Cherreads

Chapter 113 - Bab 113: Janji di Balik Etalase Kaca

Pagi di hotel itu terasa hangat—bukan hanya karena matahari yang mulai menembus tirai lobi, tapi juga karena suasana liburan yang membuat langkah orang-orang lebih ringan. Di koridor lantai kamar, aroma sabun dari kamar mandi dan wangi kopi dari restoran hotel saling berbaur, seperti pengingat bahwa hari ini tak perlu tergesa-gesa—meski bagi Riku, hari ini justru penuh rencana.

Begitu pintu kamar terbuka, Riku keluar dengan rambut masih sedikit lembap dan pakaian yang rapi. Di depan pintu, sudah ada Rika menunggu. Telinga beastskin miliknya bergerak kecil—kebiasaan halus yang selalu muncul ketika ia menahan rasa malu atau menunggu seseorang yang ia sayangi.

Rika :

"Kamu lama."

Riku tersenyum, lalu mengulurkan tangan seolah itu hal yang paling wajar di dunia.

Riku :

"Ayo. Ada yang harus kita urus."

Mereka berjalan berdampingan melewati lorong, menuruni lift menuju resepsionis. Lobi pagi itu ramai: keluarga yang baru turun sarapan, beberapa pasangan yang membawa handuk pantai, dan staf hotel yang sibuk menyapa tamu dengan senyum profesional.

Riku bersandar sedikit ke meja resepsionis, berbicara sopan namun tegas.

Riku :

"Saya mau perpanjang durasi menginap. Jadi tujuh hari."

Resepsionis mengangguk, memeriksa data, lalu mengetik cepat. Nada suaranya ramah dan terlatih.

Resepsionis :

"Tentu, Tuan Riku. Kami proses sekarang."

Rika memandang sekeliling lobi sambil menunggu—dan meski wajahnya datar, ekornya bergerak pelan, menandakan ia nyaman berada di sisi Riku.

Beberapa menit kemudian, urusan selesai. Riku meraih tangan Rika.

Riku :

"Sarapan dulu."

—Restoran Pagi, dan "Titipan" yang Diam-diam

Restoran hotel masih bernuansa pagi: piring-piring berkilau, suara sendok menyentuh keramik, dan aroma roti panggang yang menyelinap ke setiap sudut. Mereka duduk di meja yang agak dekat jendela, sehingga cahaya matahari menyentuh sisi wajah Rika—membuat rambutnya tampak lebih lembut.

Rika makan dengan tenang. Riku memperhatikan—bukan karena curiga, tapi karena setiap kebiasaan kecil Rika selalu membuat hatinya hangat.

Setelah selesai, Riku memanggil pelayan. Ia membayar seperti biasa, lalu menambahkan sesuatu yang membuat pelayan sedikit terkejut.

Riku :

"Kalau teman-teman saya yang kemarin malam makan di sini, dan hari ini atau besok datang lagi… jangan ditagih dulu. Saya bayar di muka."

Pelayan :

"Bapak yakin?"

Riku :

"Iya. Kalau kurang, saya akan datang lagi."

Pelayan tersenyum, paham maksudnya—bukan hanya soal uang, tapi soal perhatian.

Pelayan :

"Baik, Bapak. Terima kasih."

Rika melirik Riku, ekspresinya seolah menegur, seolah juga terharu.

Rika :

"Kamu terlalu baik."

Riku hanya tertawa pelan.

Riku :

"Kalau untuk orang-orang yang kita sayang, itu bukan 'terlalu'."

Rika menunduk, telinganya bergerak kecil.

Rika (dalam hati) :

Dia selalu begitu… membuatku tidak bisa berpura-pura kuat terus.

—Mal Siang Hari, dan Hadiah untuk Hina

Mereka naik taksi menuju mal. Jalanan kota wisata itu hidup: papan-papan iklan, turis dari berbagai ras yang membawa tas belanja, dan angin laut yang masih terasa bahkan jauh dari pantai.

Sesampai di mal, suara AC dan musik pelan menyambut mereka. Di sana lebih ramai—seolah semua orang memilih mengisi liburan dengan membeli sesuatu, walau hanya "kenangan kecil".

Riku menoleh pada Rika saat mereka berjalan di koridor toko-toko.

Riku :

"Kita perlu hadiah untuk Hina. Tapi… ponsel sudah dibeli Ravien. Jadi… apa yang cocok?"

Rika berhenti sebentar. Ia memandang etalase-etalase toko. Wajahnya serius—bukan karena bingung semata, tapi karena ia benar-benar ingin hadiah itu bermakna.

Rika :

"Hina… orangnya sederhana. Dia jarang minta apa pun."

Riku mengangguk. Itulah yang membuatnya semakin ingin memberi sesuatu yang tepat.

Rika berpikir beberapa detik, lalu menoleh.

Rika :

"Anting."

Riku :

"Anting?"

Rika :

"Iya. Yang tidak terlalu mewah, tapi cantik. Biar dia pakai tiap hari. Biar dia ingat… dia punya teman."

Riku tersenyum kecil.

Riku :

"Kamu benar."

Mereka masuk ke toko perhiasan. Lampu putih menerangi kaca etalase, membuat kalung, gelang, cincin, dan anting tampak seperti bintang-bintang kecil yang dijinakkan.

Rika mendekat dengan mata berbinar—bukan karena ingin memiliki, tapi karena ia memang menyukai hal-hal cantik secara alami. Namun sebelum tangannya menyentuh etalase, ia menoleh cepat pada Riku.

Rika :

"Jangan beli apa pun yang aku sentuh."

Riku tertawa. Ia benar-benar paham pola pikir Rika—yang takut dianggap mengincar harta.

Riku :

"Baik. Aku janji."

Rika pun tersenyum lega, kembali melihat-lihat.

Saat Rika sibuk memilih dengan hati-hati, Riku mendekati pegawai toko.

Riku :

"Saya cari anting untuk teman saya. Hadiah ulang tahun. Dia gadis yang sederhana. Tapi… pantas dapat sesuatu yang indah."

Pegawai toko :

"Baik, Tuan. Saya carikan."

Pegawai itu kembali dengan sebuah kotak kecil. Antingnya tidak terlalu besar, tidak berlebihan—tapi bentuknya anggun, dengan kilau halus yang terlihat lembut, seolah cocok untuk seseorang yang tidak suka menarik perhatian.

Riku menatapnya, lalu memanggil Rika.

Riku :

"Sayang. Kemari sebentar."

Rika membeku sekejap karena panggilan itu—kata sederhana, tapi membuat pipinya hangat.

Rika :

"…"

Ia mendekat, menatap anting itu.

Rika :

"Ini… cocok."

Riku :

"Ya."

Ia membayar tanpa banyak kata.

Namun saat mereka hendak keluar, mata Riku menangkap sesuatu di etalase lain: sepasang cincin yang sederhana, tidak mencolok, tapi elegan—seolah dibuat bukan untuk pamer, melainkan untuk janji.

Riku berdiri beberapa detik di depan kaca, lalu menoleh pada pegawai.

Riku :

"Saya mau itu juga."

Rika menatapnya kaget.

Rika :

"Riku…?"

Pegawai mengambil cincin itu dengan senyum yang menahan rasa ingin ikut bahagia.

Pegawai :

"Ukuran Tuan dan Nona?"

Riku menyebutkan dengan cepat—seolah ia sudah memikirkan ini lebih lama dari yang terlihat.

Begitu cincin ada di tangan, Riku menatap Rika. Suasana toko seolah mengecil, meninggalkan hanya mereka berdua.

Riku mengambil satu cincin, lalu memakaikannya ke jari Rika—perlahan, hati-hati, seperti takut melukai sesuatu yang ia anggap paling berharga.

Riku :

"Ini… cincin tunangan."

Rika membeku, telinganya langsung berdiri tegang—lalu perlahan menurun karena malu. Wajahnya merah, napasnya sedikit tercekat.

Rika :

"A-aku…"

Riku memakaikan cincin satunya pada dirinya sendiri.

Riku :

"Aku harap kamu terima. Dan siap."

Rika tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menunduk… lalu menggenggam tangan Riku erat, seolah takut momen itu hilang kalau ia melepaskannya.

Rika (dalam hati) :

Dia… benar-benar memilihku. Bukan karena ras. Bukan karena status. Tapi karena aku… aku.

Pegawai toko menutup mulutnya sambil tertawa kecil, matanya berbinar iri dan ikut bahagia.

Pegawai :

"Kalian… manis sekali."

Rika memerah lebih parah, lalu akhirnya berkata pelan, nyaris bergetar.

Rika :

"Aku… terima."

Riku menghembuskan napas lega—seolah beban yang ia simpan sendiri akhirnya jatuh, tapi jatuhnya ke tempat yang aman.

—Kue, Permainan, dan Persiapan Malam

Setelah perhiasan, mereka membeli kue—memilih rasa yang "pasti disukai Hina": tidak berlebihan, tidak terlalu manis, tapi hangat. Lalu mereka menghabiskan waktu di zona permainan: mesin-mesin arcade berbunyi, lampu-lampu berkedip, dan tawa Rika kadang pecah saat Riku sengaja "kalah" agar Rika menang.

Siang bergeser menjadi sore. Sore memudar menjadi malam.

Mereka kembali ke hotel, beristirahat sebentar, lalu menuju restoran yang sama.

Malam itu restoran lebih ramai, tapi Riku datang dengan tujuan jelas. Ia memanggil pelayan, lalu berbicara pelan namun serius.

Riku :

"Saya mau booking seluruh restoran untuk malam ini. Ada acara ulang tahun teman saya."

Pelayan terlihat terkejut, lalu segera memanggil manajer.

Manajer datang dengan sikap profesional. Ada diskusi, ada negosiasi—tentang jam, dekorasi sederhana, dan pengaturan meja.

Akhirnya manajer mengangguk.

Manajer :

"Baik, kami bisa. Jam delapan malam, restoran akan kami prioritaskan untuk rombongan Anda."

Riku menyerahkan kue yang tadi dibeli.

Riku :

"Kue ini untuk acara. Tolong disiapkan."

Manajer :

"Tentu, Tuan."

Rika berdiri di sampingnya, menatap Riku dengan campuran rasa kagum dan takut—kagum karena betapa seriusnya Riku melakukan ini, takut karena ia tidak ingin Hina merasa "berhutang".

Rika (dalam hati):

Semoga Hina… tidak merasa ini terlalu besar. Semoga dia merasa… dicintai sebagai teman.

Mereka kembali ke hotel.

Didalam lift Riku melihat pacarnya dari pantulan cermin lift.

Rika di samping, memegang cincin di jarinya seperti memastikan itu nyata.

Riku menoleh dan tersenyum lembut.

Riku :

"Kamu capek?"

Rika menggeleng pelan.

Rika :

"Enggak… aku cuma… masih nggak percaya."

Riku mengusap kepalanya.

Riku :

"Percaya saja."

Tak lama pintu lift terbuka dan Riku mengantar Rika kekamarnya lalu pergi menuju kamarnya.

Di kamar, Riku mengirim pesan pada Rei.

Riku (pesan):

"Nanti malam jam 8. Semua sudah siap. Aku istirahat dulu."

Ia menatap ponselnya sebentar, lalu menutupnya. 

Malam menunggu. Dan di balik persiapan yang rapi, ada satu hal yang diam-diam lebih besar dari sekadar pesta:

janji kecil, untuk membuat Hina merasa tidak sendirian—dan untuk membuat Rika merasa dipilih selamanya.

More Chapters