Cherreads

Chapter 108 - Bab 108: Meja Besar, Rindu Kecil, dan Belanja Diam-Diam

Senja pelan-pelan padam. Warna jingga di laut berubah menjadi gelap kebiruan, dan angin pantai mulai terasa lebih dingin.

Aelria masih bersandar di bahu Rei, Airi menempel di sisi lain—mereka bertiga seperti enggan memutus momen itu… sampai—

Grrr…

Suara perut Aelria berbunyi cukup jelas.

Aelria : "…

Itu—bukan aku."

Rei dan Airi langsung tertawa.

Airi : "Onee-chan lapar!"

Dari tadi ngintai, belum makan… pantas."

Aelria menunduk malu, tapi ujung bibirnya ikut terangkat.

Aelria (dalam hati):

Aku cuma… terlalu fokus melihat Rei baik-baik saja.

Rei berdiri lebih dulu, mengulurkan tangan ke Aelria dan Airi.

Rei : "Ayo. Kita makan malam.

Kalian… pasti butuh isi perut."

Mereka bertiga lalu mencari yang lain—Rinna, Noelle, Nerine, dan Seris—yang ternyata tidak jauh dari jalan utama. Mereka duduk agak terpisah, seolah sengaja memberi ruang agar Aelria-Airi-Rei bisa melepas rindu.

Rinna : "Akhirnya.

Kalau kelamaan, Nerine bisa makan pasir."

Nerine : "Hei!"

Noelle hanya menguap kecil, setengah malas.

Noelle : "Makan… cepat… aku mau tidur."

Seris mengangguk pelan, seperti biasa.

Seris : "Ayo. Kita cari restoran terdekat."

Akhirnya mereka berjalan bersama menuju restoran dekat hotel.

Sesampainya di sana, Rei menghampiri pelayan.

Rei : "Permisi.

Bisa carikan meja untuk rombongan?

Pelayan : "Tentu. Silakan ikut saya."

Mereka dibawa ke meja besar yang khusus untuk rombongan. Begitu semua duduk, Rei mengeluarkan ponselnya.

Rei (dalam hati):

Riku dan Rika belum terlihat sejak siang…

Aku harus panggil mereka. Biar makan bareng.

Rei menatap layar, lalu mengetik.

Rei (mengetik):

"Riku. Kita makan di restoran dekat hotel.

Datanglah. Jangan terlambat."

—Beberapa Jam Sebelumnya: Riku dan Rika di Kamar Rei—

Di pagi hari, di kamar Rei, Riku masih tertidur pulas. Rika berada di sampingnya—ikut tertidur, nyaman, seolah tempat itu adalah tempat paling aman di dunia.

Sesekali, dalam tidurnya, Riku memeluk Rika lebih erat. Rika membalas tanpa sadar—keduanya tetap terlelap.

Lewat tengah hari, sekitar pukul dua belas, Riku akhirnya menggeliat. Badannya terasa segar setelah tidur panjang tanpa beban.

Ia membuka mata… dan mendengar napas halus di sampingnya.

Riku menoleh.

Riku (dalam hati):

Rika…

Melihat Rika tidur di atas lengannya dengan damai membuat dada Riku hangat.

Riku (dalam hati):

Aku mencintaimu, Rika.

Ia menunduk pelan dan mencium kening Rika—sekilas, lembut—lalu bangkit dan menuju kamar mandi untuk mandi.

Beberapa menit kemudian, suara air mengalir memenuhi ruangan.

Rika mulai terbangun perlahan. Matanya berkedip, lalu ia menoleh saat mendengar suara air.

Rika (dalam hati):

Riku… mandi.

Tak lama… pintu kamar mandi terbuka.

Riku keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

Dan… ia tidak memakai atasan.

Rika membeku.

Wajahnya langsung memerah sampai ke telinga.

Rika buru-buru menutup wajah dengan kedua tangan, tapi tetap mengintip lewat celah jari-jari.

Rika (dalam hati):

A-apa ini…

Kenapa… dia tidak memakai atasan…?!

Riku menoleh—dan baru sadar Rika sudah bangun.

Riku : "Ah—! Maaf! Aku… aku kira kamu belum bangun!"

Ia panik kecil, membuka lemari, mengambil baju seadanya, lalu bergegas masuk kembali ke kamar mandi.

Rika yang melihat Riku kabur seperti itu malah tersenyum—bahagia—dengan wajah masih merah.

Rika (dalam hati):

Astaga… kenapa dia malah tambah tampan kalau panik…

Beberapa menit kemudian, Riku keluar lagi—kali ini sudah rapi.

Aroma segar dari kamar mandi membuat Rika makin nyaman berada dekatnya.

Riku mendekat, mengusap rambut Rika pelan.

Riku : "Kamu… nungguin aku dari tadi?

Kenapa nggak ikut sarapan?"

Rika menunduk sedikit.

Rika : "Aku menunggu kamu bangun… dari pagi.

Rei dan yang lain sudah pergi duluan… untuk makan dan mungkin sudah pergi entah kemana setelah itu."

Riku tersenyum, lalu mengelus kepala Rika lebih lembut.

Riku : "Terima kasih… sudah menemani.

Ayo, kita makan. Pasti kamu lapar."

Mereka turun menuju lobi, lalu makan siang di restoran dekat hotel.

Jam menunjukkan sekitar pukul satu siang—masih ada waktu untuk menikmati hari.

Riku menatap Rika dengan senyum tipis.

Riku : "Setelah makan… mau jalan?

Aku panggil taxi. Kita ke mal."

Rika : "Ke mal…?"

Riku : "Iya.

Beli apa saja yang kamu mau."

Rika tersenyum, bukan karena ditraktir—tapi karena kalimat itu terdengar seperti: aku mau melihat kamu bahagia.

Rika (dalam hati):

Dia… benar-benar memikirkan aku.

Setelah selesai makan dan pergi dari restoran Riku menggandeng Rika menuju jalan utama lalu mengangkat tangan nya untuk memanggil Taxi.

Taxi membawa mereka ke mal yang tidak terlalu jauh, sekitar sepuluh menit dari jalan utama dekat restoran.

Rika berkeliling toko baju, matanya kadang berbinar saat melihat model yang lucu… tapi selalu surut ketika melihat harga.

Ia menaruh kembali gantungan baju dengan hati-hati takut akan merusaknya, dan berjalan pura-pura santai.

Rika (dalam hati):

Terlalu mahal…

Aku tidak mau memberatkannya.

Namun Riku diam-diam memperhatikan.

Saat Rika terlihat tertarik pada sesuatu, Riku memberi kode halus pada penjaga toko.

Riku (pelan):

"Yang itu. Tolong dibungkus. Saya ambil nanti."

Pegawai Toko : "Baik Pak."

Rika tidak menyadari apa yang dilakukan pacarnya.

Setelah berkeliling hampir satu jam, Rika masuk ke toko boneka. Ia memegang beberapa boneka, tampak gemas… lalu melihat harganya dan pelan-pelan meletakkannya kembali.

Rika : "Lucu… tapi… ah, tidak usah."

Riku tersenyum samar—dan lagi-lagi memberi kode: bungkus.

Tak lama, Riku menemukan sebuah kuncir rambut dengan pin berbentuk sakura. Harganya murah, sederhana, tapi manis.

Rika mengambilnya dan menoleh.

Rika : "Aku… mau yang ini."

Riku menerima kuncir itu, lalu tersenyum hangat.

Riku (dalam hati):

Dari semua yang kamu suka…

yang kamu pilih justru yang paling sederhana.

Aku tidak salah memilihmu, Rika…

Mereka menuju kasir. Riku membayar kuncir itu.

Namun saat kasir menyerahkan beberapa paket lain—paket yang sebelumnya sudah dibungkus dari toko boneka—Rika membelalak.

Rika : "E-eh… itu…?"

Riku menoleh seolah itu hal biasa.

Riku : "Kita sekalian saja."

Rika baru sadar… barang-barang yang tadi ia lihat dan ia suka—yang mahal—sudah dibungkus.

Rika (dalam hati):

Dia… beli semuanya?

Padahal aku… sengaja tidak memilih…

Riku menoleh ke kasir.

Riku : "Ada kantong dimensi kecil? Buat menyimpan belanjaan."

Kasir : "Ada. Tunggu sebentar."

Pegawai Toko pergi ke gudang, lalu kembali membawa kantong dimensi. Saat harga disebutkan, Rika terkejut lagi—itu juga tidak murah.

Rika : "Riku…"

Riku memotong dengan tenang.

Riku : "Tidak usah khawatir.

Selama bisa membuatmu bahagia… apa pun akan kubelikan."

Pegawai Toko tertawa kecil.

Pegawai Toko : "Anda beruntung sekali Nona… dapat pasangan yang perhatian."

Rika tersipu, menunduk, jantungnya hangat.

Setelah itu, Riku mengajak Rika kembali ke toko-toko yang sudah mereka datangi sebelumnya, mengambil paket-paket yang sudah dibungkus dan dibayar diam-diam, lalu memasukkannya satu per satu ke kantong dimensi.

Rika makin lama makin kikuk.

Rika (dalam hati):

Aku jadi terlihat seperti…

wanita yang mengincar harta…

Riku menyerahkan kantong dimensi itu ke tangan Rika.

Riku : "Ini. Terima ya.

Aku tidak menerima penolakan."

Rika menatap kantong itu, lalu tiba-tiba memeluk Riku erat.

Rika : "Terima kasih…Tapi… jangan berlebihan.

Aku tidak mau disebut wanita yang mengincar harta…"

Riku mengusap punggung Rika pelan.

Riku : "Baik. Tapi kalau kamu ingin sesuatu, bilang.

Jangan diam hanya karena harga mahal."

Rika mengangguk kecil.

Rika (dalam hati):

Aku… makin mencintainya.

Riku memutuskan untuk menonton film, menikmati sore, sampai akhirnya langit mulai gelap.

Dan tepat saat mereka hendak pulang, ponsel Riku berbunyi.

Ponsel Riku bergetar. Nama Rei muncul di layar—pesan singkat soal makan malam.

Riku tersenyum, menatap Rika sebentar.

Riku : "Ayo pulang. Mereka menunggu."

Mereka naik taksi kembali ke hotel, membawa kantong dimensi yang terasa ringan di tangan—tapi hangat di dada.

Malam itu… meja besar akan mempertemukan semua rindu kecil yang belum sempat diucapkan.

More Chapters