Cherreads

Chapter 110 - Bab 110: Setelah Ciuman Itu—Pagi yang Bergerak Pelan

Aelria menutup pintu kamarnya dengan punggung menempel di kayu, seolah pintu itu satu-satunya yang bisa menahan jantungnya yang berdegup terlalu cepat.

Pipinya panas. Nafasnya pendek. Tapi sudut bibirnya—tak bisa disembunyikan—melengkung kecil.

Aelria (dalam hati):

Aku… benar-benar melakukannya…

Malu sekali… tapi… aku senang.

Ia menoleh ke dalam kamar. Sunyi—tidak ada siapa pun. Hanya lampu temaram, aroma linen hotel, dan suara AC pelan yang membuat suasana makin membuatnya sadar: tadi itu nyata.

Aelria mengambil ponselnya, lalu mengetik cepat.

Aelria (pesan): "Seris, kalian di mana?"

Tak lama balasan masuk.

Seris (pesan): "Kami di kamar Airi. Si kembar, Rinna, dan aku sedang dengar cerita yang kemarin Ravien larang untuk diceritakan."

Aelria mengerjap, penasaran langsung muncul… tapi rasa kantuk menghantam lebih dulu.

Aelria (pesan): "Aku ingin tahu juga… tapi aku mengantuk. Aku tidur dulu.

Kalian nanti kembali ke kamar masing-masingkan?"

Seris (pesan): "Benar. Sebentar lagi kami juga selesai."

Aelria menatap layar lama. Ada rasa penasaran… dan rasa bersalah kecil yang menyusup.

Aelria menghela napas lega. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur, memeluk bantal, dan sebelum pikirannya sempat kembali memutar ulang ciuman itu… ia sudah terlelap.

—Pagi di Kamar Para Pria

Keesokan paginya di kamar Rei, pagi datang bukan dengan alarm—tapi dengan suara langkah mondar-mandir yang terlalu rapih untuk disebut "kebetulan".

Rei membuka mata setengah, melihat punggung Riku yang sudah rapi seperti hendak pergi rapat.

Rei : "Riku…

Pagi-pagi sudah rapi. Mau ke mana?"

Riku menoleh, tersenyum tipis—senyum yang bagi Rei selalu berarti: aku sudah memikirkan semuanya.

Riku : "Aku mau persiapkan sesuatu.

Aku mau perpanjang liburan kita menginap di sini."

Rei mengerjap.

Rei : "Hah? Kenapa?"

Riku merapikan lengan bajunya.

Riku : "Aelria dan teman-temannya datang.

Tidak enak kalau kalian cuma sebentar.

Dan… aku tidak mungkin biarkan kamu baru ketemu Aelria… lalu cepat berpisah lagi."

Rei terdiam sebentar—lalu senyum hangat muncul, tipis tapi jujur.

Rei : "Terima kasih, Riku.

Kamu mengerti aku."

Riku menepuk bahu Rei pelan.

Riku : "Jangan khawatir.

Seperti yang aku bilang di ruang UKS dulu… apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untuk bantu kamu."

Rei mengangguk, dada terasa lebih ringan.

Rei : "Terima kasih… sekali lagi."

Riku berbalik pergi, meninggalkan Rei dengan keheningan yang hangat, bukan kosong.

Rei bangkit, mandi, lalu merapikan rambut putihnya yang sedikit panjang—diikat rapi seperti biasa. Saat ia keluar kamar mandi, Ravien masuk tanpa banyak suara, membawa aura "aku mandi dulu, jangan ganggu".

Rei : "Selamat pagi."

Ravien : "Pagi."

Nada Ravien datar, sedikit malas—tapi Rei sudah terbiasa.

Tak lama, ketukan terdengar di pintu.

Tok. Tok.

Rei membukakan pintu—dan di sana berdiri Airi dan Aelria.

Airi tersenyum lebar, seperti pagi itu adalah hadiah.

Airi : "Rei! Sarapan!"

Aelria hanya tersenyum, tapi matanya berbinar.

Rei menoleh ke arah kamar mandi.

Rei : "Ravien! Aku turun makan dulu!"

Dari dalam, suara Ravien terdengar seperti dengusan malas.

Ravien : "Pergi saja. Jangan ganggu aku mandi."

Rei tertawa kecil, lalu ikut Airi dan Aelria ke lift.

Di dalam lift, Rei digandeng dua elf sekaligus—dan Rei tidak menolak. Rasanya… aneh, tapi nyaman.

Rei : "Hina sama yang lain di mana?"

Kok tidak ikut?"

Airi : "Hina sama yang lain di mana? Kok nggak ikut?"

Aelria : "Seris ada di café dekat restoran.

Rinna dan si kembar juga di sana."

Lift terbuka. Mereka keluar menuju restoran.

Beberapa pegawai hotel melirik. Beberapa tamu berbisik iri—tak percaya seorang manusia bisa berjalan digandeng dua elf yang akur tanpa drama.

Airi menahan tawa, Aelria menutup mulutnya pelan, sementara Rei hanya tersenyum kecil.

Rei (dalam hati):

Kalau dulu… aku pasti panik.

Sekarang… lucu juga.

Sesampainya mereka di restoran, mereka memesan makanan. Saat menunggu, Rei menatap Aelria.

Rei : "Kamu liburan sampai kapan di dunia manusia?"

Aelria : "Satu minggu.

Masih ada sekitar empat atau lima hari lagi."

Airi langsung cemberut.

Airi : "Liburan kita dua minggu…

Tapi Onee-chan cuma satu minggu…"

Aelria mengusap kepala Airi lembut.

Aelria : "Aku juga libur dua minggu.

Tapi Fiora tidak ikut.

Dia harus bantu jaga toko bunga keluarganya.

Jadi setelah satu minggu di dunia manusia… kami akan balik dan bantu Fiora."

Airi mengangguk pelan, masih sedikit sedih, tapi jelas mengerti.

Saat itu ponsel Rei bergetar. Pesan dari Riku.

Rei membukanya—lalu matanya langsung melembut.

Rei : "Riku bilang… malam ini mau buat acara ulang tahun Hina.

Yang kemarin sempat tertunda."

Airi : "Serius?!"

Aelria : "Wah… kita harus cari hadiah."

Rei mengangguk, lalu tersenyum.

Rei : "Makan dulu.

Habis itu baru cari hadiah."

Makanan datang. Mereka makan sekitar lima belas menit.

Saat Aelria hendak membayar, pelayan tersenyum sopan.

Pelayan : "Maaf, Nona.

Tagihan sudah dibayarkan oleh tamu bernama Riku.

Beliau berpesan, selama teman-temannya makan di sini… beliau yang menanggung."

Airi dan Aelria sama-sama membeku—antara tak enak dan kagum.

Airi : "Dia… benar-benar niat…"

Rei hanya menghela napas kecil, pasrah—karena itu memang gaya Riku.

Selesai makan, Rei mengajak mereka ke toko aksesori dekat hotel untuk mencari hadiah Hina.

—Pagi Ravien dan "Hina yang Kesiangan"

Sementara itu, kembali ke kamar para pria…

Ravien akhirnya keluar dari kamar mandi, memakai kemeja tipis yang cocok untuk pantai. Rambutnya masih sedikit lembab, tapi wajahnya sudah kembali dingin seperti biasanya.

Ia melirik jam.

Ravien (dalam hati):

Masih jam delapan…

Ia mengambil ponsel, membuka satu-satunya kontak yang benar-benar ia simpan sendiri.

Hina.

Ravien mengetik singkat.

Ravien (pesan): "Bangun. Temani aku sarapan. Aku lapar."

Lima belas menit berlalu.

Tidak ada balasan.

Ravien mendecak kesal.

Ravien : "Menyusahkan…"

Ia keluar kamar, mengunci pintu, lalu berjalan menuju kamar Hina. Ia mengetuk.

Tok. Tok. Tok.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, lebih keras.

Tok! Tok! Tok!

Masih diam.

Ravien menghela napas, lalu menelpon Hina.

Dari dalam kamar, terdengar nada dering.

Ravien menatap pintu, kesal.

Ravien : "Hina."

Tok! Tok!

Akhirnya pintu terbuka—dan Hina muncul dengan rambut berantakan, wajah panik setengah sadar.

Hina : "Ra… Ravien? Ada apa?"

Ravien menatapnya datar, seolah ingin bilang kamu serius?

Ravien : "Sarapan. Cepat.

Aku sudah lapar."

Hina tersentak, baru sadar.

Hina : "A-ah… iya!

Tunggu sebentar!"

Pintu menutup cepat. Ravien berdiri menunggu di koridor, tangan di saku, tatapan kosong.

Lima belas menit kemudian pintu terbuka kembali.

Hina sudah rapi. Tas kecil menyilang di bahu. Rambutnya tersisir, wajahnya segar—dan entah kenapa, itu membuat kemarahan Ravien lenyap begitu saja.

Ravien (dalam hati):

Aneh…

Melihat dia seperti ini… aku tidak bisa marah…

Ravien melangkah lebih dulu. Hina mengunci kamar dan mengejar.

Langkah Ravien cepat—seperti biasa. Tidak menunggu, tidak menoleh.

Hina menatap tangan Ravien yang mengayun di sampingnya… lalu teringat suara Seris semalam.

Seris : "Kejar dia, Hina."

Hina menelan ludah. Dadanya berdebar.

Lalu—ia mempercepat langkah, dan menggenggam tangan Ravien dari belakang.

Ravien berhenti seketika.

Hina menunduk, wajahnya merah, tapi genggamannya tidak lepas.

Hina (dalam hati):

Jangan mundur… sekali ini… aku harus berani.

Ravien menatap tangan mereka beberapa detik…

lalu membalas genggaman itu. Lebih kuat. Lebih pasti.

Mereka melangkah menuju lift bersama.

Dan di dalam lift, Hina menahan malu—tapi hatinya hangat, karena untuk pertama kalinya… ia tidak merasa "mengejar sendirian".

More Chapters