Cherreads

Chapter 104 - Bab 104: Tangan yang Tidak Dilepas

Ravien masih menggenggam tangan Hina ketika mereka berjalan kembali menuju hotel. Langkah mereka pelan, melewati lampu-lampu taman yang mulai menyala. Suasana sore hampir tenggelam, berganti malam yang hangat.

Di tengah jalan, Ravien melirik Hina sekilas—tatapannya tajam seperti biasa, tapi nadanya lebih… rendah.

Ravien : "Kau sudah lebih baik?"

Hina menatapnya, lalu tersenyum kecil. Senyum yang tidak lagi rapuh seperti tadi.

Hina : "Iya… sudah lebih baik."

Ravien tidak membalas senyum. Ekspresinya tetap datar, seolah itu hal biasa. Tapi ia juga tidak melepas tangan Hina—genggamannya malah terasa lebih pasti, seperti keputusan.

Mereka sampai di hotel. Di lobi, orang-orang berlalu-lalang, suara koper, tawa, musik pelan. Hina otomatis mengecilkan bahunya—ramai selalu membuatnya canggung.

Ravien menoleh.

Ravien : "Makan dulu."

Hina : "Hah?"

Ravien : "Kau butuh energi. Kau menangis lama."

Kalimat itu seperti perintah, tapi… anehnya, terasa seperti perhatian yang tidak ia minta namun diam-diam ia butuhkan.

Hina : "O-oke…"

Ravien menariknya menuju restoran hotel—restoran yang tadi mereka datangi.

Begitu mereka masuk, Ravien langsung mencari tempat duduk di sisi yang agak tenang. Namun belum sempat ia duduk—

Airi : "RAVIEN!"

Suara itu memanggil jelas dari arah salah satu meja besar.

Ravien berhenti. Wajahnya menunjukkan sesuatu yang jarang muncul: kesal sebelum kejadian terjadi. Ia menoleh.

Di sana—meja itu penuh.

Ada Airi. Ada Riku. Ada Rika.

Dan… ada orang-orang yang membuat kepala Ravien terasa seperti ditarik dua arah sekaligus.

Aelria. Seris. Rinna. Noelle. Nerine.

Ravien (dalam hati):

Kenapa mereka semua… ada di sini…

Hina ikut menoleh. Matanya melebar, karena ia juga tidak menyangka.

Ravien melangkah mendekat dengan tatapan "aku ingin pulang dan tidur", tapi kaki-kakinya membawa tubuhnya ke meja itu juga. Begitu sampai, ia melihat Seris menatapnya seperti adik yang sudah menunggu momen untuk mengomel… tapi ditahan.

Seris : "Duduk."

Ravien : "…"

Seris : "Duduk, Kak."

Nada Seris dingin, tapi jelas ada perintah di sana. Ravien mendecak kecil, lalu akhirnya duduk—dan tanpa sadar… ia masih menggenggam tangan Hina.

Hina sempat hendak menarik tangannya—refleks lama—namun Ravien mengencangkan genggaman sedikit, seolah berkata "tetap di sini".

Hina ikut duduk di sampingnya, ikut terseret ke "meja besar" ini.

Airi yang duduk tidak jauh langsung melirik tangan itu, lalu menggeser pandangan ke Aelria dengan ekspresi penuh makna.

Airi (pelan): "Lihat itu…"

Aelria mengikuti arah pandang Airi—dan melihat Ravien masih menggenggam tangan Hina bahkan saat sudah duduk berdampingan.

Aelria (dalam hati):

Oh… jadi begini.

Ravien, seakan menyadari ia sedang dilihat, malah menundukkan kepala ke meja—seolah ingin tidur di tempat.

Riku : "Oke, sebelum ada yang tidur beneran, kita pesan dulu."

Rika : "Yang tidur itu satu doang di sini."

Nerine terkekeh, Noelle hanya mengangkat alis malas, dan Rinna menatap Ravien dengan raut "ini Ravien beneran?"

Semua mulai memesan makanan. Hina masih memilih-milih menu dengan canggung—ia baru sadar ia duduk bersama orang-orang teman-teman Aelria lagi.

Seris bergerak hendak membangunkan Ravien.

Seris : "Kak, kau belum—"

Hina buru-buru mengangkat tangan, menahan.

Hina : "N-nggak usah…!"

Seris menoleh.

Hina menarik napas, lalu berkata pelan.

Hina : "Untuk pesanan Ravien… samakan saja dengan punyaku."

Mendadak, meja itu sunyi sepersekian detik.

Airi menahan senyum.

Rika menatap Hina dengan mata "oh jadi begini sekarang".

Riku memalingkan wajah sebentar, menahan tawa.

Nerine langsung mencondongkan badan.

Nerine : "Waaah…"

Noelle : "Jadi dia mau makan kalau sama…"

Nerine : "Sama Hina~?"

Hina langsung memerah sampai telinga.

Hina : "B-bukan begitu!"

Ravien tidak bereaksi—masih seperti tidur—tapi ujung alisnya bergerak sedikit, seolah ia mendengar semuanya.

Setelah pesanan selesai, obrolan mulai mengalir.

Rei akhirnya membuka mulut—tatapannya tertuju pada Aelria, jelas masih ada beban yang dipendam sebulan penuh.

Rei : "Aelria… kamu ke mana saja satu bulan ini?"

Rei : "Tidak ada kabar sama sekali. Aku… khawatir."

Aelria terdiam sesaat. Di wajahnya ada rasa bersalah yang tulus—bukan drama, bukan alasan manis.

Aelria : "Maaf, Rei."

Aelria : "Akademi memberi ujian… lalu tugas lapangan. Aku tidak punya waktu—dan aku juga tidak ingin membuatmu tambah cemas sebelum aku memastikan semuanya aman."

Airi langsung menyelip dengan gaya bangga, memeluk lengan Rei seolah menandai wilayah.

Airi : "Tidak perlu khawatir, Onee-chan!"

Airi : "Aku yang jaga Rei di sini!"

Semua tertawa kecil.

Riku : "Yah, Rei aman di tangan Airi."

Rika : "Kadang malah kebanyakan dijaga."

Aelria tersenyum, tapi lalu pandangannya bergeser ke Hina—dan mata Aelria langsung menangkap sesuatu.

Mata Hina bengkak. Bekas tangis yang masih tinggal.

Aelria : "Hina… matamu…"

Aelria : "Kalian berdua dari mana saja?"

Hina kaku. Bibirnya terbuka, tapi kata-kata tidak keluar.

Hina (dalam hati):

Aku… harus jawab apa…

Kalau aku cerita, semua orang bakal heboh…

Sebelum Hina sempat menata kalimat, Ravien tiba-tiba bersuara—masih dengan posisi malas, tapi auranya langsung memotong ruang.

Ravien :

"Tidak perlu cerita apa pun kalau tidak mau.

Jangan paksa."

Suara itu datar… namun jelas melindungi.

Semua terdiam.

Hina menatap Ravien sebentar—dan entah kenapa, dadanya terasa hangat.

Hina : "A-aku… cuma sedang capek.

Aku tidak apa-apa."

Merasa Hina tidak ingin membahasnya, yang lain akhirnya mengalah, mengganti topik.

Tak lama kemudian makanan datang.

Begitu piring Hina diletakkan, Hina menepuk bahu Ravien pelan.

Hina : "Ravien… bangun. Makanannya sudah datang."

Ravien mengangkat kepala, meregangkan leher, lalu duduk tegak.

Ravien : "Terima kasih."

Dan ia mulai makan seperti biasa—tanpa peduli tatapan orang-orang yang masih "memproses" bagaimana demon ini bisa bilang terima kasih dengan nada yang… tidak menyakitkan.

Seris melihat itu dari samping. Wajahnya tetap dingin, tapi matanya sempat melembut.

Seris (dalam hati):

Ka Lirya… hukumanmu ternyata pilihan yang tepat.

Mereka makan, bercanda, dan malam perlahan turun sepenuhnya.

Setelah selesai, Riku berdiri.

Riku : "Aku bayar."

Ravien tidak protes. Ia hanya bangkit, lalu menoleh sebentar seperti memastikan Hina ikut.

Mereka kembali ke kamar masing-masing.

Aelria mengajak Rei berjalan ke pantai malam itu. Rei mengangguk dan mengikuti—sementara yang lain memilih beristirahat.

—Ruang Wanita dan Rahasia

Di kamar para wanita, suasananya jauh berbeda.

Begitu pintu tertutup, aura "tenang" langsung berubah jadi "sidang."

Nerine mengunci pintu—lebih seperti bercanda, tapi cukup membuat Hina tegang.

Nerine : "Oke. Sekarang cerita."

Noelle : "Singkat saja. Tapi lengkap."

Rinna : "Iya. Matamu bengkak. Jangan bilang cuma karena angin pantai."

Rika duduk bersedekap sambil menatap Hina tanpa berkedip.

Rika : "Dan jangan coba bohong. Kita kenal kamu."

Airi duduk paling dekat dengan Hina, menggenggam tangan Hina sedikit lebih erat—bukan menahan, tapi menguatkan.

Airi : "Hina… kita cuma khawatir."

Hina menghembuskan napas panjang. Ia merasa terpojok, tapi… untuk pertama kalinya dalam hidupnya, "terpojok" ini bukan karena benci, melainkan karena orang-orang peduli.

Hina : "Baik…"

Hina : "Aku cerita…"

Dan Hina menceritakan semuanya: Ravien yang menuntunnya, taman, pria-pria yang mengganggu, rasa takutnya, dan bagaimana Ravien datang seperti badai yang memotong semuanya.

Hina tidak menyebut semua detail kata-kata paling rapuhnya—tapi cukup untuk membuat kamar itu hening.

Nerine : "Dia… melindungimu?"

Noelle : "Dia… memelukmu juga?"

Rinna : "Aku ingin lihat wajah pria-pria itu."

Rika : "Aku ingin injak mereka."

Airi : "Aku ingin…"

Airi berhenti, lalu menatap Hina.

Airi : "…aku cuma lega kamu aman."

Seris menatap Hina dengan serius—cara seorang adik yang menilai kebenaran lewat aura, bukan sekadar kata.

Seris : "Hina."

Seris : "Kakakku… kemungkinan besar menyukaimu."

Hina membeku.

Hina : "Hah…?"

Seris : "Kalau tidak, dia tidak akan percaya orang lain untuk menemaninya."

Seris : "Tidak akan membiarkan orang lain memilihkan makanannya."

Seris : "Dan—"

Seris berhenti sejenak, lalu melontarkan pertanyaan yang membuat semua menoleh.

Seris : "Apa kau sudah pernah mencoba masakan Kak Ravien?"

Hina : "E-eh?!"

Hina langsung panik, seolah pertanyaan itu lebih memalukan daripada "dipeluk."

Nerine dan Rinna langsung mencondongkan badan.

Nerine : "Tunggu… kakakmu itu bisa masak?"

Rinna : "Nggak mungkin."

Noelle : "Aku juga nggak percaya."

Rika : "Ravien sombong itu? Bisa masak?"

Seris menghela napas, seperti lelah menghadapi dunia.

Seris : "Masakan Kakakku sangat enak."

Seris : "Bahkan Kak Lirya sering memaksa dia memasak setiap hari."

Semua mendadak terdiam, lalu meledak kecil.

Nerine : "Kak LIRYA memaksa?!"

Rinna : "Aku pengen lihat."

Noelle : "Jadi dia berhenti masak karena capek?"

Seris mengangguk pelan.

Seris : "Dia malas."

Seris : "Tapi bukan berarti dia tidak bisa."

Seris : "Dan kalau dia sampai benar-benar memasak untuk seseorang… itu artinya orang itu sudah masuk… lingkaran terdekatnya."

Hina menunduk, pipinya panas.

Hina (dalam hati):

Lingkaran terdekat…?

Apa aku… bisa masuk… sampai sana?"

Airi menepuk punggung Hina pelan.

Airi : "Kau pantas bahagia, Hina."

Rika : "Dan kalau dia bikin kamu nangis… bilang saja. Biar aku yang—"

Seris memotong cepat, datar.

Seris : "Kalau Kak Ravien menyakiti Hina, aku akan bilang Kak Lirya untuk menghajarnya duluan."

Kamar itu kembali sunyi sebentar.

Lalu tawa kecil muncul—bukan mengejek, tapi hangat.

Hina memeluk bantal, mencoba menenangkan dadanya yang masih berdebar.

Hina (dalam hati):

Apa aku pantas bahagia…

dan tidak sendirian lagi?

Hina menatap telapak tangannya sendiri, lalu menutupnya pelan—seakan masih ada hangat yang tertinggal.

More Chapters