Cherreads

Chapter 106 - Bab 106: Bayang-Bayang Kejutan di Depan Restoran

Pagi yang seharusnya tenang di kamar hotel justru pecah oleh suara langkah kecil yang rapi—dan tatapan dingin yang sudah siap tempur.

Seris berdiri di dekat jendela, sudah berpakaian rapi, rambut biru-keperakannya jatuh lurus, mata keunguannya tenang seperti permukaan danau yang tidak pernah bergelombang.

Aelria baru membuka mata setengah.

Aelria : "Pagi Seris…

Pagi-pagi sekali sudah rapi… kamu mau bertemu siapa?"

Seris menghela napas pelan, seperti menahan kebiasaan Aelria yang terlalu "elf" saat lelah.

Seris : "Pagi apa. Ini sudah jam sembilan."

Aelria tersentak, langsung meraih ponsel. Matanya melebar.

Aelria : "Hah…?!"

Lalu ia tertawa kecil, malu, tapi juga lega… karena tubuhnya memang benar-benar menuntut istirahat.

Aelria : "Maaf…

Rasa lelah dari tugas akademi dan perjalanan kemarin… masih menempel."

Seris : "Ya sudah.

Mandi. Lalu siap-siap."

Belum sempat Aelria bangun sepenuhnya, pintu kamar diketuk.

Tok. Tok. Tok.

Seris menuju pintu dan membukakan pintu tanpa banyak kata.

Di sana sudah ada Rinna, Noelle, dan Nerine—masuk dengan gaya masing-masing.

Nerine melongok ke dalam kamar.

Nerine : "Akhirnya bangun juga."

Noelle menyandarkan bahu di kusen pintu, ekspresinya malas.

Noelle : "Kalau belum bangun, aku tarik selimutmu."

Rinna tersenyum santai, ekor rubahnya bergerak kecil.

Rinna : "Santai aja. Yang penting rencana kejutan berjalan."

Aelria buru-buru masuk kamar mandi. Suara air mengalir, dan di luar, obrolan mereka bergulir.

Nerine : "Jadi hari ini kita 'sergap' Rei?"

Noelle : "Jangan pakai kata sergap."

Rinna : "Kita hanya… mengintai dengan elegan."

Seris duduk tenang, mendengarkan, tapi pikirannya jelas melayang—pada sesuatu yang ia dengar dari percakapan mereka dengan Hina terakhir kali.

Seris (dalam hati):

Kalau kakak benar-benar berubah… berarti gadis itu memang punya tempat di hatinya.

Tiga puluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Aelria keluar dengan rambut perak yang masih sedikit lembap, wajahnya sudah lebih segar—tapi mata zamrudnya masih menyimpan gelisah halus.

Aelria : "Maaf menunggu lama…"

Nerine mendengus dramatis.

Nerine : "Pertama kali aku lihat Aelria kesiangan."

Noelle : "Biasanya dia lebih cepat dari matahari."

Rinna tertawa kecil, lalu menatap Aelria lebih serius.

Rinna : "Oke. Sekarang rencana.

Kita ngapain dulu?"

Aelria mengangkat satu jari, seperti memberi tanda "tunggu".

Aelria : "Aku hubungi Hina dulu.

Aku harus tahu mereka sedang di mana, dan sedang apa…

Aku tidak boleh ketemu Rei sebelum waktunya."

Seris mengangguk.

Seris : "Jika untuk kebaikanmu, kami dukung."

Aelria duduk di tepi kasur, ponsel di tangan. Jemarinya mengetik cepat, tapi ia tetap berhati-hati—setiap kalimat terasa seperti langkah di atas kaca tipis.

Aelria (mengetik): "Hina, kalian sekarang di mana?

Aku perlu tahu supaya tidak bertabrakan."

Beberapa menit yang terasa lebih lama dari seharusnya.

Lalu balasan masuk.

Hina : "Kami sedang di restoran dekat hotel.

Aku sama Ravien. Rei dan Airi juga di sini."

Aelria menarik napas kecil.

Aelria (dalam hati):

Restoran dekat hotel…

Jangan-jangan… yang kemarin?

Aelria (mengetik): "Apakah restoran dekat pantai yang selalu ramai pengunjung?"

Terlihat "sedang mengetik…" cukup lama.

Lalu balasan masuk.

Hina : "Iya. Benar.

Restoran itu yang kami datangi sekarang."

Aelria membeku sebentar.

Aelria (dalam hati):

Benar… restoran itu.

Aelria (mengetik): "Baik. Terima kasih, Hina."

Ia mematikan layar ponsel dan menatap mereka semua.

Aelria : "Mereka di restoran yang sama seperti kita kemarin datangi, kalau kita ke sana… kita harus sangat hati-hati."

Nerine langsung bersemangat.

Nerine : "Kalau gitu kita pantau dari dekat!"

Noelle : "Pantau, bukan menyerbu."

Rinna : "Kalau tidak salah... ada Café dekat sana.

Kita bisa duduk seolah-olah wisatawan biasa."

Seris mengangguk setuju.

Seris : "Kita lihat dulu mereka keluar ke mana.

Baru kita putuskan langkah selanjutnya."

Mereka pun berangkat.

Dan benar ada sebuah Café tidak jauh dari restoran—posisinya pas: cukup dekat untuk mengintai, cukup jauh untuk tidak mudah dikenali.

Mereka duduk di meja yang menghadap jalur keluar restoran. Minuman dipesan sekadar kamuflase—bahkan Noelle pun memegang gelasnya dengan gaya "aku di sini karena terpaksa".

Waktu berjalan.

Satu jam.

Nerine sudah tiga kali hampir berdiri, tapi Noelle menarik lengan bajunya setiap kali.

Seris menghitung ritme pintu restoran—siapa yang keluar, siapa yang masuk—seperti menghafal pola.

Aelria memegang gelasnya terlalu erat sampai esnya berdenting pelan.

Aelria (dalam hati):

Rei… apakah benar kamu ada di sana?

Tapi tidak mungkin Hina berbohong.

Lalu—

Pintu restoran terbuka.

Aelria refleks menahan napas.

Rei keluar bersama Airi.

Rinna (pelan): "Itu… Rei."

Rambut putih Rei menangkap matahari pagi, memantulkannya seperti garis terang yang memotong keramaian. Dan mata itu—dua warna yang tak mungkin salah—membuat Aelria yakin: itu benar-benar Rei.

Seketika, suara sekitar terasa menjauh—yang tersisa hanya langkah Rei, dan cara Airi langsung meraih tangannya.

Airi menarik Rei menjauh, seolah sudah punya tujuan—dan Rei adalah orang yang "harus ikut".

Aelria tidak berkedip.

Aelria (dalam hati):

Itu dia…

Beneran dia.

Tak lama setelah itu, Ravien keluar… bersama Hina.

Dan di detik itu, Seris menangkap pemandangan yang membuat dadanya terasa aneh—seperti ada bagian kecil dari dirinya yang akhirnya percaya.

Ravien meraih tangan gadis manusia itu, menuntunnya berjalan.

Tidak kasar. Tidak dipaksa.

Hina mengikutinya… dan tidak menolak.

Seris (dalam hati):

Jadi benar…

Kau bisa seperti itu lagi, Kak.

Aelria sudah berdiri lebih dulu, memberi isyarat singkat.

Aelria : "Kita ikuti Rei dulu.

Jangan sampai kehilangan arah."

Seris tersentak dari pikirannya, lalu mengangguk cepat—namun sebelum melangkah, matanya sempat kembali menatap punggung Ravien dan Hina yang menjauh.

Seris (dalam hati):

Kalau kau mencintainya…

Jangan buat dia bersedih, Kak.

Dan semoga… dia memang pantas untukmu.

Lalu Seris membalik badan, mengikuti Aelria dan yang lain—membiarkan dua jejak itu berjalan di arah berbeda, menuju takdir yang sama-sama mulai bergerak.

More Chapters