Cherreads

Chapter 109 - Bab 109: Pantai Malam—Cerita yang Tertahan, Rindu yang Menempel

Malam di pantai terasa berbeda dari siang.

Langit gelap seperti kain beludru, bintang-bintang berpendar tipis, dan suara ombak datang dan pergi seperti napas panjang yang menenangkan. Angin laut menampar lembut rambut Rei yang diikat rapi, sementara Aelria berjalan di sampingnya—tenang, seolah langkahnya sengaja diperlambat agar momen ini tidak cepat habis.

Aelria : "Rei…

Selama aku nggak ada kabar… kamu paling sering kepikiran apa?"

Rei menoleh sekilas, lalu kembali memandang garis laut yang berkilau di bawah cahaya lampu-lampu jauh.

Rei : "Banyak. Aku khawatir…

tapi aku paksa diri buat percaya kamu baik-baik saja."

Aelria berjalan lebih dekat, lalu menyenderkan kepala ke bahu Rei. Gerakannya lembut, familiar—seperti kebiasaan lama yang akhirnya kembali pada tempatnya.

Aelria : "Terus… selama aku hilang kabar… kamu ngapain saja?

Kegiatanmu… di sekolah… semuanya."

Rei menghela napas pelan, lalu mulai bercerita.

Rei : "Sekolahku… SMA Seirei Gakuen… sempat ada lomba antar sekolah.

Dan lawan kami… SMA Shirokaze."

Mata Aelria sedikit membesar.

Aelria : "Serius…?"

Rei mengangguk kecil.

Rei : "Iya.

Dan… aku bertemu dengan... Mina."

Nama itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang.

Aelria tidak bergerak, tapi jari-jarinya mengencang pelan di lengan Rei.

Aelria : "Dia… lihat kamu?"

Rei mengangguk pelan.

Rei : "Dia melihat.

Tapi aku… tidak menyapa. Tidak menatap.

Aku cuma… tidak mau membuka luka lama."

Aelria menahan napas. Ada rasa campur aduk di matanya—kaget, lega… lalu sesuatu yang lebih hangat menyusup pelan, seperti bunga yang mekar diam-diam.

Aelria (dalam hati):

Kamu… benar-benar tidak lagi mengejarnya.

Kamu memilih menyelamatkan dirimu kali ini…

Rei melanjutkan, suaranya tetap tenang, tapi ada bayang yang lewat di matanya.

Rei : "Tapi lombanya… tidak berjalan mulus.

Ada insiden besar."

Aelria : "Insiden?"

Rei diam sepersekian detik, seolah menimbang apakah kisah itu pantas dibawa ke pantai yang tenang.

Rei : "Ravien… menghajar Kurogane Hayato.

Secara sepihak.

Hingga Hayato memuntahkan darah."

Aelria tertegun, lalu bibirnya berkedut—antara kaget dan… puas yang tak ingin ia akui.

Aelria (dalam hati):

Hayato…

Akhirnya ada yang menghentikannya.

Namun Aelria tetap menjaga wajahnya. Ia hanya mengusap pelan lengan Rei, meminta kelanjutan.

Aelria : "Lalu kenapa Ravien sampai segitunya?"

Rei menatap ombak yang memecah, lalu berkata pelan.

Rei : "Karena Hina. Ada insiden tabrakan dengan Hayato… dan ia keterlaluan kepada Hina.

Ravien bilang ke Hayato… 'Sekali lagi kau sentuh dia—aku hancurkan.'

Lalu dia menyebut Hina… 'wanitaku.'"

Aelria mendongak, benar-benar kaget kali ini.

Aelria : "Dia bilang begitu…?"

Rei mengangguk.

Rei : "Iya."

Aelria menatap Rei beberapa detik. Lalu perlahan, senyum kecil muncul di wajahnya—bukan senyum mengejek, tapi senyum lega.

Aelria (dalam hati):

Hina… akhirnya punya seseorang.

Dan Rei… tidak sendirian lagi juga…

Mereka berjalan makin dekat ke bibir pantai. Rei duduk di pasir, Aelria ikut duduk, masih menyender di bahunya. Angin malam membuat ujung rambut Aelria bergerak pelan.

Aelria : "Menurutmu… hubungan Hina dan Ravien… bakal bahagia?"

Rei berpikir sebentar, lalu menoleh ke Aelria yang setengah memejamkan mata, nyaman di bahunya.

Rei : "Aku rasa… iya.

Ravien… mirip aku dalam satu hal.

Dia tidak suka lihat seseorang… merasa sendirian.

Dan Hina… butuh seseorang yang… tetap ada saat dia rapuh."

Aelria terdiam, lalu matanya melembut.

Aelria teringat masa SMP—saat ia sendiri, saat dunia terasa menjauh, dan seorang bocah dengan senyum hangat datang begitu saja… tanpa peduli kata-kata orang lain.

Aelria (dalam hati):

Kamu… memang seperti itu dari dulu.

Datang… lalu membuat orang merasa tidak sendirian.

Aelria menghela napas kecil.

Aelria : "Kuharap… Hina cepat dapat kebahagiaannya."

Mereka duduk begitu, mendengar ombak selama hampir tiga puluh menit.

Lalu Rei melirik Aelria.

Aelria sudah mulai "tenggelam"—kepalanya makin berat di bahu Rei, napasnya teratur. Matanya nyaris tertutup.

Rei : "Aelria…

Ayo balik. Kamu butuh tidur."

Aelria membuka mata setengah, lalu menggeliat kecil seperti kucing malas.

Aelria : "Hmm… Kalau mau balik… gendong aku.

Aku capek… dan aku pengen manja."

Rei membeku.

Rei : "Hah?"

Aelria mengangkat wajah, lalu tersenyum manja tanpa rasa bersalah.

Aelria : "Aku malas jalan.

Gendong."

Rei menggaruk pipinya, menahan rasa malu.

Rei (dalam hati):

Dia… benar-benar nggak berubah.

Rei menarik napas panjang—pasrah—lalu membungkuk.

Rei : "Baiklah ayo naik."

Aelria langsung naik ke punggung Rei, kedua lengannya melingkar di leher Rei.

Aelria tersenyum bahagia, menempel lebih dekat.

Aelria (dalam hati):

Aku kangen… ini.

Kangen… dekat sama dia… tanpa jarak…

Di sepanjang jalan menuju hotel, tatapan orang-orang mulai berdatangan—manusia, beastskin, dan ras lain. Mereka melihat seorang pemuda berambut putih bermata berbeda menggendong gadis elf berambut perak di punggungnya. Beberapa berbisik, beberapa tertawa kecil penuh iri.

Rei menahan diri untuk tidak menunduk lebih dalam.

Rei (dalam hati):

Menyusahkan…

Tapi kalau dia bisa senyum… aku tidak masalah menahan tatapan.

Mereka sampai di lobi hotel. Pegawai dan resepsionis melirik, lalu tersipu—ada yang menutup mulut menahan tawa, ada yang berbisik pelan tentang "pasangan muda."

Rei masuk lift masih menggendong Aelria.

Di dalam lift, Rei menoleh sedikit.

Rei : "Kamarmu lantai berapa?"

Aelria : "Mungkin sama dengan lantaimu.

Cuma beda beberapa pintu."

Rei menekan lantai 3 mendengar itu.

Lift berhenti. Pintu terbuka.

Rei berjalan menuju koridor, lalu berhenti di depan pintu kamar Aelria sesuai nomor yang ia sebut.

Rei menurunkan Aelria pelan.

Rei : "Sudah sampai.

Istirahatlah yang benar."

Aelria berdiri, menatap Rei beberapa detik—tatapannya lembut, tapi dalam.

Rei baru mau berbalik…

Aelria : "Rei."

Rei menoleh.

Aelria menjinjit—dan mencium bibirnya. Singkat. Hangat.

Seperti menaruh tanda: aku kembali.

Aelria mundur setengah langkah, pipinya merah.

Aelria : "Selamat malam."

Pintu menutup.

Rei tetap di koridor beberapa detik… lalu menghembuskan napas pelan.

Senyum kecil muncul—seolah sesuatu yang hilang sebulan terakhir akhirnya pulang.

More Chapters