Cherreads

Chapter 107 - Bab 107: Kejutan yang Tertebak

Mereka mengikuti dari kejauhan—cukup dekat untuk melihat kebahagiaan Rei, cukup jauh untuk tidak merusaknya.

Di depan, Rei dan Airi berjalan menyusuri tepian pantai. Airi menggandeng tangan Rei—kadang memeluk lengannya, kadang tertawa kecil saat angin pantai mengacak rambutnya. Rei tidak banyak bicara, tapi ekspresinya jauh lebih tenang dibanding hari-hari penuh beban itu.

Aelria menatap pemandangan itu lama.

Aelria (dalam hati): 

Airi… kamu benar-benar menjaganya.

Terima kasih… karena tetap ada saat aku tidak bisa.

Dua jam berlalu—Airi terus menempel di sisi Rei, seolah menjaga agar ia tidak sendirian sedetik pun.

Noelle mulai memutar gelasnya tanpa minat. Nerine mengipas wajahnya sendiri pakai tangan, lalu akhirnya menyerah.

Nerine :

"Aelria… kapan kita muncul?

Aku sudah hampir kering kayak ikan asin."

Aelria menahan tawa kecil.

Aelria : "Tunggu sebentar lagi."

Seris yang sedari tadi tenang tiba-tiba menyipitkan mata, memperhatikan sesuatu.

Seris : "Airi… menjauh."

Dan benar—Airi mencondongkan kepala ke Rei, berbisik cepat.

Airi : "Tunggu sebentar ya. Jangan ke mana-mana."

Lalu Airi berlari kecil ke arah lain, seperti sengaja meninggalkan Rei sendirian.

Rei duduk di pasir, menatap laut yang luas. Desiran ombak, suara burung, dan langit yang mulai menghangat oleh warna senja… menekan dunia menjadi sunyi yang nyaman.

Rei (dalam hati):

Andai kedamaian ini… bisa kurasakan selamanya.

Aelria menatap punggung Rei dari jauh. Dadanya berdebar—bukan karena takut, tapi karena rindu yang tertahan terlalu lama.

Aelria (dalam hati):

Sekarang saatnya.

Ia melangkah pelan, lalu berdiri tepat di belakang Rei.

Dengan gerakan yang hati-hati, Aelria menutupi kedua mata Rei dari belakang.

Rei terdiam sesaat… lalu tersenyum tipis.

Rei : "Hmmm… pasti ini Aelria."

Aelria membeku.

Aelria : "Eh—

Bagaimana kamu bisa tahu?!"

Pipi Aelria memerah. Ia benar-benar mengira kejutan itu akan sempurna.

Aelria (dalam hati):

Apakah aku gagal…

Padahal aku sudah menahan napas supaya langkahku tidak terdengar…

Rei menahan tawa kecil, lalu menoleh setengah, masih belum bisa melihat jelas karena mata ditutup.

Rei : "Maaf… aku kira tadi Airi yang bercanda lagi seperti di sekolah.

Tapi saat aku spontan nyebut namamu… aku sendiri kaget. Karena ternyata… kamu beneran ada di sini."

Aelria melepas tangannya dari mata Rei. Tatapannya bertemu dengan mata Rei—dan di detik itu, semua rindu sebulan terasa runtuh sekaligus.

Tanpa menunggu lagi, Aelria memeluk Rei erat.

Aelria : "Kamu… membuatku khawatir.

Dan aku… juga minta maaf."

Di kejauhan, teman-teman Aelria yang melihat Rei langsung menyebut nama itu tanpa ragu saling saling berpandangan.

Noelle (dalam hati):

Nama pertama yang dia sebut… cuma Aelria.

Nerine menggigit bibirnya, lalu berbisik.

Nerine : "Wah… ini manis banget."

Seris tidak berkata apa-apa, tapi matanya melembut.

Seris (dalam hati):

Jadi… memang kamu ada di inti pikirannya.

Tak lama, langkah kaki cepat berlari di pasir.

Airi datang dengan dua kaleng minuman, lalu membeku saat melihat pemandangan itu—Rei dipeluk Aelria.

Lalu, seperti tidak mau kalah sedetik pun, Airi langsung berlari dan ikut memeluk mereka berdua.

Airi : "Selamat datang, Onee-chan!"

Rei tersenyum, pelukannya menguat meski tubuhnya terasa 'terkunci' di antara dua elf yang paling berarti dalam hidupnya.

Rei : "Iya…

Selamat datang, Aelria."

Pelukan bertiga itu menahan napas Rei di tempatnya—hangat, rapat, seperti pagar yang menutup semua retak lama.

Melihat itu, Rinna menyentuh bahu Noelle dan Nerine, lalu memberi isyarat halus pada Seris.

Rinna : "Ayo.

Kasih mereka ruang."

Mereka menjauh, membiarkan tiga orang itu melepas rindu tanpa mata-mata yang mengganggu.

Setelah beberapa saat, Aelria menarik diri sedikit. Ia menunduk, suaranya lebih pelan, lebih jujur.

Aelria : "Maaf… aku tidak mengabari kamu selama sebulan.

Aku… benar-benar tidak punya waktu."

Rei menggeleng.

Rei : "Tidak apa.

Yang penting kamu baik-baik saja."

Airi mengangkat kaleng minuman di tangannya seperti hadiah kecil.

Airi : "Hei, lihat…!"

Rei dan Aelria menoleh ke arah yang ditunjuk Airi.

Matahari sedang turun perlahan, menumpahkan warna jingga ke permukaan laut. Ombak seperti memantulkan cahaya itu kembali, membuat dunia tampak lebih lembut daripada biasanya.

Aelria memeluk lengan Rei, menyandarkan kepala di bahunya.

Airi ikut menempel di sisi lain, meniru gaya Aelria tanpa malu.

Rei terdiam, lalu menghembuskan napas yang panjang—bukan napas lelah, tapi napas lega.

Rei (dalam hati):

Aku… sangat bahagia dengan kehidupan ini.

Terima kasih, Airi dan Aelria…

Karena menjaga aku… dari luka masa lalu.

Aelria menatap laut, tapi pikirannya ada pada Rei.

Aelria (dalam hati):

Aku harap… Rei bisa benar-benar lepas.

Dan menjalani hidup yang lebih baik.

Airi menggigit bibirnya pelan, menahan emosi yang hangat sekaligus takut.

Airi (dalam hati):

Aku dan Onee-chan…

tidak akan membiarkanmu hancur untuk yang kedua kalinya, Rei.

Kami janji.

Senja turun perlahan, seolah menutup kepala mereka bertiga dengan selimut jingga. Ombak berbisik pelan—dan di dalam diam itu, janji mereka sudah cukup keras untuk didengar hati

More Chapters