Langit siang itu cerah, tetapi tidak menyengat. Angin laut bergerak pelan—membawa aroma asin, membawa suara tawa, membawa riak-riak ombak yang seolah tak pernah lelah memeluk garis pantai.
Ravien membuka mata dari tidurnya di taman, lalu menatap Hina yang duduk di sebelahnya. Gadis itu masih menunduk, jarinya menari di layar ponsel seperti sedang bersembunyi dari dunia.
Ravien menghela napas pelan.
Ravien (dalam hati):
Dia selalu menunduk. Seolah kalau ia menatap dunia terlalu lama, dunia akan kembali memukulnya.
Ia menegakkan punggungnya. Pundaknya yang tegap tampak malas, tapi matanya—tajam dan awas—tidak pernah benar-benar kehilangan fokus.
Ravien :
"Kita ke pantai."
Hina tersentak. Ia menatap Ravien seperti baru saja mendengar sesuatu yang terlalu baik untuk menjadi nyata.
Hina :
"Ke pantai…? Tapi di sana ramai. Aku takut kamu… nggak nyaman."
Ravien menahan decakan lidahnya. Bukan karena kesal padanya—melainkan pada dirinya sendiri.
Ravien (dalam hati) :
Aku salah. Menjaganya bukan berarti menyembunyikannya dari dunia.
Ravien menatap ke depan, suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu yang "menggenggam" di balik kata-katanya.
Ravien :
"Aku tidak apa-apa.
Sudah cukup aku memanjakan diri sendiri."
Ia berdiri, mengulurkan tangan.
Ravien :
"Ayo."
Hina menatap tangan itu, lalu menelan ludah. Tangannya gemetar saat meraih dan menggenggam.
Hina (dalam hati):
Dia… memikirkan aku…?
Mereka berjalan keluar dari taman. Trotoar menuju pantai dipenuhi wisatawan: beberapa keluarga dari ras manusia, pasangan beastskin dengan telinga mencuat malu-malu, dan sekelompok anak-anak berkumpul di kios jajanan. Suara penjual minuman bercampur dengan musik dari speaker di tepi jalan.
Hina masih menunduk saat berjalan, seolah menahan sesuatu di dadanya.
Ravien meliriknya. Decakan kecil keluar tanpa ia sadari.
Ravien :
"Ada barang jatuh? Kenapa terus lihat bawah."
Hina membeku sejenak, lalu buru-buru menggeleng.
Hina :
"B-bukan… a-aku cuma… m-mal…"
Ia menggigit bibirnya, kata-kata berikutnya hampir seperti doa yang takut didengar siapa pun.
Hina :
"A-aku… t-tidak menyangka… kamu… menerima aku…
Masih banyak gadis yang… lebih cantik… a-aku cuma gadis biasa…"
Ravien berhenti.
Tiba-tiba langkahnya berhenti di tengah keramaian, membuat Hina ikut berhenti. Ombak terlihat jauh di depan. Suara orang-orang mendadak terasa seperti menjauh.
Ravien menarik napas—pelan, panjang. Seolah ia sedang menahan sesuatu agar tidak pecah.
Ravien :
"Jangan."
Hina menatapnya, gugup.
Ravien menoleh penuh, berdiri tepat di depan Hina. Matanya dingin—tapi tidak menusuknya. Justru seperti dinding yang dibangun untuk melindunginya dari kata-kata orang lain.
Ravien :
"Jangan rendahkan dirimu."
Hina menahan napas.
Ravien :
"Dan jangan bandingkan dirimu dengan siapa pun."
Hina :
"T-tapi…"
Ravien memotong, suaranya masih datar—namun tegas.
Ravien :
"Aku memilihmu.
Bukan karena wajahmu."
Hina membeku, pipinya memanas.
Ravien :
"Karena kamu jujur. Karena kamu tidak berpura-pura."
Ia menghela napas lagi, kali ini seperti menahan kesal—kesal pada kalimat Hina sendiri.
Ravien :
"Kalau kamu terus merendahkan dirimu…
aku yang akan menyesal."
Hina menunduk, dadanya terasa sesak—bukan oleh sedih, tapi oleh sesuatu yang hangat dan baru.
Hina (dalam hati) :
Dia… tidak sedang menolongku.
Dia… sedang mengangkatku.
Ravien kembali menghadap jalan. Tangannya tetap menggenggam tangan Hina—lebih kuat, lebih pasti.
—Pantai yang Pertama untuk Hina
Begitu mereka tiba, pemandangan pantai membentang luas: pasir halus berkilau, laut biru yang bernapas tenang, dan matahari siang yang memantul di permukaan ombak seperti ribuan serpihan kaca. Di kejauhan, suara anak kecil tertawa, bola pantai melambung, dan burung laut berputar-putar di atas kepala.
Hina menatap lautan… seperti melihat dunia baru.
Matanya membesar. Dadanya seperti dipenuhi udara segar.
Lalu—tanpa sadar—ia melepas tangan Ravien dan berlari.
Hina :
"Waa…!"
Ia berlari ke arah air seperti anak kecil menemukan surga pertamanya, kaki telanjangnya menyentuh pasir basah. Ombak kecil menyentuh betisnya, dan ia tertawa, tulus—tawa yang jarang Ravien dengar darinya.
Ravien menatapnya.
Bibirnya bergerak sedikit. Hampir seperti senyum—hampir, tapi cukup.
Ravien (dalam hati):
Begini rupanya… wajahnya kalau tidak menahan diri.
Hina berhenti ketika menyadari Ravien hanya memantau dari jauh. Ia kembali, langkahnya kecil, malu-malu.
Hina :
"M-maaf… aku terlalu senang… aku lupa ada kamu…"
Ravien menatapnya sejenak.
Ravien :
"Tidak perlu minta maaf."
Ia memalingkan wajah sedikit, seolah sedang "mengusir" rasa bersalah dari wajah Hina.
Ravien :
"Aku yang egois."
Hina menelan ludah. Kalimat itu… terlalu jujur untuk Ravien.
—Kedatangan yang Mengganggu Damai
Suara dari belakang memanggil.
Rinna :
"Hina! Ravien!"
Mereka menoleh. Di sana sudah ada Rinna, Noelle, Nerine, dan Seris berjalan mendekat. Angin pantai mengibaskan rambut mereka—Noelle tampak malas tapi tajam, Nerine ramai seperti biasa, Rinna santai dengan ekor serigalanya yang bergerak-gerak, dan Seris… dingin tenang seperti langit malam.
Noelle melirik Ravien dan Hina, lalu mengangkat alis.
Noelle :
"Hmm. Pantai berdua."
Nerine tertawa kecil.
Nerine :
"Waaaah~ ini beneran liburan romantis!"
Hina langsung memerah dan menunduk, seperti menerima semua godaan tanpa sanggup melawan.
Ravien mendecak lirih.
Ravien :
"Kalian ngapain."
Seris menatap kakaknya dengan tatapan datar.
Seris :
"Liburan.
Bukan cuma makan dan tidur."
Ravien :
"Terserah. Jangan ganggu."
Nerine langsung menarik tangan Hina.
Nerine :
"Ayo main air! Kamu harus basahin kaki dulu, itu wajib!"
Rinna ikut tersenyum, mengajak Hina dan Noelle bermain di tepi ombak. Noelle, meski malas, ikut melangkah karena Nerine menyeretnya setengah paksa.
Tinggallah Seris di samping Ravien, sementara Hina dan yang lain tertawa di pinggir laut.
—Pertanyaan Seris, dan Luka yang Tidak Boleh Dibuka
Seris berdiri tenang, matanya menatap Hina yang tertawa. Lalu ia menoleh pada Ravien.
Seris :
"Kak… kamu beneran suka Hina?"
Ravien diam sejenak.
Angin pantai menyisir rambutnya. Ia menatap jauh, seolah sedang mengukur sesuatu yang sulit dijelaskan.
Ravien :
"Iya."
Seris menghela napas kecil—lega.
Seris :
"Syukurlah.
Aku harap dia pilihan yang tepat… supaya kamu bisa berhenti hidup di dalam masa lalu."
Seketika, udara di sekitar Ravien seperti turun beberapa derajat.
Ravien menatap Seris dengan tajam.
Ravien :
"Jangan ungkit itu."
Seris mengangguk pelan.
Seris :
"Baik. Aku tidak akan bilang siapa pun.
Terutama Hina."
Ravien menunduk sedikit.
Ravien (dalam hati):
Terutama Hina… ya.
Kalau dia tahu… dia akan menatapku dengan cara yang berbeda dan menganggapku bodoh.
Dan—untuk sesaat—kenangan itu datang, seperti ombak yang tidak pernah diminta.
—Kilasan Luka: Gadis Beastskin yang Mengajarkannya Percaya
Dan ombak itu membawa ingatan… yang Ravien kira sudah mati.
Dulu, jauh sebelum ia tiba di dunia manusia, Ravien pernah memiliki seseorang.
Bukan karena status. Bukan karena keluarga. Bukan karena kekuatan.
Seorang gadis beastskin yang ceria—tawa gadis itu selalu mendahului langkahnya. Ia suka memanggil Ravien dengan nada mengejek, "Demon sombong", lalu menepuk bahunya seperti mereka setara. Ia tidak takut pada tanduk. Tidak takut pada aura.
Ravien (dalam hati):
Aku tidak pernah mengerti… kenapa dia begitu terang.
Sampai aku sadar… aku ingin ikut menjadi terang.
Namun, terang selalu mengundang bayangan.
Ia menemukan kenyataan itu bukan dari rumor, melainkan dengan mata sendiri:
gadis itu berdiri dekat temannya—teman yang ia percaya. Mereka tertawa, terlalu dekat, terlalu familiar. Dan ketika Ravien muncul… gadis itu tidak panik.
Gadis itu hanya tersenyum tipis.
Seolah semua ini memang rencana.
Gadis Beastskin :
"Maaf ya, Ravien.
Kamu baik… tapi kamu terlalu mudah ditebak.
Sejak awal… aku cuma ingin hartamu, Ravien."
Temannya—yang mencuri kepercayaan—menepuk bahu Ravien seperti mengasihani.
Teman Ravien :
"Jangan salahin dia.
Siapa pun akan pilih jalan yang lebih… menguntungkan."
Dunia Ravien retak di tempat.
Bukan karena ditinggalkan.
Tapi karena ia sadar:
yang ia sayangi… ternyata hanya menginginkan sesuatu darinya dan bukan ketulusan.
Ravien (dalam hati) :
Aku tidak marah karena dikhianati.
Aku marah karena aku sempat percaya.
Ia tidak ingat kapan tangan bergerak. Yang ia ingat hanya suara tulang beradu, darah, dan wajah orang-orang yang berteriak menghentikannya.
Ia hampir membunuh temannya.
Dan kalau saja Lirya tidak datang tepat waktu—menariknya dengan kekuatan yang bahkan Ravien tak bisa lawan—dia mungkin sudah menjadi pembunuh hari itu.
Lirya :
"Cukup, Ravien!"
Ravien yang penuh darah menoleh, matanya kosong.
Lirya menatapnya tajam… tapi suaranya berbeda: marah sekaligus takut.
Lirya :
"Kamu boleh benci mereka.
Tapi jangan hancurkan dirimu sendiri."
Sejak hari itu… Ravien berubah.
Dingin. Sombong. Temperamental.
Dan membuat dua prinsip untuk dirinya:
Jika keluarganya disakiti → dia akan menghancurkan siapa pun yang menyentuh mereka.
Jika seseorang melewati batas → dia akan menutup semuanya, tanpa kompromi.
Namun sekarang…
Ia melihat Hina tertawa di pinggir ombak.
Dan sesuatu yang lama terkunci… seperti longgar sedikit.
Ravien (dalam hati) :
Jangan ulangi lagi…
jangan percaya lagi…
Tapi… kenapa kali ini… aku tidak ingin melepaskannya?
—Insiden Kecil yang Mengubah Suasana
Hina berlari kembali dari tepi air, langkahnya ringan. Namun di tengah jalan—seorang pria membawa minuman, terburu-buru, tidak melihat.
Brak!
Minuman tumpah. Hina jatuh terduduk di pasir.
Pria itu panik.
Pria :
"Ma-maaf! Maaf! Aku tidak lihat jalan!"
Hina buru-buru menggeleng, walau dadanya masih naik turun.
Hina :
"G-gapapa… aku… tidak luka… kamu sudah minta maaf…"
Ravien sudah datang. Matanya tajam, tubuhnya seperti dinding yang tiba-tiba berdiri di depan Hina.
Ia akan bicara… tapi Hina meraih tangannya.
Ia menggeleng pelan, memohon tanpa kata.
Ravien menatap tangan kecil itu. Lalu menghela napas, menahan "api" di dadanya.
Ravien :
"Pergi."
Pria itu mengangguk cepat dan kabur.
Hina mencoba berdiri, Seris membantu. Dan saat Hina menunduk, bajunya basah menempel dan membuatnya terasa terlalu terbuka.
Ia buru-buru menutup bagian depannya, panik.
Ravien memalingkan wajah.
Ravien :
"…Maaf. Aku tidak sengaja."
Seris menatap kakaknya tajam.
Seris :
"Jangan macam-macam, Kak."
Ravien mendecak.
Ravien :
"Apa yang kau maksud macam-macam."
Namun Ravien juga tahu… Hina tidak bisa berjalan pulang dengan keadaan begitu.
Tanpa banyak kata, Ravien membuka kemejanya—gerakan cepat, tegas—lalu menyerahkannya pada Seris.
Ravien :
"Berikan padanya."
Seris mengambil kemeja itu, lalu membantu Hina mengenakannya. Kemeja Ravien terlalu besar untuk Hina, membuatnya terlihat seperti "terbungkus" aman—dan entah kenapa itu membuat Hina makin merah.
Hina :
"T-terima ka—"
Kalimatnya terhenti ketika ia tanpa sengaja melihat tubuh Ravien yang terbuka—bahu, dada, bekas-bekas luka tipis seperti jejak latihan keras dan pertempuran.
Hina langsung menutup wajahnya.
Hina :
"A-aku… m-maaf…"
Ravien menoleh seolah tak peduli.
Ravien :
"Ini pantai. Banyak orang begitu."
Seris menghela napas, menatap kakaknya dengan ekspresi "kamu benar-benar bodoh soal hati".
Seris :
"Itu berbeda.
Dia malu karena itu kamu."
Ravien :
"Merepotkan."
Tapi… dia tidak menolak saat kata itu keluar.
—Pangkuan yang Menjadi Rumah Sementara
Ravien mengajak Hina duduk di pasir, agak jauh dari keramaian. Di depan mereka, ombak bergulung pelan. Di kejauhan, Noelle, Nerine, Rinna masih bermain air—tawa mereka menyatu dengan suara burung laut.
Seris pamit sebentar untuk membeli minuman untuk mereka.
Hina melirik Ravien. Ravien terlihat seperti ingin tidur, tapi duduknya kaku—tidak ada sandaran.
Hina menelan ludah, lalu menggeser posisi duduknya, menekuk kaki ke belakang, membuat pahanya seperti bantal.
Ia menyentuh bahu Ravien pelan—sangat pelan, seperti takut ditolak.
Hina :
"R-Ravien… k-kalau… kamu mau…."
Ia menepuk pahanya kecil-kecil, wajahnya panas.
Ravien menatapnya sekilas.
Tidak banyak kata. Tidak ada drama.
Ia hanya memindahkan kepalanya… dan meletakkannya di paha Hina.
Seolah itu hal yang paling wajar di dunia.
Hina membeku. Lalu tersenyum kecil.
Hina (dalam hati) :
Dia… benar-benar… percaya padaku…
Tapi apa ini tidak apa?
Tangannya bergerak pelan, mengelus rambut Ravien. Lembut, hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang rapuh tapi berharga.
Ravien tidak membuka mata.
Namun suaranya keluar, rendah—datar, tapi hangatnya tersembunyi.
Ravien :
"Jangan berhenti."
Hina terdiam… lalu mengelus lagi, lebih yakin.
Angin pantai terus bergerak.
Ombak terus bernapas di depan mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Ravien tidur tanpa melawan—
seolah luka yang ia simpan akhirnya punya tempat untuk diam.
