pemiliknya. Siapa penerimanya?"

Airi dan Rei saling menatap.

Aelria membeku sebentar—baru sadar ia lupa hal penting.

Aelria (dalam hati):

Aku… ceroboh. Harusnya kupikirkan ini…

Saat itu ponsel Rei bergetar.

Pesan dari Riku: "Semua beres. Acara mulai jam 8 malam, restoran dekat hotel."

Rei melihat pesan itu, lalu menatap penjaga toko.

Rei :

"Bisa datang jam delapan ke restoran yang dekat dengan hotel untuk memberi cap kontrak ke teman kami?"

Penjaga toko berpikir sebentar, lalu mengangguk.

Penjaga Toko :

"Bisa. Jam delapan… saya akan datang."

Rei mengangguk lega.

Rei :

"Terima kasih."

Aelria membayar. Rei memberi lokasi detail. Setelah semuanya selesai, mereka keluar dari toko—matahari sudah mulai condong, dan suasana sore terasa lebih padat oleh orang-orang yang keluar masuk hotel.

Mereka memutuskan kembali untuk istirahat.

Karena malam ini… bukan malam biasa.

—Di Pangkuan yang Tidak Pernah Ia Akui

Sementara itu—di sisi lain pantai—pasir masih hangat oleh sisa matahari.

Hina duduk dengan posisi rapi, kaki terlipat, bahu sedikit tegang… tapi wajahnya lembut.

Di atas pahanya, Ravien tertidur.

Napasnya teratur.

Wajahnya—yang biasanya dingin dan tajam—terlihat jauh lebih tenang saat tertidur. Tidak ada tatapan menghakimi, tidak ada aura angkuh… hanya seorang demon yang lelah, yang entah kenapa merasa aman.

Hina mengelus rambut Ravien pelan, nyaris takut jika sentuhan itu akan membuatnya terbangun.

Hina (dalam hati):

Kalau aku berhenti mengelus… apa dia akan bangun…?

Angin pantai membawa suara tawa si kembar dan Rinna yang masih bermain air. Seris kembali mendekat, membawa beberapa minuman dingin.

Saat Seris melihat pemandangan itu—kakaknya tertidur di pangkuan Hina—ia diam beberapa detik.

Seris (dalam hati):

Akhirnya… Kak Ravien benar-benar menerima seseorang lagi.

Seris mendekat, menyodorkan minuman pada Hina.

Hina tersentak kecil, panik seperti ketahuan melakukan sesuatu "terlalu berani."

Seris mengangkat tangan menenangkan.

Seris :

"Tidak apa lanjutkan saja."

Seris menatap Hina sebentar—tatapan datar tapi tidak dingin.

Seris :

"Aku dukung kamu."

Hina menunduk, menutupi wajahnya dengan satu tangan.

Hina :

"…Makasih…"

Seris pergi menyusul yang lain.

Waktu berlalu. Langit mulai berubah warna. Sore menua menuju senja.

Rinna menghampiri, suara tegasnya memotong riuh pantai.

Rinna :

"Kita pulang. Hari sudah sore. Aku mau mandi."

Si kembar ikut mendekat, tertawa-tawa menggoda saat melihat Ravien masih tertidur di pangkuan Hina.

Hina semakin merah, tapi tak bisa membalas.

Seris menatap Ravien sebentar. Lalu dengan santai—seolah sudah berkali-kali melakukan hal itu—ia menempelkan minuman dingin di jidat Kakaknya.

Ravien membuka mata, ekspresinya langsung kesal.

Ravien :

"Seris…"

Seris :

"Bangun. Pulang."

Ravien mendecak.

Ravien :

"Berisik."

Ia bangkit, lalu menoleh ke Hina.

Hina masih duduk, tapi tubuhnya goyah saat mencoba berdiri—posisi terlalu lama membuat kakinya sedikit mati rasa.

Ravien mengulurkan tangan, menopangnya tanpa banyak kata.

Hina :

"Ma—maaf…"

Namun sebelum Hina sempat menstabilkan napasnya…

Ravien tiba-tiba mengangkat Hina.

Dengan posisi Princess carry.

Seluruh dunia seolah berhenti sedetik.

Si kembar membeku.

Rinna terdiam.

Seris hanya mengangkat bahu—seakan, "ya beginilah kakakku."

Hina mematung, wajahnya merah sampai ke telinga.

Hina :

"R-Ravien…?!"

Ravien menatap teman-teman adiknya sekilas, suara datarnya menusuk seperti biasa.

Ravien :

"Apa. Masalah?"

Ravien mendecak lagi.

Ravien :

"Merepotkan."

Lalu ia berjalan pergi begitu saja, membawa Hina seolah itu hal paling normal di dunia.

Hina menutup wajahnya, malu bukan main—apalagi Ravien tidak memakai atasan, dan kulitnya masih tampak sedikit basah oleh air laut.

Ravien melirik Hina sebentar.

Ravien :

"Kamu kenapa."

Ravien :

"Demam?"

Hina menggeleng cepat.

Hina :

"B-bukan… aku cuma… malu…"

Ravien menghela napas, seperti kesal tapi… tidak melepaskan.

Ravien :

"Kalau begitu… rangkul leherku."

Ravien :

"Biar tidak jatuh."

Hina ragu sesaat, lalu mengumpulkan keberanian dan merangkul leher Ravien pelan-pelan. Jantungnya berdegup keras, dan ia takut Ravien bisa mendengarnya.

Mereka masuk hotel.

Banyak yang menoleh.

Ada yang berbisik.

Ada yang melongo.

Ada yang iri.

Di depan lift, beberapa orang hendak ikut masuk—namun Ravien menatap mereka dengan mata tajam.

Cukup satu tatapan.

Orang-orang itu mundur pelan, pura-pura menunggu lift berikutnya.

Lift naik.

Sunyi.

Hina menunduk, napasnya masih gemetar.

Hina (dalam hati) :

Dia… melindungiku, tanpa bilang apa-apa…

Sampai lantai tiga, Ravien mengantar Hina ke depan kamarnya. Ia menurunkannya perlahan.

Ravien :

"Mandilah dan istirahat."

Hina menatapnya, ingin mengatakan sesuatu… ingin mengucap terima kasih lagi… ingin bertanya kenapa ia begitu baik…

Namun Ravien sudah berbalik.

Tidak menunggu.

Tidak memberi kesempatan Hina mengacaukan hatinya sendiri dengan terlalu banyak kata.

Ravien pergi.

Dan Hina berdiri di depan pintu kamar… memegang dadanya sendiri, seakan ingin menahan jantungnya agar tidak meloncat keluar.

Hangatnya belum sepenuhnya hilang…

seolah lengannya masih ada di sekelilingku.

Hina (dalam hati) :

Kalau ini mimpi… jangan cepat bangun…

More Chapters