Setelah genggaman tangan itu tidak dilepas sejak lift tadi, Ravien menuntun Hina menuju restoran yang kemarin ia datangi—restoran yang sama, seolah Ravien sudah menetapkan "jalurnya" sendiri: makan, lalu mencari tempat tenang untuk tidur.
Di dalam restoran, Ravien duduk tanpa banyak bicara. Tatapannya datar, bahunya santai, seakan dunia di sekelilingnya hanyalah suara latar.
Hina menarik napas pelan, membuka menu, lalu memilihkan pesanan.
Hina : "Permisi… saya pesan ini… dua porsi, ya."
Pelayan mencatat, lalu pergi.
Dua puluh menit kemudian, makanan tiba. Ravien masih tertidur, dagunya nyaris menyentuh meja. Hina menepuk pelan bahunya.
Hina : "Ravien… makanannya sudah datang…"
Ravien bergerak sedikit, membuka mata setengah.
Ravien : "Hm."
Ia langsung makan, cepat tapi tetap rapi. Hina ikut makan—lebih lambat, lebih hati-hati, sesekali mencuri pandang, memastikan Ravien benar-benar makan cukup.
Setelah selesai, Ravien berdiri.
Ravien : "Ke taman."
Hina : "Taman… yang kemarin?"
Ravien hanya mengangguk pelan, lalu melangkah.
—Dua Minuman
Di perjalanan, Hina tiba-tiba memperlambat langkah. Ia melihat mesin minuman, lalu berhenti.
Hina : "Tunggu sebentar…"
Ia membeli dua minuman—satu untuk dirinya, satu untuk Ravien.
Ravien menoleh, berhenti sesaat, menatap dua botol itu tanpa komentar—lalu kembali berjalan seperti biasa. Tapi langkahnya… sedikit melambat, cukup untuk memberi Hina ruang sejajar di sampingnya.
Hina (dalam hati):
Dia tidak bilang apa-apa… tapi dia menunggu.
Itu… cukup.
—Pohon Tumbang dan Pesan Singkat
Mereka tiba di taman yang sama. Ravien memilih bangku dekat pohon rimbun—tempat yang teduh dan nyaman untuk tidur. Ia duduk, menerima minuman dari Hina, lalu—tanpa ragu—bersandar.
Ravien : "…"
Dalam hitungan menit, ia sudah memejamkan mata lagi.
Hina duduk di sampingnya, memegang botol minuman dengan kedua tangan. Taman ramai: anak-anak berlarian, tawa pasangan, suara burung yang bercampur angin.
Di antara semua itu, Hina melihat sesuatu.
Ada pohon tumbang tak jauh dari bangku mereka—batangnya rebah miring, retakannya kasar, seperti patah karena hantaman, bukan karena usia. Serpihan kayu masih berserakan di sekitar akar.
Hina menatapnya sebentar, alisnya mengernyit.
Hina (dalam hati):
Kenapa bisa sampai begitu…?
Ia menggeleng kecil, memilih tak memikirkan hal yang tidak penting.
Lalu ia mengambil ponselnya, mengirim pesan pada Airi.
Hina (pesan): "Airi, kalian di mana?"
Balasan cepat.
Airi (pesan): "Aku sama Rei dan Aelria lagi ke pantai."
Hina menelan ludah, lalu mengetik lagi.
Hina (pesan): "Boleh aku sama Ravien nyusul?"
Balasan Airi membuat wajah Hina langsung memerah.
Airi (pesan): "Tidak usah, Hina. Nikmati waktu kamu sama Ravien."
Hina menutup ponselnya, menunduk.
Hina (dalam hati):
Dia… benar-benar 'mendorong' aku.
—Mereka Datang
Beberapa menit kemudian, beberapa gadis dari ras lain menghampiri bangku mereka. Wajah mereka penuh rasa ingin tahu—dan mata mereka jelas tertuju pada Ravien yang tertidur.
Salah satu gadis tersenyum genit, mendekat.
Gadis 1 : "Hei… demon tampan. Dari kejauhan kelihatan kamu butuh ditemani. Boleh tahu namamu?"
Yang lain ikut mendekat, seolah Hina tidak ada.
Gadis 2 : "Lucu juga ya… dia tidur, tapi auranya tetap keren."
Hina berdiri pelan—tidak menghalangi dengan kasar, hanya menjaga jarak sopan.
Hina : "Maaf… temanku sedang tidur…
Tolong jangan ganggu, ya."
Salah satu gadis langsung menatap Hina dengan jengkel.
Gadis 1 : "Ini bukan urusanmu.
Kami urusannya sama demon itu.
Kamu ini… siapa sih? Penjaga? Atau cuma numpang duduk?"
Ujung kata itu seperti menampar. Hina menggenggam botol minumannya lebih erat.
Hina : "Bukan maksudku melarang… aku cuma—aku cuma tidak ingin tidurnya terganggu. Maaf kalau aku salah…"
Ia menunduk. Suaranya mengecil.
Tapi gadis itu malah semakin tajam.
Gadis 1 : "Kamu ngomongnya kayak pacarnya."
"Padahal… dia bahkan nggak bangun buat lihat kamu."
Hina (dalam hati):
Aku memang mencintainya…tapi aku ini siapa?
Kalau aku diam, mereka akan menyeret dia pergi—dan aku kembali sendirian.
Suaranya sempat hilang di tenggorokan. Tapi rasa takut kehilangan mendorongnya lebih kuat daripada rasa malu.
Hina mengangkat kepala—matanya basah, tapi tatapannya tidak lari.
Hina:
"Jangan…"
(ia menelan ludah)
"Jangan rebut dia dariku."
Gadis 2 menyeringai, meremehkan.
Gadis 2:
"Rebut? Kamu siapa memangnya?"
Hina ragu sepersekian detik. Lalu kata yang paling ia takut ucapkan—justru lolos.
Hina (pelan tapi tegas):
"Dia… pacarku."
Sejenak mereka terdiam, lalu Gadis 1 tertawa kecil.
Gadis 1:
"Pacar? Dia tidur dari tadi. Dia nggak pernah bilang begitu."
"Jangan mimpi."
Kaki Hina terasa lemas. Ia mundur setengah langkah dan duduk kembali, karena malu dan takutnya menimpa bersamaan.
Lalu—sebuah tangan merangkul pundak Hina dari belakang.
Tarikannya tidak kasar, tapi tegas—membuat tubuh Hina bergeser, dekat ke dada Ravien.
Hina membeku.
Suara Ravien terdengar rendah, penuh kesal, masih setengah mengantuk—tapi auranya langsung berubah.
Ravien : "Kalian sungguh berisik sekali."
Gadis-gadis itu mundur setengah langkah.
Ravien : "Apa kalian tuli?
Wanitaku sudah bilang, jangan ganggu."
Ravien menatap mereka satu per satu—dingin, tajam.
Ravien : "Aku tidak tertarik dengan kalian.
Jadi pergilah."
Hina membeku lebih keras. Wajahnya memanas—seperti tidak ada udara.
Ravien : "Pergi. Sebelum kesabaranku habis.
Kalian ganggu tidurku… dan ganggu wanitaku."
Gadis-gadis itu langsung panik.
Gadis 1 : "Ma… maaf…"
Gadis 2 : "Kami tidak tahu…"
Mereka mundur tergesa, lalu pergi, bahkan sempat menunduk minta maaf sebelum benar-benar menjauh.
Ravien melepas rangkulannya… dan kembali bersandar, seperti kejadian tadi hanya gangguan kecil.
Hina masih diam, pipinya merah, napasnya tidak teratur.
Hina (dalam hati):
Dia… membenarkannya.
Di depan mereka.
Tanpa ragu, tapi apa itu benar.
Ia menelan ludah, lalu mengumpulkan keberanian.
Hina : "Ravien… soal ucapanmu tadi… apa—"
Belum selesai.
Ravien : "Benar."
Hina membeku.
Ravien membuka satu mata, malas.
Ravien : "Tidak perlu tanya. Menyusahkan.
Jangan ganggu aku."
Lalu… ia memejamkan mata lagi.
Hina menatapnya—lama.
Hina (dalam hati):
Ternyata… dia benar-benar…
Aku… tidak sendirian lagi.
Ia menunduk, memeluk botol minumannya, dan suaranya keluar kecil—hampir seperti doa.
Hina : "Terima kasih, Ravien…
Karena menerima aku… yang cuma gadis biasa…"
Ravien tidak menjawab.
Tapi bahunya—yang bersandar—tidak menjauh saat Hina tetap di dekatnya.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
