Kilas balik—satu hari sebelum pertemuan itu.
Mobil sewaan melaju meninggalkan halaman hotel tempat Aelria dan teman-temannya menginap.
Kursinya cukup lebar, jendela besar, dan udara pagi masih terasa segar—tapi di dalam mobil, suasananya jauh lebih hidup daripada udara di luar.
Nerine duduk paling belakang sambil menggoyang-goyangkan kaki, penuh energi seperti biasanya.
Nerine : "Kalau nanti Rei kaget sampai jatuh, itu lucu banget."
Noelle melirik adiknya dengan ekspresi malas, ujung rambut hitamnya yang kemerahan seperti api kecil di ujung.
Noelle : "Jangan berlebihan. Kita datang buat kejutan, bukan buat kecelakaan."
Rinna duduk dekat jendela, telinga serigalanya bergerak kecil setiap kali mendengar suara asing dari luar. Ia tersenyum santai, tapi matanya waspada.
Rinna : "Yang penting, kita jangan bikin masalah."
Seris duduk tenang, aura dinginnya seperti menahan keributan mobil agar tidak meledak jadi pesta. Aelria sendiri memeluk ponselnya, diam lebih lama daripada biasanya—pandangannya sesekali menempel ke jalan, sesekali jatuh ke layar yang masih gelap tanpa pesan baru.
Aelria (dalam hati):
Tiga jam… sebentar lagi.
Rei… kamu pasti benar-benar akan kaget…
Supir yang sejak tadi mendengar tawa kecil mereka akhirnya berdehem pelan—seperti meminta izin untuk masuk ke obrolan.
Supir : "Maaf, Nona-nona… saya boleh tanya?
Tujuannya lumayan jauh. Kalian semua liburan… atau ada acara khusus?"
Seris menoleh sedikit, matanya tidak tajam, tapi cukup membuat orang langsung paham ia bukan orang yang suka ditanya berlebihan. Namun nada Seris tetap sopan.
Seris : "Liburan. Teman kami sedang berlibur di tempat itu.
Kami ingin membuat kejutan untuknya."
Supir tertawa kecil, matanya menyipit hangat lewat kaca spion.
Supir : "Wah… indahnya masa muda.
Baiklah. Saya antar sampai aman."
Di kursi samping, Aelria menahan senyum. Kata-kata itu terdengar ringan, tapi menampar lembut hatinya yang sudah lama menahan rindu.
Aelria (dalam hati):
Indah… ya.
Kalau aku tidak terlambat lagi…
Perjalanan berlanjut. Jalanan menanjak dan menurun, melewati hamparan pepohonan dan area yang makin terasa dekat dengan laut. Angin mulai membawa aroma asin tipis.
Tiga jam kemudian, mobil berhenti di depan sebuah hotel megah—hotel yang sama yang akan menjadi titik pertemuan "kejutan" itu.
Begitu turun, Nerine langsung meregangkan tangan.
Nerine : "Akhirnya!"
Noelle : "Jangan teriak."
Rinna : "Tenang, kalian. Ini wilayah manusia."
Seris tidak banyak komentar. Ia hanya menggeser pandangan ke Aelria, memastikan Aelria tidak terlihat terlalu gelisah.
Aelria menarik napas, lalu melangkah menuju resepsionis.
Di meja resepsionis, seorang staf menyambut ramah.
Resepsionis : "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"
Aelria : "Saya ingin memesan dua kamar.
Untuk enam orang. Dua kamar, masing-masing untuk tiga orang."
Resepsionis mengangguk, mengetik cepat, lalu menjelaskan beberapa opsi. Aelria memilih kamar yang nyaman tanpa mencolok. Dua kunci diserahkan—lantai tiga.
Resepsionis : "Kamar Anda di lantai tiga. Semoga liburannya menyenangkan."
Begitu mereka berbalik, Nerine langsung menarik lengan Aelria seperti anak kecil yang melihat festival.
Nerine : "Makan dulu! Aku lapar!"
Noelle : "Kau selalu lapar."
Rinna menepuk perutnya sendiri, pura-pura serius.
Rinna : "Kalau Nerine lapar, dunia bisa kiamat."
Aelria terkekeh, lalu kembali ke resepsionis sebentar.
Aelria : "Maaf, bisa rekomendasikan tempat makan yang enak di sekitar sini?"
Resepsionis memberi beberapa rekomendasi, menyebutkan satu tempat yang cukup ramai dan terkenal dekat area pantai.
Mereka pun berjalan ke tempat makan itu.
Restoran dekat pantai itu dipenuhi aroma makanan hangat dan suara percakapan wisatawan. Lampu-lampunya lembut, jendela kaca besar menampilkan garis laut di kejauhan.
Mereka memilih meja yang cukup luas.
Rinna : "Pilih cepat sebelum Nerine menggigit meja."
Nerine : "Aku bisa kok."
Noelle : "Tolong jangan."
Aelria memilih makanan dengan pelan—tidak karena bingung, tapi karena pikirannya melayang.
Aelria (dalam hati):
Rei sekarang lagi apa…
Apa dia sudah sampai pantai… atau baru bangun…
Seris memperhatikan wajah Aelria yang seolah "ada di sini tapi juga tidak."
Seris : "Makan dulu.
Kalau kau pingsan karena tidak makan, kejutanmu jadi sia-sia."
Aelria tertawa kecil.
Aelria : "Iya… iya."
Makanan datang. Nerine makan paling cepat, Rinna menikmati santai, Noelle makan rapi, Seris efisien seperti biasanya. Aelria makan cukup, tapi jelas tidak "sepenuhnya di piring."
Setelah kenyang, mereka memutuskan pergi ke pantai.
Pantai sore itu hangat, anginnya lembut, ombaknya tenang. Mereka belum sempat ganti pakaian—masih dengan rapi-santai dari pagi, tapi itu tidak mengurangi semangat mereka.
Rinna langsung berjalan di tepi air, telapak kakinya hampir menyentuh ombak.
Rinna : "Udara manusia… beda ya."
Nerine berputar sekali di pasir.
Nerine : "Aku suka!"
Aelria berdiri sebentar, memandangi laut—seolah laut itu bisa memantulkan wajah Rei kalau ia menatap cukup lama.
Aelria (dalam hati):
Besok aku lihat dia… beneran.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Beberapa pria dari ras manusia—dan beberapa ras lain yang sedang liburan—mulai memperhatikan mereka. Pandangan itu awalnya biasa, lalu berubah jadi langkah yang mendekat.
Pria 1 : "Hai, kalian dari mana?"
Pria 2 : "Kalian cantik-cantik sekali…"
Aelria mundur setengah langkah. Seris mengangkat wajah sedikit—dan bahunya menegang, seperti tubuhnya mengingat sesuatu yang tidak ingin diingat.
Ada jarak yang terlalu dekat.
Ada nada yang terlalu familier.
Udara di sekitar Seris turun tipis, aura dinginnya muncul seperti kabut tajam.
Seris : "Jangan mendekat."
Nada itu pendek, tapi tidak semua orang peka.
Rinna maju setengah langkah, ekor serigalanya bergerak pelan. Ia tersenyum, tapi matanya tajam.
Rinna : "Maaf ya. Kami sedang liburan internal."
Salah satu pria masih mencoba mendekat—dan itu cukup membuat Seris menegang; jemarinya mengencang di sisi bajunya, tatapannya seperti bilah tipis yang siap menyayat.
Rinna langsung memposisikan diri sedikit di depan Seris, seperti pagar.
Rinna (dalam hati):
Aku tahu… Seris tidak suka orang asing terlalu dekat.
Aku akan menjaganya.
Noelle hanya melirik sebentar, seolah siap mengeluarkan sihir presisi kalau orang-orang itu keterlaluan. Nerine mulai kesal, tapi menahan diri karena ia sadar ini dunia manusia, bukan arena akademi.
Untungnya, setelah melihat tatapan mereka—dan merasakan "sesuatu" yang sulit dijelaskan—para pria itu mundur, tertawa canggung, lalu pergi.
Seris menghembuskan napas pelan. Matanya sempat turun sepersekian detik—seolah memastikan jarak itu benar-benar kembali aman—lalu ia menatap Rinna sekilas.
Tidak ada ucapan terima kasih, tapi bagi Rinna… itu sudah cukup.
Sore semakin tua. Mereka memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk esok.
Di lift, Aelria menatap ponselnya, lalu begitu sampai kamar—kamar yang ia tempati bersama Seris—ia langsung mengirim pesan pada Hina.
Aelria : "Aku sudah sampai. Di hotel yang sama."
Tidak lama kemudian, balasan masuk.
Hina : "Kami lagi istirahat karena capek. Besok baru mulai jalan-jalan."
Aelria menatap layar itu lama, lalu tersenyum pelan.
Aelria (dalam hati):
Jadi… besok.
Besok aku benar-benar mulai.
Seris yang baru keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit lembap, melirik Aelria.
Seris : "Kau sudah dapat kabar?"
Aelria mengangguk.
Aelria : "Iya."
Seris : "Kalau begitu mandi.
Istirahat. Besok kau harus kuat."
Aelria mengangguk lagi, lalu bergegas masuk kamar mandi. Air hangat mengalir, tapi pikirannya tetap dingin dan tajam—mengatur langkah kejutan besok agar tidak gagal.
Setelah selesai mandi, mereka berdua berbaring untuk beristirahat.
Di luar jendela, ombak menghapus jejak di pasir. Tapi rindu Aelria tidak ikut hilang—karena jarak satu bulan itu… tinggal satu malam lagi.
